Dikhianati oleh pria yang sangat ia cintai demi sebuah tahta, membuat Ningmas Danastri Kartawidjaja benar-benar terluka.
Dibawah aturan keluarga, Raden Dwipa Soeradiningrat, tak bisa berbuat apa-apa demi tahta sebagai pewaris dari Trah Soeradiningrat. Ia bahkan harus kehilangan Ningmas Danastri yang sangat ia cintai.
Namun, takdir justru membawa Ningmas Danastri ke arah yang tak disangka-sangka. Karena keterpurukannya, ia justru tanpa sadar menghabiskan malam dengan pria yang memiliki hubungan dekat dengan mantan kekasihnya.
Selain itu, satu persatu rahasia dua Trah (Trah Soeradiningrat dan Trah Kartawidjaja) yang tak pernah akur pun terbuka. Hal yang menyebabkan dua generasi terakhir selalu bersitegang itu, ternyata karena ada masa lalu yang masih belum selesai.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Ningmas Danastri Kartawidjaja?
Akankah ia jatuh cinta pada orang yang tepat?
Apakah rahasia masa lalu dari dua keluarga yang masih belum tuntas?
Simak terus keseruan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Sambutan Hangat
PRAAAAAK!
Semua orang menoleh ke arah Raden Daksa saat mendengar suara benda terjatuh yang cukup keras itu.
"Astaghfirullah, Ayah..." Lirih Sasmaya.
Raden Daksa pun buru-buru mengambil ponselnya yang terjatuh itu. Ia melihat layar ponsel yang belum lama di ganti itu, kembali pecah hingga membuat layar ponsel itu menghitam.
"Ayah kenapa? Ayah gak apa-apa?" Tanya Sasmaya.
"Ayah gak apa-apa, Nduk." Jawab Raden Daksa.
"Kok bisa jatuh lagi, Mas?" Tanya Astri dengan tatapan heran setelah menghampiri Raden Daksa.
"Sepertinya aku melamun tadi." Ujar Raden Daksa yang berkilah. Sebenarnya ponselnya terjatuh karena ia terkejut saat melihat kecantika Astri yang sedang mencoba kebaya pernikahan mereka.
"Ada masalah?" Tanya Astri.
"Tidak. Hanya memikirkan beberapa pekerjaan." Jawab Raden Daksa sambil tersenyum.
"Ayah hati-hati dong. Kan harga hape itu mahal. Ayah tidak boleh boros." Ujar Sasmaya yang membuat Astri dan Raden Daksa kompak tersenyum.
"Gimana kebayanya, Mas?" Tanya Astri kemudian.
"Cantik." Jawab Raden Daksa.
"Kamu yakin, gak mau bikin saja kebayanya, Dek Ayu? Barangkali ingin disimpan sebagai kenang-kenangan." Ujar Raden Daksa yang menawarkan untu kesekian kalinya pada Astri.
"Ndak, Mas. Lagi pula terlalu mubadzir kalau membeli kebaya mahal yang akhirnya hanya dipakai beberapa jam saja." Jawab Astri dengan yakin.
"Menurutmu bagaimana? Kamu sudah puas dengan kebaya yang ini?" Tanya Raden Daksa.
"Boleh aku mencoba kebaya lain yang sudah aku pilih, Mas? Ini baru pilihan pertamaku." Tanya Astri.
"Monggo, Dek Ayu." Jawab Raden Daksa tanpa keberatan.
"Oh iya, Dek Ayu. Boleh aku pinjam hapemu untuk menelfon Rama? (Asisten pribadi Raden Daksa)." Tanya Raden Daksa.
Astri pun mengangguk. Ia mengangguk dan mengambil ponselnya dari dalam tas. Ia lalu menyerahkan ponselnya pada Raden Daksa sebelum kembali masuk ke ruang ganti untuk mencoba kebaya yang lain.
Sementara itu, netra Raden Daksa justru menangkap nomor asing yang berkali-kali menelfon Astri. Nomor itu tak memiliki nama di ponsel Astri, namun, ia mengenali nomor siapa yang menelfon calon istrinya itu.
Nomor itu adalah nomor kedua Raden Dwipa. Raden Daksa tentu hafal dengan nomor kedua atau nomor rahasia milik adiknya. Pasalnya, Raden Dwipa biasa menghubunginya dengan nomor itu.
Namun, Raden Daksa tak ingin berpikiran macam-macam. Ia tau betul jika adiknya itu sangat menggilai Astri. Ia masih saja berusaha menghubungi Astri meski sudah tau jika Astri akan menikah dengan Kakak kandungnya.
Raden Daksa segera melanjutkan tujuan utamanya meminjam ponsel Astri. Ia segera menelfon Asisten pribadinya dan meminta Asistennya itu membelikan ponsel kedua untuk berjaga-jaga karena ponsel utamanya sering tiba-tiba jatuh.
Setelah itu, Raden Daksa mengembalikan ponsel Astri ke dalam tas calon istrinya. Ia kemudian fokus melihat ruang ganti yang penutupnya masih juga belum terbuka.
"Bunda cantik sekali!" Seru Sasmaya saat melihat Astri mencoba kebaya keduanya. Kebaya berwarna putih itu tampak begitu pas di badan Astri. Payetan dan taburan swarovski di kebaya itu, membuat kebaya yang dikenakan Astri tampak sangat mewah.
"Cantik sekali." Ujar Raden Daksa yang hampir tak berkedip saat melihat Astri memakai kebaya kedua yang ia coba.
"Aku juga merasa cocok dengan kebaya ini." Ujar Astri sambil mematut diri di depan cermin.
Setelah Astri memastikan kebaya yang akan dikenakan, Raden Daksa juga mencoba beskap putih yang akan dia kenakan lengkap dengan jarik dan blangkon.
"Ayah ganteng!" Seru Sasmaya saat melihat Ayahnya.
Sementara itu, Astri justru mematung karena terpukau dengan ketampanan calon suaminya. Tak hanya itu, Raden Daksa juga memancarkan aura yang sangat kuat hingga membuat orang disekitarnya terkesima.
"Bagaimana, Dek Ayu? Apa aku harus coba yang lain?" Tanya Raden Daksa yang membuat Astri langsung tersadar.
"Ini sudah cocok menurutku." Jawab Astri yang memang merasa jika beskap yang digunakan Raden Daksa sudah cocok dengan kebaya yang akan ia kenakan.
"Baik kalau begitu." Jawab Raden Daksa.
Selesai dengan pakaian, mereka juga bertemu dengan vendor dekorasi. Astri hanya meminta dekorasi pelaminan dan meja akad yang sederhana namun menggunakan bunga segar. Sama sekali tak muluk-muluk, namun kental dengan nuansa khas jawa.
Setelah semua persiapan selesai, Raden Daksa pun kembali mengantar Astri ke Perusahaannya.
"Ada yang mau dibicarakan, Mas?" Tanya Astri ketika Raden Daksa menatapnya cukup lama.
"Tidak ada." Jawab Raden Daksa yang menutupi.
Ia sebenarnya ingin bertanya mengenai adiknya yang masih terus menghubungi Astri. Namun, hal itu urung dilakukan karena Astri sepertinya sama sekali tak menanggapi Raden Dwipa lagi.
"Ayah... Aku mau ikut dengan Bunda." Pinta Sasmaya.
"Bunda masih harus bekerja, Nduk. Lagi pula, tadi Sasa sudah bermain dengan Bunda." Jawab Raden Daksa.
"Tadi cuma sebentar, Ayah. Bunda juga banyak sibuk mengobrol dengan Ayah." Jawab Sasmaya.
"Ndak apa-apa kalau Sasa mau ikut denganku, Mas." Ujar Astri.
"Nanti Sasa merepotkan. Lagi pula, Sus Sari tidak ikut." Jawab Raden Daksa yang enggan merepotkan Astri.
"Sasa manut kalean dalem kok, Mas. (Sasa nurut sama saya kok, Mas.)" Ujar Astri.
"Pasti ndak akan merepotkan walaupun ndak ada Sus Sari." Ujar Astri yang berusaha meyakinkan. Ia juga ingin membangun kedekatan dengan anak dari calon suaminya itu.
"Yasudah. Nanti kalau pekerjaanku sudah selesai, aku akan menjemput Sasa." Kata Raden Daksa pada akhirnya yang membuat Sasmaya dan Astri langsung tos. Keduanya tampak senang karena bisa menghabiskan waktu bersama lebih lama.
"Sasa manut kalih Bunda, njih. Ampun ndamel Bunda repot. (Sasa nurut sama Bunda, ya. Jangan buat Bunda repot.)" Pesan Raden Daksa pada putrinya.
"Njih, Ayah." Jawab Sasmaya.
Sepeninggal Raden Daksa, Sasmaya benar-benar menurut pada Astri. Saat Astri sedang bekerja, Sasmaya dengan anteng menunggu sambil mewarnai kertas gambar yang ia bawa dari rumah.
Karena pekerjaan Astri di kantor sudah selesai, Astri kemudian memutuskan untuk membawa Sasmaya kerumahnya, tentu saja dengan izin dari Raden Daksa.
"Assalamualaikum." Ucap Astri saat memasuki rumahnya dengan menggandeng tangan Sasmaya.
"Waalaikumsalam." Terdengar suara Ratri dan Tedjo yang menjawab salam dari putrinya.
"Assalamualaikum." Ucap Sasmaya ketika menghampiri Ratri dan Tedjo yang tentu terkejut dengan keberadaan Sasmaya.
"Waalaikumsalam, Cah Ayu." Jawab Ratri. Meskipun terkejut, namun kedua orang tua Astri langsung menyambut uluran tangan Sasmaya yang hendak menyalami.
"Kok Sasmaya ada sama kamu, Nduk? Raden Daksa tau?" Tanya Ratri.
"Iya, Ibu. Raden Mas Daksa tau kalau Sasmaya aku ajak ke rumah." Jawab Astri.
"Bunda, aku harus panggil apa?" Tanya Sasmaya sambil menggoyang-goyangkan tangan Astri
"Mbah Ti dan Mbah Kung, Cah Ayu." Ratri yang menjawab pertanyaan Sasmaya.
"Mbah Putri dan Mbah Kakung?" Tanya Sasmaya.
"Yee! Sasa punya empat orang Mbah. Ada Eyang Kakung, Eyang Putri, Mbah Kung dan Mbah Ti." Seru Sasmaya dengan girang.
Setelah berkenalan, Sasmaya tampaknya bisa dengan mudah merebut hati dari kedua orang tua Astri. Raden Tedjo dan istrinya terlihat senang dengan kehadiran Sasmaya yang menggemaskan.
kan wong 2 kui podo2 ne , , ,