NovelToon NovelToon
Di Bawah Kendali Asisten Suami

Di Bawah Kendali Asisten Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Konflik etika
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.

‎‎Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.

‎Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
‎

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29

‎"Revan... ada orang!" bisik Alina terengah-engah. Jemarinya mencengkeram kerah kemeja Revan begitu erat, matanya membelalak menatap ke arah lorong basement di mana suara langkah sepatu itu semakin mendekat.

‎‎Revan tidak langsung melepaskannya. Justru tangannya yang satu lagi naik, menahan tengkuk Alina dengan lembut, ibu jarinya mengusap cepat di belakang telinganya.

‎‎"Sstt..." bisiknya sangat pelan, napasnya masih memburu di dekat bibir Alina. "Tenang. Tetap di sini. Jangan keluar dan jangan bersuara."

‎‎Matanya menatap mata Alina dalam-dalam, berusaha menyalurkan ketenangan yang sebenarnya tidak ia miliki.

‎‎"Diam di sini, ya? Percaya padaku."

‎‎Alina mengangguk kecil, begitu kecil hampir tak terlihat. Tubuhnya masih menempel di balik pilar beton, di celah gelap antara mobil merahnya dan tembok, tertutup bayangan.

‎‎Revan melepaskan pelukannya perlahan. Ia menarik napas panjang, merapikan kemejanya yang kusut karena cengkeraman Alina, lalu melangkah keluar dari balik pilar itu dengan wajah yang kembali datar, tenang, seperti asisten profesional yang baru saja turun dari mobil.

‎‎Langkah kaki itu semakin dekat. Dari tikungan basement, muncul sosok Amara dengan rambut panjang bergelombang hitam kecoklatan. Ia memakai dress lilac tanpa lengan, lehernya dililit syal sutra putih simpul pita. Lengkap dengan anting, kalung dan gelang mutiara.

‎‎Amara berjalan dengan anggun menuju mobilnya yang terparkir dua slot dari mobil Alina. Namun begitu mendengar suara pintu mobil hitam Rafael yang ditutup agak keras oleh Revan, langkahnya terhenti. Ia menoleh.

‎‎Bibirnya langsung menyunggingkan senyum tipis ketika melihat siapa yang berdiri di sana.

‎"Revan?" katanya, suaranya manis namun ada nada terkejut yang dibuat-buat.

‎‎Revan berdiri tegak di samping mobil hitam, satu tangannya masih bertumpu di atas pintu yang sudah tertutup, seolah ia baru saja turun dari dalamnya.

‎‎"Nona Amara," jawab Revan sopan, menunduk sedikit.

‎‎Amara tidak langsung menuju mobilnya. Ia justru melangkah mendekat, berdiri tepat di depan kap mobil hitam itu. Matanya melirik sekilas pada mobil merah Alina yang terparkir di sebelahnya.

‎‎Ia melipat kedua tangannya di atas perut, tatapannya naik turun menilai Revan dari atas ke bawah, lalu senyumnya semakin melebar.

‎‎"Aku tahu kau mendengar semua yang aku bicarakan dengan Rafael di ruangan kerjanya waktu itu," ucap Amara pelan, santai, seperti sedang membicarakan cuaca.

‎‎Rahang Revan sedikit mengeras, tapi wajahnya tetap diam. Ia hanya menatap Amara tanpa ekspresi.

‎‎Amara terkekeh pelan. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, menurunkan suaranya menjadi bisikan konspiratif.

‎‎"Kau dengar, kan? Waktu aku bilang bagaimana Rafael mendesahkan namaku berkali-kali."

‎‎Revan masih diam.

‎Amara memiringkan kepalanya, menikmati reaksi diam itu.

‎‎"Lalu menurutmu..." Ia menjeda, matanya melirik sekilas ke arah mobil merah Alina, lalu kembali ke Revan. Senyumnya berubah menjadi sesuatu yang lebih tajam, lebih kejam. "...bagaimana reaksi Alina jika dia tahu suaminya memilih tidur denganku di hari anniversary pernikahan mereka?"

‎‎Darah Alina seketika berdesir dingin di balik pilar. Ia membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Matanya membelalak, napasnya tertahan. Jas Rafael yang masih tersampir di bahunya tiba-tiba terasa begitu berat, begitu panas.

‎‎"Apa yang Nona Amara inginkan?" tanya Revan rendah. Tangannya yang bertumpu di pintu mobil mengepal keras hingga buku-buku jarinya memutih.

‎‎Amara tertawa kecil. "Pintar. Kau memang asisten paling pintar yang pernah aku kenal."

‎‎Ia membuka lipatan tangannya, lalu menepuk pelan bahu Revan.

‎‎"Aku tidak menginginkan apa-apa darimu, Revan. Aku hanya ingin kau ingat posisimu. Kau itu cerminan Rafael. Apa yang kau lihat, apa yang kau dengar... sebaiknya kau simpan untuk dirimu sendiri. Sama seperti bagaimana kau menyimpan... hal-hal lain."

‎‎Matanya kembali melirik tajam ke arah mobil merah Alina. Alina yang masih bersembunyi menahan napas lebih dalam lagi, punggungnya semakin merapat ke bodi mobil yang dingin.

‎‎"Karena kalau tidak," lanjut Amara, suaranya kini berbisik tepat di depan wajah Revan, "Maka kita sama-sama akan melihat bagaimana Alina hancur."

‎‎Hening. Hanya suara dengung AC basement dan detak jantung Alina yang berdegup begitu keras.

‎‎Revan akhirnya mengangkat wajahnya, senyum sopan itu hilang dari wajahnya. Sorot matanya dingin, dalam, dan berbahaya.

‎‎"Kalau begitu," jawab Revan pelan, setiap katanya terucap jelas, "Nona Amara juga harus ingat satu hal."

‎‎"Apa?"

‎‎"Jika Nyonya Alina tahu dan hancur, bukankah reputasi Anda sebagai seorang model juga akan hancur."

‎‎Kalimat itu meluncur pelan, dingin, tanpa emosi.

‎‎Senyum di wajah Amara seketika membeku. Matanya yang tadi penuh kemenangan kini membelalak sedikit, bibirnya yang merah muda itu sedikit terbuka. Ia menatap Revan lekat, mencoba mencari kebohongan di sana, tapi yang ia temukan hanya tatapan datar yang sangat tenang dan sangat berbahaya.

‎‎"Kau... mengancamku?" bisik Amara, suaranya tidak lagi manis.

‎‎Revan tidak menjawab. Ia hanya menatapnya lurus, lalu menunduk sopan sekali lagi, seolah percakapan ini sudah selesai.

‎"Bukan ancaman, Nona Amara. Hanya pengingat. Posisi kita sama."

‎‎Dada Amara naik turun menahan kesal. Tangannya yang tadinya terlipat di perut kini mengepal.

‎‎Ia melirik lagi ke arah mobil merah Alina, rahangnya mengeras. Ia tahu ia tidak bisa berlama-lama di sini. Ia kalah di ronde ini.

‎‎"Cih," desisnya pelan, penuh kesal.

‎‎Tanpa berkata apa-apa lagi, Amara membalikkan badannya dengan hentakan. Rambut panjang bergelombang hitam kecoklatan itu berkibar kasar mengikuti gerakannya. Suara hak sepatunya yang tinggi menghentak lantai basement dengan keras.

‎Ia membuka pintu mobilnya sendiri dengan kasar, masuk, dan membanting pintunya keras.

‎‎BRAK!

‎‎Suara mesin mobilnya meraung, lampu depannya menyala menyilaukan. Tanpa basa-basi, mobil itu melaju kencang keluar dari slot parkir, berbelok tajam dan menghilang di tikungan basement, meninggalkan suara deru mesin dan aroma bensin yang samar.

‎‎Hening kembali.

‎‎Revan berdiri diam beberapa detik, memastikan suara mobil Amara benar-benar hilang. Barulah ia menghembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan.

‎‎Ia berbalik cepat, melangkah kembali ke balik pilar beton yang gelap.

‎‎Alina masih di sana. Tubuhnya masih menempel di bodi mobil yang dingin, kedua tangannya masih membekap mulutnya sendiri. Matanya basah, berkaca-kaca, tapi ia tidak menangis. Ia hanya gemetar.

‎‎Revan langsung menunduk sedikit agar sejajar dengannya, tangannya meraih bahu Alina dengan hati-hati.

‎‎"Dia sudah pergi," bisiknya pelan, suaranya kembali lembut, jauh berbeda dari nada dinginnya pada Amara tadi. "Alina... kamu tidak apa-apa?"

‎‎Alina perlahan menurunkan tangannya dari mulutnya. Napasnya masih terengah-engah.

‎‎"Revan... apa yang baru saja dia bilang itu..." suaranya bergetar, hampir tidak terdengar. "Jadi malam itu saat aku seperti orang bodoh menunggu sendirian di kafe... Rafael dan dia benar-benar..."

‎‎Revan menatapnya. Dadanya sesak melihat tatapan hancur itu.

‎‎Ia menggeleng pelan, tangannya naik mengusap pipi Alina dengan ibu jarinya, menghapus air mata yang belum sempat jatuh.

‎‎"Jangan dengarkan dia," bisik Revan. "Maaf, aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu."

‎‎Alina hanya menatapnya, matanya yang basah menatap mata Revan yang penuh kekhawatiran mendalam.

‎"Tunggu. Kotak bekalnya."

‎Alina perlahan melepaskan diri dari tembok. Ia melangkah pelan ke pintu samping mobil merahnya, membuka pintu penumpang depan dan mengambil kotak yang sejak pagi ia siapkan.

‎‎Ia kembali berbalik menghadap Revan, menyodorkan kotak itu dengan kedua tangan. Matanya masih basah, tapi ia berusaha tersenyum.

‎"Ini... untukmu," ucapnya pelan. "Maaf ya, isinya mungkin sudah tidak terlalu hangat."

‎‎Revan menatap kotak itu, lalu menatap wajah Alina. Perlahan, ia menerima kotak bekal itu dengan kedua tangannya.

‎"Terima kasih," bisik Revan.

‎‎Alina mengangguk kecil.

‎"Aku... aku pulang dulu ya, Revan," ucapnya pelan, suaranya hampir seperti bisikan. "Kalau kelamaan, takut Rafael mencarimu."

‎Revan mengangguk pelan. "Hati-hati di jalan, Alina. Kabari aku kalau sudah sampai rumah."

‎Alina mengangguk lagi, lalu masuk ke dalam mobil merahnya. Pintu ditutup pelan dan mesin pun menyala.

‎‎Dari kaca spion, ia melihat Revan masih berdiri di balik pilar, memegang kotak bekal itu erat, menatap mobilnya sampai menghilang di tikungan basement.

‎Setelah mobil merah itu benar-benar pergi, Revan menunduk menatap kotak bekal di tangannya dan tersenyum tipis.

"Nona sepatu..." gumamnya, "Siapa yang menyangka kita akan dipertemukan lagi dan dekat dengan cara seperti ini."

-

-

-

Bersambung...

1
Mia Camelia
ayo revan rebut Alina yukk🤣🤣🤣
Aisyah Ranni
Wajar aja si Andika menyesal ternyata itu dia,bisa jadi dia yg slengki dengan ibu Rafael, mengulang kejadian si Rafael dengan Amara.dan Andika gak tau Revan anak kandungnya sendiri
MamDeyh
Woooow ternyata sodara tiri merekaaaa
MamDeyh
Diiih GK jelas
Mia Camelia
rasakan kau raphael tamparan sang ayah, semoga raphael mau melepaskan Alina😭
🔥Violetta🔥: Semoga y kak 😁
total 1 replies
Ervina Ardianto
Kl baca smp sini berarti awalnya Revan pura2 jd asisten Rafael ada hubungannya dg masa lalu yg blm selesai antar ortu/kakeknya Rafael & Revan. Sementara ttg Alina, di luar rencana dia, bs ketemu lg tp sdh jd istri org.
Maybe gt🤭
🔥Violetta🔥: Wah tebakan kakak ini sesuatu 👏👏👏👍😁
total 1 replies
Mia Camelia
revan gentleman banget sih, bogem si raphael di tempat, ngliat raphael lama2 kaya pecundang😒
Ervina Ardianto
Rafael msh lolos nih. Mertuanya ga liat tontonan & ga denger omongan Revan ke Rafael. Jgn lama2 author, nungguin Revan membuka jati diri dia yg sbnrnya 😊
MamDeyh
Repaaan kamu kelepasan 😅
🔥Violetta🔥: rem-nya blong 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
sumpah raphael tuh pembawa sial banget sih, bikin Alina jatuh bgtu😔😔😔
🔥Violetta🔥: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Ervina Ardianto
Revan mana Revan..mungkin sekarang saatnya membuka semua 🤭
🔥Violetta🔥: Lagi bertapa dulu dia kak... 🤭🤭🤣
total 1 replies
MamDeyh
Nah kan.. Laki egois. Plin plan. Gajebo
🔥Violetta🔥: Omelin aja,,, omelin kak 🤭🤣🤣
total 1 replies
Ervina Ardianto
Ada hubungan dg masa lalu berarti nih. Revan uda kenal Alina lbh dl dari Rafael , yg msh gelap hubungan ortu Revan & Rafael, knp Alina ga tau / blm sadar ttg Revan (di masa lalu) & Revan bs kecolongan, Alina nkh sm Rafael.
MamDeyh
Ahhhh lagi dong kak.....
Mia Camelia
Alina kapan cerai nya thor 🤭🤭🤭pingin ngeliat Alina dan revan SAH🤭😁
🔥Violetta🔥: Nanti kak 🤭 author nya juga udah gak sabar 🤭🤭🤭
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
"Menikah karena perjodohan tapi hati suami masih di masa lalu" itu klasik yang tidak pernah gagal. Saya langsung bisa merasakan bagaimana hampanya Alina.
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.

Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.

cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰
MamDeyh
Aduhhhh aku dag dig dug deeeer daiaaaaa/Curse//Curse/
🔥Violetta🔥: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Adira🍓
O...o... kamu ketahuan 🤣🤣🤣🤣
Adira🍓
Pandai kali ngegombal mulut kau ini Revan 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Terlalu jujur jawabanmu Bang 🤣🤣🤣🤣🤣
🔥Violetta🔥: Maklum, rem-nya blong kak 🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!