Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.
Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.
Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.
Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23. Tak Bisa Langsung Menuduh
Pertanyaan itu keluar begitu saja. Namun, ia segera mengetahui jawabannya.
"Pasti tidak."
Ia telah menuduh Dea tanpa bukti yang cukup. Ia telah menghina dan menyakitinya. Ia bahkan memaksa perempuan itu menggantikan posisi Linjaryani yang telah pergi. Hanya untuk disakiti dan meninggalkan noda yang tak akan pernah bisa dibersihkan dengan begitu saja.
Elden menutup laptopnya dengan gerakan kasar.
Ia membutuhkan bantuan seseorang yang mampu menelusuri informasi digital secara lebih mendalam.
Seseorang yang dapat bekerja dengan keahlian yang tidak ia miliki.
Ia meraih ponsel, lalu menghubungi Ellea. Padahal, sang adik hanya berada di kamar sebelah. Panggilan itu tersambung setelah beberapa dering.
“Hmmm ... Kenapa?”
“Aku membutuhkan bantuanmu.”
“Bantuan apa? Jangan bilang Kakak lagi ngidam tengah malam begini. Males ah! Pengen tidur aja.”
“Ellea, aku serius.”
Suara dingin Elden membuat adiknya berhenti bercanda.
“Iya ... iya. Katakan saja.”
“Aku ingin menyelidiki cewek yang tadi. Aku membutuhkan seseorang yang ahli dalam penelusuran digital.”
“Bukannya tadi udah memeriksa informasi tentang dia?”
“Tak ada yang oke.”
Elden terdiam sebentar sebelum melanjutkan.
“Aku ingin tahu apakah ada salinan rekaman CCTV rumah sakit yang hilang. Aku juga ingin mengetahui apakah masih ada jejak akses yang bisa membantu menjelaskan bagaimana rekaman itu bisa lenyap.”
Ellea tidak langsung menjawab.
“Kalau rekamannya sudah dihapus, belum tentu bisa dipulihkan, Kak. Kita juga tidak boleh menganggap seseorang bersalah hanya karena mendengar obrolan tadi. Bisa saja yang dimaksud tikus yang dibuat mati.”
“Hmmmfff! Ellea.”
“Iya ... iya. Terus Kakak mau menggunakan jasa siapa?”
“Carikan orang yang benar-benar bisa dipercaya.”
Ellea menghela napas pelan. “Aku pernah dengar satu nama satu organisasi yang jasanya pernah digunakan oleh keluarga temanku. Mereka cepet banget loh menemukan jejak digital yang disembunyikan atau bahkan sudah dihapus."
“Emangnya ada yang seperti itu?”
“Kan aku bilang keluarga temen pernah menggunakan jasa mereka. Namanya White Scalpel.”
Elden mengernyit. “White Scalpel?”
“Ya. Mereka dikenal sebagai jaringan yang sangat tertutup. Jasa mereka bukan untuk sembarang orang.”
“Kenapa?”
“Biayanya mahal. Sa...ngat mahal.”
Elden tidak menjawab selama beberapa detik.
Lalu, akhirnya ia memutuskan sesuatu. “Hubungi mereka.”
“Kak, aku belum selesai. Kita bahkan belum tahu berapa biaya yang akan mereka minta.”
“Berapa pun yang diperlukan akan kubayar.”
“Kakak yakin?”
Elden menatap pantulan wajahnya pada layar laptop yang gelap.
“Aku sudah terlalu lama mempercayai sesuatu yang belum tentu benar. Kali ini, aku ingin bukti.”
Ellea terdiam sesaat.
“Baik. Aku akan mencoba mencari cara untuk menghubungi mereka.”
“Jangan berikan informasi yang tidak diperlukan. Kita belum tahu siapa yang akan menerima permintaan ini.”
“Baiklah. Aku mengerti.”
Setelah panggilan berakhir, Elden berdiri dan berjalan menuju jendela.
Ia beluk pernah mendengar jaringan itu dan tak tahu apa yang akan ditemukan White Scalpel. Ia juga belum tahu apakah penyelidikan itu akan membuktikan sesuatu yang berkaitan dengan kematian Linjaryani.
.
.
Keesokan harinya, Dea kembali menemui Prof. Adam.
Ia membawa catatan yang telah disusunnya dengan rapi, termasuk waktu kemunculan Stella pada rekaman kamera di luar ruang gawat darurat dan perbedaan jumlah obat yang tercantum dalam dokumen inventaris.
Prof. Adam membaca catatan itu dengan saksama.
“Kamu sudah mengerjakan ini dengan teliti,” katanya setelah beberapa saat.
Dea duduk tegak di hadapannya.
“Namun, saya belum bisa memastikan apakah kedua hal itu saling berkaitan, Prof.”
“Baiklah. Sepertinya kamu memahami batas kesimpulanmu.”
Dea menunduk sebentar.
“Saya hanya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.”
“Saya mengerti. Tetapi ingat, Dea. Kita tidak boleh mengambil data yang tidak berhak kita akses, apalagi menyebarkan dugaan sebelum ada pemeriksaan yang memadai. Apalagi dia adalah rekanmu sendiri.”
“Tapi, Prof...” Tangan Dea mengepal dengan kuat. Karena Stella yang ia lihat selama ini, begitu tega menyebarkan rumor yang tidak menyenangkan
Bahkan, rumor menjadi selingkuhan Profesor Adam pun telah ia dengar meski ujung-ujungnya redam dengan sendirinya karena Dea memilih untuk tidak menanggapi hal tersebut.
"Tapi kenapa?" tanya Profesor Adam karena ucapan Dea yang menggantung.
Dea menggeleng cepat. "Nggak jadi, Prof."
“Kalau begitu, setelah menemukan informasi baru, dokumentasikan sumber dan waktunya dengan segera. Setelah itu, saya sendiri yang akan mengajukannya kepada pihak yang berwenang.”
Dea mengangguk.
Meskipun ia sangat berharap semuanya selesai dengan segera, tetapi kemampuannya sangat terbatas. Terutama masalah dana. Apalagi, ia harus pandai membagi-bagi dana tersisa dengan nutrisi untuk dirinya sendiri karena ada sosok kecil yang kini bernaung dalam dirinya.
Sementara, ia tak bisa berharap kepada keluarganya yang berada di kampung. Yang mereka tahu, saat ini Dea telah menjadi seorang istri pria tajir.
.
.
Dua hari kemudian, Elden menerima kabar dari Ellea.
Adiknya datang ke apartemen dengan sebuah perangkat penyimpanan kecil dan laptop di tangannya.
“Kak, aku sudah mendapat jawaban dari White Scalpel.”
*bersambung*
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Jangan2 ada main dia dengan Stella