Sinopsis
Zain Arvendra Atmaja, seorang remaja yang seakan tak pernah lelah terlibat masalah di sekolahnya. Setelah berbagai kejadian yang menumpuk, ayahnya akhirnya mengambil keputusan Zain harus pindah ke sebuah SMA berbasis asrama yang dikenal mampu membimbing anak-anak yang sedang kehilangan arah.
Awalnya Zain menolak keras. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan mulai menerima kenyataan itu. Di asrama inilah ia bertemu dengan Vanya, seorang gadis ceroboh yang dengan polosnya kerap menyeret Zain ke dalam berbagai situasi baru yang tak terduga.
Cerita terasa semakin rumit ketika Keira Cattleya Wiratama, kekasihnya yang selama ini jauh dari sana, tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke asrama yang sama pula.
Tiga orang, satu atap, dan hati-hati yang mulai saling bersilang. Bagaimana kelanjutan cerita mereka ? Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 DI BALIK NAMA KELUARGA
Laras adalah putri seorang pejabat tinggi negara yang dulu sangat dihormati dan dielu-elukan banyak orang, selama belasan tahun, ia hidup di rumah yang luas, diantar ke mana pun dengan mobil mewah, dan semua orang tersenyum ramah saat melihatnya datang. Ia tidak pernah menyadari bahwa senyum itu lebih kepada nama ayahnya daripada dirinya sendiri, sampai satu peristiwa besar mengubah segalanya dalam semalam.
Ayahnya dituduh terlibat kasus korupsi yang bernilai miliaran rupiah, berita itu meledak di mana-mana, di televisi, di koran, hingga di media sosial. Dalam sekejap, semua yang dulu memuji keluarganya berbalik menyerang. Rumah beserta isinya disita untuk mengganti kerugian negara, ibunya yang selama ini tidak pernah ikut campur urusan pekerjaan ayahnya, tiba-tiba harus menanggung beban kebencian orang-orang yang bahkan tidak mereka kenal baik.
Laras dikirim ke asrama ini bukan karena orang tuanya tidak sayang, justru karena mereka sayang. Mereka ingin Laras tetap sekolah dengan aman, jauh dari tatapan kebencian dan komentar pedas tetangga serta media. Uang saku yang dulu berlimpah kini sangat terbatas. Laras belajar berhemat, mencuci pakaiannya sendiri, dan melakukan hal-hal yang dulu selalu ada orang lain yang mengerjakannya.
Namun yang paling berat bukanlah kehilangan kemewahan, apalagi tatapan orang-orang di sekitarnya. Suatu siang di kantin, beberapa siswa duduk di meja tidak jauh dari tempat Laras makan sendirian. Mereka berbicara cukup keras, sengaja agar Laras mendengarnya.
"Itu lho Laras, anak pejabat yang sekarang jadi terpidana. Katanya semua barang mewah mereka hasil dari uang rakyat ya ?"
"Pantesan sekarang diam saja, malu pasti. Harusnya dia pindah sekolah saja, gak usah bikin malu teman-temannya."
"Siapa yang tahu, mungkin dia juga ikut menikmati hasil curian itu selama ini."
Kata-kata itu menusuk lebih tajam daripada yang terlihat, Laras menunduk dalam, suapan di tangannya terasa berat sekali ditelan. Ia ingin berteriak bahwa ia tidak tahu apa-apa soal uang itu, bahwa ia juga kehilangan rumah dan ayahnya, bahwa ia juga sedih dan bingung. Tapi ia menahan diri, siapa yang akan mendengarkannya ? Di mata banyak orang, ia hanyalah ‘anak penjahat’.
Saat ia hendak berdiri dan pergi dengan mata berkaca-kaca, ia menabrak seseorang di ambang pintu. Itu Keira.
"Maaf, aku tidak sengaja" Ucap Laras buru-buru, menyeka matanya dengan cepat.
Keira tidak langsung lewat, ia menatap Laras dengan lembut.
"Aku dengar mereka tadi, kamu tidak perlu lari begitu dan kamu tidak salah apa-apa" Ujar Keira
Laras tersenyum getir …
"Kamu tidak mengerti, Leya. Dulu semua orang senang melihatku datang, sekarang mereka membicarakan aku terang-terangan kalau mereka tahu betapa rendahnya keluargaku di mata masyarakat. Aku pasti sudah diusir dari sini, pergilah nanti kamu juga dianggap aneh karena berteman denganku" Jawab Laras
Keira justru menarik kursi dan duduk di hadapan Laras …
"Dengar aku, Laras. Kesalahan ayahmu adalah urusan ayahmu dengan hukum. Bukan urusanmu, kamu tidak dipenjara karena dia, kamu tidak bersalah karena dia. Kamu hanya seorang gadis yang sedang berusaha menjalani hari-harimu sebaik yang kamu bisa, meski duniamu baru saja runtuh. Itu bukan kelemahan, itu keberanian" Ucap Keira sambil tersenyum menenangkan
Belum selesai mereka bicara, Dina datang membawa dua gelas air hangat, diikut Sari dan beberapa gadis lain. Mereka sengaja duduk di meja yang sama, tepat di hadapan siswa-siswa yang tadi mencibir.
"Mereka yang berbicara buruk tentangmu, Laras. sebenarnya tidak mengenal siapa kamu. Mereka hanya menghakimi dari berita yang mereka dengar, bukan dari siapa kamu sebenarnya. Aku tidak peduli siapa ayahmu. Yang aku tahu, kamu selalu meminjamkan pulpen saat aku lupa bawa, kamu selalu membantu saat tugas kelompok terasa berat, dan kamu tidak pernah menyombongkan diri saat keluargamu masih kaya. Itu yang penting bagiku. " Kata Sari tegas namun tenang
Dina mengangguk pelan.
"Benar dan kalau ada yang menjauh darimu karena keadaan keluargamu, itu kerugian mereka. Bukan kerugianmu, kamu berharga apa pun yang terjadi di luar dirimu" Timpal Dina
Laras menatap wajah-wajah di sekelilingnya, air matanya akhirnya jatuh juga bukan karena sedih tapi karena untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan merasa sendirian, ia merasa ada yang berdiri di sisinya.
"Makasih" Suara Laras bergetar.
"Aku kira aku akan selalu sendirian dengan rasa malu ini" Lanjut Laras
Keira menepuk punggung tangan temannya itu pelan.
"Kamu tidak akan pernah sendirian lagi, Laras. Kita semua keluarga di sini, ingat ? Keluarga tidak peduli siapa orang tuamu, mereka peduli siapa kamu." Balas Keira
Sore itu menjadi awal yang baru, saat siswa-siswa yang tadi mencibir melihat mereka tertawa dan bercerita bersama, mereka perlahan berhenti berbisik. Tidak semua orang langsung menerima Laras, setidaknya sekarang Laras tahu meski dunia di luar sana keras, di sini di asrama ini, ia punya tempat yang aman untuk menjadi dirinya sendiri.
😏 jdi jalanin seadanya aja, gk usah milih
hehe pis ya mas Zain...