NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cinta

Dua Wajah Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Mobil yang dikendarai Pak Minto berhenti tepat di depan sebuah bangunan ruko dua lantai berdesain modern di kawasan strategis Jalan Ahmad Yani.

Gladys melangkah keluar, menatap bagian depan ruko yang sudah bercat hangat dengan kanopi minimalis. Tempat ini terasa begitu familier di ingatan Gladys.

Dulu, ia dan Dewi sering kali menghabiskan akhir pekan duduk berdua di kedai kopi, menggambar sketsa kasar di atas lembaran tisu, dan bermimpi tentang sebuah tempat berkumpul yang hangat milik mereka berdua.

Mereka pernah berjanji akan membangun kafe ini bersama-sama—tempat di mana aroma biji kopi menyatu dengan gelak tawa dan cerita.

Tapi Tuhan mempunyai rencana lain, bisik Gladys pilu dalam hatinya.

Kini ia berdiri di sini seorang diri, membawa impian yang harus tetap ia hidupkan demi kenangan sahabat tercintanya.

Gladys mendorong pintu kaca ruko dan melangkah masuk.

Pemilik ruko, seorang pria paruh baya yang tampak ramah, langsung menyambut kedatangannya.

Saat melihat ke sekeliling ruangan, mata Gladys bertaut pada deretan peralatan kopi profesional yang terpajang rapi di balik meja bar.

Sebuah mesin pembuat kopi espresso kelas atas berbalut warna krom dan grinder yang tampak mengkilat—semuanya masih gres, bahkan beberapa di antaranya masih terbungkus plastik pelindung.

Gladys menatap pemilik ruko dengan dahi berkerut heran.

"Bapak yakin mau menjual ruko ini beserta seluruh isinya?"

Pemilik ruko tersenyum tipis, menghela napas panjang seraya menatap sekeliling rukonya.

"Iya, Mbak Gladys. Sebenarnya bulan depan saya berniat mau pembukaan kafe ini. Tapi beberapa hari lalu saya dapat kabar kalau ibu saya yang tinggal di Kanada mendadak sakit keras. Saya dan keluarga harus menetap di sana untuk merawat beliau, jadi semua ini terpaksa saya lepas cepat."

Gladys menganggukkan kepalanya mengerti. Ada rasa iba sekaligus takjub bagaimana takdir mempertemukannya dengan kesempatan ini secara begitu kebetulan.

Tempat ini tidak hanya strategis, tetapi juga sudah siap pakai tanpa harus memulai renovasi dari nol.

"Baiklah, Pak. Saya akan membelinya," ucap Gladys mantap.

Menggunakan dana dari black card yang diberikan Raka—sebagaimana kesepakatan mereka tadi pagi—Gladys membulatkan tekad untuk mengejar kemandiriannya di tempat ini.

Proses negosiasi berjalan dengan sangat lancar dan cepat.

Pemilik ruko yang butuh menjualnya segera menyetujui harga yang disepakati, lalu menyerahkan dokumen kepemilikan beserta kwitansi jual-beli.

Gladys menggunakan kartu yang diberikan Raka untuk menyelesaikan seluruh pembayaran transaksi di tempat.

Setelah proses transfer selesai dan berkas penandatanganan di atas materai dinyatakan sah, pria paruh baya itu menyunggingkan senyum lega seraya menyerahkan sebendel kunci kepada Gladys.

"Terima kasih banyak, Mbak Gladys. Ini kunci ruko dan kunci meja bar-nya. Semoga kafenya lancar dan sukses besar, ya," ucap pemilik lama penuh doa tulus.

"Terima kasih banyak, Pak. Semoga urusan kepindahan dan kesembuhan ibu Bapak di Kanada juga diberikan kelancaran," balas Gladys hangat seraya menerima gantungan kunci tersebut.

Sepeninggal sang pemilik lama, Gladys melangkah menyusuri setiap sudut ruko dua lantai itu seorang diri.

Suasana terasa sunyi, namun penuh potensi. Ia mengambil sebuah buku catatan kecil beserta pulpen dari dalam tasnya, lalu mulai menginspeksi interior bangunan.

Dengan cermat, Gladys memeriksa daftar inventaris: mesin espresso, grinder, blender industri, hingga meja dan kursi kayu minimalis yang sudah tertata rapi.

Jemarinya mencatat hal-hal kecil yang masih kurang untuk operasional kafe—seperti serbet mikrofiber, beberapa jenis sirup flavouring, cangkir takeaway, perlengkapan kebersihan, hingga beberapa hiasan tanaman kecil untuk mempercantik sudut meja.

Selesai mencatat, Gladys berjalan ke arah pintu depan dan memanggil Pak Minto yang setia menunggu di dekat mobil.

"Pak Minto," panggil Gladys ramah seraya menyerahkan lembaran catatan dan beberapa lembar uang tunai.

"Bisa tolong bantu saya belikan barang-barang di daftar ini di supermarket atau toko perlengkapan terdekat?"

Pak Minto menerima catatan tersebut dengan sopan.

"Baik, Bu Gladys. Saya belikan sekarang. Ibu tidak apa-apa saya tinggalkan sendirian di sini?"

"Tidak apa-apa, Pak. Saya mau membersihkan meja bar dulu sambil menunggu," senyum Gladys.

"Baik, Bu. Saya permisi sebentar," pamit Pak Minto sebelum bergegas masuk ke dalam mobil dan melaju menjalankan tugasnya.

Sementara itu, di sebuah apartemen mewah bernuansa modern minimalis di pusat kota, Praduta baru saja melangkah keluar dari kamar mandi.

Uap air hangat masih menguar tipis dari bilik mandi.

Handuk putih melilit santai di pinggangnya, memamerkan dada bidang dan otot tubuhnya yang tegap terpahat sempurna.

Dengan rambut hitamnya yang masih basah dan meneteskan sisa air, Praduta melangkah santai menuju meja kerja.

Pria itu berniat bersiap-siap untuk berangkat menuju tempat latihan boxing langganannya untuk melepaskan penat.

Namun, sebelum menyambar pakaian, tatapan mata elangnya tertuju pada layar laptop di atas meja yang masih menyala terang sejak semalam.

Di sana, foto profil Gladys Anastasia terpampang jelas.

Pandangan Praduta terkunci pada binar mata teduh wanita yang baru saja terseret ke dalam panggung konflik keluarga Devandra tersebut.

Praduta menyandarkan jemarinya di tepi meja, menunduk sedikit menatap layar kaca itu dengan senyuman tipis yang dingin dan sarat akan maksud tersembunyi.

"Gladys Anastasia," bisik Praduta serak, menyebut nama wanita itu pelan bagai sebuah umpan yang siap ia mainkan dalam perang dendamnya.

Praduta melajukan mobil sport mewahnya menembus arus lalu lintas kota menuju tempat latihan boxing.

Namun, ketika melintas di kawasan Jalan Ahmad Yani, matanya menangkap pemandangan sebuah ruko dua lantai dengan pintu kaca yang terbuka separuh.

Sebuah papan nama kecil bertuliskan Coffee tampak mulai terpasang di atas kanopi.

Tak berselang lama, ia menghentikan mobilnya tepat di pinggir jalan tak jauh dari ruko tersebut. Praduta menyambar tas olahraganya dari kursi samping, berniat melanjutkan perjalanan.

Namun, rasa penasaran membuatnya urung menancap gas.

Matanya menatap lekat-lekat sosok yang samar-samar terlihat sibuk di balik meja bar.

Sambil menyunggingkan senyum khasnya, Praduta melangkahkan kakinya masuk melintasi pintu kaca yang tak terkunci.

"Permisi, apa sudah buka?" panggil Praduta santai dengan suara beratnya.

Gladys yang saat itu sedang berjongkok di balik meja bar membelakangi pintu.

Ia yang sibuk merapikan kardus-kardus cangkir—tersentak kaget mendengar suara asing tersebut.

DUK!

"Aduh!"

Karena terkejut, kepala Gladys langsung terbentur bagian bawah meja kayu tebal di atasnya.

Ia meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya, lalu pelan-pelan berdiri mengusap jidatnya.

"M-maaf belum, Mas. Kita baru mau persiapan buka—"

Kalimat Gladys terhenti. Begitu berdiri tegak dan mendongak, matanya bertabrakan dengan tatapan pria di hadapannya.

Sementara itu, Praduta langsung mematung di tempatnya berdiri.

Tatapan santainya seketika terkunci rapat pada raut wajah wanita di depannya.

Binar mata teduh, bibir yang agak pucat, serta ekspresi polos itu, persis dengan sosok yang berjam-jam ia tatap di layar laptopnya.

Gladys. bisik Praduta dalam hati.

Ia tidak menyangka takdir melemparkan umpan dendamnya begitu cepat dan tanpa jarak.

Gladys yang tidak menyadari kebingungan pria itu masih memegangi bagian belakang kepalanya yang berdenyut sakit.

Ia memaksakan tersenyum kecil meski memegang jidatnya yang memerah.

Melihat Gladys meringis kaget, Praduta dengan cepat menguasai dirinya kembali.

Senyum dingin di hatinya berganti menjadi raut wajah ramah nan penuh simpati—topeng playboy hangat yang selalu berhasil memikat siapapun.

"M-maaf, aku kira sudah buka," ucap Praduta lembut dengan nada penuh rasa bersalah, melangkah satu pijakan lebih dekat ke arah meja bar.

Praduta melangkah mendekati meja bar dengan raut wajah yang berubah penuh perhatian.

Ia meletakkan tas olahraganya di atas salah satu kursi kayu, lalu menatap Gladys dengan binar mata yang hangat nan intens.

"Kepalamu pasti benjol, ya? Tunggu sebentar," ucap Praduta lembut.

Tanpa ragu, ia meraih botol air mineral dingin yang tersimpan di dalam kantong luar tas olahraganya.

Ia melipat serbet bersih yang ada di atas meja bar, membungkus botol dingin itu, lalu mengulurkan tangannya mendekati dahi Gladys.

"Sini, biar saya kompres sebentar supaya tidak makin bengkak," tuturnya seraya menempelkan kain dingin itu perlahan di bagian dahi Gladys yang memerah.

Gladys mendadak kaku. Jarak mereka yang begitu dekat membuat Gladys bisa mencium aroma woody maskulin yang segar dari tubuh pria di hadapannya.

Gladys refleks mundur setengah langkah, merasa canggung dengan perhatian berlebihan dari pria asing tersebut.

"E-eh, tidak usah, Mas. Aku bisa sendiri," tolak Gladys canggung, hendak mengambil alih botol air dingin itu.

Namun, Praduta malah menahan tangannya dengan lembut, menatap lurus ke dalam manik mata Gladys sambil menyunggingkan senyuman tipis khas seorang playboy yang pandai memikat.

"Jangan ditolak dong. Kalau kepala kamu yang manis ini sampai benjol gara-gara saya, nanti cantiknya berkurang satu persen," goda Praduta santai dengan nada penuh rasa percaya diri.

"Lagipula., mana tega saya melihat wanita seanggun kamu kesakitan di depan mata saya sendiri?"

Mendengar gombalan murahan dan sikap sok kenal itu, rasa canggung Gladys seketika berubah menjadi kekesalan kecil.

Bukannya terpesona, Gladys justru menghembuskan napas jengkel.

Tanpa sadar, tangannya bergerak cepat mencubit kuat lengan berotot Praduta.

"Aduh! Sakit, Mbak!" ringis Praduta setengah kaget, meski senyum di bibirnya makin melebar.

"Sudah, sudah! Kamu pergi saja sana, tidak usah gombal di sini!" seru Gladys sambil mengusap dahinya sendiri, menatap tajam ke arah Praduta yang malah tampak menikmati reaksi ketusnya.

Praduta tertawa keci dan menyenangkan di telinga, padahal di dalam hatinya ia merasa puas karena berhasil memancing reaksi emosional dari targetnya begitu cepat.

"Galak juga ya," goda Praduta seraya mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah.

Ia menyambar kembali tas olahraganya. "Ya sudah, saya pamit dulu. Tapi ingat ya ,utang kopi saya belum dibayar ganti rugi benjol tadi. Nanti kalau kafenya sudah resmi buka, saya pasti datang lagi."

Praduta mengedipkan sebelah matanya, lalu berbalik melangkah santai meninggalkan kafe.

Gladys menatap punggung pria tinggi tegap itu melangkah keluar menuju pintu kaca dengan perasaan heran sekaligus jengkel.

Baginya, pria itu hanyalah pelanggan aneh yang sangat percaya diri.

Kemudian Gladys kembali membersihkan meja yang tadi belum selesai.

1
nining cahyaningrum
akur jelas cerita bagud
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!