Alya Renata adalah aktris terkenal yang hidupnya selalu berada di bawah sorotan kamera.
Arka Pratama hanyalah seorang mahasiswa yang terlihat biasa—tenang, sederhana, dan tidak tertarik dengan dunia selebritas.
Pertemuan tak sengaja di tengah hujan membuat dua dunia yang berbeda mulai saling mendekat.
Alya tidak pernah menyangka bahwa pria yang membuatnya merasa nyaman itu menyimpan identitas besar di balik kehidupannya yang sederhana.
Arka bukan sekadar mahasiswa.
Ia adalah pewaris keluarga Pratama, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.
Ketika cinta mereka mulai diketahui publik, mereka harus menghadapi usia, keluarga, media, karier, dan perbedaan dunia yang semakin sulit diabaikan.
Karena mencintai seseorang ternyata mudah.
Yang sulit adalah memilih untuk tetap berjalan bersamanya ketika seluruh dunia meminta mereka berpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa Kamu Tidak Pernah Bertanya? — Part 2
Siang harinya, Alya sudah berada di ruang rias sebuah studio foto besar di Jakarta Selatan.
Hari itu ia dijadwalkan menjalani sesi pemotretan eksklusif untuk sebuah merek fesyen ternama yang sedang mempersiapkan kampanye musim gugur terbaru.
Seorang pengarah gaya mendekatinya membawa layar tablet berisi beberapa hasil jepretan dari sesi pertama.
"Mbak Alya, ini preview hasil take yang tadi. Keren banget auranya."
Alya menatap layar itu sebentar.
Bagus. Sangat profesional. Tanpa cela. Senyumnya terukur dengan sudut yang tepat. Postur tubuhnya sempurna. Tatapan matanya tajam dan menghipnotis.
Semuanya sangat memenuhi standar emas industri.
Alya tersenyum formal. "Makasih, Mas. Bagus angle-nya."
Namun saat pengarah gaya itu pergi menyiapkan set berikutnya, pikiran Alya kembali terdistraksi.
Ia memikirkan Arka.
Kenapa cowok itu benar-benar tidak pernah menanyakan prestasiku atau meminta foto selembar pun? Apa di matanya, aku beneran sama kayak mahasiswi pada umumnya?
Alya meraih ponselnya, membuka kembali ruang obrolan mereka.
Jarinya mengambang di atas keyboard. Ia mulai mengetik.
Ka, kamu kok nggak pernah minta foto bareng aku?
Alya membaca kalimat provokatif itu, lalu buru-buru menghapusnya dengan panik. "Terlalu caper."
Ia mengetik kalimat lain.
Kamu sebenarnya tahu seberapa terkenal aku nggak sih?
Dihapusnya lagi. "Sombong banget kedengarannya."
Satu percobaan terakhir:
Kalau kamu misalnya punya kesempatan ngobrol sama artis terkenal lain, biasanya kamu minta foto buat kenang-kenangan nggak?
Alya memandangi layar ponselnya lama-lama, lalu mengusap wajahnya kasar. "Gila, kenapa chat-nya malah jadi kayak draf wawancara talkshow gini sih?"
Ia kembali menahan tombol backspace menghapus semuanya.
Namun tepat saat ia menyerah dan hendak meletakkan ponselnya, sebuah bubble chat hijau mendadak muncul dari Arka.
Arka: Lagi sibuk syuting?
Alya langsung menegakkan duduknya dan membalas kilat.
Alya: Lagi break pemotretan.
Alya: Kenapa, Ka? Ada masalah di kampus?
Arka: Enggak. Cuma nanya aja.
Alya tersenyum miring. Ia melihat ini sebagai celah. Kesempatan tidak datang dua kali. Ia harus menanyakan hal yang mengganjal pikirannya sekarang juga.
Alya: Arka, aku boleh tanya sesuatu nggak? Agak random.
Arka: Boleh, tanya aja.
Alya menarik napas dalam-dalam, lalu mengetik dengan gerakan cepat sebelum akal sehatnya mencegahnya.
Alya: Kenapa sih selama ini kamu enggak pernah sekalipun minta foto bareng aku?
Pesan terkirim. Centang dua abu-abu.
Detik itu juga Alya langsung menyesal setengah mati.
"Ya ampun, bodoh banget!"
Ia melempar ponselnya ke atas meja rias seolah benda itu panas terbakar. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Fix, aku kelihatan kepedean dan butuh validasi banget."
Satu detik berlalu. Tidak ada bunyi balasan. Satu menit. Masih hening. Dua menit.
Alya mulai menggigit bibir bawahnya gelisah. "Jangan-jangan pertanyaanku aneh banget buat dia."
Tepat saat ia akan menarik pesan tersebut, ponselnya bergetar pelan.
Arka: Memangnya kenapa saya harus minta foto kamu?
Alya menatap layar dengan alis bertaut. Jawaban yang sangat rasional dan melempar balik pertanyaan. Tapi justru membuatnya semakin penasaran dan sedikit tertantang.
Alya: Ya... karena aku artis? Dan orang-orang biasanya melakukan itu?
Balasan muncul nyaris seketika.
Arka: Cuma itu alasannya?
Alya terdiam kaku.
Kemudian pesan susulan dari Arka masuk berurutan.
Arka: Aku dari awal udah tahu kamu artis terkenal, Al.
Arka: Tapi aku sama sekali enggak merasa punya urgensi atau kebutuhan buat punya foto kamu di galeriku.
Alya membaca perlahan kalimat tegas itu. Ada jeda yang cukup lama sebelum rentetan pesan berikutnya dari pria itu masuk dan menghancurkan pertahanannya.
Arka: Kalau aku mau ngobrol sama kamu, ya ngobrol aja sebagai teman.
Arka: Kalau kita mau makan bareng, ya fokus nikmatin makanannya.
Arka: Punya foto kamu bukan keharusan buatku. Ngerti?
Alya tidak langsung membalas. Ia menurunkan ponselnya ke pangkuan.
Tiba-tiba, tanpa bisa dijelaskan oleh logika medis mana pun, rongga dadanya terasa sangat hangat. Desiran halus merambat di perutnya.
Bukan karena rentetan kata-kata gombal nan puitis—jelas sama sekali tidak ada bumbu romansa murahan dalam pesan itu.
Namun kehangatan itu muncul justru karena kalimat Arka terdengar sangat nyata, murni, dan manusiawi.
Selama bertahun-tahun, ratusan ribu orang ingin memiliki foto dirinya. Seolah-olah selembar foto bersama Alya Renata adalah trofi sosial yang membuktikan bahwa mereka eksis dan pernah menyentuh sosok selebritas. Ia dianggap sebagai 'benda' untuk dipamerkan.
Tapi bagi mahasiswa bernama Arka ini? Ia tidak membutuhkan validasi sosial semacam itu. Ia hanya ingin berbicara dengannya. Menikmati waktu tanpa distorsi lensa kamera.
Alya tersenyum sangat tulus, meresapi perasaan lega yang aneh. Ia kembali mengetik balasannya.
Alya: Kamu tahu nggak sih?
Alya: Kadang-kadang, jawabanmu itu super menyebalkan.
Arka: Lah? Kenapa menyebalkan?
Alya: Karena semuanya selalu terlalu masuk akal buat dibantah.
Arka membalas cepat:
Arka: Berarti otak saya berfungsi dengan bagus.
Alya tidak bisa menahannya lagi. Ia tertawa cukup keras di depan meja riasnya.
Seorang makeup artist yang sedang lewat mencari jepit rambut sampai menoleh heran.
"Mbak Alya? Ada yang lucu di draf naskahnya?"
Alya buru-buru merapatkan bibirnya, menggeleng cepat sambil mengatur napas. "Eh—enggak kok, Mba. Maaf."
Setelah staf itu berlalu, Alya kembali menatap layar ponselnya dengan tatapan lembut.
Untuk pertama kalinya dalam karier keartisannya, ia menyadari satu tamparan realitas.
Selama ini, mungkin bukan sikap Arka yang aneh. Mungkin justru dirinya dan egonya sendirilah yang sudah terlalu rusak dan terbiasa diukur berdasarkan status sosial. Ia terlalu terbiasa melihat orang-orang mendekatinya karena silau pada nama Alya Renata.
Hingga suatu ketika ada seseorang yang dengan terang-terangan menolak tunduk pada ilusi nama besar itu... Alya justru merasa ditarik dengan kekuatan gravitasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Sore merangkak menuju malam.
Arka baru saja melangkah keluar dari gerbang kampus dan menuju halte bus, ketika getaran pelan di sakunya menandakan satu pesan baru masuk.
Alya: Arka.
Arka: Hmm? Kenapa lagi?
Alya: Kalau seandainya suatu hari nanti, aku yang sengaja minta foto bareng kamu... kira-kira kamu mau nggak?
Arka menghentikan langkah kakinya tepat di depan marka halte.
Ia membaca pesan nekat itu. Sekali. Kemudian dua kali untuk memastikan ia tidak salah baca.
Ia tersenyum miring, menampakkan lesung pipinya yang jarang terlihat.
Arka: Boleh.
Alya yang sedang bersandar di sofa ruang tunggu studio langsung tersenyum sangat lebar membacanya. Kemenangan kecil.
Namun tepat sebelum ia sempat membalas dengan antusias, Arka mengirimkan pesan berikutnya.
Arka: Boleh, asal pakai HP kamu dan kamu sendiri yang cetak fotonya.
Alya langsung tertawa terbahak-bahak sambil memukul udara kosong. "Dasar cowok perhitungan!"
Ia menatap layarnya penuh suka cita.
Namun kebahagiaan itu hanya bertahan sesaat. Senyum di bibir Alya mendadak lenyap terbawa angin ketika sebuah notifikasi pesan dari manajernya, pop-up di bagian atas layar.
Mbak Rini (Manajer): Al, besok pagi kamu harus ke kantor agensi. Kita perlu ngobrol soal foto candid kamu di kampus yang mulai viral di Twitter dan masuk akun gosip. Ada beberapa media portal online yang udah mulai ngejar konfirmasi.
Tubuh Alya perlahan menegang kaku.
Ia mematung, menatap dua notifikasi berbeda yang bersanding di layar ponselnya. Nama Arka, dan pesan ancaman manajernya.
Untuk pertama kalinya, pertanyaan yang terlintas di kepalanya bukan lagi soal 'kenapa Arka tidak pernah meminta foto' atau 'kapan mereka akan bertemu lagi'.
Melainkan ketakutan baru yang jauh lebih gelap...
Kalau industri yang kejam ini mulai ikut campur, membongkar habis privasinya, dan menghakimi kedekatan mereka...
Apakah Arka akan menyerah dan pergi? Atau pria itu akan tetap melihatnya sebagai Alya yang sama?
Bersambung...
Arka yang lebih dewasa cara mikirnya "panik juga gak bikin kita bisa terbang" dan kalem nutupin Alya pas ketahuan Dina, bikin Alya yang hidupnya capek jadi artis tuh ngerasa aman, bukan diatur. Bukan yang posesif "kamu gak boleh syuting", tapi yang support "Aku respect sama kamu, Al" habis lihat Alya take 9x.
Itu bedanya age gap yang mateng vs yang maksa. Protective tapi tetap ngasih ruang buat Alya berkarir. Suka banget dinamikanya!
Semangat kak, ditunggu update-nya!
Arka: "Belum tentu, skripsi belum kelar"
AKU SEBAGAI PEMBACA: Arka, skripsimu bisa nunggu, Alya gak bisa! 😭
Next bab tolong Arka jangan ilang dulu, sponsor Alya lagi di ujung tanduk nih!
Alya yang udah 10 tahun dianggap trofi, baru kali ini ada yang ngeliat capeknya sebagai manusia. Dan Alya yang bilang 3x "Jangan pulang dulu" itu gemes banget. Tapi endingnya Riko manajer produksi + nomor portal gosip ngechat "Selamat sore Mas Arka Pratama?" MERINDING. Skysea Group mau kebongkar!
Di sini baru Arka ngerti kenapa Alya bisa jadi aktris bayaran termahal - bukan karena cantik doang, tapi pas kamera nyala, Alya beneran lenyap dan jadi karakternya. Dan Arka yang dateng bawa 2 es kopi langganan mereka 😭 simple tapi sweet banget!
Alya seumur hidup: Langsung hangat dadanya
Kalimat paling tulus di novel ini. No gombal, cuma jujur. Love!