Bagi Amanda, Farel adalah sahabat sekaligus cinta pertamanya. Meskipun lelaki itu tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman, namun Amanda tidak pernah memiliki rasa lelah terlebih lagi menyerah. Ia akan selalu berusaha membuat Farel melihat ketulusan cintanya, meskipun Amanda sendiri tidak bisa mengungkapkannya secara langsung.
Namun sebuah rasa itu seolah menghilang secara perlahan saat Amanda bertemu dengan lelaki bernama Cio, lelaki aneh yang selalu menggodanya dengan sikap konyolnya. Seperti pada lelaki lainnya, Amanda selalu bersikap tak peduli, namun seiring berjalannya waktu, hatinya justru tersentuh dengan kisah kehidupannya dan perasaan tulusnya.
Di balik tawa konyolnya, Cio memiliki kisah rapuh yang tidak ingin lelaki itu ingat. Meski pada akhirnya air matanya jatuh juga kala mengingat masa kelamnya, dan semua itu hanya Cio tunjukkan di hadapan Amanda, gadis cantik yang disukainya.
Saat semua berubah sedikit demi sedikit termasuk hati Amanda, Cio justru pergi den
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 08
Part 08
Farel merengkuh lengan Vanessa, lalu menariknya dengan paksa supaya mau mengikuti langkahnya. Di belakangnya, Vanessa yang tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya Farel lakukan itu berusaha memberontak, terlihat dari lengannya yang Vanessa pelintir berharap bisa lepas dari lelaki itu.
"Lepas, Rel!" pintanya tegas, namun lelaki tetap tak memperdulikannya, kakinya terus melangkah ke arah tujuannya.
"Ikut aku! Aku mau berbicara serius denganmu," jawab Farel tegas tanpa mau menghentikan langkahnya.
"Kamu ini mau apa sih? Aku tidak mau ikut denganmu," keluh Vanessa kesal, namun Farel terus menarik lengannya membuat Vanessa mau tidak mau mengikuti langkahnya. Sesampainya di tempat yang sepi, di mana tidak ada orang satu pun di sana, Farel menghentikan langkahnya lalu merengkuh kedua tangan Vanessa penuh kelembutan, berharap wanita itu mau mendengarkannya kali ini.
"Aku minta maaf," ujarnya tulus, namun Vanessa hanya menaikkan salah satu alisnya penuh keangkuhan.
"Untuk apa kamu minta maaf? Aku bukan siapa-siapamu, jadi kamu tidak perlu merasa bersalah hanya karena menerima perhatian dari gadis itu." Vanessa menjawab angkuh, membuat Farel menyesal telah mau menanggapi perhatian Amanda walau hanya sebentar.
"Jangan seperti itu, aku dengan Amanda tidak ada apa-apa. Dia yang terus memberiku perhatian, aku bahkan tidak ingin menanggapinya. Kamu tahu kan, selama ini cuma kamu yang aku cintai? Dulu aku dengan Amanda memang berteman baik, tapi sekarang aku tidak mengacuhkannya semua demi kamu. Lalu apa yang masih kamu ragukan dariku?" Farel semakin meninggikan rengkuhannya, mencoba mempertanyakan penjelasan apa yang ingin Vanessa katakan atas apa yang sudah ia lakukan untuknya.
"Tapi kamu masih berhenti berjalan untuk menanggapinya berbicara, aku tidak menyukainya." Vanessa menjawab egois, namun Farel justru tersenyum, mencoba sabar dengan sikap gadis itu yang memang terkadang sedikit buruk namun terlihat lucu di matanya.
"Oke, kalau begitu aku tidak akan menanggapinya lagi saat dia berbicara, bahkan aku akan terus berjalan untuk tidak memperdulikannya. Bagaimana?" tawar Farel yang kali ini berhasil menyunggingkan bibir Vanessa yang tersipu oleh sikapnya.
"Aku sangat mencintai kamu, kamu mau kan membangun komitmen bersamaku? Menjalin hubungan yang lebih jauh, membiarkanku menjadi pemilikmu?" ujar Farel tulus dengan tatapan meneduhkan yang membuat Vanessa tidak berkutik di tempatnya, merasa begitu tersipu dengan apa yang baru Farel katakan. Lelaki itu begitu manis dan pintar merangkai kata-kata, membuat Vanessa tidak bisa menolaknya.
"Iya, aku mau." Vanessa mengangguk samar, tepatnya merasa malu akan hal itu. Namun ekspresi lain justru Farel tunjukkan, lelaki itu begitu terkejut mendengarnya, meski bibirnya tersenyum mengetahui Vanessa mau menerimanya.
"Terima kasih. Aku janji, aku akan berusaha membahagiakanmu." Farel merengkuh erat tangan Vanessa dengan sesekali mengecupnya penuh haru, membuat wanita itu tersenyum dan mengangguk setuju.
***
Jam tujuh pagi, Amanda sudah berada di dalam bis. Seperti biasa, ada beberapa kotak bekal berada di dalam pelukannya. Matanya yang menyiratkan kesedihan itu hanya tertuju ke arah jendela bis, di mana awan masih berwarna abu dengan sinar mentari yang tak terlalu menyinari.
Di belakangnya, Cio yang baru masuk ke dalam bis itu bisa melihat, bagaimana Amanda terlihat tak bahagia. Mungkin kejadian di kantin kemarin membuatnya sadar, bila apa yang diperjuangkannya sudah seharusnya dihentikan.
Setelah hanya bisa melihat, akhirnya Cio memutuskan untuk duduk di samping Amanda, membuat empunya yang menyadari hal itu menoleh ke arahnya dengan sorot mata yang seolah sudah tahu. Dengan tersenyum tipis, Amanda menyapanya penuh hangat. Tidak seperti Amanda kemarin yang selalu marah-marah saat tahu Cio mengambil kotak bekalnya, gadis itu terlihat lebih tenang sekarang seolah tidak takut makanannya akan diambil kembali.
"Hai," sapanya lemah, namun senyum tipis itu masih tercetak di bibir mungilnya.
"Hai juga." Cio menyapa balik Amanda dengan nada yang sama, menyunggingkan senyum manisnya penuh kehangatan. Di dalam hati, Cio ingin membuat Amanda yang kemarin, Amanda yang judes dan tidak bersedih seperti sekarang.
"Aku ingin memberikan ini untukmu," ujar Amanda sembari mengambil sesuatu dari lunch box miliknya.
"Ini, makanlah!" Amanda memberikan salah satu kotak makanan miliknya ke Cio yang terdiam sembari menatap bekal itu dengan sorot mata tak mengerti.
"Untukku?" tanyanya tak yakin, dan entah kenapa Cio malah ingin seperti kemarin, mengambil makanan Amanda dengan paksa, dengan cara seperti itu, Cio akan bisa melihat bagaimana Amanda marah dan menggerutu tak suka hingga Cio bisa mengganggunya tanpa henti sampai kampus.
"Iya, ini untukmu. Terimalah!"
"Tapi kenapa?"
"Anggap saja sebagai rasa terima kasihku soal kemarin," jawab Amanda tulus namun Cio justru terlihat tidak menyukainya.
"Kenapa harus seperti ini hanya karena hal itu? Kalaupun aku tidak mengajakmu pergi saat itu, seharusnya kamu bisa pergi sendiri, perlihatkan ke semua orang bagaimana kamu bisa bersikap tenang hanya karena masalah sepele seperti itu." Cio menjawab kesal, baginya Amanda itu terlalu lemah di hadapan Farel, tapi di hadapan orang lain terlihat sok kuat.