NovelToon NovelToon
LANGIT Dan BUMI

LANGIT Dan BUMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:13.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.

Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.

Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Malam itu, aspal jalanan ibu kota yang basah oleh sisa hujan sore hari memantulkan kerlip lampu kota seolah-olah menjadi saksi bisu kecemasan Langit Prita Dewanta.

Di balik kemudi, Bumi, yang malam ini mengenakan setelan jas formal tampak begitu santai, berbanding terbalik dengan langit yang menunjukkan wajah tegangnya.

Bagi Langit, malam ini adalah ujian sesungguhnya. Jaka Dewanta, sang kakek sekaligus pendiri Dewanta Group yang legendaris, telah menitahkan agar Langit membawa calon suaminya ke mansion utama untuk makan malam keluarga.

Mansion itu bukan sekadar rumah megah, itu adalah wilayah kekuasaan mutlak Jaka Dewanta, sekaligus medan perang bagi Hendra Dewanta.

Hendra adalah anak bungsu Jaka, paman Langit yang selama ini menjadi musuh dalam selimut di perusahaan, selalu mengintai takhta CEO yang kini duduki oleh Langit.

"Bumi, kamu mendengarkanku?" suara Langit sedikit bergetar, memecah keheningan di dalam kabin mobil.

Matanya menatap lurus ke depan, memperhatikan gerbang megah mansion Dewanta yang mulai kelihatan di ujung jalan.

Bumi melirik sekilas, senyum tipis terukir di wajahnya yang masih memiliki sisa-sisa garis remaja, namun memancarkan kedewasaan yang aneh.

"Aku mendengarkan, Langit. Eh, Sayang maksudnya" goda Bumi

"Jangan bercanda, Bumi. Aku serius," potong Langit, menghela napas panjang.

"Begitu kita melewati gerbang itu, kita memasuki wilayah singa. Paman Hendra pasti akan mencari segala celah untuk menjatuhkan kita di depan Kakek Jaka. Dia tahu kamu lebih muda enam tahun dariku. Dia pasti akan menggunakan isu perbedaan usia, latar belakangmu, atau apa pun untuk membuat Kakek meragukan keputusanku memilihmu, dan memimpin perusahaan."

Langit meremas jemarinya sendiri yang mulai basah oleh keringat dingin.

Ketakutan terbesar dalam hidupnya sekarang bukan hanya kehilangan posisi di perusahaan, melainkan melihat pria yang dicintainya ini dihancurkan harga dirinya oleh keluarga Dewanta yang terkenal kejam dengan kata-kata mereka.

Melihat kecemasan yang begitu kentara, Bumi memindahkan tangan kirinya dari roda kemudi, meraih tangan Langit yang bertumpu di atas paha.

Begitu telapak tangan mereka bertemu, Bumi sedikit terkejut. Tangan Langit mendadak sangat dingin, seperti es yang baru keluar dari pembeku.

Bumi menggenggam tangan itu dengan erat, menyalurkan kehangatan tubuhnya yang kontras.

"Tenang saja, Langit," ucap Bumi, kali ini dengan nada suara yang lebih berat dan menenangkan. "Kamu lupa siapa aku?, aku ini dibesarkan di jalanan sebelum akhirnya bisa masuk ke dunia mu yang penuh intrik sekarang ini."

Langit menoleh, menatap profil samping Bumi yang diterangi cahaya dasbor.

"Aku sudah terbiasa menghadapi monster jalanan, Langit. Mulai dari preman pasar yang bawa golok karatan sampai rentenir keliling yang tatonya gambar Hello Kitty tapi mukanya kayak badak," lanjut Bumi dengan nada jenaka.

"Monster-monster jalanan itu setidaknya jujur kalau mau mukul. Nah, kalau monster seperti pamanmu itu, paling cuma monster berdasi yang kalau bicara pakai bahasa Inggris bisnis, kan? Tenang saja, monster rumahan seperti dia tidak akan membuatku gentar."

Mendengar analogi aneh tentang tato Hello Kitty dan bahasa linggis, pertahanan Langit runtuh juga. Sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya, mengurangi ketegangan yang sejak tadi mengikat dadanya.

"Paman Hendra tidak bawa golok, Bumi. Tapi kata-katanya bisa lebih tajam dari itu," kata Langit, meski kini senyumnya sudah mulai terbit.

"Kalau dia pakai kata-kata tajam, aku tinggal pakai tameng kebebalan tingkat tinggi yang sudah kulatih selama dua puluh empat tahun ini," sahut Bumi sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Lagipula, apa yang perlu ditakutkan? Nilai plusku kan banyak. Aku muda, tampan, energik, dan yang paling penting, aku bisa menemanimu sampai tua tanpa perlu khawatir aku encok duluan saat kita jalan-jalan ke luar negeri nanti. Pamanmu itu sudah ubanan, kan? Harusnya dia yang insecure melihat semua yang ada padaku saat ini."

"Kamu ini benar-benar narsis ya," ujar Langit sambil menggeleng-gelengkan kepala, namun tangannya tidak melepaskan genggaman Bumi.

Rasa dingin yang tadi mendominasi perlahan-lahan menguap, digantikan oleh kehangatan yang menjalar hingga ke hatinya.

Bumi selalu punya cara aneh untuk membuatnya merasa aman, sebuah kemampuan yang tidak dimiliki oleh pria-pria mapan seusianya yang pernah mendekati Langit.

Mobil mewah mereka akhirnya berhenti tepat di depan lobi utama mansion Dewanta.

Seorang pelayan dengan seragam rapi segera membukakan pintu mobil.

Bumi turun terlebih dahulu, merapikan jasnya dengan gerakan teatrikal yang membuat Langit kembali menahan senyum.

Bumi berjalan memutari mobil, lalu membukakan pintu untuk Langit dengan membungkuk hormat layaknya seorang pelayan kerajaan.

"Silakan turun, Ratu Dewanta Group. Ksatria mu siap mengawal," bisik Bumi jenaka saat Langit melangkah keluar.

"Hentikan, Bumi. Jangan memancing tawa di sini, nanti wibawaku jatuh," balas Langit berbisik, namun matanya memancarkan rasa terima kasih yang mendalam.

Mereka berjalan berdampingan menuju pintu ganda kayu jati setinggi tiga meter yang menjadi gerbang masuk ke dalam inti kekuasaan keluarga Dewanta.

Di dalam sana, Langit tahu, seluruh anggota keluarga inti sudah berkumpul. Makan malam ini bukan sekadar jamuan, melainkan sidang tak tertulis untuk menguji kelayakan Bumi, sekaligus kelayakan Langit untuk mempertahankan posisinya sebagai CEO utama.

Sebelum pelayan mendorong pintu besar itu, Bumi kembali meraih tangan Langit. Kali ini bukan sekadar genggaman biasa, melainkan kaitan jemari yang begitu erat dan mengunci. Bumi menatap mata Langit dengan binar keyakinan yang mutlak.

"Ingat, kita masuk sebagai satu paket. Jangan lepas tanganku, apa pun yang terjadi," bisik Bumi dengan nada yang tidak menerima bantahan.

Langit mengangguk kecil. Dadanya berdesir. Rasa takut itu tidak sepenuhnya hilang, namun kini ada keberanian besar yang menopangnya.

Pintu besar itu perlahan terbuka ke dalam, mengeluarkan aroma wewangian mahal campuran kayu cendana dan lilin aromaterapi yang khas. Di dalam ruangan tengah yang luas dengan lampu kristal gantung yang megah, suasana mendadak senyap.

Langkah kaki Langit dan Bumi yang berketukan di atas lantai marmer seolah menjadi satu-satunya suara yang terdengar.

Di ujung ruangan, di atas sofa kulit besar, duduklah Jaka Dewanta. Sang patriark mengenakan batik sutra gelap, wajahnya yang dipenuhi kerutan usia tetap memancarkan aura otoritas yang mengintimidasi.

Di sebelah kirinya, duduk Hendra Dewanta dengan senyum sinis yang sudah sangat familier bagi Langit.

Mata Hendra langsung tertuju pada Bumi, meneliti dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan pandangan meremehkan, seolah sedang menilai barang loakan yang salah masuk ke butik mewah.

Bukan hanya Hendra, beberapa sepupu dan kerabat lain yang hadir pun melemparkan sorot mata yang serupa.

Dingin, penuh selidik, dan sarat akan penghakiman atas perbedaan usia serta status sosial mereka. Ruangan itu mendadak terasa seperti ruang pengadilan yang beku.

Namun, genggaman tangan Bumi di jemari Langit justru semakin mengencang, memberikan jangkar yang kokoh di tengah badai tatapan tidak bersahabat itu.

Bumi sama sekali tidak menundukkan kepala. Ia justru menegakkan bahunya, membalas tatapan dingin Hendra dengan senyum ramah yang tampak sangat tulus, namun menyimpan tantangan tersendiri.

Langit menarik napas dalam-dalam, mengangkat dagunya tinggi-tinggi dengan keanggunan seorang wanita yang tahu persis nilai dirinya. Dengan tangan Bumi yang mendekap erat jemarinya, mereka melangkah maju mendekati pusat ruangan.

"Selamat malam, Kakek, Paman, dan semuanya," ucap Langit dengan suara yang lantang, jernih, dan tidak menyisakan ruang untuk keraguan sedikit pun. "Salam jumpa kembali di rumah ini. Perkenalkan, ini Bumi, calon suamiku."

Di sampingnya, Bumi memberikan anggukan hormat yang mantap.

Penasaran apa yang terjadi berikutnya?, yuk jangan lupa komen ya.

1
Siti Aisah
bang bumi pokoknya the best lah, apakah bumi masuk dlam salah satu tebakan Prasetyo... hanya author yg tahu bikin penasaran ah😜
Siti Aisah
thor sebenar nya bumi ini siapa" bikin penasaran kenapa bumi sllu bisa memecahkan masalah rumit🤔🤔
Susy Ariyani
😭😊😊😊
Susy Ariyani
keren dan berkelas
Susy Ariyani
🤣😄😄
Kaa
di tunggu lanjutannya Thor bikin senyum baca nya
Kaa
kapan mereka benar benar menjadi pasangan kan udah halal
Akhila Davina
lanjut kak💪
Susy Ariyani
haha
Susy Ariyani
🤭🤭🤭
Susy Ariyani
💪💪💪🤣🤣
Susy Ariyani
🤣🤣🤣
Susy Ariyani
lucu😄😄😄
Akhila Davina
hahaha..sok kumha kamu we lah Bumi
Ummah Intan
lanjut
Mundri Astuti
semoga segera masuk prodeo tuh duo pengkhianat sama si aki"
Akhila Davina
semangat berjuang ❤️
Siti Aisah
bumi kau membuat langit jadi merona, semoga berjalan lancar umpan nya..lanjut Thor sehat selalu🤗
Siti Aisah
ayo menghayal lah setinggi mungkin kalian berdua eh bertiga, langit tidak mudah di hancurkan karena sudah ada bangmontir bumi yg cerdas😁
Koesbandiana
bibit2 cinta telah bersemi...olala...❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!