NovelToon NovelToon
DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Mengubah Takdir / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:980
Nilai: 5
Nama Author: Icita

Dara adalah gadis dari keluarga kelas bawah yang dijebak oleh pemuda kaya bernama Riko yang berujung kehamilan Dara. Riko menolak untuk bertanggung jawab karena mempertahankan status sosial dan nama baik keluarga.
Keputusan Dara memilih untuk mempertahankan kehamilannya yang menyebabkan dirinya dibuang dari keluarganya sendiri karena dianggap sebagai sebuah aib.
Kisah Dara yang berjuang sendiri dalam kehamilannya begitu pilu dan penuh perjuangan hingga melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan jenius yang diberi nama Juwita.
Kehidupan Jiwita tak kalah menyedihkan, dia selalu dikucilkan dan dijauhi karena dicap sebagai anak haram, bahkan setiap prestasi yang didapatkan selalu tak dianggap oleh siapapun kecuali ibunya yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Kesabaran dan tekad Dara dan Juwita diuji dengan banyaknya lika-liku kehidupan yang harus dijalani.
Mampukah mereka bertahan, membalikan keadaan dan membalas rasa sakit yang dialami ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Coding Gratis untuk Sang Saudara Tiri

Pagi hari di aula utama SMA Pelita Bangsa dipenuhi oleh kilatan lampu kamera dan bisik-bisik antusias dari ratusan siswa serta dewan guru. Hari ini adalah Sesi Showcase Inovasi Teknologi Antar-Kelas, sebuah panggung besar di mana para siswa unggulan diberi kesempatan untuk mempresentasikan proyek sains mereka di hadapan para pengamat independen dan perwakilan industri.

Di barisan kursi paling depan, Juwita duduk dengan postur anggun. Tidak ada lagi seragam kusam atau rasa minder yang melekat pada dirinya. Hari itu, ia mengenakan kemeja putih bersih berpadu blazer rapi hasil dari beasiswa, dengan rambut dikuncir ekor kuda yang membuatnya tampak tajam, cerdas, dan mematikan. Di balik ketenangannya, rahasia besar tentang siapa dirinya—bahwa ia adalah darah daging yang dibuang oleh Riko Aditama dan saudari tiri dari si pembuat masalah Kevin—terus berputar di kepalanya. Namun, alih-alih meledak dalam amarah, Juwita memilih strategi yang jauh lebih elegan: mempermalukan musuhnya di atas panggung dengan cara yang paling terhormat.

Beberapa kursi di sebelah kanannya, Kevin Aditama tampak gelisah. Pemuda itu terus-menerus menarik kerah kemejanya, menyeka keringat dingin di pelipisnya, dan merapikan catatan kecil di tangannya. Sejak insiden forensik beberapa waktu lalu, posisi sosial Kevin di sekolah terjun bebas. Harga diri dan arogansinya hancur berkeping-keping. Demi mengembalikan nama baiknya di hadapan sang ayah, Kevin nekat mengambil langkah bodoh: ia mencuri sisa rancangan modul draf lama milik Juwita, mengubah beberapa judulnya, dan mendaftarkannya sebagai proyek pribadinya untuk dipresentasikan hari ini.

“Lihat saja nanti,” umpat Kevin dalam hati, melirik Juwita dengan tatapan penuh kebencian terselubung. “Begitu aku mempresentasikan sistem ini di depan umum, semua orang akan mengira akulah jenius sebenarnya, dan kau akan kembali menjadi gadis bodoh yang tak dianggap.”

Satu per satu peserta naik ke atas panggung dan memaparkan hasil karya mereka. Hingga akhirnya, suara pengeras suara memanggil nama peserta berikutnya.

"Peserta selanjutnya, dari perwakilan kelas XII-IPA 1: Kevin Aditama, dengan judul proyek Autonomous Neural Logic Network!"

Aula seketika bergemuruh oleh tepuk tangan. Dengan senyuman sombong yang dipaksakan, Kevin melangkah tegap menaiki panggung. Ia berdiri di belakang podium utama, menghadap ke layar proyektor raksasa yang menampilkan barisan kode dan diagram arsitektur kecerdasan buatan.

Awalnya, presentasi berjalan lancar. Kevin menghafal beberapa istilah teknis yang sempat ia pelajari dari catatan Juwita. Para siswa bertepuk tangan kagum, mengira Kevin benar-benar seorang jenius IT. Di kursi penonton, Juwita hanya menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat kedua tangannya di dada, sambil menikmati tontonan gratis layaknya seseorang yang sedang menonton opera komedi buruk.

Namun, drama sesungguhnya dimulai pada sesi tanya jawab.

"Baik, terima kasih atas presentasinya yang luar biasa, Saudara Kevin," ucap salah satu juri independen dari industri teknologi, seorang pria paruh baya berkacamata tebal. "Saya melihat ada struktur logika yang sangat menarik pada modul optimasi lapisan ketiga di baris kode nomor 204. Bisa jelaskan kepada kami, bagaimana cara kerja algoritma rekursif itu dalam mengatasi overfitting data?"

Seketika itu juga, senyuman di wajah Kevin membeku.

Darahnya mendadak surut dari wajahnya. Otaknya berhenti berputar. Baris kode nomor 204? Modul optimasi lapisan ketiga? Kevin tidak punya

ide sedikit pun mengenai hal itu! Ia hanya menyalin mentah-mentah file draf Juwita tanpa pernah benar-benar membaca atau memahami logika di balik pemrogramannya.

Di atas panggung, Kevin berdiri mematung. Mulutnya membuka dan menutup seperti ikan yang kehabisan air. Keringat dingin bercucuran deras membasahi kemeja mahalnya. Ia menelan ludah dengan susah payah, mencoba mengarang jawaban asal-asalan.

"Ehm... itu... jadi begini, Pak Juri..." kata Kevin terbata-bata, suaranya mulai bergetar. "Algoritma rekursif itu... ya, tentu saja dia... mengoptimalkan data dengan cara... memprosesnya secara... rekursif!"

Beberapa siswa di barisan belakang langsung tertawa kecil. Juri mengerutkan kening, menatap Kevin dengan pandangan menyelidik. "Saudara Kevin, itu bukan penjelasan teknis. Bisa jelaskan fungsi matematis di balik fungsi rekursif tersebut?"

Kevin semakin terpojok. Otaknya benar-benar kosong. Ia melirik panik ke arah layar proyektor, lalu tanpa sengaja pandangannya tertuju pada barisan penonton di depan—tepat di mana Juwita sedang duduk.

Juwita menatap Kevin dengan senyuman paling manis, paling ramah, dan paling mematikan di dunia. Gadis itu perlahan mengangkat tangannya, meminta izin kepada juri untuk berbicara, layaknya seorang murid teladan yang ingin membantu temannya yang sedang kesulitan.

"Maaf, Pak Juri," ucap Juwita dengan suara jernih yang menggema ke seluruh penjuru aula melalui mikrofon penonton. "Sepertinya rekan saya, Kevin, sedikit gugup hingga konsep dasarnya tertukar."

Semua kepala di aula menoleh serentak ke arah Juwita. Kevin menatap Juwita dengan mata terbelalak horor, memohon lewat tatapannya agar gadis itu tidak mempermalukannya lebih jauh.

Namun Juwita tidak berniat berhenti. Dengan anggun, Juwita berdiri dari kursinya, berjalan santai mendekati tepi panggung tanpa rasa takut.

"Biar saya bantu jelaskan, Pak Juri," ujar Juwita dengan nada bicara yang sangat sopan dan profesional. Ia menoleh ke arah Kevin, lalu tersenyum lebar. "Kasihan Kevin, mungkin kemarin malam dia kurang tidur karena terlalu lelah menghafalkan kode yang... ehm, tidak sengaja ia temukan di meja sebelah."

Sindiran telak itu meluncur begitu mulus hingga beberapa guru langsung mengernyitkan dahi, sementara bisik-bisik riuh mulai terdengar di antara para siswa.

"Pada baris kode 204 itu," lanjut Juwita sambil menunjuk diagram di layar proyektor dengan gerakan tangan yang elegan, "implementasi yang digunakan bukanlah sekadar rekursi biasa, melainkan penerapan Dynamic Programming dengan fungsi Memoization untuk memangkas kompleksitas waktu dari  menjadi . Tujuannya agar sistem tidak mengalami memory leak saat memproses data besar dalam waktu bersamaan. Sederhananya... kalau seseorang hanya menyalin kodenya tanpa paham logika dasarnya, memang wajar kalau dia mengira itu cuma 'proses rekursif biasa'."

Skakmat.

Aula seketika terdiam sunyi senyap. Penjelasan teknis yang begitu brilian, dibalut dengan sindiran sarkas yang sangat cerdas, mendarat telak di kepala Kevin bagaikan palu godam besi. Wajah Kevin memerah padam hingga menyerupai udang rebus. Malu, marah, dan panik bercampur menjadi satu di dalam dirinya. Ia ingin menelan bumi saat itu juga.

Para juri mengangguk-angguk takjub mendengar penjelasan Juwita, sementara sang juri utama tersenyum lebar. "Penjelasan yang luar biasa cerdas! Luar biasa, Juwita. Anda memahami setiap baris logika proyek ini di luar kepala. Pertanyaan saya terjawab dengan sempurna."

Juwita menunduk hormat kepada juri, lalu melirik sekilas ke arah Kevin yang berdiri lemas di balik podium dengan lutut gemetar.

"Sama-sama, Pak," balas Juwita dengan senyuman manis yang membuat Kevin ingin menangis darah. "Lain kali, kalau mau mempresentasikan proyek karya orang lain di depan umum... pastikan minimal sudah membaca bukunya sampai halaman terakhir, ya, Kak Kevin."

Kata Kak diucapkan Juwita dengan penekanan pelan yang penuh makna tersembunyi—sebuah ledekan halus yang hanya dipahami oleh mereka berdua, mengingatkan Kevin pada garis darah yang menghubungkan mereka sebagai saudara tiri dari pria brengsek yang sama.

Tepuk tangan meriah mendadak pecah di seluruh aula. Para siswa bertepuk tangan kagum atas kecerdasan Juwita, sementara Kevin dengan langkah tergopoh-gopoh dan kepala tertunduk malu, kabur meninggalkan panggung di tengah sorakan dan gelak tawa penonton.

Juwita kembali duduk di kursinya dengan tenang. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan kepuasan yang luar biasa menyebar di dadanya. Ini bukan sekadar balas dendam; ini adalah sebuah deklarasi. Permainan baru saja dimulai, dan sang ratu yang sebenarnya kini telah memegang kendali penuh atas papan catur kehidupan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!