Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.
Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.
Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.
Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Penyesalan
Kesedihan Cassandra semakin pecah setelah Mateo meninggalkan rumah. Air matanya tidak berhenti mengalir, tubuhnya bahkan sampai gemetar karena rasa bersalah yang terus menghantam pikirannya.
“Ini semua salahku…” bisiknya dengan suara bergetar. “Seandainya waktu itu aku tidak terlalu keras kepala…”
Gilbert yang sejak tadi hanya terdiam akhirnya menarik istrinya ke dalam pelukannya. Tangannya mengusap punggung Cassandra perlahan, meskipun dirinya sendiri sebenarnya sedang berjuang menahan air mata.
“Aku juga salah,” ucap Gilbert lirih.
Cassandra menggeleng sambil menangis.
“Tidak aku yang paling salah, aku terus menyalahkan Ivy. Aku percaya begitu saja pada Mateo tanpa pernah benar-benar bertanya apa yang sebenarnya terjadi, aku bahkan tidak pernah memberi Ivy kesempatan untuk menjelaskan semuanya.”
Gilbert menundukkan wajahnya, dadanya terasa sesak, Ia juga menyesal. Selama ini, ia merasa telah melakukan apa yang terbaik untuk keluarganya. Ia membela putranya, mempercayai setiap perkataan Mateo, dan menganggap Ivy sebagai penyebab hancurnya kehidupan putranya.
Namun sekarang, semua keyakinan itu runtuh.
“Aku gagal sebagai seorang ayah,” kata Gilbert dengan suara parau. “Aku seharusnya mengajari Mateo untuk bertanggung jawab atas kesalahannya, bukan terus membenarkan semua tindakannya.”
Cassandra terdiam dalam pelukannya, memeluk erat tubuh suaminya.
“Aku juga gagal sebagai ayah mertuanya Ivy, Aku menghakimi seorang wanita yang mungkin sebenarnya sudah kehilangan segalanya.” Kata Gilbert, air matanya akhirnya tumpah di pelukan istrinya.
“Dan yang paling menyakitkan…” suaranya bergetar, “aku gagal sebagai seorang kakek.”
Hati Cassandra seperti di remas sesuatu yang tidak kasatmata saat mendengar perkataan suaminya itu, karena dia sendiri juga telah gagal menjadi seorang nenek.
Cassandra menangis lebih keras, meluapkan semua emosi dalam dirinya. Mereka bahkan belum pernah melihat Grizella, belum pernah menggendongnya, belum pernah mendengar panggilan kecilnya, belum pernah membelikan mainan untuknya, belum pernah melihat senyumnya secara langsung. Tetapi sekarang, anak kecil itu sudah tidak ada, cucu mereka telah pergi untuk selamanya.
“Dia bahkan belum sempat memanggilku Kakek…” Gilbert berbisik lirih.
Cassandra menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Dan aku belum sempat mendengar dia memanggilku Nenek…”
Ruangan itu kembali dipenuhi tangisan dua orang tua yang terlambat menyadari betapa berharganya seseorang yang selama ini tidak pernah mereka beri kesempatan untuk mereka kenal.
Di antara penyesalan itu, sebuah kenyataan yang jauh lebih menyakitkan perlahan menghantam mereka.
Grizella tidak akan pernah kembali.
Dan tidak peduli seberapa besar penyesalan mereka, tidak ada satu pun permintaan maaf yang mampu mengubah masa lalu.
Malam semakin larut, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang mampu tidur. Cassandra masih duduk di sofa dengan mata sembap, Gilbert berada di sampingnya, menggenggam tangan istrinya erat-erat. Kini rumah besar itu terasa begitu kosong.
Biasanya Cassandra akan mengomel ketika Mateo pulang terlambat, biasanya Gilbert akan menanyakan pekerjaan putranya itu, namun malam ini, nama Mateo justru terasa seperti luka yang terbuka.
“Aku ingin menemui Ivy,” tiba-tiba Cassandra berkata.
Gilbert menoleh.
“Ivy?”
Cassandra mengangguk, air matanya kembali menggenang.
“Aku ingin meminta maaf padanya.” Kata Cassandra.
Gilbert terdiam beberapa saat.
“Aku tahu mungkin dia tidak mau bertemu dengan kita, dan aku tidak akan menyalahkannya kalau dia membenci kita.” Lanjut Cassandra, tangannya mengepal di atas lutut.
“Kita juga ikut memberikan luka pada Ivy, ketika dia membutuhkan kita. Kita justru meninggalkannya, membuatnya merasa sendirian. Ketika Grizella sakit, seharusnya kita ada di sana. Seharusnya kita mencari tahu keadaan mereka selama ini, bukannya diam saja dan berharap semuanya baik-baik saja. Seharusnya kita tidak hanya mendengarkan cerita Mateo saja.”
Gilbert menghela napas panjang.
“Kalau Ivy tidak mau menemui kita?” Tanya Gilbert.
“Kalau begitu aku akan menerimanya.” Ucap Cassandra.
Cassandra menatap kosong ke depan.
“Aku tidak datang untuk meminta dia memaafkanku, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku menyesal.” Lanjut Cassandra.
Gilbert menundukkan kepalanya, untuk beberapa saat tidak ada suara selain isak tangis Cassandra.
Kemudian Gilbert berkata pelan,
“Besok kita cari tahu keberadaan Ivy.”
Cassandra menoleh.
“Aku akan meminta Jack untuk melacak keberadaan Ivy saat ini, karena tidak mungkin kita bertanya pada Mateo. Anak itu sama sekali tidak berguna.” lanjut Gilbert
Cassandra mengangguk, semoga saja Ivy mau menemui mereka. Walaupun kini hubungan Ivy dan Mateo telah berakhir, Cassandra tetap ingin menebus semuanya pada Ivy.
Mereka sudah terlalu lama percaya pada satu sisi cerita, kini mereka ingin mendengar kebenaran langsung dari orang yang selama ini mereka abaikan.
Di tempat lain, Mateo juga belum tidur. Ia duduk sendirian di dalam mobil yang terparkir di depan apartemen Selena, tangannya masih berada di atas kemudi, tetapi ia belum juga turun. Pikirannya terus kembali pada percakapan dengan orang tuanya.
‘Kita kehilangan cucu kita.’
Kalimat itu terus berputar di kepalanya.
Mateo merasa ada sesuatu yang telah hilang dari hidupnya dan sesuatu itu adalah putrinya sendiri, Grizella. Anak yang tidak pernah dia akui keberadaannya selama ini, anak yang selalu dia acuhkan.
Mateo menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Namun di tengah rasa bersalah itu, sebuah pertanyaan perlahan muncul dalam benaknya.
bagaimana jika Ivy mengatakan yang sebenarnya pada kedua orang tuanya? Mateo menatap kosong ke depan. Pertanyaan itu semakin sulit ia hindari, bagaimana jika kedua orang tuanya mengetahui segalanya tentang Grizella? Selama ini ia selalu meyakini bahwa Ivy adalah penyebab semua penderitaan dalam hidupnya. Ia percaya Ivy sengaja menghancurkan hubungannya dengan Evelyn, lalu memaksanya menikah.
Namun malam ini, untuk pertama kalinya, Mateo mulai mempertanyakan keyakinannya sendiri.
Tangannya perlahan mengepal.
“Kalau saja waktu itu aku membawa Grizella ke rumah sakit…”
Suaranya pecah.
Ia masih ingat malam itu.
Ivy memohon padanya untuk membawa Grizella ke rumah sakit, suara wanita itu bahkan terdengar panik. Ia terus memohon agar Mateo mau membawa Grizella ke rumah sakit karena kondisi putri mereka semakin memburuk.
Tetapi Mateo memilih pergi ke tempat Selena, saat itu ia menganggap Ivy hanya sedang mencari alasan untuk mengganggu waktunya bersama Selena.
Sekarang, ingatan itu terasa seperti hukuman.
Mateo menundukkan kepalanya hingga dahinya hampir menyentuh kemudi.
“Papa…” bisiknya.
Untuk pertama kalinya, ia menyebut Grizella dengan sebutan yang selama ini terlalu jarang ia gunakan.
“Maafkan papa.”
Air mata jatuh tanpa bisa ia tahan, namun tidak ada suara kecil yang menjawabnya, tidak ada tangan mungil yang menarik bajunya, tidak ada senyum seorang anak yang menunggunya pulang, hanya kesunyian.
Sementara itu, di rumah keluarga Agler, Cassandra akhirnya bangkit dari sofa.
“Gilbert.”
“Ya?”
“apa kau sudah tau dimana Ivy saat ini?.”
Gilbert menatap istrinya beberapa saat, kemudian menggeleng.
“Aku belum tau, aku belum menelpon Jack.”
Cassandra mengusap air matanya.
"Lalu kapan kau akan menelponnya? Aku benar-benar ingin menemui Ivy secepatnya, kalau bisa besok." Ucap Cassandra, suaranya penuh kekhawatiran.
"Besok?"
"Ya besok." Kata Cassandra.
"Bagaimana jika Ivy tidak ingin menemui kita?" Tanya Gilbert pada istrinya itu.
“Aku tidak tahu apakah Ivy mau menemui kita setelah apa yang sudah Mateo lakukan padanya selama ini, tapi aku tetap mau menemuinya Gilbert. Setidaknya kali ini, kita harus berani mendengar semuanya.” Kata Cassandra.
Gilbert menggenggam tangan istrinya.
“Dan kalau memang kita telah berbuat salah…”
“Kita minta maaf,” jawab Cassandra.
“Bukan hanya meminta maaf,” kata Gilbert pelan.
“Kita juga harus bertanggung jawab atas semua kesalahan kita padanya.” Ucap Gilbert.
Cassandra mengangguk.
Mereka sadar, permintaan maaf tidak akan menghidupkan Grizella kembali.
Namun mungkin, setidaknya mereka masih bisa berhenti membuat luka Ivy semakin dalam.
Dan untuk pertama kalinya sejak kematian Grizella, keduanya membuat keputusan tanpa meminta pendapat Mateo.
Mereka akan mencari Ivy.
Bukan sebagai orang tua Mateo.
Bukan sebagai keluarga Agler.
Tetapi sebagai dua orang yang ingin mengakui bahwa mereka telah melakukan kesalahan.
Bersambung