NovelToon NovelToon
Air Panas Untuk Selingkuhanmu

Air Panas Untuk Selingkuhanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Ranti merasa hidupnya sempurna. Suaminya, Sony, adalah pria idaman—penyayang, sukses, dan setia. Bahkan, Ranti begitu percaya pada Sony hingga tak pernah sekalipun menaruh curiga.

Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap. Kejadian tak terduga mengungkap kenyataan pahit. Ternyata menyimpan makna lain yang menyakitkan. Nama Raya, guru TK anak mereka.

Kekecewaan dan pengkhianatan mengguncang dunia Ranti. Kebohongan Sony selama ini tak hanya menghancurkan biduk rumah tangga mereka, tapi juga persahabatan Ranti dengan Raya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: TANGIS YANG PECAH

Malam di kawasan Dharmawangsa terasa begitu hening. Gerimis tipis yang mengguyur sejak petang meninggalkan aroma tanah basah dan udara dingin yang menusuk. Di dalam ruang tengah kediaman Ranti, lampu gantung bersinar temaram, membiaskan bayangan dua wanita yang duduk di atas sofa tebal.

Ranti duduk meringkuk, menyandarkan kepalanya di bahu Tasya. Tubuhnya yang biasanya tegap dan memancarkan wibawa pimpinan korporasi kini berguncang halus. Air mata yang selama ini ia tahan dengan dinding keteguhan akhirnya pecah, mengalir deras membasahi pipinya yang halus.

Tasya memeluk sahabatnya itu dengan erat, mengelus punggung Ranti dengan penuh kasih sayang.

"Menangislah, Ti... Tumpahkan semuanya," bisik Tasya lembut, matanya ikut berkaca-kaca melihat kehancuran batin sahabat terbaiknya. "Jangan ditahan lagi. Kamu sudah terlalu lama berpura-pura kuat di depan semua orang."

Ranti meremas kain baju Tasya, isak tangisnya terdengar begitu parau dan menyayat hati di dalam ruangan yang sunyi itu.

"Kenapa, Sya...? Kenapa harus seperti ini?" rintih Ranti dengan suara gemetar, kata-katanya terputus-putus oleh napas yang tersengal. "Dulu... di depan majelis hakim, di depan media, di depan semua orang... Sony dan keluarganya menuduhku berselingkuh. Mereka lempar fitnah keji seolah-olah aku wanita jahat yang main mata dengan Farhan..."

Ranti mendongak sedikit, menatap Tasya dengan mata yang sembap dan merah oleh kepedihan yang mendalam.

"Tapi ternyata... ternyata dialah yang menikahi selingkuhannya sendiri!" jerit Ranti lirih, kepahitannya meluap tanpa bendungan. "Dia menikahi Raya... wanita yang dulu kuanggap adik sendiri, yang kuberi tempat tinggal dan kupikir punya hati bersih. Mereka yang berbuat zina, mereka yang mengkhianatiku, tapi kenapa mereka seolah bisa melangkah begitu mudah?!"

Tasya mempererat pelukannya, mengusap air mata di pipi Ranti dengan tisu. "Dunia memang kadang rasanya tidak adil, Ti. Tapi percaya padaku, pernikahan mereka di atas penderitaanmu itu bukan kebahagiaan. Itu cuma pelarian orang-orang pengecut."

Ranti memejamkan matanya rapat-rapat, meraba dadanya yang terasa dihantam beban berbobot ton.

"Dan yang paling menyakitkan..." Ranti terisak lebih dalam, "...hak asuh Bima ada di tangan Sony, Sya. Anak yang kulahirkan dengan taruhan nyawa, yang kurawat setiap detik... sekarang harus tinggal bersama pria itu dan wanita yang sudah merusak rumah tanggaku."

Ranti memegangi dadanya yang sesak. Pengorbanannya mengalah menyerahkan hak asuh formal demi menghentikan perang hukum dan melindungi mental Bima memang sebuah keputusan bijaksana, namun secara emosional, kenyataan bahwa Bima harus berinteraksi dengan Raya tetap menjadi sembilu yang mengiris hatinya tiap hari.

"Aku mencoba sabar, Sya... Aku mencoba ikhlas," rintih Ranti, suaranya bergetar penuh rasa kepasrahan yang dalam. "Setiap hari Senin sampai Kamis, aku salat malam dan minta sama Allah agar Bima selalu dilindungi. Aku berusaha percaya kalau kelonggaran weekend ini sudah cukup... Tapi hatiku tetap saja seorang ibu, Sya. Aku rindu Bima setiap detik..."

Tasya menatap Ranti dengan pendar mata yang amat haru. Ia memegang kedua pipi Ranti, menatap lurus ke dalam matanya.

"Ranti, dengarkan aku," tutur Tasya tegas namun penuh kelembutan. "Pengorbananmu memberikan hak asuh itu bukan karena kamu kalah, tapi karena kamu seorang ibu yang luar biasa. Kamu menyelamatkan Bima dari trauma perang hukum yang jahat. Bima tahu siapa ibunya yang sejati. Bima sangat mencintaimu. Dan sabarmu hari ini... ikhlasmu hari ini... tidak akan pernah sia-sia."

Ranti menghembuskan napas panjang, menyapu sisa air mata di wajahnya. Tangisan malam itu seolah menjadi katarsis—sebuah pembersihan emosi yang meruntuhkan sisa-sisa racun masa lalu dari dalam jiwanya. Di pelukan sahabatnya, Ranti melepaskan seluruh rasa sakit yang tersisa, bersiap untuk melangkah lebih tegap ke depan.

Seiring berjalannya waktu, Ranti membuktikan keteguhan hatinya. Kesabaran dan keikhlasannya menjadi benteng kokoh yang tak tertembus. Di dunia bisnis, ia kian disegani sebagai CEO yang dingin dan cerdas. Namun di sisi pribadinya, ada sebuah kehangatan baru yang perlahan tapi pasti mekar dengan indahnya.

Hubungannya dengan Farhan bergerak makin intens dan alami. Tidak ada lagi kecanggungan formalitas hakim dan penggugat. Farhan hadir sebagai sosok pria dewasa yang tenang, protektif, dan selalu menjadi muara kedamaian bagi Ranti.

Pagi itu, di koridor Rumah Sakit Medistra Jakarta, aroma antiseptik dan ketenangan rumah sakit menyambut langkah mereka.

Ranti berjalan anggun mengenakan gaun kasual berwarna biru soft dipadukan dengan blazer putih. Di sampingnya, Ibu Rida berjalan seraya merangkul lengan Ranti dengan sangat mesra. Sementara Farhan berjalan di sisi lain, membawa tas kecil berisikan dokumen rekam medis ibunya.

Hari ini adalah jadwal kontrol rutin Ibu Rida ke dokter spesialis penyakit dalam untuk pemeriksaan tekanan darah dan jantung pasca-pemulihan. Beberapa bulan belakangan, di sela-sela kesibukannya memimpin perusahaan, Ranti hampir selalu menyempatkan diri mendampingi Ibu Rida ke rumah sakit.

"Aduh, Ranti... Tante jadi enak tidak enak sama kamu," tutur Ibu Rida lembut seraya menatap Ranti dengan pendar kasih sayang seorang ibu kandung. "Kamu kan sibuk sekali di kantor, tapi malah repot-repot mengantar Tante kontrol begini."

Ranti tersenyum manis, membalas rangkulan tangan Ibu Rida dengan hangat. "Sama sekali tidak repot, Tante Rida. Ranti justru senang bisa menemani Tante. Lagipula pekerjaan di kantor sudah ada Pak Hendra yang pantau."

Farhan yang berjalan di sebelah mereka melirik Ranti dengan pendar mata di balik kacamata tipisnya yang memancarkan kekaguman dan rasa cinta yang amat dalam.

"Ibu ini kalau Ranti yang bujuk baru mau minum obat tepat waktu, Ran," goda Farhan dengan suara baritonnya yang renyah. "Kalau cuma aku yang ingatkan, pasti beralasan lupa."

Ibu Rida mencubit pelan lengan Farhan seraya tertawa renyah. "Ya jelas beda! Ranti kan perhatian dan lembut, tidak seperti kamu yang kalau ingatkan Ibu seperti membacakan amar putusan sidang!"

Ranti tertawa kecil, tawa jernih yang sudah lama tak terdengar. Kehangatan di antara mereka terasa begitu alami, bagaikan sebuah keluarga utuh yang telah ditakdirkan bersama sejak lama.

Usai pemeriksaan dokter yang menyatakan bahwa kondisi kesehatan Ibu Rida sangat stabil dan membaik, Farhan mengajak mereka bertiga makan siang di sebuah restoran keluarga berkonsep taman yang teduh di kawasan Wijaya.

Ibu Rida duduk di sofa Restoran, menyantap sup kental hangat. Setelah beberapa saat, wanita tua itu pamit ke toilet didampingi oleh seorang suster pendamping rumah sakit.

Kini, tinggal Ranti dan Farhan yang duduk berhadapan di meja kayu yang dinaungi rindangnya pohon kamboja.

Sinar matahari siang menembus celah dedaunan, membiaskan pendar keemasan di wajah Ranti yang anggun dan segar. Farhan menyesap kopi hitahnya sedikit, meletakkan cangkirnya, lalu menatap Ranti dalam-dalam.

"Terima kasih banyak ya, Ranti," ucap Farhan tulus, suaranya pelan dan menenangkan.

Ranti menaikkan alisnya tipis, tersenyum. "Untuk apa, Farhan?"

"Untuk kesabaran dan perhatianmu pada Ibu," jawab Farhan dengan pendar mata yang jujur. "Sejak kehadiranmu kembali dalam hidup kami... kesehatan Ibu membaik pesat. Ibu selalu ceria dan saban hari menantikan akhir pekan untuk bertemu denganmu dan Bima."

Ranti menyandarkan punggungnya di kursi, meraba cangkir teh hangatnya.

"Aku yang harusnya berterima kasih, Farhan," tutur Ranti dengan kehangatan yang merayap di dadanya. "Mendampingi Tante Rida... hadir di tengah keluargamu... itu memberikan kedamaian yang tidak bisa kubeli dengan uang sebanyak apa pun. Setelah semua badai yang kulewati, berada di dekat kalian membuat hatiku merasa tenang."

Farhan memajukan tubuhnya sedikit di atas meja, menautkan pandangan matanya dengan mata Ranti.

"Bagaimana keadaan hatimu sekarang, Ran?" tanya Farhan lembut, sebuah pertanyaan yang sarat akan kepedulian mendalam atas proses penyembuhan luka Ranti. "Aku mendengar berita tentang pernikahan Sony dan Raya beberapa hari lalu..."

Ranti menghembuskan napas panjang, namun kali ini tidak ada lagi beban atau tangisan seperti malam itu di rumah Tasya. Wajahnya memancarkan kedewasaan jiwa yang telah pulih sepenuhnya.

"Aku sudah melewati masa tersulitnya, Farhan," jawab Ranti mantap. "Malam itu aku memang sempat menangis di pelukan Tasya... Meluapkan rasa sesak atas fitnah mereka dan kenyataan bahwa Bima tidak tinggal bersamaku setiap hari."

Farhan mendengarkan dengan penuh empati, genggaman tangannya di tepi meja menguat.

"Tapi sekarang..." lanjut Ranti seraya menyunggingkan senyum anggun, "...aku sudah benar-benar ikhlas. Pernikahan mereka adalah urusan mereka. Sony memilih jalurnya sendiri, dan aku memegang jalur kehidupanku sendiri."

Ranti menatap Farhan dengan pendar mata yang jernih dan hangat.

"Aku sadar, mengalah menyerahkan hak asuh formal Bima adalah cara terbaik untuk melindunginya dari dendam mereka. Setiap akhir pekan Bima kembali ke pelukanku dengan utuh dan bahagia. Dan bagiku, itu sudah lebih dari cukup."

Farhan tersenyum tulus—sebuah senyuman paling manis yang memancarkan rasa hormat dan cinta yang tak terhingga pada wanita di hadapannya.

"Kamu adalah wanita dan ibu yang luar biasa tegar, Ranti," puji Farhan, suara baritonnya bergetar oleh perasaan yang dalam. "Tidak semua orang punya jiwa seluas dirimu untuk bisa ikhlas di tengah ketidakadilan."

Farhan mengulurkan tangannya di atas meja, melabuhkan jemarinya di atas punggung tangan Ranti. Genggamannya hangat, stabil, dan memberikan rasa aman yang sempurna.

"Jika masa lalumu penuh dengan pengkhianatan dan fitnah..." tutur Farhan dengan tatapan mata yang terkunci pada mata Ranti, "...maka izinkan aku untuk memastikan bahwa masa depanmu hanya akan diisi oleh rasa hormat, kedamaian, dan perlindungan yang tak akan pernah goyah."

Ranti menatap genggaman tangan Farhan, meresapi setiap getaran tulus dari kalimat pria tersebut. Dinding trauma yang dulu sempat memagari hatinya kini telah runtuh sepenuhnya, digantikan oleh benih-benih cinta sejati yang siap mekar sempurna.

"Terima kasih, Farhan..." bisik Ranti lembut, membalas genggaman tangan Farhan dengan hangat. "Terima kasih karena selalu ada di sini."

Tak lama kemudian, Ibu Rida kembali ke meja dengan senyuman cerah. Mereka melanjutkan makan siang dengan gelak tawa dan kehangatan yang membuncah.

Di bawah naungan pohon kamboja dan cerahnya langit Jakarta, Ranti Anindita tahu bahwa badai dalam hidupnya telah usai secara mutlak. Air mata pengorbanan masa lalu telah menjelma menjadi embun kehidupan yang menyegarkan. Bersama Bima yang selalu kembali di akhir pekan, kejayaan bisnis yang kian melambung, dan cinta tulus Farhan yang membentang luas, Ranti telah siap menyongsong fajar masa depan yang dipenuhi oleh kebahagiaan abadi.

1
Lee Mba Young
pengacara Sony keren banget, walau Sony napi ttp bisa memenangkan sidang🤣.
pengacara ranti abal abal cm butuh duit Tok mkne keder mengjadapi pengacara Sony. mkne ranti kalah sidang.

pdhl Sony jelas selingkuh Dan korupsi tp masih bisa dpt hak asuh. 👍
NinLugas: ka baca karya baru aku kak, perlu pembaca kritis kyk KK
total 1 replies
Lee Mba Young
pling enak pelakor Raya gk dpt karma.
Lee Mba Young
Cerita pling aneh. pdhl Sony napi dpt hak asuh.
farhan Dan pengacara ranti memang memgalah agar farhan bebas mndekati ranti tanpa bima. 🤣.
pdhl jelas jelas Sony napi kan 🤣
Lee Mba Young
pengacara Sony best banget pdhl Sony selingkuh, zina korupsi tp dpt bebas Dan dpt hak asuh🤣 .
ranty pengacara ne goblok 🤣
farhan kayak nya gk mau bima, cm mau ranti mkne suruh ranti nyerah.
NinLugas: kalau g gila authornya ya ceritanya yg gila kak🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Lee Mba Young
Ini hukum pling aneh, pdhl korupsi kok bisa bebas bersyarat.
pengacara ranti yg kurang keren
sunaryati jarum
Fitnah jika diselidiki dan ada bukti akurat,maka fitnah akan kalah
sunaryati jarum
Sony Seharus kamu akui dan terima kenyataan,ini semua karena kesalahan kamu.
Lee Mba Young
di sini pengadilan yg gk banget bpk nya napi tp dpt hak asuh itu dah aneh.
trus sekarang bpk nya nikah dng selingkuh annya apa gk di Banting tu anak.

ranti punya kerjaan hidup mapan knp gk dpt hak asuh. pdhl anak di bawah umur itu dng ibunya 🤣.
NinLugas: nnti d jelaskan d episode berikutnya nya y kk 🤣
total 1 replies
Lee Mba Young
Kenapa Sony bisa dpt hak asuh anak kn dia narapidana. kok aneh.
hrse dng status napi Dan gk punya penghasilan gk dpt hak asuh kan.
bukan kah kemarin hak asuh resmi ke ibunya. kok mulek.
sunaryati jarum
Kacang lupa akan kulitnya ,itu kamu Soni dan keluargamu
sunaryati jarum
Kamu malah.tambah cari masalah
NinLugas: terimakasih y kk atas dukungannya, 😍
total 1 replies
sunaryati jarum
Ada temen semasa kecil yang memberi dukungan
sunaryati jarum
Semoga kedepannya tidak ada lagi pengkhianat Ranti
sunaryati jarum
Orang tua Raya , bagus.Tidak membela tapi menyalahkan
sunaryati jarum
Tujuan kamu memang ingin merebut posisi Ranti, sudah pas kamu langsung dapat karma instan
sunaryati jarum
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!