Bagaimana jadinya jika seorang dokter bedah dan ahli toksikologi jenius dari abad ke-21 bertransmigrasi ke tubuh seorang Permaisuri yang lemah dan dibuang?
Anran, seorang dokter genius masa depan, tewas dalam insiden laboratorium dan terbangun di tubuh Permaisuri Kerajaan Great Yan. Tak hanya dibuang ke Istana Dingin karena fitnah kejam, tubuh Permaisuri ini juga diracuni secara perlahan oleh musuh-musuhnya di istana belakang.
Permaisuri lama yang penakut dan mudah menangis telah lenyap. Kini, Anran bangkit membawa kecerdasan medis modern, keahlian racun yang mematikan, dan keberanian tanpa batas!
Satu per satu racun dibongkar, fitnah selir licik dipatahkan, dan intrik politik kerajaan dihancurkan. Seluruh istana dibuat gempar oleh perubahan drastis sang Permaisuri yang kini anggun, cerdas, dan tidak bisa diintimidasi oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aldolado, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut bab 7
kembali ke Istana Fengyi bukan untuk mendengarkan penghormatan kosong kalian. Lian, siapkan air hangat dan gaun bersih untukku. Setelah itu, kumpulkan seluruh catatan obat dan bahan dapur istana ini di meja kerjaku."
"Baik, Yang Mulia Permaisuri!" jawab Lian cepat dengan binar semangat di matanya.
Saat Anran melangkah memasuki aula utama kediamannya yang megah, aroma wewangian bunga melati yang manis dan tajam menyengat indra penciumannya. Langkah Anran mendadak terhenti di atas ubin marmer yang berkilau. Ia memicingkan sepasang matanya yang tajam tatkala menangkap asap tipis yang membumbung meliuk-liuk dari tungku tembaga berukir di sudut ruangan.
Sebagai mantan dokter bedah dan ahli toksikologi jenius dari abad ke-21, hidung Anran sangat peka terhadap komposisi kimiawi. Aroma ini bukan sekadar wewangian melati penenang pikiran biasa. Terdapat campuran serbuk halus tanaman Bunga Candu dan racun penenang saraf dosis rendah yang sengaja disusupkan.
Uap racun ini dirancang khusus untuk mengikis konsentrasi, memicu depresi mental, dan menyebabkan halusinasi secara perlahan bagi siapa pun yang menghirupnya setiap hari.
Anran mengulas senyum dingin. Selir Mei rupanya benar-benar merencanakan jebakan bertapis yang sangat rapi. Jika racun Bunga Malam Biru di Istana Dingin tidak berhasil mencabut nyawanya, dupa racun di Istana Fengyi ini dipastikan akan membuat sang Permaisuri gila dan kehilangan kesadarannya secara bertahap.
Anran berjalan mendekati tungku tembaga di sudut aula. Dengan satu gerakan cepat tanpa ragu, jemarinya mengangkat tungku tersebut dan menghantamkannya ke atas lantai marmer!
Dentangan nyaring antara logam dan batu marmer beradu menggetarkan keheningan aula utama. Bara api dan abu dupa yang masih membara berhamburan di atas lantai marmer yang bersih.
Seluruh pelayan dan kasim yang berdiri di aula seketika tersentak kaget. Wajah mereka pucat pasi, tak menyangka sang permaisuri akan bertindak sejauh dan sekeras itu.
"Siapa yang bertanggung jawab menyalakan dupa ini?" tanya Anran dengan suara rendah, mengintimidasi, dan sedingin es.
Seorang kasim senior berwajah pucat melangkah maju dengan tubuh yang bergetar hebat. Ia berlutut bersujud hingga dahinya menempel pada marmer. "Hamba... Kasim Chen, Yang Mulia. Dupa ini merupakan hadiah khusus yang dikirimkan oleh Kediaman Barat dari Selir Mei untuk menyambut kepulangan Yang Mulia..."
Anran menatap Kasim Chen dari atas ke bawah dengan pandangan menilai. "Selir Mei sangat perhatian, bukan?" gumam Anran penuh ironi. "Lian, ambil wadah air dan siram sisa dupa ini hingga padam. Setelah itu, kunci seluruh akses Istana Fengyi. Mulai detik ini, barang apa pun—baik makanan, minuman, obat, maupun kain—yang berasal dari Kediaman Barat tanpa pemeriksaan langsung dariku, dilarang keras memasuki istana ini!"
"Hamba laksanakan perintah Yang Mulia!" seru Lian tegas.
Anran menatap Kasim Chen yang masih bersujud gemetaran. "Dan untukmu, Kasim Chen... bersihkan abu ini dengan tanganmu sendiri tanpa tersisa satu serbuk pun. Jika besok pagi aku masih menemukan aroma dupa ini di dalam aula, kau yang akan meminum abu ini sampai habis."
"Yang... Yang Mulia, ampunilah Hamba!" Kasim Chen memekik ketakutan, buru-buru menganggukkan kepalanya bertubi-tubi ke ubin marmer.
Anran tidak membuang waktu lagi. Ia mengibaskan gaun sutranya dan melangkah masuk ke dalam kamar peraduannya yang luas. Lian bergegas menyiapkan air hangat yang dicampur dengan