NovelToon NovelToon
KETIKA HATI NAVIN KALAH

KETIKA HATI NAVIN KALAH

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 Alasan yang Tidak Sempat Ia Ucapkan

Senin malam, Lia berdiri di depan pintu apartemen Nica dengan sekotak martabak di tangan dan wajah yang sudah tidak bisa berpura-pura baik-baik saja.

Ia menekan bel dua kali, jeda, lalu sekali lagi. Pintu terbuka, dan bukan hanya Nica yang berdiri di sana. Di balik bahunya, Basti duduk di sofa abu-abu dengan gelas teh di tangan dan ekspresi orang yang tertangkap basah.

"Aku bisa pergi," ujar Basti cepat.

"Tidak perlu."

"Sungguh, aku hanya mampir. Nica sedang mengajariku membuat sambal."

"Dia menumpahkan setengah botol cabai ke lantai," koreksi Nica, tapi pipinya merona, dan Lia menahan senyum meski hatinya sedang berat. Dua orang ini akhirnya menemukan cara berada di ruangan yang sama tanpa saling menghindar, dan itu bagus. Itu kabar baik. Ia hanya tidak punya energi untuk merayakannya, dan merasa bersalah karenanya.

Apartemen kecil itu terasa hangat seperti biasa, dengan bantal-bantal di lantai, rak buku yang penuh, dan aroma cabai yang masih menggantung di udara. Mereka duduk. Nica membuka martabak, Basti menyodorkan garpu, dan tak seorang pun mengambil suapan pertama. Nica menatap wajah Lia lama sekali.

"Ada apa?"

"Aku menolaknya."

"Menolak siapa?"

"Navin."

Basti nyaris tersedak tehnya. "Dia menyatakan?"

"Sore tadi. Di atap."

"Di atap." Basti menaruh gelas. "Dia benar-benar orang yang dramatis."

"Dia gemetar," ujar Lia pelan, dan baru menyadari kalimat itu keluar begitu saja. "Bas, dia gemetar. Tangannya memegang pagar sampai putih. Aku belum pernah melihat orang seperti itu."

"Dan kamu menolaknya," ucap Nica lembut.

"Ya."

"Kenapa?"

Lia meraih bantal dan memeluknya di pangkuan. Ia sudah mengulang jawaban itu sepanjang perjalanan pulang, tapi ketika kata-katanya harus keluar, semuanya terasa lebih rumit.

"Karena satu kalimat," katanya akhirnya.

"Kalimat yang dia bilang di ruangan Bu Retno?"

"Kamu ingat?"

"Aku ingat semua yang kamu ceritakan, Lia."

"Dia bilang tidak ada laki-laki yang tahan dengan perempuan yang selalu merasa dirinya paling benar." Suara Lia mendatar, meski dadanya tidak. "Aku bisa saja memaafkan kalimat itu kalau ia mengatakannya dalam marah, dan minta maaf keesokan harinya. Orang bisa salah bicara. Tapi dia mengucapkannya dengan tenang. Dengan dingin. Dia memilih kata-kata itu, Nic. Dia tahu di mana harus menusuk."

Basti tidak berkomentar, tapi rahangnya mengeras.

"Dan aku berpikir," lanjut Lia, "kalau dia bisa berkata seperti itu pada orang yang baru dia kenal beberapa jam, apa yang akan dia katakan pada orang yang paling dia kenal? Yang tahu titik lemahnya? Yang sudah dua puluh tahun tinggal serumah?"

"Orang bisa berubah."

"Aku tahu. Tapi orang berubah dalam waktu, bukan dalam satu minggu. Tiga minggu lalu dia menghancurkan aku. Hari ini dia bilang cinta. Aku tidak mengerti bagaimana itu bekerja."

Nica mengangguk pelan, tidak membantah. Lia mengeratkan pelukan pada bantal.

"Dan ada satu lagi," ucapnya, lebih pelan, seolah ini yang lebih memalukan.

"Apa?"

"Umur."

Basti mengangkat alis. "Umur?"

"Dia dua puluh delapan. Aku tiga puluh satu."

"Tiga tahun, Lia."

"Tiga tahun bagi laki-laki mungkin bukan apa-apa. Bagi perempuan, itu selalu sesuatu." Lia menghela napas. "Aku sudah melihat bagaimana orang memandang perempuan yang lebih tua dari pasangannya. Bisik-bisik. Tatapan. 'Kasihan, anak muda itu kena jerat.' 'Pasti karena hartanya.' Atau kalau bukan itu: 'Sebentar lagi juga bosan.' Dan aku tidak takut pada omongan mereka. Tapi aku takut bahwa mereka mungkin benar." Ia bisa membayangkan wajah Tante Ratna di pertemuan keluarga berikutnya, mengunyah lumpia dengan mata berbinar: wah, Lia, dapat brondong CEO, ya? Dan bukan itu yang ia takutkan. Ia takut suatu hari pria itu menatap cermin, menyadari betapa banyak yang terlewat demi dirinya, dan diam-diam menyesal.

"Kenapa mereka akan benar?"

"Karena dia dua puluh delapan, Bas. Dia baru mulai. Dia CEO. Keluarganya pasti sudah membayangkan seseorang yang sepadan, lebih muda, lebih cocok, yang bisa memberi mereka cucu tanpa harus dihitung risiko kehamilan di atas tiga puluh lima." Ia tertawa getir. "Aku sudah menghitung semuanya. Aku memang orang yang suka menghitung."

"Kamu tidak perlu jadi kalkulator, Lia," gumam Nica.

"Kalau bukan aku yang menghitung, siapa? Tante Ratna sudah menghitung usiaku sejak aku dua puluh lima."

Sunyi menyelimuti ruangan. Nica bangkit, mengambil segelas air, dan menaruhnya di tangan Lia. Ia duduk kembali di sisinya.

"Lia. Boleh aku mengatakan sesuatu yang mungkin tidak ingin kamu dengar?"

"Silakan."

"Kamu tidak menolak dia." Nica berbicara pelan, memilih setiap kata. "Kamu menolak apa yang dia lakukan. Dan kamu menolak apa yang mungkin terjadi. Tapi kamu belum benar-benar menolak dia."

"Bedanya apa?"

"Yang pertama bisa berubah. Yang kedua tidak bisa."

Lia menatapnya. "Kamu membelanya?"

"Aku tidak membela siapa pun. Aku hanya mengenal kamu." Nica tersenyum tipis. "Kalau kamu benar-benar tidak peduli, kamu tidak akan menangis waktu menceritakan ini."

"Aku tidak menangis."

"Kamu sedang."

Lia menyentuh pipinya. Basah. Ia tidak sadar.

Basti berdehem. "Aku tidak menyukainya. Aku tidak akan pernah menyukainya, karena dia menyakiti sahabatku. Tapi aku harus jujur." Ia menatap Lia lurus. "Waktu rapat hari Rabu, waktu dia marah pada semua orang, dia tidak sedang marah pada kami. Dia menatapmu, Lia. Setiap beberapa detik dia menatapmu dan wajahnya seperti orang yang ingin sekali dimaafkan tapi tidak tahu caranya."

"Bas..."

"Aku tidak bilang kamu harus menerimanya. Aku bilang, kamu tidak salah kalau ragu." Ia meraih tangan Lia dan menggenggamnya sebentar. "Dan tidak salah juga kalau suatu hari kamu melihat dia berbeda."

"Bagaimana kalau aku melihat dan ternyata itu hanya taktik?"

"Kalau itu taktik, kamu akan tahu." Nica tersenyum. "Orang bisa menyandiwarakan satu hari. Satu minggu. Tapi tidak selamanya."

Lia menunduk. Air matanya jatuh satu, dua, ke atas sarung bantal. Ia tidak menyekanya.

"Aku takut," bisiknya.

"Takut apa?"

"Takut kalau ternyata aku ingin percaya."

Nica memeluknya, dan Basti, tanpa banyak bicara, memindahkan martabak agar Lia bisa bersandar lebih nyaman. Untuk beberapa waktu tidak ada yang bicara. Hanya bunyi jam dinding dan suara kota di kejauhan.

Menjelang tengah malam, di kamarnya sendiri, Lia mengeluarkan buku catatan kecil dari tas. Halaman terakhir masih memuat daftar aturannya yang mulai terlihat konyol: 1. Bicara hanya soal pekerjaan. 2. Tidak tersenyum kecuali diperlukan. 3. Tidak mendengarkan apa pun yang bukan tentang kontrak. 4. Jangan biarkan dirimu terluka.

Ia menatap daftar itu lama, lalu mengambil pena dan menambahkan satu baris di bawahnya.

5. Jangan berharap sampai terbukti.

Ia menutup buku itu. Tapi ia tidak menyimpannya di tas. Ia meletakkannya di nakas di sisi tempat tidur, dan menatap langit-langit sampai fajar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!