Hujan deras mengguyur gang sempit malam itu. Napas Sesil terengah-engah, memburu bersama ketakutan yang makin membelenggu dada.
Di tengah hawa dingin yang menusuk tulang, ia memeluk erat sebuah buku catatan bersampul hitam—satu-satunya bukti kejahatan mematikan yang berhasil ia temukan.
Tiba-tiba, sorot lampu mobil menyilaukan memotong kegelapan dari arah belakang. Sebuah mobil mewah berhenti mendadak. Sosok pria berpostur jangkung melangkah keluar.
Alden.
Dengan payung hitam di genggamannya, ia berjalan tenang menghampiri Sesil tanpa raut panik sedikit pun.
BRAAKK!
Dentang besi bersahut-sahutan mengudara saat tubuh Sesil terpental keras ke aspal basah. Rasa sakit menusuk seketika, disusul pandangan matanya yang perlahan mengabur dan menggelap. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, bisikan dingin berselimut nada manis terdengar tepat di telinganya:
"Tidur yang nyenyak, Sesil. Pas bangun nanti, kamu bakal mencintai aku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon just Zii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: KEBOHONGAN YANG TERTATA
Deru mesin sedan hitam yang membawa mereka kembali ke kediaman perbukitan terasa makin hening, kontras dengan gemuruh kecemasan yang berkecamuk di dalam dada Sesil.
Sepanjang perjalanan, tangan Alden terus menggenggam jemarinya—sebuah gestur yang tampak hangat bagi siapa pun yang melihat, namun bagi Sesil, genggaman itu kini terasa seperti borgol yang bertambah erat setiap kali mobil bergerak menjauhi kota.
Begitu melangkah masuk melewati pintu utama kediaman yang terisolasi itu, Alden langsung melepas jas mewahnya dan menyerahkannya kepada Ibu Marta yang sudah menunggu di serambi.
"Ibu Marta, buatkan teh chamomile hangat dan antarkan ke ruang tengah lantai satu," perintah Alden dengan intonasi rendah yang datar. "Sesil butuh menenangkan diri."
"Baik, Tuan," jawab Ibu Marta singkat, menundukkan kepala sebelum berlalu ke arah dapur.
Alden memandu Sesil menuju sofa kulit besar di ruang keluarga yang berhadapan langsung dengan perapian buatan.
Cahaya jingga dari kobaran api buatan memantul di dinding batu alam, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dalam ruangan.
Sesil duduk dengan kaku, meletakkan kedua tangannya di atas pangkuan. Kata-kata pria asing di kompleks perbelanjaan tadi—Rian—terus bergema tanpa henti di otaknya:
“Pria ini berbohong! Kamu seorang jurnalis! Cari buku catatan hitammu!”
Alden berlutut di hadapan Sesil. Pria itu menatap Sesil dengan sepasang mata gelap yang memancarkan kombinasi sempurna antara keprihatinan, kekecewaan, dan rasa cinta yang mendalam. Ia mengambil kedua tangan Sesil yang dingin, lalu mengecup punggung tangannya perlahan.
"Kamu masih terguncang, Sayang," ucap Alden halus.
Suaranya terdengar begitu tenang, seolah insiden ketegangan beberapa saat lalu sama sekali tidak mengusik ketenangannya.
Sesil menarik napas pendek, menatap lurus ke dalam manik mata pria itu. "Alden... siapa sebenarnya pria tadi? Kenapa dia memanggilku jurnalis? Dan kenapa dia menyebutkan tentang buku catatan hitam?"
Alden mendesah pelan. Ia tidak langsung menjawab. Pria itu berdiri, berjalan mendekati perapian, lalu menyandarkan satu tangannya di selasar marmer, membelakangi Sesil selama beberapa detik.
Gerakannya begitu tertata, memberikan kesan seolah ia sedang menata beban berat yang terpaksa harus ia bagikan kepada wanita yang dicintainya.
Saat ia berbalik kembali menghadapi Sesil, raut wajahnya tampak begitu berduka.
"Aku berharap tidak pernah harus menceritakan hal ini padamu, Sesil," mulai Alden dengan intonasi yang sarat akan rasa penyesalan. "Aku ingin melindungimu dari masa lalu yang buruk itu, terutama saat kondisimu masih sangat rentan seperti sekarang."
Sesil mengernyitkan dahi, merasakan firasat buruk merayap di tengkuknya. "Masa lalu buruk apa?"
Alden melangkah pelan mendekati sofa, lalu duduk di samping Sesil. Pria itu mengusap lembut helai rambut Sesil yang jatuh di bahu.
"Pria tadi bernama Rian," kata Alden, menyebut nama itu dengan nada gundah yang dibuat sangat halus. "Dia bukan sekadar rekan kerja biasa dari masa lalumu, Sesil. Dia adalah mantan kekasihmu—pria obsesif yang pernah membuat hidupmu seperti neraka sebelum kamu bertemu denganku."
Jantung Sesil berdesir hebat. "Mantan... kekasih?"
"Ya," angguk Alden mantap. "Kalian memang pernah bekerja di perusahaan media yang sama beberapa tahun lalu. Tapi Rian memiliki gangguan kepribadian dan sifat posesif yang sangat berbahaya. Ketika kamu memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengannya karena perilakunya yang makin abusif, dia menolak kenyataan itu."
Alden mengambil cangkir teh yang baru saja diantarkan oleh Ibu Marta dan menyodorkannya pada Sesil. Sesil menerima cangkir itu secara refleks, namun matanya tetap terkunci pada wajah Alden.
"Rian mulai membuntutimu," lanjut Alden, narasi kebohongannya mengalir begitu lancar dan memikat. "Dia meneror ponselmu, mendatangi apartemen lamamu di tengah malam, dan membuat cerita-cerita khayalan bahwa kalian sedang mengerjakan sebuah 'proyek investigasi besar' bersama. Dia menciptakan narasi konspeksi itu hanya agar kamu terus terikat padanya dan tidak bisa meninggalkannya."
"Tapi... dia bilang aku jurnalis..." bisik Sesil, suaranya bergetar ragu.
Alden tersenyum sedih, menggelengkan kepalanya perlahan. "Kamu adalah seorang penulis lepas untuk majalah gaya hidup dan desain interior, Sayang. Pekerjaanmu indah dan tenang. Tapi Rian selalu berusaha menyeretmu ke dalam obsesi gelapnya tentang investigasi dan kejahatan. Buku catatan hitam yang dia sebutkan? Itu adalah diari pribadimu yang pernah dia curi dari kamarmu dulu. Diari tempat kamu menuliskan rasa ketakutanmu terhadap teror yang dia lakukan."
Kalimat itu menghantam logika Sesil.
Penjelasan Alden begitu rapi, terstruktur, dan masuk akal. Narasi tersebut berhasil memutarbalikkan fakta tentang "buku catatan hitam" dan profesi "jurnalis"—dua kepingan memori yang sempat memicu kepanikan Sesil—menjadi bukti bahaya dari sosok Rian.
"Malam kecelakaan itu..." Alden jeda sejenak, menatap Sesil dengan tatapan emosional yang intens. "Salah satu alasan kamu begitu panik hingga terburu-buru menyetir di bawah hujan deras adalah karena Rian baru saja muncul di depan tempat tinggalmu dan mengancam akan merusak acara pertunangan kita. Kamu berlari menghindari pria itu, Sesil. Dan kecelakaan tragis itu terjadi karena ketakutan yang diciptakan oleh Rian."
Sesil membeku. Tangannya gemetar hingga cairan teh di dalam cangkir kristalnya bergoyang.
Rian yang menyebabkannya? Rian yang membuatku ketakutan dan berlari di bawah hujan?
Otak Sesil yang masih di bawah pengaruh sisa-sisa efek senyawa pembersih memori menanggapi narasi Alden dengan sangat mudah.
Setiap celah keraguan dan amnesia yang ada di kepalanya mendadak diisi oleh dongeng manipulatif yang dipahat sempurna oleh Alden. Pria di hadapannya ini tidak lagi tampak seperti sosok yang mencurigakan.
Alden kembali berdiri tegak sebagai pahlawan, pelindung, dan pilar keselamatan tunggal di tengah dunia luar yang asing dan penuh ancaman.
"Dia... dia berbohong padaku di depan kedai kopi tadi?" tanya Sesil, matanya mulai berkaca-kaca oleh rasa bingung dan teror emosional.
"Dia memanfaatkan amnesiamu, Sesil," bisik Alden, menarik cangkir teh dari tangan Sesil dan meletakkannya di meja. Pria itu lalu membawa Sesil ke dalam pelukannya yang erat dan hangat. "Dia tahu kamu tidak mengingat apa-apa. Dia mencoba mencuci otakmu, memanipulasimu agar kamu membenciku dan kembali ke dalam cengkeramannya yang beracun."
Alden mengecup puncak kepala Sesil berulang kali. Di balik pelukan hangat itu, sudut bibir Alden terangkat tipis dalam sebuah senyuman dingin yang tak terlihat oleh Sesil.
"Aku tidak akan pernah membiarkan pria itu menyakitimu lagi," ujar Alden dengan nada suara mengancam yang tertuju pada dunia luar. "Aku sudah memerintahkan tim hukum dan pengawal pribadiku untuk memastikan Rian tidak akan pernah bisa mendekatimu atau kediaman ini lagi. Mulai saat ini, kamu aman di sini bersamaku."
Sesil menyandarkan kepalanya di dada bidang Alden, mendengarkan detak jantung pria itu yang teratur dan tenang. Di dalam kungkungan lengan tegap Alden, rasa takut pada sosok Rian berakar makin dalam.
Keraguan yang sempat tumbuh di kompleks perbelanjaan tadi lenyap, tergantikan oleh ketergantungan psikologis yang makin pekat kepada sang manipulator.
"Terima kasih, Alden..." bisik Sesil pasrah, memeluk pinggang pria itu erat-erat. "Terima kasih karena selalu ada untuk menyelamatkanku."
"Selalu, Sayang," jawab Alden lembut. "Hanya aku yang bisa kamu percaya di dunia ini. Hanya aku."
Malam itu, saat Sesil kembali terlelap di kamar atas di bawah pengaruh obat penenang rutinnya, Alden berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke arah hutan pinus yang gelap. Pria itu menyesap segelas wiski di tangannya, memandangi bayangan dirinya di cermin kaca.
Keretakan kecil yang sempat ditimbulkan oleh kehadiran Rian tadi siang telah berhasil ia tambal sepenuhnya. Bahkan, ia berhasil memanfaatkan ancaman dari luar itu untuk memperkokoh tembok penjara psikologis yang mengurung Sesil.
Kini, di dalam pikiran wanita itu, dunia luar adalah tempat yang dipenuhi oleh monster-monster obsesif, dan Alden adalah satu-satunya tempat perlindungan yang tersisa.