Bagi semua orang, pernikahan Nadia dan Rian adalah gambaran kesempurnaan. Rian adalah arsitek sukses yang menopang kehidupan mereka, sementara Nadia adalah istri penurut yang melepaskan mimpi dan karirnya demi berbakti kepada suaminya. Namun di balik dinding rumah megah mereka, hubungan itu telah lama mati dingin sejak insiden keguguran dua tahun lalu.
Namun Rian yang selalu di kelilingi wanita cantik yang menggoda, membuat Nadia merasa terabaikan dengan sikap Rian yang dingin. Belum lagi menghadapi ibu mertuanya yang manipulatif, makin menyudutkan Nadia dalam fitnah dan tuduhan tak berdasar. Saat Rian lebih memilih meragukannya daripada pasang badan untuknya, Nadia akhirnya mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, menyerah dan pergi membawa surat cerai.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Yuk bantu ramaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Mobil sedan hitam milik Rian membelah kepadatan lalu lintas sore kota Jakarta. Di dalam mobil, suasana di antara mereka terasa kaku. Rian sesekali melirik istrinya yang hanya diam tak bersuara sej sebelum membuka suara, mencoba mencairkan keheningan.
"Gimana kegiatan di galeri hari ini, Nad?" tanya Rian dengan nada perhatian yang ramah. "Lancar semua?"
Nadia menatap lurus ke jalanan di luar jendela kaca, tak berminat membalas tatapan suaminya. "Lancar, Mas. Semua sudah beres."
"Oh ya? Beli apa saja tadi sama Amira?" cecar Rian lagi, berusaha menjaga percakapan tetap mengalir.
"Tadi mampir ke mal depan kafe itu juga?" selidik Rian.
"Enggak, tadi aku memang sengaja buat janji sama Amira mau ketemu di kafe setelah kerja karena sudah lama kuta tidak bertemu," jawab Nadia singkat, bernada datar tanpa intonasi gembira yang biasanya hadir saat ia bercerita tentang pekerjaannya.
Rian mengangguk-angguk paham. Ia tak menaruh curiga sedikit pun atas respons dingin istrinya. Dalam pikirannya, Nadia mungkin hanya kelelahan setelah seharian kerja di galeri dan berjalan-jalan bersama Amira adalah bonus me timenya.
"Ya sudah, kalau capek nanti sampai rumah langsung istirahat ya, Sayang," ujar Rian lembut seraya mengusap pelan puncak kepala Nadia.
Nadia hanya bergeming, menahan dorongan kuat dalam dirinya untuk mengelak dari sentuhan manis yang kini terasa penuh kepalsuan itu.
Setibanya di rumah, begitu pintu depan terbuka, Nadia langsung melangkah lebar melewati ruang keluarga tanpa menoleh kanan-kiri. Di sofa utama, Bu Ratna dan Sarah sedang duduk bersantai menatap layar televisi. Nadia terus berjalan lurus masuk ke kamarnya tanpa menyapa atau sekadar menganggukkan kepala.
Bu Ratna yang melihat hal itu seketika loncat dari duduknya dengan wajah memerah. "Kurang ajar sekali anak itu! Rian, lihat istrimu! Makin hari makin ngelunjak! Masuk rumah tidak ada salam, tidak ada sapa, menganggap orang tua di sini cuma patung!"
Rian yang berjalan tepat di belakang Nadia segera pasang badan, melambaikan tangan menenangkan ibunya yang hendak meledak.
"Sudah, Bu, jangan emosi," pangkas Rian cepat. "Nadia cuma lelah. Tadi aku yang jemput dia karena jalan kami searah. Biarkan dia istirahat dulu, nanti juga baik lagi. "
Mendengar bahwa Rian sendiri yang menjemput dan membela istrinya, Bu Ratna hanya bisa mendengus kesal, menelan kembali caci makinya sambil kembali duduk bersedekap di samping Sarah dengan raut wajah masam.
Saat jam makan malam tiba, Bi Inah telah mengetuk pintu kamar utama untuk memeberi tahu kalah makan malam sudah siap. Nadia yang sedang duduk di tepi ranjang memegang ponselnya, menatap Rian yang baru saja selesai berganti pakaian santai.
"Kamu tidak keluar makan, Nad?" tanya Rian sambil merapikan rambutnya dengan sisir.
"Nggak, Mas. Aku masih kenyang banget habis makan di kafe tadi sama Amira," sahut Nadia dingin. "Kamu makan aja duluan, nanti kalau aku lapar aku akan makan sendiri."
"Beneran nggak mau makan sedikit saja?"
"Nggak usah, Mas. Aku mau istirahat aja, capek." setelah mengatakan itu Nadia segera membungkus dirinya dengan selimut dan pura-pura memejamkan matanya.
"Ya sudah kalau begitu, aku makan malam dulu ya?"
Rian segera keluar kamar. Sepeninggal Rian, Nadia langsung membuka matanya. Ia membuka sedikit celah pintu kamar yang mengarah langsung ke area meja makan dengan sangat jelas. Nadia mengeluarkan ponselnya, mengaktifkan video dan perekam suara berkualitas tinggi, dan memulai aksinya daru celah pintu itu.
Di meja makan, Rian bergabung bersama Bu Ratna dan Sarah.
"Nadia mana, Rian? Kok tidak turun?" tanya Bu Ratna seraya menyendokkan nasi ke piring anaknya.
"Nadia masih kenyang katanya, Bu. Katanya dia mau istirahat saja di kamar," jawab Rian santai sambil menyendokkan nasi kepiringnya.
Sarah yang duduk tepat di sebelah Rian tersenyum miring. Dengan gerakan manja yang sudah menjadi gayanya, ia pindah kursi di samping Rian dan makin merapatkan posisi duduknya. Tangannya tanpa ragu bergelayut di lengan atas Rian, bersandar amat dekat hingga bahu mereka bersentuhan.
"Yah, padahal aku mau ngobrol banyak sama Mbak Nadia," celetuk Sarah dengan nada sok manis. "Tapi nggak apa-apa deh, kan ada Mas Rian di sini. Mas Rian, besok anterin aku beli keperluan dong?"
Anehnya, Rian tidak menepis tangan Sarah kali ini. Merasa aman karena Nadia tak ada di sana, Rian membiarkan perlakuan manja sepupunya itu sambil menyuap makanan. "Lihat besok ya, Sar. Kalau jadwal kantor tidak terlalu padat, Mas luangkan waktu untukmu."
Bu Ratna meletakkan sendoknya, menatap Rian dengan binar mata penuh selidik dan kepuasan tersendiri.
"Rian, Ibu mau tanya," ujar Bu Ratna, memelankan suara namun tetap terdengar jelas di rekaman. "Bagaimana perkembangan hubunganmu sama Maya?"
Rian sempat tertegun, lalu menatap ibunya. "Maksud Ibu proyeknya atau apa?"
"Ah, tidak usah pura-pura di depan Ibu dan Sarah," dengus Bu Ratna terkekeh pelan. "Ibu tahu Maya itu mantan pacarmu yang cantik dan berasal dari keluarga terpandang itu, kan? Proyek cuma alasan kalian bertemu. Ibu sih lebih setuju kalau kamu sama Maya dibanding sama Nadia yang nggak jelas itu."
Sarah ikut menimpali dengan kekehan licik, meremas lengan Rian lebih erat. "Iya, Mas. Tante Ratna cerita banyak soal Mbak Maya. Katanya Mbak Maya jauh lebih cocok mendampingi Mas Rian. Kalian sama-sama berkarir, jadi pas banget kan? pekerjaan kalian juga aku rasa cocok. Kapan-kapan ajak Mbak Maya makan malam di sini dong, Mas. Aku juga mau kenalan."
Rian menghela napas panjang, namun bibirnya mengukir senyum tipis yang tidak bisa ia bohongi. "Sabar, Bu, Sarah. Aku dan Maya masih mengatur waktu yang tepat. Nadia belum tahu soal ini, jadi kita harus main bersih dulu sampai aku bisa mendapatkan apa yang aku mau."
"Bagus kalau begitu," puji Bu Ratna puas. "Ibu dukung kamu seratus persen, Rian. Sudah saatnya kamu lepas dari Nadia. Ibu sudah muak melihatnya,apalagi sekarang dia makin ngelunjak.."
"Kenapa ibu nggak bisa menjaga sandiwara ini sih. Kalau saja ibu sama sarah bisa bersikap baik padanya, aku pasti bisa menjalankan rencana ku sejak kemarin.Nggak perlu selama ini. " keluh Rian.
"Iya, maaf deh. Ibu akan berusaha, tapi dia bener-bener nyebelin tau."
Di balik celah pintu, Nadia berdiri membeku. Ponsel di tangannya menangkap setiap baris percakapan, setiap helaan napas, dan setiap tawa renyah dari orang-orang yang pernah ia anggap sebagai keluarga.
Tidak ada air mata yang menetes malam itu. Yang tersisa hanyalah sebuah kebenaran yang menghujam dada Nadia—bahwa bukti-bukti kepalsuan mereka kini sudah berada sempurna di dalam genggamannya.