NovelToon NovelToon
Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Komedi
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.

Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ga bisa Romantis Ya? 23.

Detik ketika kesadaran Lilis kembali, bumi rasanya seperti berhenti berputar, berganti menjadi mesin blender yang mengocok seluruh isi perutnya.

Tiga puluh pasang mata di pinggir lapangan menatap mereka tanpa berkedip.

Mulut cowok-cowok kelas sebelah menganga lebar.

Pak Bambang, guru olahraga mereka yang biasanya hobi meniup peluit sekencang bom atom, bahkan lupa bagaimana cara menarik napas.

"L-lepasin!" Lilis bersuara, tapi yang keluar malah cicitan panik yang kedengaran seperti anak ayam kejepit pintu.

Dafa menaikkan sebelah alisnya, masih dengan posisi menahan pinggang Lilis.

Bukannya langsung melepas, cowok itu malah sengaja memperdalam tatapannya selama setengah detik—seolah memastikan Lilis benar-benar sudah kembali ke dunia nyata—baru kemudian menarik lengannya perlahan.

Begitu renggangan fisik itu terjadi, udara segar langsung berebut masuk ke paru-paru Lilis. Bersamaan dengan itu, rasa malu yang luar biasa besar menghantam ubun-ubunnya.

Mukanya panas, mungkin sudah semerah kepiting rebus yang overcooked.

"Bisa berdiri?" tanya Dafa santai. Dia bangkit lebih dulu, menepuk-nepuk debu dan potongan rumput kering yang menempel di celana training-nya seolah aksi heroik barusan cuma sekadar rutinitas pemanasan.

Lilis tidak menjawab.

Ego remaja tujuh belas tahunnya yang setinggi langit mendadak runtuh, menyisakan kepanikan defensif yang tidak terkendali.

Otaknya macet total. Dia butuh sesuatu untuk mengalihkan perhatian, butuh sebuah tombol escape dari tatapan menghakimi seisi lapangan, dan butuh cara untuk menyembunyikan detak jantungnya yang berisik bukan main.

Tepat di sebelah kaki kanannya, sebutir bola kasti berwarna hijau neon tergeletak pasrah.

Tanpa saringan logika, tangan Lilis bergerak secepat kilat.

Dia menyambar bola karet padat itu, berdiri dengan sentakan horizontal, dan melemparkannya ke depan.

Wush.

"Lilis, jan—"

BUK!

Kalimat peringatan dari Gladis di pinggir lapangan terpotong oleh bunyi hantaman yang solid.

Bola kasti itu sukses mendarat telak, lurus, dan presisi di tengah-tengah wajah Dafa.

Tepatnya di tulang hidung cowok itu.

"Agh!" Dafa mengaduh, tubuhnya terhuyung satu langkah ke belakang. Kedua telapak tangannya langsung menangkup hidung.

Lapangan yang tadinya sepi karena atmosfer romantis mendadak berubah jadi sepi karena horor.

"Dafa!" Pak Bambang akhirnya tersadar dari mode freeze dan langsung berlari mendekat. "Kamu gak apa-apa? Lilis! Kenapa kamu malah melempar Dafa?!"

Lilis mematung.

Tangannya masih melayang di udara, gemetar. Matanya melebar menatap Dafa yang sekarang sedang menunduk, meringis menahan sakit. Melalui celah jari-jari Dafa, Lilis bisa melihat semburat merah keunguan mulai muncul di kulit area jembatan hidung cowok itu.

Lebam.

Dan itu karena ulah impulsifnya yang super bodoh.

"G-gue... gue gak sengaja!" Lilis tergagap, suaranya naik satu oktav. "Tadi ada... ada tawon di muka lo!"

Alasan paling idiot sepanjang sejarah sekolah menengah atas.

Dafa perlahan menurunkan tangannya.

Hidungnya yang mancung sekarang tampak bengkak keunguan di bagian tengah.

Matanya agak berair—refleks alami tubuh saat area hidung terhantam benda keras.

Bukannya marah, Dafa malah menatap Lilis dengan pandangan tidak percaya yang bercampur geli.

"Tawon, Lis?" bisik Dafa, suaranya agak bindeng akibat benturan. "Lo mau nyelametin gue dari tawon atau mau bikin hidung gue patah?"

"Dafa, ayo ke UKS sekarang. Takutnya ada pendarahan dalam," potong Pak Bambang panik, langsung memegang pundak Dafa. "Lilis, kamu ikut bertanggung jawab. Temani Dafa ke UKS!"

"Eh? Saya, Pak?"

"Ya iyalah! Siapa lagi yang ngelempar bola sekencang atlet tolak peluru barusan?!"

Mau tidak mau, dengan langkah kaki yang beratnya terasa seperti digandoli semen tiga roda, Lilis berjalan di belakang Dafa menuju ruang UKS. Sepanjang koridor sekolah, tidak ada satu pun kata yang keluar.

Dafa berjalan santai di depan sambil sesekali menekan hidungnya dengan tisu dari Pak Bambang, sementara Lilis mengekor seperti kriminal yang sedang digiring ke ruang eksekusi.

Begitu pintu UKS tertutup, keheningan di antara mereka terasa makin mencekik.

Ruangan itu kosong, bau obatnya menyengat, dan hanya ada suara detak jam dinding yang monoton.

Dafa langsung duduk di tepi kasur periksa, menyandarkan kepalanya ke tembok putih. "Tolong ambilkan es batu di kulkas kecil itu dong, Lis. Perih banget ternyata."

Lilis bergerak kaku. Dia membuka kulkas, membungkus beberapa bongkah es dengan kain bersih, lalu berbalik.

Saat melihat Dafa dari dekat dengan kondisi hidung yang memar, rasa bersalah yang teramat sangat mulai merayapi dadanya, menggeser sisa-sisa rasa malu yang tadi mendominasi.

"Sini," kata Lilis pelan.

Dia berdiri di depan Dafa, ragu-ragu menempelkan kompresan es itu ke hidung Dafa.

"Aw!" Dafa meringis, refleks memegang pergelangan tangan Lilis untuk menahan tekanan. "Pelan-pelan, Lilis. Ini hidung manusia, bukan adonan pempek."

"Ya... ya makanya jangan banyak gerak!" Lilis membela diri, meski suaranya melembut. Tangan Dafa yang memegang pergelangan tangannya terasa hangat.

Dinginnya es batu di telapak tangan Lilis mendadak kontras dengan suhu tubuh Dafa yang naik akibat sirkulasi darah yang cepat.

Mereka kembali terdiam. Jarak yang dekat ini membuat Lilis bisa melihat bulu mata Dafa yang panjang, dan bagaimana cowok itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat demi menahan ngilu.

"Sorry," gumam Lilis akhirnya. Kalimat itu lolos begitu saja dari tenggorokannya. "Gue tadi... beneran refleks. Otak gue korslet."

Dafa membuka matanya. Menatap Lilis yang sedang fokus menekan es batu dengan bibir yang mengerucut pelan—kebiasaan Lilis kalau lagi cemas.

"Gue tahu," kata Dafa lembut. Suara bindengnya malah terdengar seksi di telinga Lilis. "Lo salting, kan?"

"Enggak!"

"Boong. Lo panik karena pas jatuh tadi, lo sadar kalau lo suka sama gue."

"Dafa, diem atau gue tekan es ini pakai seluruh tenaga gue?" ancam Lilis, wajahnya kembali merona.

Dafa terkekeh pelan, yang langsung disusul ringisan kecil karena gerakan pipinya menarik otot hidung yang memar. "Oke, oke, ampun. Tapi Lis... soal Kinar yang ngasih gue bekal, gue terima karena gak enak sama dia. Gak lebih. Gue gak tahu kalau itu bakal bikin lo se-kacau ini."

Tangan Lilis yang memegang kompresan sempat berhenti sedetik. Dafa menjelaskannya dengan sangat gamblang. Tanpa ada yang ditutupi, tanpa gengsi. Kejujuran yang telanjang itu justru membuat Lilis merasa menjadi orang paling kekanak-kanakan di dunia.

"Gue gak kacau," elak Lilis, suaranya melembut, hampir berbisik.

"Iya, lo gak kacau. Cuma hampir bikin hidung masa depan lo patah aja," goda Dafa dengan senyum tipis yang super menyebalkan tapi sialnya kelihatan tampan.

Lilis menjauhkan kompresan es itu dengan sentakan kecil, lalu meletakkannya di atas meja nakas. "Udah, kompres sendiri. Gue mau balik ke kelas."

Namun, begitu Lilis berbalik dan memegang gagang pintu UKS, kenyataan baru menghantam otaknya seperti gada besi.

Tunggu.

Hidung Dafa memar keunguan. Besok Dafa ada pertandingan persahabatan basket antar sekolah. Semua orang di SMA Wahidin tahu kalau Dafa adalah kapten tim dan aset berharga sekolah. Kalau besok Dafa tanding dengan hidung belang-belang seperti macan tutul, semua orang bakal bertanya kenapa.

Dan jawabannya adalah, Karena dilempar bola kasti oleh Lilis setelah mereka pelukan di lapangan.

Lilis memegangi kepalanya yang mendadak pening. Bayangan gosip yang akan menyebar di mading sekolah, grup chat angkatan, hingga akun rasan-rasan sekolah langsung berputar-putar di benaknya.

Dia tidak hanya merusak wajah ganteng cowok populer di sekolah, tapi dia juga baru saja mendaftarkan dirinya sendiri ke dalam pusaran drama remaja yang paling dia hindari seumur hidup.

Lilis menoleh perlahan ke arah Dafa yang sekarang sedang menatapnya bingung sambil memegang es batu.

'Mati gue' batin Lilis panik sendiri, merutuki tangan kanannya yang mendadak punya insting psikopat. 'Mana gue besok jadi pemandu soraknya dia, Gue harus sembunyi di mana besok?!'

1
Gege Mas
yaaah pikir plotnya lilis hilang ingatkan..trus jadi berpuluh puluh episode buat kembali ingat dafa..🤣
Gege Mas
apik Dan epic
Gege Mas
perasaan di bab berapa sudah di perjelas..disini di putar balik lage.. othor memainkam durasi ini..🤣🤭
Rofiwan: satu bab doang /Sob/🤣
total 1 replies
falea sezi
makanya jangan bego dava.. ayo lis putusin hubungan pura2 kalian
falea sezi
makanya jd cowok jangan serakah suka lilis malah nemenin mantan gebetan🤣🤣 plin plan elu🤣
falea sezi
abis ne bodoh amat m dava donk lis jual. mahal putusin hubungan pura2🤣 berjuang apanya pret si dava
mars-venus
ceritanya gak bosenin asliii
mars-venus
jujur ini gimana caranya berenti baca novel.. berasa males kerja pen baca sampe akhir😫
falea sezi
lanjut
falea sezi
jual mahal lis ngapain ngejar cowok duluan🤣 ogah amat mending di cintai Dripada mencintai
falea sezi
biarin aja lis dava ma Kinar 🤣 nanti jg dia nyesel tp uda telatt🤣
falea sezi
lanjut q kirm hadiah
Gege Mas
luncurkan 10k kata Thor...gasskeun
Nita Nita
wekwekwekwek 😄
Queen Aisyah
woy, sampe keselek siomay saya baca ginian/Sob//Curse/
Nita Nita
😄😄😄😄😄🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!