NovelToon NovelToon
Sekertaris Gendut Istri Rahasia CEO

Sekertaris Gendut Istri Rahasia CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:19k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 - SkakMat

Bu Ratih yang anggun dan berwibawa tidak ingin suasana di meja makan semakin memperkeruh keadaan. Sebagai wanita berkelas, ia memilih menepi dari perdebatan dingin itu. Dengan senyum lembut yang menenangkan, ia menggeser buku menu di atas meja ke hadapan Bu Dewi.

"Bu Dewi, ayo silakan dipilih dulu menunya. Jangan ragu, pesan saja apa yang disukai," tutur Bu Ratih ramah, berusaha mencairkan kekakuan.

Setelah mereka selesai menyebutkan pesanan kepada pelayan, Bu Ratih mencoba mengalihkan pembicaraan ke topik yang lebih netral seraya menunggu hidangan disajikan.

"Oh iya, Bu Dewi... Kalau boleh tahu, sekarang sedang sibuk menjalankan kegiatan atau usaha apa?" tanya Bu Ratih santai.

Bu Dewi membetulkan posisi duduknya, memasang raut wajah bangga yang tak bisa disembunyikan. "Ah... Saya ada butik kecil-kecilan, Bu Ratih. Tapi akhir-akhir ini saya lebih sering keliling menemani putri saya, Anita. Dia kan sekarang sedang sibuk-sibuknya mendalami pekerjaan sebagai model iklan. Yah... siapa tahu berawal dari iklan, kariernya bisa merambah sampai ke dunia perfilman, kan?"

"Oh... begitu ya, Bu," sahut Bu Ratih manggut-manggut sopan.

Bu Dewi semakin bersemangat. Ia merogoh ponsel dari tasnya, mengusap layarnya cepat, lalu menyodorkannya ke arah Bu Ratih. "Iya, Bu Ratih! Ini, coba lihat foto Anita... Cantik banget kan? Postur tubuhnya pas sekali, tinggi dan langsing, ideal banget untuk ukuran seorang model papan atas."

Bu Ratih hanya melirik sekilas ke arah layar ponsel itu tanpa berminat mengamati lebih detail, lalu tersenyum tipis nan sopan. "Iya, manis."

Di samping Nayla, Mira yang menyaksikan tingkah Bu Dewi mendadak geram setengah mati. Wajahnya memerah menahan kekesalan yang membuncah di dadanya.

"Ih, Nay... Katanya tadi telpon mau menjalin silaturahmi sama kamu," bisik Mira dengan nada gemas yang ditahan tepat di telinga Nayla. "Tapi lihat tuh! Bibi malah asyik pamer dan membanggakan anak tirinya di depan ibu mertuamu!"

Nayla meremas pelan jemari Mira di bawah meja, memberikan kode tatapan agar sahabatnya itu bersabar. Meski di luar Nayla tampak tenang dan mengutarakan senyum tipis, hati kecilnya tak bisa dibohongi. Rasanya begitu perih dan teriris. Ibunya sama sekali tidak berubah. Rasa cintanya yang buta pada harta dan gengsi membuat Bu Dewi tetap tidak menganggap keberadaan Nayla sebagai anak kandungnya sendiri.

Melihat Bu Ratih yang tampak ramah dan berkelas, pikiran licik Bu Dewi kembali berputar. Ia mendekatkan tubuhnya ke meja, tersenyum manis pada Bu Ratih.

"Bu Ratih... Kalau Bu Ratih masih memiliki putra satu lagi yang belum menikah, boleh dong dikenalkan sama Anita? Biar sekalian besanan-nya!" ujar Bu Dewi tanpa malu-malu.

Bu Ratih terkekeh renyah mendengarnya, menggelengkan kepala dengan keanggunan yang alami. "Aduh, sayang sekali Bu Dewi... Anak saya cuma satu-satunya. Dan putra saya itu sudah paten menjadi milik Nayla."

Nayla tersenyum teduh menatap ibu mertuanya yang begitu tegas memagari posisi dan kehormatannya.

Tak lama kemudian, hidangan yang mereka pesan akhirnya diantarkan ke meja. Namun, yang membawakan nampan berisi makanan itu bukanlah pelayan biasa, melainkan Farhan sendiri.

"Permisi... Selamat menikmati hidangannya," tutur Farhan ramah seraya menata piring-piring di atas meja. Pria itu lalu menatap Nayla dengan raut penuh penyesalan. "Nayla, Mira, maaf ya... Tadi aku tidak sempat menyambut kedatangan kalian di depan karena sedang sibuk mengurus operasional dapur."

Nayla tersenyum maklum. "Tidak apa-apa, Kak Farhan. Oh iya, Kak... Kenalkan ini Ibuku, Bu Dewi, dan ini ibu mertuaku, Mama Ratih."

Farhan yang sedang memegang nampan seketika tersentak kaget. Matanya membelalak menatap Nayla. "E-eh? Ibu mertua? Nayla... jadi kamu sudah menikah?!"

Nayla mengangguk pelan seraya tersenyum manis. "Iya, Kak Farhan."

"Wah... selamat ya, Nay!" ujar Farhan tulus, walau ada sedikit rasa terkejut yang masih tersisa. "Kenapa waktu itu tidak mengundang aku?"

"Acaranya waktu itu digelar sangat sederhana dan tertutup, Kak," jawab Nayla sopan.

"Oh... begitu. Ya sudah, sekali lagi selamat ya, Nay! Selamat menikmati hidangannya semuanya," puji Farhan.

Bu Ratih menyela lembut, "Tempat dan kafenya sungguh indah dan asri, Nak Farhan. Masakannya juga terlihat sangat lezat."

"Terima kasih banyak, Bu Ratih," sahut Farhan tersenyum bangga.

Namun, sebelum berbalik pergi, pandangan mata Farhan tak sengaja bertabrakan dengan Mira. Seketika itu juga, ingatan Farhan melayang pada kejadian waktu itu, saat seorang pria berjas tegap merampas cermin lipat Nayla dan menggandeng tangan Nayla secara posesif di depan umum, serta ucapan Mira yang menggoda soal CEO yang cemburu berat.

Farhan menatap Nayla kembali dengan mata berbinar sadar. "Tunggu, Nay... Jadi pria berjas rapi waktu itu... dia suamimu?!" Farhan menepuk jidatnya pelan seraya terkekeh geli. "Pantas saja waktu itu dia menatapku tajam dan terlihat marah sekali saat aku mendekatimu!"

Nayla hanya bisa mengangguk malu-malu dengan pipi merona. Farhan yang melihatnya tertawa renyah, namun karena harus menyapa pelanggan lain, ia berpamitan. "Ya sudah, aku ke belakang dulu ya. Selamat menikmati!"

Sepeninggal Farhan, Bu Dewi yang sejak tadi menyimak perbincangan itu mendadak mendengus tipis. Wajahnya memasang ekspresi menghakimi yang amat menyebalkan.

"Nayla... Kamu ini kan sudah punya suami, bersikaplah lebih menjaga jarak. Jangan dekat-dekat atau terlalu akrab sama teman pria dong," tegur Bu Dewi dengan nada menceramahi yang sok suci. "Harusnya kamu itu sadar diri dan bersyukur... Suamimu masih mau menerima dan menikahi wanita berbadan gemuk seperti kamu ini."

Plak!

Kalimat itu menjadi batas akhir kesabaran Bu Ratih. Ibu mertua yang biasanya lembut dan tenang itu seketika meletakkan sendoknya agak keras ke atas piring. Matanya memancarkan kilatan aura dingin dan tajam yang begitu berwibawa, membuat suasana di meja makan seketika membeku kaku.

"Maaf ya, Bu Dewi..." potong Bu Ratih dengan suara yang tidak lagi lembut, melainkan tegas dan menusuk. "Bisa tidak, Bu Dewi berhenti menyakiti hati menantu saya?! Tolong, jangan terus-terusan membahas fisik Nayla! Bagi keluarga kami, Nayla ini sangat cantik dan sempurna dengan versinya sendiri!"

Bu Dewi tersentak hebat, wajah cantiknya seketika pucat pasi ditatap sedingin itu oleh Bu Ratih.

"M-Maaf, Bu Ratih... Saya tidak bermaksud begitu," cicit Bu Dewi terbata-bata menahan malu. "Saya hanya... hanya mengingatkan sebagai orang tua. Bukankah wanita itu memang dinilai utama dari penampilannya?"

"Penampilan Nayla sudah sangat bagus, rapi, dan sangat cantik!" tebas Bu Ratih tanpa memberi ampun sedikit pun. "Lagipula, Nayla punya nilai plus! Dia adalah wanita hebat yang dengan setia menemani dan mendampingi suaminya bekerja siang dan malam demi memajukan perusahaan keluarga!"

Bu Dewi mengerutkan dahinya bingung. "Perusahaan keluarga?" ulangnya heran. "Tapi... bukankah Nayla ini bekerja sebagai sekretaris di Dewangga Group?"

Bu Ratih tersenyum anggun, memiringkan kepalanya sedikit. "Ya... memang Dewangga Group itu adalah perusahaan keluarga kami."

Deg!

Darah Bu Dewi seketika berhenti mengalir. Jantungnya berdegup kencang bagaikan dihantam palu godam. Otaknya membeku kaku, berusaha mencerna kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Bu Ratih.

Nayla yang melihat ibunya mulai tersudut dan kebingungan, perlahan menegakkan tubuhnya. Tidak ada lagi rasa takut atau keraguan di matanya. Ia menatap lurus ke dalam manik mata ibu kandungnya yang dulu membuangnya demi harta.

"Iya, Bu..." tutur Nayla dengan suara tenang, namun setiap katanya bergaung nyaring di telinga Bu Dewi. "Sebenarnya... Mas Adrian Dewangga itu adalah suamiku. Suami sah yang memberikan aku mobil mewah dan Black Card tanpa limit yang Ibu lihat kemarin."

JLEB!

Bu Dewi Ambarwati membatu di tempatnya. Napasnya tercekat di tenggorokan, matanya membelalak lebar bagaikan mau melompat keluar!

'A-APA?! ADRIAN DEWANGGA?! CEO MILIARDER ITUSUAMI NAYLA?!' jerit batin Bu Dewi gemetar hebat.

Tepat pada detik yang sama tatkala kebenaran fantastis itu menghantam kesadaran Bu Dewi...

Tuk. Tuk. Tuk.

Langkah kaki tegap nan mantap terdengar mendekat dari arah pintu masuk. Sosok pria jangkung berbalut setelan jas hitam elegan melangkah anggun menghampiri meja mereka. Ketampanan wajahnya yang dingin serta aura kepemimpinan yang amat dominan seketika menyedot perhatian seluruh pengunjung kafe.

Adrian Dewangga berdiri tegap di samping kursi Nayla. Lengan tegapnya tanpa ragu merangkul pundak Nayla secara posesif, lalu menunduk mendaratkan sebuah kecupan hangat di ubun-ubun istrinya di depan semua orang.

"Maaf ya, Sayang... Suamimu ini datang terlambat," tutur Adrian dengan suara beratnya yang bernuansa begitu manja dan penuh kasih pada Nayla.

Adrian kemudian mendongak, melayangkan pandangan mata tajam nan dingin yang menyengat langsung ke arah Bu Dewi yang duduk gemetar di hadapannya.

"Selamat siang, Bu Dewi Ambarwati..." sapa Adrian dengan senyuman tipis yang sangat menakutkan. "...terima kasih sudah menyempatkan waktu menemui istri saya."

Bu Dewi Ambarwati terkulai lemas di kursinya, wajahnya pucat pasi bagaikan mayat, bibirnya kelu tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun akibat rasa syok berat dan rasa malu yang menghancurkan seluruh gengsinya!

Sementara itu, di samping mereka, Mira mengepalkan kedua tangannya di bawah meja seraya menahan tawa kegirangan yang membuncah hebat. Wajah Mira dipenuhi kepuasan tiada tara melihat skakmat sempurna yang meremukkan kesombongan wanita gila harta itu!

1
mheldaaa
kenapa ga up thor🥹🥹🥹
Novaa: maap kaka, hari ini double up kok🫰
total 1 replies
sryharty
dasar uget2
Agus Tina
Nah gitu Nayla, semangat untuk hidup sehatny
Yunie Silvia Putri
ha..ha..ha.. untug gak lepas tuh jantung bu dewi 😄😄😄
Yunie Silvia Putri
kalau udah urusan duit..duit...duit..., segala cara d halalkan 😕😕
Ariany Sudjana
terus kenapa kamu harus sewot Anita, kalau Nayla jadi istri Adrian? atau kamu mau coba peruntungan kerja di grup dewangga? siapa tahu jadi istri kedua Adrian?
sryharty: Adrian nya ora Sudi ka beristrikan Anita 🤭🤭
total 1 replies
Ariany Sudjana
hahaha mampus kamu Desi, jangan mentang-mentang kamu karyawan senior, menindas karyawan magang seenaknya 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
kenapa kamu ga ngomong terus terang Dewi, kalau Anita lebih cocok dengan Adrian? kan katanya tinggi, langsing, model papan atas, tapi sayangnya Anita itu pelacur murahan 😂😂🤣🤣 dan kelasnya jauh dibawah Nayla, yang perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, jadi jangan harap yah Anita bisa jadi istri konglomerat
Ariany Sudjana
dasar keluarga yang bodoh, mana mau Adrian membantu kalian, sudah nikmati saja kebangkrutan kalian 😂😂🤣🤣
Agus Tina
Mira turunkan berat badanmu bukan untuk membungkam mulit mereka tapi demi kesehatanmu juga nanti.
Novaa: Terimakasih sudah mampir kaka semoga terhibur🫰 tapi si mbak gemoy itu Nayla kak 😁
total 1 replies
Yunie Silvia Putri
bagusss Nayla, kamu harus tegas sama orang kayak gitu yg sudah meremehkanmu, semangat....💪💪
Ariany Sudjana
eh ada pelacur murahan yang ga tahu diri, sudah ditolong bukannya terima kasih, sama seperti ibu kamu, sama-sama pelacur murahan 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
ciye pa bos cemburu nih... kenapa ga sekalian informasikan kalau Nayla itu istri bapak?
Yunie Silvia Putri
😄😄😄 orang bucin mah memang gitu Rio, cemburunya kadang suka kelewatan.....😄😄😄😍😍
Yunie Silvia Putri
🖒🖒🖒🖒.....
best suka ama ceritanya
❤❤
Yunie Silvia Putri
waaahhhh parah nih emak nya, malu dia punya anak bertubuh gendut....
Yunie Silvia Putri
wah bakalan ada yg bucin nih sama istri gemoy nya 😄😄😄
Yunie Silvia Putri
waahhh makin seru nihh, lanjut thor...
Yunie Silvia Putri
halo kk author baru mampir baca nih, suka ceritanya, tapi episode ini bacanya nangis terus...😢😢
Yunie Silvia Putri: kk author boleh tanya, kapan up bab selanjutnya uda gak sabar nunggu cerita selanjutnya, jangan lama2 ya up nya 😄😄😄
total 2 replies
Ariany Sudjana
yang pasti istri Adrian itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, bukan seperti kamu yang pelacur murahan 🤣🤣😂😂 maklum yah, mama kamu kan pelacur murahan, yang tega meninggalkan suami dan anaknya demi jadi istri konglomerat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!