NovelToon NovelToon
SELIR DI DALAM TUBUH NAYA

SELIR DI DALAM TUBUH NAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dide_Lara

Dulu dia mati karena diam. Sekarang dia hidup untuk bersuara.*

lie yun vei, seorang selir cerdas di era dinasti, mati tragis karena dijebak dan difitnah.
Di kehidupan barunya, dia bereinkarnasi jadi selebriti bawahan yang juga ditindas manajernya, Hans.

Tapi kali ini Naya tidak akan diam.
Dengan otak selir dan mental baja, dia akan membalikkan keadaan.
Di tengah drama, skandal, dan paparazzi... muncullah CEO dingin yang tiba-tiba tertarik padanya.

*Dendam harus dibayar. Ketenaran harus direbut.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dide_Lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TERIAKAN HISTERIS DI DALAM APARTEMENT

Aku merasa gugup dan takut, tetapi aku berusaha keras menjaga martabatku di depan Vanka.

Pintu ruang kecil berjalan itu terbuka dengan sendirinya, persis seperti saat aku hendak masuk tadi. Sungguh, dunia modern ini membuatku takjub setengah mati. Di kerajaanku, pintu hanya digerakkan oleh pelayan, di sini ia bergerak tanpa disentuh tangan.

Kami melangkah keluar dari ruangan kecil itu dan mengikuti langkah kaki Vanka menyusuri lorong panjang yang terang benderang. Lampu-lampunya seperti bintang-bintang yang dipenjara di langit-langit. Cahayanya dingin, tidak seperti cahaya obor.

Sampai akhirnya Vanka menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu dengan nomor 105.

Vanka membuka pintu apartemen itu hanya dengan menempelkan sebuah kartu. _Tap._ Pintu terbuka. Kami dipersilakan masuk ke dalam apartemen miliknya.

Begitu masuk, nafasku tercekat.

Di dalam ruangan itu terlihat sangat elegan, wangi seperti taman bunga yang baru disiram, dan berjejer barang-barang mahal yang bahkan tidak pernah kulihat di istana. Kaca-kacanya bening, sofanya besar dan lembut.

Tuan Ajimo yang sudah biasa dengan kehidupan mewah tidak mengekspresikan apa pun. Wajahnya tetap tenang seperti danau di pagi hari. Sedangkan diriku, aku tidak bisa mengontrol ekspresi wajahku. Di luar alam sadarku, mulutku sedikit terbuka dan mataku membulat terkejut. Aku seperti katak yang baru keluar dari tempurung.

Pintu itu menutup dengan sendirinya. _Klek._

Vanka membuka gorden apartemennya dan mempersilakan kami melihat keindahan di luar. Dari sini, seluruh kota terlihat seperti lautan cahaya yang berkilauan. Tuan Ajimo duduk diam di atas sofa yang lembut itu, tubuhnya masih lemah.

Vanka melangkah membuka sebuah pintu kamar dan menunjukkan kamar yang akan dipakai Tuan Ajimo.

"Paman bisa beristirahat di dalam," ucap Vanka seraya membuka pintu. _Ceklek._

Tuan Ajimo melangkah masuk mengikuti Vanka. Vanka lalu membuka lemari yang ada di dalam kamarnya dan mengambil sebuah setelan pakaian untuk Tuan Ajimo.

"Paman, gantilah pakaianmu. Aku rasa itu sudah sangat kotor," kata Vanka sambil menyodorkan setelan baju yang masih terlipat rapi.

Tuan Ajimo tersenyum dan menerima pakaian yang disodorkan oleh Vanka. Senyumnya tulus, senyum seorang ayah.

"Aku keluar ya, Paman. Jika ada apa-apa, panggil saja aku," ujar Vanka seraya melangkah keluar dan menarik pintu.

Tuan Ajimo memanggil Vanka saat Vanka hendak menutup pintu. Ia ingin mengucapkan rasa syukurnya.

"Vanka," panggil Tuan Ajimo. Suaranya pelan namun berat.

Vanka menengok, "Iya, Paman?"

"Terima kasih, Nak," ujar Tuan Ajimo dengan mata berkaca-kaca. Air mata itu hampir jatuh, namun ditahannya.

Vanka tersenyum hangat seraya menutup pintu kamar. _Ceklek._

Sedangkan aku, aku memilih duduk di balkon apartemen milik Vanka, menikmati keindahan malam dari gedung tinggi ini. Angin malam menyentuh kulitku dengan lembut. Di bawah sana, mobil-mobil terlihat seperti semut-semut bercahaya yang berlarian.

Terdengar suara langkah kaki mendekat. Vanka menarik kursi yang ada di sampingku lalu duduk di hadapanku.

"Naya, apa kau tidak lapar?" tanya Vanka dengan lembut. Suaranya hampir tenggelam oleh angin.

Aku menjawab pertanyaannya dengan jutek untuk menutupi rasa gugupku.

"Menurutmu?" jawabku ketus.

Tiba-tiba, di saat yang paling tidak tepat, nada perutku berirama. _Kruuuuk..._ Suaranya keras sampai terdengar oleh Vanka. Wajahku tertunduk malu. Alih-alih jual mahal, aku malah jual suara perut. Perutku sungguh tidak bisa diajak kompromi.

Vanka yang melihat itu hanya tersenyum tanpa bicara. Senyumnya itu seperti mengejek, tapi juga gemas.

Terdengar suara bel dari luar. _Ting-tong._

Vanka beranjak dari duduknya dan berbisik di telingaku hingga membuat bulu kudukku berdiri. Napasnya hangat.

"Sebentar lagi nada di perutmu akan diam," ujar Vanka seraya melangkah pergi menuju pintu utama.

Tidak lama kemudian, Vanka datang membawa satu porsi pizza besar beserta sushi. Aromanya langsung menusuk hidungku. Ia menarik tanganku membawaku ke sofa yang lembut dan ia melangkah ke dapur mengambil dua piring. Satu untuk Tuan Ajimo, ia membawa potongan pizza dan sushi itu beserta air mineral.

Ia mengetuk pintu berwarna cokelat. _Tok... tok..._ "Paman," panggilnya.

Tidak lama, pintu itu terbuka dan Tuan Ajimo berdiri di balik pintu. Vanka menyodorkan makanan tersebut kepada Tuan Ajimo.

"Paman, makanlah agar tubuh Paman segera pulih," ujar Vanka yang selalu memberi semangat dan energi positif kepada Tuan Ajimo.

Tuan Ajimo tersenyum dan mengucapkan rasa syukurnya, "Terima kasih, Nak," seraya menutup pintu kamar.

Vanka kembali duduk di sampingku, sedangkan aku sudah sibuk dengan kunyahan mulutku yang terasa penuh. Sungguh, aku sangat lapar akibat perkelahian yang terjadi di kedai milik Dany. Rasa keju dan roti itu meleleh di lidahku, sesuatu yang tidak pernah ada di dapur istana.

Hingga aku tersedak. _Uhuk! Uhuk!_

Vanka dengan sigap memberiku air mineral, "Minum, Naya, perlahan saja."

Aku mengambil air yang diberikan oleh tangan Vanka dan meminumnya dengan tergesa.

"Kau tidak apa-apa?" ujar Vanka, matanya menatapku khawatir.

Aku mengangguk pelan dan malu. Kenapa setiap aku bertemu Vanka selalu ada saja kejadian yang membuatku ilfil dengan diriku sendiri? Menuduhnya mencuri anjingku Choco, melukai keningnya dengan tendangan kaleng, bahkan menuduhnya mesum.

Sekarang dia duduk di sampingku dan menolongku. Pertemuan macam apa ini? Takdir seperti sedang mempermainkanku.

Perutku sudah terasa kenyang membuatku tidak ingin bergerak. Beban di perutku seperti batu yang nyaman. Vanka membersihkan sisa makanan dan membawa piring kotor ke wastafel. Suara air mengalir terdengar pelan.

Setelah perutku terisi, tubuhku mulai mengambil alih, seakan memberi sinyal bahwa aku sedang lelah. Aku membaringkan tubuhku di atas sofa yang sangat lembut seperti kapas yang baru dipetik. Mataku perlahan mulai menutup. Kesadaran ku tenggelam pelan-pelan.

Vanka kembali ke sofa setelah membersihkan piring dan sisa makanan. Ia melihat Naya yang tertidur di atas sofa dengan mulut yang sedikit terbuka dan rambutnya yang tergerai panjang dengan kaos yang agak gombrong berwarna merah muda. Wajahnya polos tanpa amarah.

Vanka tersenyum dan memandangi Naya. Bayangan kejadian itu terus berputar di kepalanya. Kejadian saat Naya menendang kaleng minuman yang melukai keningnya, saat ia menuduhnya mesum ketika ia ingin menyelamatkannya dari mobil yang hampir menabraknya, dan saat ia menolong Naya yang berjalan menangis di tengah derasnya hujan.

Wajah jutek itu terus terbayang. Di luar sana, wanita cantik dan modis mengejar-ngejar dirinya hanya untuk mendapatkan cinta dan hartanya. Sedangkan Naya, dia adalah wanita yang bersikap jutek padanya dan tidak memandangnya karena harta dan popularitas. Justru itu yang membuatnya berbeda, seperti bunga liar di antara mawar-mawar palsu.

Vanka menggendong tubuh Naya yang mungil itu ke dalam kamar dan meletakkannya di atas kasur yang sangat empuk dan lembut. Ia meletakkannya secara perlahan agar Naya tidak terbangun. Gerakannya hati-hati seperti memindahkan kaca. Dan menyelimutinya agar dinginnya AC tidak mengganggunya.

Vanka menutup pintu secara perlahan saat hendak keluar dari kamar. Ia melepas kemejanya dan membaringkan tubuhnya di atas sofa. Ia tertidur tanpa kain yang menutupi tubuhnya, membuat perut dan dada yang berotot gagah terpampang jelas. Napasnya teratur, tubuhnya mulai mengambil alih dan membuat matanya terpejam.

Mentari pagi mulai menyingsing, mengintip ke dalam jendela hingga kilauannya mengganggu tidurku dan membuatku terbangun. Cahaya itu menyilaukan mataku.

Aku terbangun dan sudah berada di atas kasur yang empuk. Aku mengernyit.

"Bagaimana bisa aku membaringkan tubuhku di atas sofa setelah perutku terisi penuh?" gumamku dengan kebingungan. Ingatanku terakhir adalah di sofa.

"Apa mungkin Vanka yang membawaku ke dalam kamar?" Aku menutup mulutku agar teriakan tidak terdengar keluar. Jantungku berdegup kencang.

Aku beranjak dari kasur dan melangkah keluar. _Kreekk..._ Suara pintu kamar dibuka. Aku melangkah menuju ruang tengah dan aku berteriak sekeras-kerasnya.

"AAAAARGGHHH!!!" teriakku histeris melihat Vanka tertidur tanpa baju di atas sofa.

Akibat teriakanku, Vanka dan Tuan Ajimo terbangun kaget.

Vanka dengan wajah setengah sadar mengangkat kepalanya, "Naya, ada apa?"

"Mana bajumu, Vanka! Kenapa kau tidur dengan telanjang dada seperti itu!" seraya aku menutup mata dengan kedua tanganku. Wajahku panas seperti kepiting rebus.

Vanka dengan sigap mengambil kemeja bernoda darah yang tergeletak di sampingnya. Tuan Ajimo hanya tersenyum melihat tingkah konyolku. Tawanya kecil dan bijak.

Kesehatan Tuan Ajimo terlihat semakin membaik dan ia duduk di samping Vanka. Aku pun langsung mengambil posisi duduk dan mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Tuan Ajimo. Suasana pagi yang canggung itu perlahan berubah menjadi tegang.

*Bersambung...

1
Rosdianah 🌷
revisi kak, pelayan ku.
Nurull Sef Az: oke ka makasih
ya ka
total 1 replies
Nurull Sef Az
plotwis banget
muhammad fikriaz
suka sama alur ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!