Bertemu sebagai dokter dan pasien, dengan first impression yang baik dan meninggalkan kesan berbeda. Edward (31), dokter dengan status duda terlibat dengan urusan pribadi pasiennya, Cahaya Sekar Janitra (24).
Entah karena sumpah atau memang takdir Tuhan. Ketertarikan itu berubah menjadi perasaan mendalam saat Edward menolong Cahaya dari jebakan calon suaminya.
====
"Bilang apa kamu? Om? Aku dokter pribadi kamu."
"Dokter dan pasien, berlaku kalau lagi di ruang praktek. Di luar itu, ya bukan dokter aku. Sesuai dengan penampilan, cocok aku panggil Om. Om dokter, gimana om?"
------
Hai, ketemu lagi di karya aku yang kesekian. Baiknya baca dulu Diam-diam Cinta dan Emergency Love
Ikuti sampai tamat ya dan jangan melompat bab. sampai bertemu di setiap babnya 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Collapse
Bab 12
(Yang kangen Rama, ketemu di sini nih)
“Hah, elo, ngapain malam-malam ke sini.” Rama baru tiba, melepas helm lalu turun dari motor.
Pak Iwan beranjak meninggalkan Anji yang berada diteras.
“Bapak pulang ya.”
“Iya pak, ibu pasti udah nungguin minta dikelon.” Iwan terkekeh sambil menggeleng pelan.
“Lo parah Ram, tolongin gue napa.”
“Bentar, gue lihat si kembar sama bundanya dulu. Sekalian bikin kopi.” Rama melewati Anji lalu ke dalam. Melepas jacket, cuci muka dan cuci tangan di toilet belakang sebelum ke kamar. Hatinya menghangat mendapati si kembar terlelap di box mepet dengan ranjang, begitupun dengan Gita. Tampaknya sangat lelah.
“Pules amat neng,” lirih Rama.
Kembali ke teras membawa nampan dengan 2 gelas kopi.
“Kopi sama rokok, nikmat yang tiada duanya,” seru Rama lalu duduk di kursi yang terjeda dengan meja kecil. Menyesap kopi miliknya dan bersandar.
“Ngapain lo nungguin gue, udah jam 11 ini.”
“Ram, tadi jam sepuluh lewat lima gue sampe kosan. Aceng larang gue nemuin Bela,” jelas Anji.
“Terus?”
“Ini penting Ram. Demi hidup dan mati cinta gue ke Bela. Dia lagi ngambek, terus gue datang telat dan gak boleh masuk sama Aceng.”
“Aceng udah bener, lo yang error. Jam berkunjung emang sampe jam 10 malam. Lo tau aturan kosan itu memang dibuat untuk melindungi para perempuan yang merantau di Jakarta dan ingin hidup tenang. Kalau lagi ngambek kasih dia waktu buat mikir, lo juga gitu. Jangan terus dipepet.”
“Lah, sok tahu.”
“Dibilangin,” ujar Rama. “Gini juga gue udah satu langkah lebih maju. Ada neng cinta sama si kembar. Lah elo, masih coba-coba sama Bela. Masih berurusan dengan ngambek dan merajuk. Beda sama gue, masalah bukan lagi ngatasin neng Gita yang ngambek, tapi gimana gue sama neng cinta bisa menyatukan cinta kami biar makin mesra.”
“Si4lan, isi otak lo enak-enak doang.” Anji melempar kardus rokoknya ke pangkuan Rama yang tergelak.
“Nggak bisa nji, mending lo kirim chat aja bilang besok pagi jemput atau ajak sarapan bareng. Pulang istirahatkan kepala lo itu.”
“Sebentar aja, Ram.”
“Nggak, pulang sana.”
Anji berdecak.
“Gimana si Edward, serius dia pacaran sama Adiknya Andin.”
“Katanya nggak, tapi gue yakin si vampir emang naksir Cahaya. Kelihatan banget saltingnya si duda kalau deket tuh cewek. Plot twist nya, Cahaya dijodohkan dan memilih kabur ke Jakarta.”
“Hah, sama kayak si Andin dong.”
“Emang?” tanya Anji.
“Info Lisa ya begitu.”
“Jadi bener, mereka keturunan priyayi?”
“Ningrat, bangsawan, priyayi apapun itu namanya. Yang jelas mereka bukan orang biasa di tempat asalnya. Mungkin di sini hanya perawat dan Cahaya cuma pelayan. Ada alasan kenapa mereka menjalani hidup yang sekarang.”
Anji menatap heran dan menggeser duduknya menyerong ke arah Rama lalu bertepuk tangan.
“Daebak, lo dikasih apa sama Gita sampe bijak begini. Apa kecelakaan tempo hari bikin geger otak? Atau lo keracunan, makan apa tadi?”
“Stress. Udah sana pulang, gue ngantuk mau kelonan sama bundanya anak-anak.”
Anji berdiri lalu menaikan resleting jaketnya, masih mengoceh urusannya dengan Bela.
“Makanya jangan dipacarin, dinikahin aja. Biar nggak repot lagi urusan begini.”
“Kalau mau mah langsung gue bawa ke penghulu, masalahnya masih dibujuk-bujuk. Ada aja alasannya. Pengen kerja dulu, baru lulus pengen ngerasain cari duit katanya. Masih terlalu muda-lah. Gemes, pengen gue telen aja. Ya udah gue pamit, nggak salam ke Gita takut lakinya marah.
“Hm. Baek-baek di jalan.”
Di tempat berbeda. Suasana club malam, dengan dentuman bass yang memekakkan telinga. Lampu strobe membelah kegelapan dalam kilatan-kilatan singkat yang kadang menyilaukan mata. Aroma pekat minuman, parfum dan asap rokok.
Adit menenggak isi gelas lalu mengernyit menahan rasa pahit dan mencekik. Mulutnya sejak tadi mengumpat karena usahanya lagi-lagi tidak berhasil. Malah Cahaya dilindungi oleh pria-pria itu. Apa namanya, bodyguard?
“Mas Adit, sebaiknya hentikan. Nanti anda mabuk. Besok ada tugas yang harus kita urus.”
“Bac0t kamu, mau satu gelas mau satu botol nggak akan bikin gue mati. Mikir, gimana caranya bawa Cahaya pulang. Lain kali kita culik aja, lempar ke depan romonya terus ijab qabul,” pekik Adit. Menyandarkan kepala di sofa yang dia tempati. “Cariin gue lawan,” titah Adit.
“Mas, jangan gegabah. Mana tahu ada orangnya Pak Wira mengawasi kita.”
“Halah, nggak mungkin. Sana cariin yang paling cantik. Emang si4lan Cahaya, penampilannya sekarang beda, bikin kepala gue pusing. Kepala bawah,” seru Adit lalu terbahak. “Lo juga carilah, kita senang-senang dulu. Istri untuk di rumah, lagi di luar ya sama yang lain aja.” Adit menepuk bahu Jarwo. “Cepet!”
Jarwo beranjak, dia ragu. Atasan yang juga kerabatnya itu mabuk, sedangkan besok mereka harus ketemu klien untuk urusan kerja sama. Bisa kacau kalau Adit tidak malah tidak datang. Kebiasaan kalau dia mabuk, esoknya tidak akan bisa bangun.
“Semoga kamu tidak akan menyesal.”
***
Aya meringis saat beranjak dari ranjang. Kram di perut yang rasanya seperti direm4s kuat-kuat oleh tangan besar dan memutar r4himnya. Setiap mendessis karena nyeri ia memejamkan mata, menahan napas sampai gelombang sakit itu lewat. Titik-titik keringat muncul di dahinya.
Sebenarnya lumrah dan biasa untuk wanita merasakan hal begini setiap masa periodenya, yang mengkhawatirkan ia pun merasakan nyeri di kepala dan kadang berputar. Anemia yang diderita akan semakin menyulitkan saat datang bulan. Semalam ia mulai merasakan berharap pagi ini akan lebih baik, nyatanya makin parah.
“Ya ampun,” pekiknya mencari pegangan saat turun dari ranjang untuk mengambil tas di atas meja rias. Obat dan vitamin penambah darah harus segera masuk ke tubuhnya. Namun, ini masih pagi dan perutnya masih kosong. Keluar dalam keadaan begini, Andin pasti panik. Wajahnya pasti sudah pucat macam orang habis begadang. Pandangan Aya tertuju pada roti kemasan dan botol air di atas nakas. Sepertinya itu cukup.
Sudah mandi, tapi kembali ke ranjang. Andin mengecek keadaannya karena tidak ikut sarapan.
“Yakin cuma ngantuk? Pusing nggak.”
“Nggak mbak, ngantuk aja. masih ada waktu 2 jam lagi. Aku mau tidur.”
“Ck, makanya jangan begadang. Kamu susah kalau dibilangin.” Andin mengoceh sambil membawa keranjang baju kotor.
“Mbak, biar itu nanti aku yang cuci.”
“Nggak usah ngeyel, mending kamu tidur. Daripada nanti kleyengan.”
Aya menghela saat Andin keluar kamar. Kalau saja tahu ia bukan sekedar mengantuk, tidak akan boleh berangkat kerja. Kebetulan Andin shift 2, ia diantar ke SM bahkan memakai mobil. Agak lebih baik dari tadi pagi, tapi belum normal sepenuhnya.
“Cahaya, lo sakit?”
“Hah, nggak mbak. Kenapa toh?”
“Pucat ya, pake lipstik gih. Kayak kurang darah aja.”
Aya mengusap lehernya membayangkan ia kurang dar4h karena dihis4p vampir lalu bergidik ngeri. Jam makan siang, suasana cafe cukup ramai. Lumayan menguras tenaga dan ia belum makan siang membuatnya semakin lemah dan lemas.
Baru saja dari toilet untuk ganti pemb4lut. Padahal yang keluar biasa saja, tapi effort yang dirasakan luar biasa. Mencuci tangan lalu meneguk air dari tumbler.
“Kamu oke?” tanya manager cafe, melihat penampilannya yang tidak biasa.
“Aman, mas.”
“Istirahat dulu, gantian!”
Hampir jam 2 siang, suasana cafe sudah landai, ia mengeluarkan kotak makan yang disiapkan Andin. Agak lambat untuk makan siang. Berada di ruangan kecil untuk para staf beristirahat. Baru menikmati beberapa suap, kepalanya semakin nyeri dan menggelap.
“Mbak,” pekik Aya lalu beranjak dan meraba dinding atau apapun. “To ….” Belum sempat berucap, berada di tengah pintu dan merasakan black out. Ia tak sadarkan diri.
“Eh, Cahaya!”
😛😛
ini mana nih rombongan kk Darma...
kapan surat penangkapan nya datang
janji setelah ini kau masuk penjara yg bener itu 🤣🤣🤣