NovelToon NovelToon
EFEK MANDAROBA

EFEK MANDAROBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:164
Nilai: 5
Nama Author: just Zii

Hujan deras mengguyur gang sempit malam itu. Napas Sesil terengah-engah, memburu bersama ketakutan yang makin membelenggu dada.

Di tengah hawa dingin yang menusuk tulang, ia memeluk erat sebuah buku catatan bersampul hitam—satu-satunya bukti kejahatan mematikan yang berhasil ia temukan.

​Tiba-tiba, sorot lampu mobil menyilaukan memotong kegelapan dari arah belakang. Sebuah mobil mewah berhenti mendadak. Sosok pria berpostur jangkung melangkah keluar.

Alden.

Dengan payung hitam di genggamannya, ia berjalan tenang menghampiri Sesil tanpa raut panik sedikit pun.

​BRAAKK!

​Dentang besi bersahut-sahutan mengudara saat tubuh Sesil terpental keras ke aspal basah. Rasa sakit menusuk seketika, disusul pandangan matanya yang perlahan mengabur dan menggelap. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, bisikan dingin berselimut nada manis terdengar tepat di telinganya:

​"Tidur yang nyenyak, Sesil. Pas bangun nanti, kamu bakal mencintai aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon just Zii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. BISIKAN DI KEGELAPAN

Denting musik simfoni gesek dari ballroom utama Mandaroba Gala for Hope terdengar redup, terhalang oleh pintu tebal dan lorong-lorong berliku di lantai atas.

Sesil berdiri di depan cermin toilet VIP yang mewah, membasuh tangannya dengan air dingin. Di balik topeng peraknya, otaknya berputar cepat mengolah semua informasi korupsi yang baru saja didengarnya dari mulut Komisaris Hendra dan kawan-kawannya.

Alden menunggunya di luar, berjaga di area lorong utama VIP dengan alasan memberi Sesil ruang untuk merapikan diri setelah pura-pura merasa pusing. Namun, Sesil tahu Alden tidak akan membiarkannya lepas dari pengawasan terlalu lama.

Saat Sesil mematikan kran air dan meraih tisu, lampu gantung di atas toilet mendadak berkedip cepat lalu padam sepenuhnya. Ruangan itu seketika terperosok ke dalam kegelapan pekat. Suara sistem pendingin udara terhenti, menandakan adanya pemutusan arus listrik secara lokal di area servis tersebut.

Sebelum Sesil sempat bersuara atau memasang sikap waspada, pintu belakang toilet khusus petugas kebersihan terbuka sedikit.

Sebuah tangan kekar bersarung tangan kain hitam terjulur keluar dari balik kegelapan, menyambar pergelangan tangan Sesil dengan gerakan yang sangat cepat dan presisi.

"Mmph—!"

Satu tangan lain menyumbat mulut Sesil dengan kain lembut, menahan jeritannya. Tubuh Sesil ditarik dengan paksa melewati pintu servis, masuk ke dalam lorong sempit tempat pipa-pipa pendingin dan jalur listrik gedung tersembunyi.

Pintu besi itu tertutup kembali dengan dentuman halus, mengunci mereka dalam kegelapan total yang hanya diterangi oleh lampu darurat berwarna merah redup.

Adrenalin Sesil memuncak. Ia membengkokkan sikunya, bersiap menghantam rusuk orang yang membekapnya dengan teknik pertahanan diri yang mulai diingatnya.

"Sesil! Diam, ini aku... ini Rian!" sebuah bisikan parau dan terengah-engah terdengar tepat di samping telinganya.

Gerakan Sesil terhenti seketika. Namanya. Suara itu. Suara yang sangat familier dari masa lalu yang selama enam bulan ini dianggap telah lenyap dari hidupnya.

Pria itu perlahan melepaskan bekapannya, namun tetap memegang kedua bahu Sesil, memastikan wanita itu tidak membuat suara sekecil apa pun. Saat matanya mulai terbiasa dengan remang-remang lampu darurat merah, Sesil menatap wajah pria di hadapannya.

Rian Pratama.

Sahabat karibnya, rekan duet investigasinya.

Namun, Rian yang berdiri di depannya kini tampak sangat berbeda dari pria enerjik yang ada di ingatannya.

Wajah Rian tampak tirus, dengan lingkaran hitam pekat menyelimuti matanya. Ia mengenakan seragam petugas katering gedung—penyamaran yang memungkinkannya menyusup ke area servis yang ketat ini.

Tangannya yang memegang bahu Sesil gemetar hebat karena kombinasi antara ketakutan dan emosi yang meluap.

"Rian...?" bisik Sesil, suaranya hampir tak terdengar, tertutup gema dengung mesin di lorong servis.

Air mata merebak di pelupuk mata Rian. Pria itu menyapu topeng perak yang menutupi wajah Sesil dengan jemarinya yang dingin.

"Kamu... kamu benar-benar masih hidup, Sil. Demi Tuhan, selama ini mereka bilang kamu sudah mati di dasar jurang..."

"Bagaimana kamu bisa ada di sini, Rian?" tanya Sesil, matanya bergerak liar memperhatikannya. "Alden bilang..."

"Jangan percaya sepatah kata pun yang keluar dari mulut iblis itu!" potong Rian dengan suara bisikan bertensi tinggi.

Matanya menatap Sesil dengan intensitas yang mengerikan. "Dengarkan aku baik-baik, Sesil. Waktu kita tidak banyak. Aku meretas panel listrik lorong ini hanya untuk mendapatkan waktu tiga menit sebelum tim keamanan Alden menyadarinya."

Sesil mengangguk cepat. "Katakan padaku, Rian. Katakan semuanya."

Rian menarik napas pendek yang patah-patah. "Malam itu... enam bulan lalu. Malam saat kamu menghilang. Kamu tidak mengalami kecelakaan tunggal karena hujan deras atau jalan licin seperti yang diberitakan media."

Jantung Sesil berdegup kencang, menghantam dada rusuknya. "Lalu apa yang terjadi?"

"Itu adalah pembunuhan terencana, Sesil," bisik Rian dengan nada suara yang bergetar menahan amarah yang amat sangat. "Aku ada di sana... aku mengikutimu dari jarak jauh karena perasaan buruk malam itu setelah kita mendapatkan dokumen bocoran Compound-9.

Sebuah truk kontainer tanpa plat nomor mengejarmu dari arah persimpangan. Truk itu menghantam bagian belakang mobilmu dengan sengaja, mendorongmu keluar dari jalur hingga mobilmu terbalik dan jatuh ke tepi lereng jurang."

Sesil menahan napasnya. Bayangan pecahan kaca, benturan keras, dan rasa sakit yang menyengat di kepalanya mendadak terbayang begitu nyata di pelupuk matanya.

"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri dari atas tebing, Sil," lanjut Rian, air matanya menetes melewati pipinya yang kotor. "Truk itu tidak kabur. Pengemudinya turun, lalu sebuah mobil SUV hitam datang. Alden keluar dari mobil itu. Pria itu tidak terkejut... dialah yang memberi perintah langsung di lokasi! Aku melihat anak buahnya merusak sistem rem mobilmu yang sudah hancur, mengambil jurnal hitam dari tanganmu yang berdarah, lalu menyuruh mereka mendorong mobilmu sampai jatuh ke dasar sungai jurang!"

Darah Sesil terasa membeku seketika. "Dia... Alden sendiri yang berdiri di sana?"

"Ya! Dia sengaja membuang mobilmu ke dasar sungai agar polisi menyimpulkan bahwa jasadmu terseret arus deras dan hancur," kata Rian seraya mencengkeram tangan Sesil erat-erat. "Tapi sebelum mobil itu didorong, Alden menyuruh anak buahnya mengangkat tubuhmu yang sekarat ke dalam mobilnya. Dialah yang merencanakan tabrakan itu! Dialah yang menghancurkan hidupmu, memalsukan kematianmu, dan mengurungmu di rumah perbukitan itu!"

Rasa dingin yang merayap di tubuh Sesil perlahan-lahan berubah menjadi kobaran api dendam yang luar biasa panas. Pernyataan Rian mengonfirmasi setiap keraguan, setiap potongan mimpi buruk, dan setiap kebohongan manis yang diajarkan Alden selama ini.

Alden bukan sekadar pembalas dendam atau penyiksa—pria itu adalah pembunuh yang gagal menyelesaikan tugasnya, lalu memutuskan untuk menjadikan korbannya sebagai mainan psikologis.

"Dia menyuntikkan sesuatu padamu, Sil... zat racun bernama Compound-9 untuk meretas ingatanmu," lanjut Rian tergesa-gesa. "Keluargamu dihancurkan. Bapak dan Ibu terpaksa menjual rumah mereka untuk membayar pengacara dan detektif sebelum mereka diancam dan diusir dari kota oleh jaringan Alden. Aku sendiri dipecat dan diblacklist dari seluruh media."

"Aku tahu, Rian..." bisik Sesil, matanya kini berkilat tajam dan dingin di dalam kegelapan lorong. "Aku sudah tahu soal Bapak dan Ibu. Dan ingatanku... ingatanku sudah kembali sepenuhnya."

Rian tertegun, menatap Sesil dengan tatapan tak percaya. "Ingatanmu... sudah kembali? Kamu tidak terpengaruh obat itu?"

"Aku berpura-pura menelannya selama ini," jawab Sesil tegas. "Aku membuang pil-pil itu setiap malam. Aku tahu siapa diriku, Rian. Aku tahu kejahatan PT Mandaroba Medika, dan aku tahu apa yang telah dilakukan Alden padaku."

Raut wajah Rian berubah dari keputusasaan menjadi harapan murni. "Kalau begitu ikut aku sekarang, Sil! Di luar ada pintu darurat menuju area parkir bawah tanah. Aku sudah menyiapkan kendaraan. Kita bisa kabur sekarang juga dan pergi ke markas perlindungan saksi!"

Sesil menatap Rian, lalu menggelengkan kepalanya perlahan namun mantap.

"Tidak, Rian. Kita tidak bisa kabur begitu saja," jawab Sesil.

"Apa?! Mengapa, Sesil? Dia itu monster! Jika dia tahu ingatanku sudah pulih, dia akan benar-benar membunuhmu!" jerit Rian pelan dengan waut ketakutan.

"Jika kita kabur sekarang tanpa bukti, Alden akan menggunakan jaringannya—polisi, pejabat kementerian, dan pembunuh bayarannya—untuk memburu kita sampai ke ujung dunia," kata Sesil dengan intonasi yang begitu tenang, dingin, dan penuh perhitungan seorang jurnalis senior. "Kamu lihat pesta di luar? Komisaris Polisi dan Deputi Kementerian ada di dalam cengkeraman uangnya. Mengadu ke hukum tanpa bukti fisik adalah bunuh diri."

"Lalu apa rencana kamu, Sil?" tanya Rian bingung.

"Jurnal hitamku," bisik Sesil. "Foto dari pengirim misterius mengonfirmasi bahwa jurnal hitam milikku—yang berisi seluruh catatan investigasi, nama korban uji coba Compound-9, dan aliran dana gelap Alden—masih utuh. Jurnal itu disembunyikan di dalam rumahnya, kemungkinan besar di dalam ruang kerja rahasianya di lantai dua."

Rian menatap Sesil dengan cemas. "Itu terlalu berbahaya, Sesil... kamu bermain dengan nyawamu sendiri di dalam kandang singa!"

"Aku sudah mati di mata dunia enam bulan lalu, Rian," jawab Sesil seraya menyunggingkan senyuman dingin yang mengerikan. "Sekarang adalah waktunya untuk memastikan Alden yang akan mati di mata hukum. Aku harus kembali ke rumah itu. Aku harus mendapatkan kunci ruangan atas, mengambil jurnal hitam itu, dan menggunakannya untuk menghancurkan Alden beserta seluruh pejabat korup di

belakangnya."

BZZZZT.

Lampu darurat berwarna merah di lorong servis mendadak berkedip dua kali, menandakan bahwa sistem listrik utama akan segera dipulihkan oleh tim teknisi gedung.

"Sistemnya mulai pulih," desis Rian. "Kamu yakin dengan ini, Sil?"

"Aku sangat yakin," tegas Sesil. Ia meremas tangan Rian erat-erat. "Tetaplah bersembunyi dan pantau aku dari luar, Rian. Kumpulkan tim media independen yang masih bisa dipercaya. Begitu aku mendapatkan jurnal hitam itu, aku akan membutuhkanmu untuk mempublikasikannya ke seluruh negeri."

Rian menatap sahabatnya itu dengan rasa hormat dan kekaguman yang mendalam. Ketakutan di mata Rian perlahan memudar, berganti menjadi keyakinan mutlak. "Aku akan bersiap, Sesil. Berhati-hatilah."

KLIK.

Lampu gantung di dalam toilet utama menyala kembali. Arus listrik telah pulih.

Tanpa membuang waktu lagi, Sesil melangkah mundur melewati pintu besi servis, kembali ke dalam ruangan toilet VIP yang terang benderang.

Ia merapikan gaun malam biru malamnya, menyesuaikan posisi topeng peraknya di wajah, lalu membasuh mukanya sekali lagi untuk menghilangkan sisa uap dingin lorong servis.

Ketika Sesil membuka pintu toilet utama dan melangkah keluar ke lorong VIP, Alden sudah berdiri di sana dengan raut wajah cemas yang dipaksakan.

"Sesil! Kamu dari mana saja? Lampu baru saja padam dan aku hampir saja mendobrak pintu," ujar Alden seraya menghampiri Sesil dan merangkul bahunya erat-erat.

Sesil menatap wajah Alden melalui celah topeng peraknya. Wajah tampan yang dulu sempat membuatnya luluh, kini hanya terlihat sebagai topeng pembunuh berdarah dingin yang telah menabraknya dan membuang tubuhnya ke jurang.

Sesil menyandarkan kepalanya di dada Alden, memalsukan suara rapuhnya yang biasa. "Aku di dalam, Alden... aku sangat takut saat lampunya padam..."

"Ssst... tidak apa-apa, Sayang. Aku di sini," bisik Alden, mengecup kening Sesil dengan rasa kepemilikan yang menggebu-gebu. "Mari kita pulang ke rumah perbukitan kita."

"Ya, Alden..." sahut Sesil pelan. Mari kita pulang ke nerakamu, di mana aku akan mencabut nyawa dari kerajaan kebohonganmu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!