Dara adalah gadis dari keluarga kelas bawah yang dijebak oleh pemuda kaya bernama Riko yang berujung kehamilan Dara. Riko menolak untuk bertanggung jawab karena mempertahankan status sosial dan nama baik keluarga.
Keputusan Dara memilih untuk mempertahankan kehamilannya yang menyebabkan dirinya dibuang dari keluarganya sendiri karena dianggap sebagai sebuah aib.
Kisah Dara yang berjuang sendiri dalam kehamilannya begitu pilu dan penuh perjuangan hingga melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan jenius yang diberi nama Juwita.
Kehidupan Jiwita tak kalah menyedihkan, dia selalu dikucilkan dan dijauhi karena dicap sebagai anak haram, bahkan setiap prestasi yang didapatkan selalu tak dianggap oleh siapapun kecuali ibunya yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Kesabaran dan tekad Dara dan Juwita diuji dengan banyaknya lika-liku kehidupan yang harus dijalani.
Mampukah mereka bertahan, membalikan keadaan dan membalas rasa sakit yang dialami ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mekar di Atas Lumpur dan Sayatan Tinta Merah
Sembilan bulan sejak malam jahanam yang merenggut segalanya dari Dara, hidup tak lebih dari sekadar hitungan napas yang dipaksakan. Ia terdampar di bantaran rel kereta api kumuh di pinggiran Jakarta, menyewa sebuah bilik seukuran dua kali tiga meter yang dindingnya terbuat dari triplek bekas dan atap seng karatan. Di sanalah Dara menyambung nyawa. Tangan halusnya yang dulu terawat kini kasar, melepuh, dan sering kali berdarah karena harus menggilas puluhan kilogram cucian kotor milik para tetangga demi sepiring nasi aking dan tabungan persalinan.
Malam ketika perutnya mulai berkontraksi hebat, langit kembali menyuguhkan pertunjukan kelam. Hujan turun menderas, menyelinap dari celah-celah atap seng yang bocor dan menetes ke atas kasur lantai tipis yang sudah apek. Dara menggigit gulungan kain sarung lusuh untuk meredam jerit kesakitannya. Ia tidak punya uang untuk pergi ke puskesmas, apalagi memanggil bidan. Hanya ditemani Mak Ijah, seorang pemulung tua yang iba padanya, Dara bertarung melawan maut di atas lantai beralas tikar plastik.
"Ayo, Neng Dara! Tarik napas panjang, ngeden yang kuat! Ingat bayimu, Neng!" seru Mak Ijah dengan tangan gemetar yang berlumuran darah dan air ketuban.
"Aaaaarrgghh... Ya Allah!" jeritan Dara akhirnya pecah, merobek suara deru kereta api barang yang melintas tepat di belakang biliknya, membuat dinding triplek itu bergetar hebat. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi keningnya. Pandangannya mulai mengabur. Ia nyaris menyerah ketika kilasan wajah Riko yang menatapnya jijik dan usiran ayahnya kembali berkelebat. Tidak. Ia tidak boleh mati. Anaknya harus hidup untuk membuktikan bahwa mereka bukan sampah.
Dengan satu erangan panjang dan sisa tenaga terakhir yang menguras seluruh nadinya, suara tangis melengking memecah udara pengap di bilik itu. Dara jatuh terkulai, dadanya naik turun dengan cepat.
"Alhamdulillah, perempuan, Neng. Cantik sekali, sempurna," ucap Mak Ijah seraya meletakkan bayi merah yang masih berlumuran darah itu ke atas dada telanjang Dara.
Dara menangis. Hatinya yang selama sembilan bulan ini beku dan dipenuhi kepahitan, tiba-tiba mencair seiring hangatnya kulit mungil itu bersentuhan dengan dadanya. Ia mencium kening bayinya dengan bibir bergetar, merengkuhnya posesif seolah dunia akan merebutnya. "Juwita... namamu Juwita," bisik Dara di sela isaknya. "Kau adalah permata Ibu, anugerah Ibu... satu-satunya alasan Ibu untuk tetap bernapas."
Tujuh tahun berlalu dengan kejam, namun Juwita tumbuh seperti bunga teratai yang mekar dengan sangat indah di tengah kubangan lumpur. Gadis kecil itu memiliki sepasang mata bulat yang memancarkan kecerdasan luar biasa, tersembunyi di balik poni rambutnya yang dipotong seadanya oleh Dara. Di saat anak-anak seusianya masih kesulitan mengeja huruf abjad, Juwita telah membaca habis tumpukan koran bekas dan buku-buku tebal yang dipungut ibunya dari tempat pembuangan sampah.
Bilik sempit mereka menjadi saksi bisu kejeniusan yang menakutkan itu. Lantai semen yang retak dipenuhi coretan arang kayu berupa rumus-rumus matematika kompleks dan deret angka yang entah dari mana Juwita pelajari. Otaknya menyerap apa pun seperti spons yang kehausan.
Namun, dunia adalah tempat yang memuakkan bagi mereka yang miskin dan tak bersuara. Kejeniusan Juwita tidak pernah dirayakan, melainkan menjadi pisau bermata dua yang mengundang kedengkian.
Puncaknya terjadi pada suatu siang yang terik di sekolah dasar negeri tempat Juwita menumpang ilmu. Hari itu adalah pembagian rapot dan pengumuman juara kelas. Juwita, dengan seragamnya yang kebesaran dan warnanya yang sudah menguning, berdiri di depan kelas dengan senyum yang begitu tulus. Wali kelasnya baru saja mengumumkan bahwa Juwita tidak hanya meraih juara pertama, tetapi juga mendapatkan nilai sempurna di semua mata pelajaran—sebuah rekor yang belum pernah terjadi di sekolah itu.
Dara berdiri di barisan belakang para orang tua murid. Ia baru saja meminta izin setengah hari dari pekerjaannya mencuci piring di warung tenda. Wajahnya yang kuyu terlihat berseri-seri, air mata kebanggaan menggenang di pelupuk matanya saat melihat putri kecilnya memegang piala plastik kecil itu.
Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan sesaat.
Saat para orang tua murid bubar menuju halaman sekolah, seorang ibu bertubuh subur dengan perhiasan emas imitasi yang bergemerincing di lengannya—Ibu RT dari lingkungan tempat Dara tinggal yang anaknya selalu mendapat nilai merah—tiba-tiba menghalangi langkah Dara dan Juwita. Wajahnya ditekuk penuh kebencian.
"Heh, Dara! Nggak usah bangga dulu anakmu dapat piala," cibir wanita itu dengan suara lantang yang sengaja dikeraskan, menarik perhatian seluruh orang tua dan murid di halaman sekolah. "Pasti anakmu nyontek kan? Mana mungkin anak dari lingkungan kumuh, yang makannya cuma nasi pakai garam, otaknya bisa lebih pintar dari anakku yang tiap hari makan daging dan ikut les!"
Juwita kecil mengeratkan genggamannya pada piala itu, memandang wanita besar di hadapannya dengan mata bulat yang polos. "Aku nggak nyontek, Tante. Aku belajar dari buku bekas yang Ibu cari. Soal-soalnya gampang..."
"Halah! Diam kamu, bocah!" bentak wanita itu hingga Juwita terkesiap mundur. Tangan wanita itu menuding tepat ke wajah Juwita. "Kamu itu sama saja sama ibumu! Ibumu perempuan murahan, datang ke kampung kita dengan perut buncit tanpa suami! Kamu pikir kami nggak tahu? Kamu itu anak haram! Darah kotor! Nggak peduli sepintar apa otakmu, kamu tetap anak haram yang keberadaannya cuma bikin malu!"
Suasana halaman sekolah seketika hening, disusul oleh kasak-kusuk menyakitkan dari para orang tua lain. Tatapan mereka yang semula biasa saja kini berubah menjadi tatapan menghakimi, jijik, dan merendahkan. Anak-anak lain mulai menjauhi Juwita, menatapnya seolah ia mengidap penyakit menular.
"Anak haram... pantesan nggak punya bapak," bisik seorang anak laki-laki. "Kata mamaku jangan main sama Juwita, nanti ketularan dosa," sahut yang lain.
Piala plastik di tangan Juwita terjatuh, menggelinding di atas tanah berdebu. Bibir mungilnya bergetar hebat. Ia belum sepenuhnya mengerti apa arti 'anak haram', tapi ia tahu dari nada suara mereka bahwa itu adalah sesuatu yang sangat kotor, sesuatu yang hina. Matanya yang jernih seketika dibanjiri air mata.
"Ibu... anak haram itu apa? Kenapa mereka benci Juwita?" isak Juwita, menarik-narik ujung baju Dara dengan keputusasaan yang merobek hati.
Dada Dara seakan dihantam godam beton. Napasnya tercekat melihat dunia mulai mengoyak anak perempuannya yang tak berdosa. Kemarahannya meledak, namun ia sadar bahwa melawan segerombolan orang buta hati ini hanya akan membuat Juwita semakin terluka. Tanpa mempedulikan tatapan mencemooh mereka, Dara segera berjongkok, merengkuh tubuh mungil Juwita dan menutupi telinga putrinya dengan kedua tangannya.
"Tutup telingamu, Sayang... jangan dengarkan mereka," bisik Dara dengan suara bergetar, air matanya jatuh membasahi rambut Juwita. Dara lalu berdiri, menatap tajam ibu-ibu yang mencemoohnya dengan sorot mata terluka namun penuh harga diri.
"Kalian boleh menghina saya! Kalian boleh menginjak-injak harga diri saya sampai hancur! Tapi jangan pernah, sedikit pun, kalian sebut anak saya dengan sebutan menjijikkan itu!" suara Dara menggema, serak oleh isak tangis yang ia tahan. "Juwita punya otak yang tidak akan pernah bisa dikejar oleh anak-anak kalian, dan suatu saat nanti, mulut-mulut beracun kalian akan bungkam saat melihat dia berdiri di atas kalian semua!"
Dara menarik tangan Juwita, meninggalkan piala plastik itu tergeletak di tanah, dan membelah kerumunan dengan kepala tegak meski hatinya hancur berdarah-darah.
Setibanya di bilik sempit mereka, pertahanan Juwita benar-benar runtuh. Gadis kecil itu menangis histeris hingga wajahnya memerah, memukul-mukul lantai semen dengan kepalan tangan mungilnya. "Ibu bohong! Ibu bilang kalau Juwita pintar, orang-orang akan sayang sama Juwita! Tapi mereka tetap jahat! Kenapa Juwita nggak punya Bapak, Bu? Kenapa mereka panggil Juwita anak haram? Kenapa kita harus hidup begini, Bu?!"
Rentetan pertanyaan yang dilontarkan dengan rasa sakit yang begitu murni itu membuat pertahanan Dara ikut hancur lebur. Dara memeluk putrinya erat-erat, ikut menangis meraung-raung di tengah ruangan sempit yang terasa semakin mencekik. Ia mencium puncak kepala Juwita berkali-kali, mengusap air mata di pipi kecil itu dengan ibu jarinya yang kasar.
"Maafkan Ibu, Juwita... maafkan Ibu karena membawa kamu ke dunia yang jahat ini," isak Dara, menangkup wajah putrinya, memaksa gadis kecil itu menatap matanya yang memerah. "Dengarkan Ibu baik-baik. Ingat kata-kata Ibu sampai kamu mati. Kamu BUKAN anak haram. Kamu berasal dari darah Ibu, tumbuh dari air mata dan keringat Ibu! Orang yang haram adalah mereka yang membuang kita, mereka yang menghina kita!"
Dara menarik napas panjang yang terasa sesak, menanamkan sebuah janji dan sumpah di dalam mata bulat putrinya. "Gunakan rasa sakit ini, Juwita. Ingat setiap wajah mereka, ingat setiap kata-kata hinaan yang mereka ludahkan pada kita hari ini. Jangan pernah menangis lagi di depan mereka. Jadikan otak pintarmu sebagai senjatamu. Belajarlah, jadilah orang yang paling berkuasa di dunia ini, sampai tidak ada satu pun orang yang berani menunduk saat melihatmu. Kamu mengerti?!"
Juwita berhenti menangis. Meski air matanya masih mengalir, tatapannya perlahan berubah. Di usia yang baru tujuh tahun, di dalam bilik yang bau dan pengap, kepolosan Juwita direnggut paksa oleh kekejaman dunia. Gadis kecil itu mengangguk pelan, mengepalkan tangannya kuat-kuat. Di dalam hatinya, sebuah benih dendam baru saja ditanam, menunggu waktu untuk tumbuh menjadi pohon berduri yang akan mencabik-cabik siapa pun yang pernah membuat ibunya menangis.