Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.
Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.
Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.
Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.
Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepasang mata yang mirip : 03
“Ma, sudah berapa kali aku ingetin, jangan terlalu ikut campur rumah tangga kami! Helya gak mandul, tapi memang belum dikasih kesempatan hamil saja,” suara Alan merendah, menekan amarah mulai menggumpal dalam dada.
“Halla sama saja! Enam tahun bukan 6 bulan, Alan. Siapa yang bisa sabar menunggu segitu lama. Kita pun tau, kamu juga dengar sendiri kalau rahim istrimu bermasalah! Cukup membelanya yang bikin dia besar kepala!” Ganira engan mengerti, menolak memposisikan diri berempati.
Helya tidak tahan lagi, ditutupnya rapat daun pintu kamar. Tubuhnya luruh dengan punggung menekan papan keras. Ia tergugu seraya meninju lantai dingin.
“Ibu, Ayah, Adek ….” satu persatu para orang kesayangan yang sudah kembali ke pangkuan Tuhan, ia panggil dengan suara serak sarat kerinduan menggebu-gebu.
“Aku kangen kalian. Kenapa begitu cepat pergi meninggalkan diriku sendirian menghadapi dunia ini?” ratapnya sembari menatap pigura tergantung di dinding.
Potret keluarga lengkap yang kini barisannya tak lagi lengkap. Tinggal dirinya seorang.
Ayah dan ibu serta adik laki-lakinya meninggal. Mereka terinfeksi wabah virus akhir tahun 2020 lalu melanda negeri ini. Yang selamat hanya dirinya.
Helyara berusaha berdiri dengan punggung menekan daun pintu. Tertatih ia mendekati lemari pakaian enam pintu, membuka salah satunya, dan menarik kotak persegi dari bahan kardus.
Isi dalam kotak dituang ke atas kasur. Ratusan spuit kosong lengkap dengan jarum suntik berserakan.
“Ini perjuanganku demi bisa hamil, tapi tak pernah dianggap malah tetap dikatain mandul,” ia mengadu.
“Dua tahun lamanya setiap awal menstruasi aku menusuk paha, kadang perut demi suntik stimulasi merangsang ovarium agar memproduksi sel telur. Bahkan bekas memar masih belum hilang. Bu, Ayah, Adek … aku gak diem aja menerima takdir. Berjuang melawan, mengupayakan biar bisa hamil dan memberikan keturunan ….” Kedua tangannya memeluk tumpukan jarum suntik tertutup.
“Kurang berusaha bagaimana lagi coba? Mereka selalu mencari keburukanku, tak sekalipun melihat usaha dibalik tangis menahan rasa sakit hati maupun fisik yang lebam-lebam. Hah!” sesak sekali rasanya, dadanya terasa sempit seperti terhimpit batu.
Helyara membuka pelukan tangan, membiarkan saksi bisu perjuangan seorang wanita merindukan kehadiran buah hati berhamburan di lantai.
Dia menjatuhkan badan di pembaringan, memiringkan tubuh dan menarik kedua kaki, meringkuk layaknya bayi dalam kandungan.
Tangisnya tak lagi bersuara, menandakan rasa sakit lebih mendalam menggerogoti hati.
Kala kepala mulai berdenyut-denyut, ia memilih memejamkan mata hingga ketiduran.
Entah berapa lama wanita penuh luka batin itu tertidur, ketika mulai terbangun suasana dalam kamar meredup. Sinar matahari tak lagi menelusup masuk.
Helya menarik napas. Malas-malasan duduk lalu memperhatikan sekitar.
Benda-benda berserakan sudah tak lagi tampak, sepertinya Alan masuk ke dalam kamar selagi istrinya tertidur. Membereskan kekacauan.
“Jam empat sore, lama banget aku ketiduran.” Disingkapnya selimut yang turun sebatas paha, lalu ia beranjak.
Kamar mandi adalah tujuan utama demi membasuh wajah, menghilangkan bekas tangis yang membuat mukanya sembab.
***
Diluar, pada bagian teras samping hunian besar memiliki tujuh kamar dan hanya berlantai satu, terdengar celoteh bayi.
“Siska, kamu kapan sampai sini?” Helya mendekati asisten rumah tangga seumuran dengannya.
Wanita bertubuh mungil, langsing memandang sopan majikannya, ia sedang bermain dengan Alamsyah. “Satu jam yang lalu, Nyonya.”
“Ibunya dia kemana?” Helya duduk di kursi santai, matanya terus menatap lekat bayi dalam pangkuan Siska.
“Pergi sama tuan Alan, Nyonya. Katanya tadi mau beli pampers,” jawab Siska.
“Kalau lainnya?” yang dia maksud kedua mertuanya.
“Barusan dijemput bu Zanaya dan pak Wandi, Mama sama Papa mertua Nyonya pengen makan kepiting di restoran langganan.”
'Ini kan masih jam empat lebih, kenapa mbak Zanaya dan mas Wandi sudah pulang dari toko Emas Utomo?' kedua kakak iparnya bekerja di toko emas milik keluarganya.
“Aduh, jangan dijambak, Dek.” Siska meringis, kepalanya ikut menunduk demi mengurangi rasa sakit.
Helya tidak tega, ia turun dari kursi dan membantu melepaskan jambakan tangan Alam.
Bayi laki-laki itu menggeliat, mengeraskan badan seolah marah kesenangannya diganggu.
Sampai Helya menariknya lalu memeluk dan memangku.
“Ya ampun, jambakannya pedes banget,” Siska mengadu, beberapa helai rambutnya tertarik sama akarnya.
Telinga Helya berdengung tidak mendengarkan gerutuan Siska. Matanya membulat sempurna dan seperti ada sesuatu menahan kepala agar enggan memalingkan muka.
Bayi dalam dekapan mengendur menatap lekat manik coklat gelap. Bibir kecilnya tertarik lebar yang dilihat oleh Helya seperti seringai mengejek.
'Matanya, matanya persis mas Alan,’ dadanya bergemuruh, dia lupa bagaimana caranya bernapas dengan benar. Pandangan seolah dipaku, dipaksa menatap sampai netra terasa perih.
“Nyonya, Nyonya!” suara Siska sedikit meninggi.
“Berapa umur bayi ini, Siska?” Helya menjauhkan Alam, meminta pembantunya untuk meraih.
Siska kembali menggendong bayi menggigit mainan lunak merangsang tumbuhnya gigi. “Katanya lima bulan, Nyonya.”
“Kenapa, apa ada yang salah, Nyonya?” wanita seumuran Helyara menumpahkan seluruh perhatiannya ke majikan.
“Gak ada. Kamu jagalah yang bener. Aku masih ada kerjaan lain.” Helya berdiri dengan memegangi kaki kursi, lalu dia berjalan cepat masuk ke ruang kerja.
“Ada apa sama nyonya Helya, kok kelihatan kebingungan gitu?” Siska menimang Alam yang mulai merengek.
Di dalam ruangan khusus tempat Helya menuangkan inspirasi sebagai perancang emas teruntuk toko Emas Utomo, warisan keluarganya yang sekarang dijalankan oleh sang suami, wanita itu tidak bisa berkonsentrasi.
“Matanya persis mas Alan, hidung juga sama. Seberapa dekat hubungan persaudaraan itu sehingga kemiripan melekat pada keturunan mereka?” pensilnya mencoret bagian gambar sudah sempurna.
“Astaga.” Helya segera mengambil penghapus, ia membuat sketsa masih menggunakan cara manual.
Tok!
Tok!
“Masuk!” sahutnya masih sibuk membenahi gambar sebuah kalung berliontin daun semanggi.
“Nyonya, boleh Bibi minta waktunya sebentar?”
Helya memperhatikan gesture tubuh gelisah bi Mirma. “Kenapa, Bi? Duduklah!”
Bi Mirma memilin ujung kaos dikenakannya. Terasa berat mau mengatakan sesuatu. “Apa kepulangan saya bisa dipercepat, Nyonya. Tadi anak saya menghubungi, katanya kondisi bapaknya bertambah memprihatinkan.”
Konsentrasi Helya berhamburan. Fokusnya tak lagi pada rancangan kalung emas.
“Kenapa baru ngomong sekarang, Bi? Jam segini apa masih ada kereta pulang ke desa, Bibi?”
“Ada, Nyonya. Keberangkatan terakhir pukul delapan malam,” jawabnya cepat.
“Ya sudah, bersiaplah! Biar saya antarkan ke stasiun kereta.” Helya menyimpan hasil rancangannya ke dalam laci.
“Jangan, Nyonya. Saya takut trauma Nyonya kambuh kalau nekat menyetir sendirian.”
Diingatkan akan trauma jika mendengar raungan sirine ambulans, sejenak Helya gamang.
Namun cepat-cepat mengesampingkan demi rasa kemanusiaan. “Aku gapapa, Bi. Lagian sudah lama banget sejak terakhir kali ketakutan itu menyerang. Bergegaslah, biar ku antarkan. Anggap saja sebagai rasa terima kasih atas dedikasi Bibi selama lima tahun mengabdi di rumah ini.”
‘Ya Tuhan, maafkan hamba telah menumpuk dosa ikut menyembunyikan rahasia gelap ini. Aku harus berani jujur. Nyonya Helya tak layak dicurangi dengan cara kotor sekaligus menyakitkan!’
.
.
Bersambung.
nahh kan mau bilang apa coba