Sebagai putri kesayangan dari keluarga bangsawan Montclair, Lady Aurelia selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Namun, watak keras kepalanya membawa petaka saat ia jatuh cinta pada sang Raja. Demi mewujudkan keinginannya, keluarga Montclair terpaksa merelakan putri tercinta mereka masuk ke istana—bukan sebagai ratu, melainkan hanya sebagai seorang selir.
Kehidupan istana ternyata tak seindah impian Aurelia. Dinginnya sikap Raja dan kekejaman kompetisi antar-selir menghentikan langkahnya secara tragis. Ia tewas terbunuh di tangan selir lain, sementara Raja yang dijunjungnya bahkan tidak sudi melirik jasadnya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua.
Aurelia terbangun kembali di hari keduanya sebagai selir. Terbangun dari kematian membawa rasa sakit yang membakar sekaligus dendam yang membara. Keras kepala yang dahulu membinasakannya, kini berganti menjadi ambisi yang mematikan. Aurelia bertekad: ia tidak akan mati sia-sia untuk kedua kalinya.
Satu per satu, para selir yang mengh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Klarina_za29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perundingan di Kamar Baca
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang baca Pavilion Timur. Cahaya jingga dari matahari yang perlahan tenggelam menyelinap lewat celah jendela, membiaskan bayangan panjang dua sosok yang saling mengunci pandangan. Julian masih menumpukan kedua tangannya di atas meja oak, menunduk dengan aura intimidasi yang sanggup membuat jenderal perang terhebat sekalipun berlutut ketakutan. Namun di hadapannya, Aurelia berdiri tegak tanpa menyisakan sedikit pun celah kegentaran.
"Kau berani mengancam keselamatan Kerajaan di hadapanku, Aurelia?" suara Julian terdengar bagaikan geraman rendah serigala yang siap menerkam. Matanya menyempit tajam, meneliti setiap lekuk ekspresi di wajah wanita yang dulu ia anggap tidak berbahaya. "Perayaan Musim Panas adalah agenda suci Istana. Jika kau menyebarkan rumor palsu untuk mempermainkan kekuasaanku, gelar Montclair tidak akan bisa menyelamatkan lehermu dari pedang algojo."
Aurelia tidak gentar. Ia justru menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman dingin yang memancarkan kepercayaan diri mutlak. Dengan gerakan tenang dan diperhitungkan, ia meraih belati perak bertatahkan rubi di atas meja, lalu memainkannya di antara jemarinya yang lentik.
"Rumor palsu, Yang Mulia?" desis Aurelia halus, melangkah setengah lingkaran mengitari sisi meja hingga gaun sutra birunya bergesekan lembut dengan jubung hitam sang Raja. "Apakah catatan transaksi senjata rahasia dari Kerajaan Oakhaven yang ada di tangan Anda itu terasa seperti rumor? Ataukah pergerakan Faksi Vance yang perlahan mengalihkan dana perbaikan benteng barat ke kantong tentara bayaran juga sekadar imajinasi hamba?"
Julian memutar tubuhnya, mengikuti setiap langkah Aurelia dengan mata yang berkilat tajam. Udara di antara mereka terasa kian tebal oleh ketegangan politik dan konfrontasi terselubung.
"Dari mana seorang selir yang mengurung diri di Pavilion Timur mendapatkan akses informasi militer tingkat tinggi seperti itu?" tuntut Julian. Langkah kakinya yang mantap memangkas jarak di antara mereka, memojokkan Aurelia hingga punggung wanita itu menyentuh rak buku dari kayu jati. "Jawab aku! Siapa penyusup yang memberimu dokumen-dokumen ini?"
Aurelia menyandarkan punggungnya pada rak buku, mendongak menatap lurus ke dalam sepasang mata kelam milik Julian yang jaraknya kini hanya sejengkal dari wajahnya. Ia dapat merasakan kehangatan napas pria itu dan aroma kayu cendana bercampur tembakau khas sang Raja.
"Penyusup?" Aurelia tertawa pelan......, sebuah tawa merdu yang mengejek. "Yang Mulia terlalu meremehkan jaringan yang dimiliki oleh keluarga Montclair. Ketika Anda sibuk menatap dewan dari tahta tinggi Anda, orang-orang di Faksi Vance sedang sibuk memotong tanah kerajaan di bawah kaki Anda. Hamba tidak membutuhkan penyusup untuk melihat kebusukan yang dipajang begitu terbuka di taman mawar."
Julian mengepalkan tangannya, memukul rak kayu tepat di samping kepala Aurelia dengan bunyi yang keras. Rahang tegas sang Raja mengeras, memamerkan urat-urat di lehernya yang tegang.
BRAK....
"Kau menuduh Faksi Vance melakukan pengkhianatan negara," bisik Julian dengan nada mematikan, suaranya begitu rendah hingga hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya. "Lady Genevieve adalah selir tertua dan putri dari ketua dewan. Tuduhan tanpa bukti fisik yang tidak terbantahkan akan memicu perang saudara sebelum Perayaan Musim Panas bahkan dimulai."
"Dan itulah sebabnya hamba memanggil Anda kemari secara pribadi, Julian," sahut Aurelia tanpa ragu, menyebut nama depan sang Raja tanpa frasa penghormatan sebuah pelanggaran tata krama yang disengaja untuk menegaskan bahwa kedudukan mereka saat ini adalah mitra perundingan yang setara.
Julian membelalakkan matanya mendengar namanya dipanggil begitu lugas, namun sebelum ia sempat memotong, Aurelia telah melanjutkan kata-katanya dengan ketajaman yang menawan.
"Genevieve tidak bertindak sendiri. Racun Vipera sudah disiapkan untuk cangkir anggur Anda pada malam puncak pesta jamuan. Begitu Anda tewas, tentara bayaran Oakhaven akan menerobos perbatasan barat yang disengaja melonggar oleh Faksi Vance, sementara Genevieve mengumumkan keadaan darurat dan merebut tahta," beber Aurelia, membeberkan setiap poin rencana musuh secara rinci tanpa ada satu pun celah yang terlewat.
Julian membeku. Menyebut nama racun Vipera, racun langka yang hanya diketahui oleh kalangan intelijen kerajaan—membuktikan bahwa informasi yang dipegang Aurelia bukanlah sekadar gertakan kosong.
"Kau ingin aku mempercayaimu begitu saja?" tanya Julian, suaranya kini melunak dari nada amarah menjadi nada analisis yang berbahaya. "Apa jaminan bahwa ini bukan taktik keluarga Montclair untuk menyingkirkan Faksi Vance dan merebut kendali penuh atas dewan?"
"Jaminannya adalah nyawa hamba sendiri," balas Aurelia tegas, menatap tajam ke mata Julian. "Jika Faksi Vance naik tahta, keluarga Montclair akan dihabisi. Hamba tidak sedang menyelamatkan Anda karena rasa cinta atau kesetiaan yang naif, Yang Mulia. Hamba menyelamatkan Anda karena keberadaan Anda di atas tahta adalah satu-satunya jaminan bagi kelangsungan hidup hamba dan keluarga hamba."
Kejujuran yang dingin dan tidak berkedok cinta itu justru membuat Julian terkesima. Di tengah istana yang penuh dengan selir-selir pemaaf dan berpura-pura manis demi meraih perhatiannya, Aurelia berdiri sebagai satu-satunya wanita yang secara terbuka mengaku menggunakannya demi kepentingan politik.
Julian menatap wajah cantik di hadapannya dengan intensitas yang baru. Ada percikan kekaguman yang samar di balik matanya yang biasanya sedingin es.
"Kau sungguh telah berubah, Aurelia," gumam Julian pelan, jemarinya bergerak tanpa sadar menyentuh dagu mulus Aurelia, mengangkat wajah wanita itu agar menatapnya lebih dalam. "Gadis yang dulu menangis minta diperhatikan kini berbicara tentang peta perang dan racun pembunuh seolah itu adalah hal biasa."
Aurelia tidak menarik wajahnya dari sentuhan Julian. Ia justru menyunggingkan senyum memikat yang sarat akan bahaya.
"Orang yang hampir tenggelam akan belajar berenang atau mati, Yang Mulia," sahut Aurelia halus. "Dan hamba memilih untuk tidak sekadar berenang, tetapi menguasai lautan itu sendiri."
Julian terkekeh rendah—sebuah tawa langka yang jarang sekali terdengar di dalam dinding istana. Ia melepaskan pegangannya pada dagu Aurelia, lalu mundur satu langkah untuk memberi jarak di antara mereka.
"Baiklah, Lady Montclair," kata Julian sembari membenarkan posisi jubah hitamnya. "Katakan padaku, apa harga yang kau minta untuk menyerahkan sisa bukti dan membantu membongkar konspirasi ini sebelum Perayaan Musim Panas?"
Aurelia merapikan gaun birunya yang sedikit tersingkap, melangkah kembali ke meja kerjanya dengan keanggunan seorang penguasa. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Julian dengan aura keberanian yang tak terbendung.
"Sederhana, Yang Mulia," ujar Aurelia dingin. "Setelah Faksi Vance runtuh dan Genevieve diseret ke tiang gantungan atas tuduhan pengkhianatan... hamba menginginkan posisi Ratu Kerajaan ini secara mutlak. Tanpa ada selir lain yang berani berdiri sejajar dengan hamba."
Julian menatap Aurelia sejenak, mengamati ambisi membara yang terpancar dari mata wanita itu. Sebuah kesepakatan berdarah telah tercipta di antara sang Raja dan putri Montclair.
"Tawaran yang sangat berani," pungkas Julian dengan senyuman misterius yang menghiasi bibirnya. "Buktikan kata-katamu saat Perayaan Musim Panas nanti, Aurelia... dan mahkota itu akan menjadi milikmu."
~ To Be Continue