Jatuh cinta kepada seorang Arthur Mayer yang memiliki masa lalu kelam tidak dipermasalahkan Shannon Claire karena ia sungguh mencintai pria itu.
Namun bagaimana ketika terungkap dimasa lalu Arthur lah dalang dari peristiwa yang menyebabkan Shannon kehilangan orang yang disayanginya? apakah Shannon memilih bertahan atau meninggalkan Arthur? simak kisahnya di novel hasil menghalu dari Ratu Halu Base 😎
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Base Fams, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AD #21
"Selera, Tuan Arthur benar-benar luar biasa." Suara Chloe memekik begitu melihat Shannon keluar dari kamar mandi. "Lihatlah, bagaimana dress itu jatuh di tubuhmu sangat pas dan indah, Shannon." Ujar Chloe, seseorang yang ahli menilai sesuatu. Yang diucapkan gadis ibu bukan sekedar pujian melainkan sebuah kejujuran.
"Aku sangat gugup, Chloe." Shannon berujar untuk kesekian kalinya.
Malam ini, mereka akan menghadiri sebuah jamuan makan malam di hotel berbintang lima yang terletak di dekat pantai.
Menghadiri jamuan makan malam, sesuatu yang baru untuk Shannon. Mungkin jika makan malam hanya berdua dengan Arthur, Ia tidak akan merasa gugup seperti sekarang ini. Yang di hadapi bukan Arthur saja melainkan orang-orang yang sepadan dengan pria itu. Terlebih, ia harus berperilaku formal yang bertolak belakang dengan tingkahnya yang pecicilan. Ia tidak ingin mempermalukan Arthur. Maka dari itu, selama 7 hari Shannon belajar tata cara makan, cara duduk, bahkan ia juga berlatih berjalan menggunakan sepatu tinggi.
"Rasa gugupmu akan menghilang dengan perlahan. Kau tidak perlu khawatir, Tuan Arthur ada di sisimu. Sebaiknya kau duduk, aku akan memberikan sentuhan di wajahmu."
"Jangan terlalu tebal, aku tidak suka."
"Serahkan semuanya pada Chloe, gadis cantik memiliki tangan ajaib. Aku akan membuat kau terlihat memukau, dan aku pastikan Tuan Arthur akan terjerumus pada pesonamu, Shannon." Cicit Chloe sambil mengeluarkan alat-alat make up miliknya, dan memulai merias wajah cantik Shannon.
"Ucapanmu sangat berlebihan, Chloe. Disana banyak wanita yang sangat cantik, dan juga berkelas sepadan dengannya."
Chloe berdecak malas. "Kau mempunyai inner beauty, yang belum tentu semua wanita miliki. Yang kau butuhkan saat ini hanyalah percaya diri. Tenangkan dirimu, ok."
Tidak memerlukan waktu yang lama, Chloe menyelesaikan pekerjaannya. Shannon memantulkan dirinya di cermin. Sesuai dengan keinginannya, Chloe merias wajahnya dengan make up tipis, dan rambut lurusnya, dirubah menjadi bergelombang.
"Kau terlihat memukau, Shannon."
"Terimakasih Chloe."
Menanggapi ucapan Shannon yang tulus itu, Chloe hanya tersenyum. "Sekarang, kau pakailah sepatu dan tasmu. Lalu, kita keluar."
Kedua gadis itu keluar, dan decakan kagum terlontar dari adik-adiknya itu memenuhi ruangan. Begitu juga dengan Bibi Margareth dan Bibi Evelyn. Kedua wanita setengah baya itu menghampiri Shannon.
"Apa Tuan Arthur akan menjemputmu, Shannon?" tanya Evelyn sangat penasaran. Ia pernah bertemu dengan Arthur, ketika Arthur mengantar Shannon pulang waktu itu.
"Iya, Bibi. Dia akan menjemputku." Sahut Shannon malu-malu.
"Pasti kau sangat gugup." Timpal Margareth sambil tertawa melihat rona alami yang muncul di kedua pipi Shannon.
Margareth, dan Evelyn sudah mengetahui kedekatan Shannon dengan Arthur. Pertama kali mengetahuinya, keduanya sangat terkejut. Pasalnya Arthur adalah majikan tempat Shannon, dan Chloe bekerja. Terlebih, perbandingan usia mereka juga sangat jauh.
"Selamat malam, semua. "
Suara berat, seksi Arthur merengsek masuk diantara suara anak-anak membuat mereka semua menoleh ke arahnya.
Dengan setelan jas hitam, Arthur berdiri dengan gagahnya diambang pintu. Arthur tersenyum samar, dan manik legamnya berpusat pada satu gadis yang akan menemaninya malam ini. Shannon Claire. Pria itu terpaku, menatap Shannon dengan takjub.
Chloe menyenggol tangan Shannon, lalu gadis itu memiringkan kepalanya. "Tuan Arthur sedang menatapmu, Shannon." Bisik Chloe, mengerlingkan maniknya. Shannon tidak merespon ucapan Chloe. Seperti Arthur, Shannon juga menatap pria itu, mengagumi dalam hati.
"Selamat malam juga, Tuan. Panjang umur, baru saja kami membicarakan anda." Ujar Margareth
"Benarkah, Nyonya? pantas saja telingaku terasa panas." Kelakar Arthur cukup menghibur, dan siapa sangka ia akan bersikap seperti itu. Shannon saja sampai-sampai dibuat tertegun.
"Apakah kalian ingin berangkat sekarang?" tanya Margareth kepada Arthur, salah satu donatur di pantinya. Tidak ada yang tau akan hal itu, kecuali dirinya, dan juga Evelyn. Arthur meminta untuk merahasiakannya.
"Ya Nyonya, aku akan membawa Shannon kalian."
"Bawalah, Shannon kami sudah siap dan jangan lupa untuk mengantarnya kembali."
Beberapa saat kemudian, keduanya sudah berada di dalam perjalanan dengan Arthur menyetir sendiri kendaraannya. Suara musik orkestra mengalun dalam mobil mengisi kekosongan diantara mereka.
"Kenapa kau hanya diam, sejak tadi? ada sesuatu yang kau pikirkan, Shannon?" suara Arthur memecah keheningan. Shannon yang sedang menikmati perjalanan pun menoleh.
"Aku merasa gugup, Arthur." Akunya. "Jantungku berdetak tidak aman. Ini bukan karenamu, jangan salah paham. Aku khawatir, jika aku akan mempermalukanmu."
Arthur tertawa rendah mendengar jawaban gadis itu. "Bersikaplah santai. Semua akan baik-baik saja."
"Kau hanya bisa mengatakan, tapi tidak mengerti posisiku."
"Apa kau menyesal menerima ajakanku?"
"Sedikit, karena sebagian besarnya aku sangat senang, dan tersanjung. Kau dikelilingi teman wanita, high class sama sepertimu. Lalu, kenapa aku yang kau ajak?"
Pertanyaan itulah yang terus muncul dalam pikiran Shannon. Oh ayolah, Arthur tidak kekurangan apapun, menggaet wanita untuk menemaninya pasti sangat mudah untuk dilakukan pria itu. Lalu, kenapa harus dirinya yang diajak. Sungguh ia mati penasaran dengan jawaban Arthur.
Arthur melebarkan senyumannya. "Aku nyaman bersamamu, Shannon." Sepersekian detik Shannon termangu, dan ia kesulitan bernapas. Arthur merasa nyaman dengannya. Apa pria itu sedang bergurau?
"Apa jawabanku sudah cukup, untuk menghilangkan rasa penasaranmu, hmm?" tanya Arthur.
"Sudah lebih dari cukup. Oh ya Tuhan, apa aku sedang bermimpi. Coba kau cubit tanganku."
Yang dilakukan Arthur bukan mencubit tangan Shannon melainkan membawa tangan Shannon ke dalam genggamnya. Setelahnya keduanya saling melempar pandangan, dan tersenyum.
Ea 💃
"Aku memintamu untuk mencubitku, Arthur"
"Itu tidak perlu. Aku rasa dengan menggenggam tanganmu cukup menjelaskan jika kau tidak sedang bermimpi. Astaga, tanganmu terasa dingin Shannon."
Shannon tersenyum lembut, manik hijaunya memancarkan kilauan yang sangat indah.
"Bagaimana, perasaanmu? apa kau masih khawatir?"
"Sudah tidak lagi."
"Sepertinya genggaman tanganku ampuh untuk menghilangkan rasa kekhawatiranmu. Tanganmu sudah kembali hangat. Bersiaplah, sebentar lagi kita akan sampai." Arthur melepas genggamannya, lalu memberhentikan mobilnya di depan lobi hotel. Arthur bergegas turun, memberikan kunci mobil kepada petugas valet sebelum membukakan pintu untuk Shannon.
Arthur mengulurkan tangannya, dan Shannon menyambut tangan pria itu. "Peluk lenganku, Shannon." Bisik Arthur kemudian Shannon melakukan sesuai permintaan Arthur.
Arthur bersama Shannon melenggang masuk ke dalam hotel. Menaiki lift khusus, sampai mereka di lantai tiga, dimana lokasi undangan tersebut. Ruangan ballroom bergaya Eropa itu sangat luas. Dinding yang di dominasi putih gading, terlihat sempurna. Ditambah suara orkestra, semakin membuat suasana bertambah formal.
Kedatangan mereka menyita perhatian dan mejadi sebuah objek pembicaraan. Sebelumnya mereka juga pernah mengalami serupa ketika mengunjungi air mancur Trevi, akan tetapi situasi sekarang berbeda. Disini banyak yang mengenal sosok Arthur Mayer, seorang pebisnis yang memiliki usaha berbagai bidang, dan disini hanya Shannon yang tidak mengetahui bisnis apa saja yang di geluti Arthur. Shannon tidak pernah menanyakan perihal bisnis pria itu.
"Sepertinya kau harus menggenggam tanganku lagi Arthur."
juga para pemeran nya 😅😅
hati yang terluka 🤣🤣🤣