Up di jam yang sama 12.00 WIB
Martha Giorgiana, gadis asal London yang hobi traveling, memutuskan menjelajahi Indonesia. Setibanya di Bali, di tengah kekagumannya pada keindahan pulau tersebut, ia tak sengaja menabrak seorang pemuda misterius berbusana adat Jawa.
Kejadian canggung itu kian berkesan saat sang pemuda menunduk sopan dan berujar lembut, "Luput kulo nggeh, mbak." Suara dan tatapan teduh itu sukses membuat Martha tertegun sesaat. Pertemuan tak terduga ini menjadi awal mula perjalanan penuh warna, di mana pesona budaya lokal perlahan-lahan mencuri hatinya dan menuntunnya pada kisah cinta yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Saksikan kisah Cinta mereka yang beda negara, beda agama, beda adat!!! semoga kalian suka🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skandal, Gosip Hot, dan View yang Meroket Tajam
Sudah hukum alam dunia penulisan online fiksi: kalau cerita adem ayem tanpa konflik berdarah-darah, pembaca bakal ngantuk, kolom komentar sepi, dan grafik view anjlok bikin penulisnya stres mikirin cicilan. Martha sangat paham hukum kejam itu. Jadi, ketika grafik pembaca Cinta di Bawah Naungan Joglo mulai melandai karena isinya cuma tetek bengek bucin manis antara dirinya dan Adnan, ia tahu ia butuh sebuah plot twist yang agak gila.
Dan siapa lagi katalisator paling sempurna untuk urusan bikin kekacauan kalau bukan Anna?
Sore itu, di teras samping Rumah Joglo Setiawan, Martha sedang mengetik dengan penuh semangat di atas laptopnya. Senyuman penuh arti tersungging di bibirnya. Di seberang meja, Adnan sedang menyeruput kopi sambil memeriksa pesanan ukiran kayu. Pria alim itu sama sekali tidak tahu bahwa namanya sedang dijadikan bahan eksperimen sosial tingkat tinggi oleh istrinya sendiri.
"Adnan," panggil Martha manis, melirik suaminya dengan mata berbinar-binar penuh kelicikan.
Adnan menaikkan sebelah alisnya, merasa ngeri setiap kali Martha memanggil dengan nada manis mencurigakan begitu. "Ya? Kenapa, Martha? Jangan senyum-senyum begitu, saya curiga."
"Gak apa-apa, sayangku," jawab Martha santai. "Cuma mau bilang... view novelku di aplikasi semalem sempat turun dua puluh persen gara-gara pembaca protes ceritanya terlalu hambar. Kurang greget, katanya."
Adnan mendengus pelan, kembali fokus ke catatannya. "Ya, terus hubungannya sama saya apa? Mau ditambah adegan apa lagi? Drama kolosal perebutan warisan lagi?"
"Bukan. Aku butuh bumbu skandal," jawab Martha enteng. Tanpa menunggu persetujuan Adnan, Martha mengambil ponselnya, membuka aplikasi perpesanan, dan langsung mengirimkan pesan suara singkat ke grup WhatsApp rahasia yang ia buat bersama Anna.
“Ann, misi penyelamatan view dimulai. Datang ke joglo besok pagi, kita bikin skandal palsu di media sosial!”
Keesokan paginya, pukul sepuluh tepat, skandal itu dimulai.
Anna datang sesuai rencana—tidak pakai motor brong, tapi membawa sebuah kamera mirrorless profesional dan berpenampilan kasual ala selebgram lokal. Begitu menginjakkan kaki di halaman Rumah Joglo, Anna langsung berakting dramatis layaknya aktris sinetron FTV.
"Adnan! Tolong aku, Nan! Aku dikejar-kejar anjing tetangga sebelah!" teriak Anna histeris, langsung berlari menerobos pendopo dan pura-pura tersandung di dekat Adnan yang sedang memegang balok kayu jati.
Sontak, Adnan yang kaget bukan kepalang langsung refleks merangkul bahu Anna agar tidak jatuh ke lantai. "Astaghfirullah, Anna! Hati-hati kalau jalan—!"
KLIK!
Di sudut teras, Martha dengan sigap mengambil foto adegan tersebut menggunakan ponselnya dari angle yang sangat strategis: dari kejauhan, pencahayaan temaram, Adnan tampak merangkul erat Anna yang sedang menatap wajah pria itu dengan jarak kurang dari sepuluh sentimeter. Pose itu kelihatan sangat mesra dan ambigu jika dilihat orang awam.
Kurang dari tiga menit setelah foto itu diambil, Martha langsung mengunggahnya ke akun media sosial penulisnya dengan caption provokatif:
"Ketika suami alim kedatangan mantan sahabat karib dari kota... Ups, kira-kira Mbok Jum setuju gak kalau ada madu di bawah naungan joglo? Baca kelanjutannya di bab terbaru!"
Boom! Dalam waktu kurang dari satu jam, internet di Solo dan grup komunitas penulis mendadak gempar.
Notifikasi ponsel Adnan langsung berdering tanpa henti. Pesan dari Paklik Martoyo masuk: "Den Adnan! Ini foto apa pula di Facebook?! Kenapa kamu peluk-peluk anak orang di pendopo?! Mau bikin Eyang jantungan hah?!"
Adnan yang melihat ponselnya langsung melotot kaget. Ia membaca caption unggahan Martha, lalu menatap istrinya dengan horor luar biasa. "Martha! Apa-apaan ini?! Kenapa kamu unggah foto fitnah begini?!" protes Adnan panik, keringat dingin langsung membasahi pelipisnya.
Anna yang tadinya pura-pura jatuh langsung berdiri tegak sambil tertawa terbahak-bahak memegang perutnya. "Hahahaha! Sumpah, Martha, aktingku juara kan? Liat tuh, kolom komentar postinganmu langsung diserbu ribuan netizen yang ngamuk!"
Martha dengan tenang menyeruput es teh manisnya, melirik layar laptopnya yang menampilkan grafik pembaca novel. Matanya langsung berbinar lebar.
"Lihat nih, Adnan!" seru Martha girang, menunjukkan layar laptopnya. "Grafik view novelku langsung melesat naik tiga ratus persen dalam waktu satu jam! Kolom komentar penuh sama pembaca yang teriak-teriak hujat kamu sekaligus penasaran sama kelanjutan ceritanya!"
Adnan mengelus dadanya, merasa dunianya mau runtuh saat itu juga. "Kamu mengorbankan reputasi kesucian suami alimmu ini cuma demi view novel naik?!" seru Adnan tidak percaya.
"Tentu saja!" jawab Martha tanpa rasa bersalah, tersenyum lebar. "Nama itu bonus, yang penting rating novel naik dan pihak penerbit makin cinta!"
Di saat Adnan sedang sibuk panik dan Anna tertawa puas, tiba-tiba terdengar suara ketukan tongkat yang sangat khas dari arah dalem pendopo. Suasana riuh seketika mendadak senyap total.
Eyang Broto berjalan keluar perlahan dengan wajah datar setajam silet, didampingi oleh Mbok Jum yang membawa sapu ijuk dengan tatapan menyelidik. Semua orang di halaman langsung menahan napas.
Eyang Broto berhenti tepat di hadapan Adnan dan Martha. Pria sepuh itu menatap layar ponsel Adnan yang menampilkan foto skandal tersebut, lalu mendengus pelan.
"Adnan," panggil Eyang Broto dengan suara parau yang dingin.
Adnan menelan ludah susah payah, merinding di tempat. "Nggih, Eyang..."
"Kamu ini mau jadi kepala rumah tangga atau mau bikin sinetron harian?" tanya Eyang Broto tajam, sebelum akhirnya sudut bibir pria tua itu tiba-tiba terangkat membentuk senyuman tipis. "Tapi cara strateginya boleh juga. Warisan yayasan butuh popularitas, dan kalau cara istrimu ini bisa bikin orang-orang kota datang berkunjung ke galeri kita... ya diteruskan saja dramanya."
Seketika itu juga, Adnan, Anna, dan Martha terperanjat kaget. Tidak disangka-sangka, Eyang Broto yang kolot ternyata jago juga membaca strategi marketing zaman now!
Tawa lepas Anna langsung pecah memenuhi pendopo, sementara Adnan hanya bisa pasrah mengelus kepala, menyadari bahwa hidup di bawah naungan Rumah Joglo bersama seorang novelis brilian dan kakek mertua yang visioner ternyata jauh lebih liar dari yang pernah ia bayangkan.
baru bab awal ,ceritanya udah penuh dgn kata2 bijak n keren...mbak autor 👍
kebetulan kita tetangga kabupaten
saya dari jombang ,tp sudah menetap di samarinda
author nulisnya menggunakan adat jawa juga karena author berasal dari Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung.
Salam paseduluran rek❤️❤️