Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.
Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Langit gelap pekat, hanya sedikit bintang menembus awan tipis. Cahaya lampu jalan menembus tirai jendela kamar, memantul lembut ke dinding. Di ruang itu hening, "Tik..tik.." cuma terdengar suara jam yang kini menunjukkan pukul sembilan malam.
Aku berdiri di depan cermin, menatap pantulannya lama. Wajah yang sama, tapi tatapan beda, postur beda dan cara berdiri pun beda. Kini aku Roxy.
"Tap" Aku menyentuh pipiku pelan. Garis rahang yang sama. Matanya yang sama. Tapi di balik pakaian dan sikap yang percaya diri, dia tetap orang yang sama — yang kadang ragu, yang takut tidak cukup.
Ponsel di meja diam. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan.
Biasanya Shella menyapa. Sekadar bilang selamat istirahat. Atau tanya sudah makan belum. Kadang cuma kirim emoji senyum.
Malam ini sepi. Layar ponsel gelap sepi.
Aku tahu kenapa. Seharian di pantai pasti melelahkan. Matahari, ombak, jalan macet. Tubuhnya pasti kelelahan.
"Dia pasti sudah tertidur. Mimpi indah. Mungkin masih memegang kalung batu itu di bawah bantal, mungkin.." gumamku pada diriku sendiri.
"Dan justru karena itu, Aku merasa makin sendirian. Seperti berdiri di tepi dunia yang Aku sendiri buat". Aku meraih kunci mobil, melangkah pelan keluar pintu.
Udara malam segar menyapa wajahku, terasa dingin di pipi. Angin membelai rambut yang sedikit berantakan.
Aku tidak tahu mau ke mana. Kaki seolah bergerak sendiri. Menuju arah yang sama.
Pantai.
Perjalanan sunyi. Jalan yang tadi siang ramai, kini sepi. Hanya lampu jalan yang menyala satu per satu, memantul di permukaan jalan yang masih lembap.
Aku menyetir pelan. Pikiran melayang ke siang tadi.
Tawa Shella di tepi ombak. Matanya berbinar saat menerima kalung batu. Pelukan singkat di dalam mobil. Bahunya yang terasa hangat di pelukannya.
Semua itu murni Maxy. Tanpa topeng. Tanpa uang sistem. Tanpa pura-pura.
Dan ternyata itu cukup. Cukup untuk sampai ke 50%. Setengah jalan.
"Vrooom" Mobilku meluncur masuk area pantai. Penjual sudah tidak ada. Lampu penerangan redup di sepanjang bibir pantai. Hanya suara ombak yang tetap sama, sama seperti berjam-jam lalu.
Mobilku parkir di tempat yang sama. "Tap..tap..tap" aku turun dari mobil, berjalan tanpa alas kaki.
Pasir masih menyimpan sisa hangat siang. Tapi makin ke garis air, makin dingin terkena embun. "Slash" Butiran pasir halus menempel di kakiku, dingin dan nyata.
Aku berhenti di bawah pohon kelapa. Tempat kami duduk tadi siang.
Jejak di pasir masih samar. Bekas tikar, bekas kaki kami berjalan ke tepi air. Seperti jejak di ingatanku — ada, tapi mulai kabur.
Aku duduk di tempat yang sama. Memeluk lutut. Menatap laut yang gelap gulita. Garis antara air dan langit tak terlihat, menyatu jadi satu kegelapan.
"50 persen... sudah setengah jalan."
Angka itu berputar terus di kepala. Setengah hati Shella sudah ada di sini. Bersama diriku, Maxy.
"Bukan Roxy yang dia cintai. Bukan kemewahan. Bukan tampang yang dibuat-buat"
"Maxy. Yang sederhana. Yang kadang minder. Yang cuma bisa kasih hal kecil tapi tulus."
"Lalu buat apa Roxy masih ada?"
Pertanyaan itu tajam. Lebih tajam dari sebelumnya. Menusuk di tempat yang sama berulang-ulang.
"Selama ini Roxy terasa seperti jalan pintas. Ternyata justru jadi penghalang. Bikin Shella bingung. Bikin ragu. Bikin bertanya-tanya pola yang tidak masuk akal." pikiranku terus bertanya.
"Dan kalau Maxy yang menang... berarti Roxy harus dihapus? Hilang selamanya?"
"Bisakah?, Roxy bukan orang lain. Roxy juga aku. Sama-sama bagian dari diriku."
"Huuuuuuh" Aku menghela napas panjang.
Angin laut menarik napas itu pergi ke kejauhan. Membawa serta sebagian beban, tapi tidak semuanya.
"Semakin dekat hubungan ini, semakin berat rahasia yang dipikul. Semakin lama ditunda, semakin dalam luka kalau akhirnya ketahuan. Dan semakin lama aku menunda, semakin sulit untuk bilang: maaf, aku bohong dari awal." gumam hatiku penuh kegalauan.
"Setengah jalan... juga berarti setengah kebohongan masih tersimpan." lanjutku.
Tiba-tiba udara di depan wajahnya bergetar pelan. "Ding" Seperti ada angin yang tidak terlihat lewat.
Cahaya pucat muncul di udara. Membentuk tulisan yang terang dan jelas. Melayang di hadapanku, tak bergerak, seolah menunggu dibaca.
DING!
PEMBERITAHUAN SISTEM
Kondisi terpenuhi: Hubungan emosional mencapai 50%
Fitur baru dibuka: Kustomisasi Identitas
Aku menegakkan badan. Menatap tulisan itu lekat-lekat. Mata menyipit, seolah tak percaya.
Anda tidak lagi terikat bentuk. Maxy atau Roxy.
Ubah penampilan, atur waktu, gabungkan sifat — cukup dengan perintah pikiran.
Keputusan bisa diubah kapan saja.
Aku diam lama. Pasir dingin di bawah kakiku. Ombak berdebur di kejauhan, ritmis, tak berhenti. semua terasa hilang.
"Sistem yang selama ini kaku, penuh aturan dan batasan... tiba-tiba membuka pintu lebar-lebar. Memberi kendali yang selama ini Aku impikan." gumamku terkejut.
"Bisa jadi lebih ganteng. Lebih percaya diri. Bisa tampil kapan saja tanpa dibatasi jam enam. Bisa gabungkan kelebihan keduanya dalam satu orang — ketulusan Maxy + keberanian Roxy."
"Tapi... bukankah itu menipu dengan cara yang lebih cerdas? Lebih halus? Lebih sulit ketahuan?"
"Kalau aku berubah diri supaya lebih sesuai selera Shella... di mana letak kejujurannya? Apakah dia mencintai aku, atau versi yang aku buat untuk dia cintai?"
"Aku teringat kalung batu itu. Kasar, tidak rapi, dibikin pakai tangan sendiri. Bukan dibeli. Bukan dipesan sistem. Aku menghaluskan batu itu berjam-jam, berkali-kali tergores jari, sampai bentuknya lumayan."
"Dan justru itu yang bikin Shella terharu. Bukan karena indah. Tapi karena terasa nyata."
"Aku ingat tawanya di tepi ombak. Bukan karena aku tampil sempurna. Tapi karena aku ada di sana. Mendengarkan. Menjawab. Peduli".
"Kalau aku rekayasa diri sekarang... seolah semua usahaku belum cukup. Masih perlu ditambah bantu sistem supaya diterima. Seolah ketulusan saja belum cukup."
"Itu tidak adil."
"Tidak adil untuk Shella yang sudah mencintai aku apa adanya. Tidak adil untuk dirinya sendiri yang sudah berjuang sejauh ini."
Angin berhembus melewati bahuku, "Splaash" tidak memberi perintah apa pun. Hanya melihat. Cahaya tulisan itu tetap di sana, menunggu.
"Pilihan itu ada di sana. Menunggu. Di tanganku."
Tapi belum waktunya. Aku belum siap.
DING!
Fitur tetap aktif. Bisa diakses kapan saja.
Keputusan ditunda.
Aku berdiri. "Buk..buk" Mengibaskan pasir di celana. Butiran pasir jatuh satu per satu ke tumpukan pasir di kakiku. Menatap laut sekali lagi. Gelap. Tak bertepi. Seperti masa depan yang belum tahu ke mana arahnya.
Suara ombak seolah berbisik: "Kamu tidak bisa sembunyikan dua sisi selamanya. Suatu hari nanti harus dipilih."
"Tap..tap..tap" Aku berjalan kembali ke mobil. Langkahku pelan. Berat. Seperti ada beban di pundak yang tidak terlihat.
Menyetir pulang. Jalan makin sepi. Lampu jalan berkedip berderet di kejauhan, menjauh satu per satu di kaca spion.
Langit mulai memutih sedikit di ufuk timur. Fajar belum datang, tapi gelap sudah tidak utuh lagi. Sebentar lagi jam enam. Sebentar lagi aku bukan Roxy lagi.
Ponsel di kursi samping bergetar pelan. Satu kali. Dua kali. Bukan pesan masuk. Bukan panggilan.
Notifikasi sistem lain muncul di layar, terang di kegelapan mobil. Hurufnya tegas, tidak bisa diabaikan.
PERINGATAN: Fitur Kustomisasi akan dibatasi dalam 7 hari.
Setelah itu, opsi perubahan permanen akan ditutup.
Silakan ambil keputusan sebelum batas waktu habis.
Aku menatap layar. Jantungku berdebar kencang. Bukan karena takut, tapi karena sadar.
Bukan pilihan yang tidak terbatas. Bukan waktu yang tidak terbatas. Hanya tujuh hari. Tujuh hari untuk memutuskan siapa aku sebenarnya.
Aku meletakkan ponsel di dasbor. "kletak" Menatap jalanan yang mulai terlihat lebih jelas di depan. Garis jalan membelah kabut tipis di kejauhan.
Tujuh hari untuk memilih. Antara rekayasa sistem yang menawarkan kemudahan... atau berani tampil apa adanya, dengan segala risikonya...
-- Dan di tengah itu semua... Dia belum tahu bahwa pagi ini, saat dia kembali jadi Maxy dan melangkah masuk ke kantor, Shella sudah menunggunya di depan pintu. Bukan untuk menyapa biasa. Bukan sekadar bilang selamat pagi. Dia memegang kalung batu itu di jari-jarinya. Matanya serius. Dan pertanyaan yang akan keluar dari mulutnya... bisa mengubah semuanya..