Olivia seorang penyanyi, karirnya semakin bersinar setelah mendapat warisan bros dari sang nenek yang dulunya juga seorang sinden terkenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindia Andin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
malam pertama dimas dan dinda
"sayang... kamu dimana?" dimas menghubungi Olivia
"aku di rumah sakit mas?... hey... kenapa kamu nelpon aku mas. ini kan malam pertama kalian" Olivia bingung dengan sikap dimas, dimana malam itu adalah malam pertama dimas dan dinda.
"kamu ngapain ke rumah sakit?" ucap dimas panik
"anaknya mas dayat sakit. aku bantu jagain juna"
"Jangan-jangan kamu sekarang ada hubungan dengan dayat?" tuduh dimas
"apaan sih mas... ngaco kamu itu. aku kasian ke mas dayat. kasian ke juna. aneh kamu itu. sudah jangan mikirin aku... fokus aja dengan malam pertama kalian" Olivia menutup telpon itu dengan kesal.
Ponsel Olivia kembali berdering, dimas kembali menghubungi Olivia.
Olivia melihat panggilan itu dan mengacuhkannya.
Dimas : kamu di rumah sakit mana?
Dimas : balas sayang.. kamu dimana?
Olivia tidak menghiraukan pesan dimas.
"kenapa ndak kamu angkat vi?" tanya dimas
"sudah tau malam pertama kenapa juga ngurus aku mas"
"secinta itu ya dimas"
"tapi sekarang kan dia sudah punya istri mas. kasian kan istrinya"
Ponsel Olivia berdering beberapa kali.
"angkat aja vi... " ucap dayat sambil melirik ponsel Olivia yang tergeletak di atas meja.
"apa sih mas?"
"kamu dirumah sakit mana?" ucap dimas dengan nada menggertak.
"mau apa kamu? mau kesini?" Olivia tak kalah sengitnya.
"iya... kamu dimana?"
"kalau kamu ke sini sekarang. aku pastikan kamu ndak akan ketemu aku selamanya mas. silahkan pilih yang mana"
"arrggg.... " dimas gusar dan menutup percakapannya.
Olivia meletakkan lagi ponselnya.
****
Di tempat dimas.
Setelah resepsi pernikahan, dimas dan dinda menginap di hotel itu.
"kamu kemana sih sayang... " dinda beberapa kali menghubungi dimas tapi tidak ada jawaban. dinda mondar mandir di kamar mewah itu yang di hias dengan balutan warna putih.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. dinda menoleh dan mendapati dimas masuk kedalam kamar itu.
"kamu dari mana aja sih sayang" ucap dinda manja.
"nyari kopi din" ucap dimas cuek dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. dinda menyusul dimas dengan berganti baju dari gaun pengantinnya. dinda mencoba membelai tubuh suaminya itu.
"din... bisa ndak kita lakukan besok saja? aku pusing" ucap dimas menahan tangan dinda.
dinda merasa di tolak dimas dan memalingkan wajahnya.
dan tidur membelakangi dimas.
Malam itu tidak seperti malam yang dinda inginkan.
dimas mulai terlelap dalam tidurnya masih mengenakan kemeja yang sama di resepsi pernikahannya.
di tengah malam dinda mencoba merayu dimas kembali, memeluk tubuh suaminya itu.
dimas menarik tangan dinda membuat tubuh mereka semakin merapat.
"sayang... " dimas mencium tangan dinda. dinda merasa senang akhirnya malam itu dimas mau menyentuhnya.
Masih dalam posisi tidurnya, dimas membalikkan tubuhnya, merengkuh tubuh dinda kedalam pelukannya.
"sayang... aku kangen... " ucap dimas dalam tidurnya.
"aku juga kangen sayang" dinda memeluk rapat tubuh dimas.
Dinda berharap malam itu menjadi malam pertamanya dengan dimas.
Dimas tersadar dari tidurnya.
"din... " seketika dimas melepaskan pelukannya
"iya sayang"
"kamu ngapain disini?" dimas lupa jika mulai hari itu dinda adalah istrinya.
"aku istrimu mas"
"eh.. maaf - maaf din. aku lupa" ucap dimas gelagapan.
"kamu bilang kangen sayang"
"iya.. maaf" dimas kembali membalikkan tubuhnya membelakangi dinda.
Kali ini dinda kesal dengan sikap dimas.
malam itu bukan malam yang mereka sama-sama inginkan. buka malam pertama seperti pasangan pengantin baru yang lain.
*****
Keesokan harinya.
dimas sudah membersihkan badan, sedangkan dinda masih nyaman didalam selimut tebalnya.
dengan santai dimas membuka pintu balkon kamar hotel itu, angin segar masuk kedalam kamar mereka. dimas duduk di kursi balkon sambil menikmati sebatang rokok dan secangkir kopi. menikmati angin pagi kota panas itu. angin masih segar belum terpapar polusi udara.
Ingin sekali dimas menemui Olivia.
"kamu sudah bangun sayang" dinda terjaga dari tidurnya dan menyusul dimas di balkon kamar hotel.
"sudah dari tadi vi... eh maaf din"
"vi?????" sepontan dinda bertanya
"din... " dimas membetulkan ucapannya
"aku kira vi mas... aku mandi dulu ya" ucap dinda meninggalkan dimas.
dimas : sayang kamu dimana?
dimas mencoba mengirim pesan untuk kekasihnya itu. tapi tidak ada jawaban.
"mas..." dinda manja membelai tubuh dimas dari belakang "apakah kita bisa melakukanya pagi ini?" goda dinda.
"pagi-pagi ndak enak din.. nanti malam aja ya" bujuk dimas.
"semalam bilangnya besok, sekarang bilangnya nanti malam" dinda mulai kesal dengan sikap dimas.
"waduh bagaimana jika dinda cerita ke pak bayu. maka habis perusahaannya" dimas berfikir dalam hati.
"tunggu aku habiskan rokokku dulu din" ucap dimas.
dinda kembali keatas tempat tidur sambil memainkan ponselnya, tak lupa memakai beberapa wewangian agar suaminya senang dan bergairah.
Setelah menghabiskan sebatang rokok, dimas menutup pintu balkon itu.
Dinda tergolong perempuan yang cantik, bodinya juga bagus. tidak kalah dengan Olivia.
dimas mendekatkan wajahnya kepada dinda. yang dia bayangkan saat itu bukan bersama dengan dinda, melainkan dengan Olivia.
Dimas menciumi wajah dan leher dinda, mata dimas terpejam, dia berharap perempuan dihadapannya itu adalah Olivia.
dinda menggeliat keenakan, menikmati belain dari suaminya.
dengan sekejap baju yang di kenakan dinda tidak melekat lagi di tubuh dinda.
dimas semakin berutal memainkan perannya.
tanpa menunggu aba-aba dimas menghunjamkan senjatanya kepada tempatnya.
dinda mengerang, dan mendesah. menikmati gerakan dimas.
"kenapa longgar sayang? tidak seperti biasanya" Tiba-tiba terucap dari mulut dimas. sontak dinda mendorong tubuh dimas.
"apa maksud kamu" dinda membuat dimas benar-benar lepas dari tubuhnya.
seketika dimas tersadar jika yang di depannya itu dinda bukan Olivia.
"maaf din... kenapa tidak mengigit?" ucap dimas melirik kemaluan dinda.
"aku memang sudah ndak perawan lagi mas. perawan atau tidak sekarang bukan menjadi hal yang aneh kan sayang"
"berapa kali kamu melakukan itu?" seketika gairah dimas hilang. dia harap dinda sama seperti Olivia, menjaga kesuciannya.
"beberapa kali dengan pacarku" ucap dinda ketus sambil mengenakan kembali bajunya.
dimas kembali mengenakan pakaiannya dan pergi meninggalkan dinda. dimas keluar untuk menenangkan diri.
beberapa kali dinda memanggil dimas tapi tidak di hiraukan. dengan langkah gontai dimas menuju ke restoran hotel itu, mengambil beberapa menu sarapan.
Tak lama kemudian dinda menyusul dimas dengan baju yang lebih rapi. mengambil sebuah Sandwich dan duduk di hadapan dimas.
"kamu kecewa ke aku sayang" ucap dinda
"kelihatannya bagaimana din. kenapa kamu ndak cerita dari awal din?" ucap dimas kecewa.
"aku takut kamu ndak mau denganku sayang"
dimas terdiam.
"jika ini menjadi kamu ingin melaporkan ke papa. silahkan mas"
"kalau aku bilang ke pak bayu, apa kira-kira papamu tidak mencabut semua sahamnya? "
"aku ndak tau sayang"