Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.
Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meja Bundar
Suara desis mesin pendingin ruangan kantin yang biasanya berdengung lembut kini terasa begitu bising di telinga setiap orang yang hadir. Di bawah sorot lampu putih terang yang memantul di lantai keramik porselen, suasana di sudut ruangan itu membeku secara total.
Reno masih berdiri dengan posisi tangan terulur separuh. Wajahnya yang tadinya menyeringai penuh percaya diri kini berubah pucat pasi, dipenuhi butiran keringat dingin yang mengalir deras dari pelipisnya. Ia mencoba menarik lengan kanannya kembali ke sisi tubuhnya, namun sia-sia; seluruh otot dan jaringan saraf di bawah sikunya terasa seperti mati rasa, terkulai kaku tanpa kendali.
"Kau... apa yang kau perbuat pada tanganku, keparat?!" suara Reno terdengar serak, setengah berbisik karena syok yang teramat sangat. Rasa sakit yang tajam mulai merambat dari pergelangan tangannya hingga ke bahu, namun yang lebih mengerikan daripada rasa sakit itu adalah ketidakberdayaan mutlak yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya sebagai seorang juara tarung bebas.
Rian tidak langsung menjawab. Ia menarik tangannya kembali secara perlahan, memasukkannya ke dalam saku celana abu-abunya dengan gestur yang sangat santai. Tatapan mata hitamnya menyapu wajah Reno sekilas, lalu bergeser menatap Bara dan Kevin yang duduk terpaku di bangku mereka dengan mulut terbuka lebar bagaikan orang bodoh.
"Aku tidak melakukan apa-apa," jawab Rian dengan nada datar, suaranya terdengar begitu tenang di tengah kesunyian kantin yang mencekam. "Aku hanya menyadarkan tanganmu agar tidak sembarangan menyentuh milik orang lain."
"Sialan kau...!" Reno yang dikuasai rasa malu dan amarah yang meluap-luap mencoba melangkah maju dengan kaki kirinya, berniat melepaskan tendangan lurus ke arah perut Rian menggunakan lututnya. Sebagai petarung profesional, ia memiliki fisik yang terlatih untuk bertarung dalam kondisi apa pun.
Namun, sebelum lutut Reno sempat terangkat setengah jengkal dari lantai, Rian meliriknya sekilas dengan tatapan dingin dari Mata Dewa Pengamat.
Whush!
Sebuah tekanan gelombang Qi internal tingkat menengah yang terkonsentrasi meluncur keluar dari tubuh Rian, menghantam tepat di titik keseimbangan kaki kiri Reno.
Bum!
Suara hantaman angin kecil itu membuat lutut Reno melemah secara seketika. Pemuda berbadan besar itu kehilangan tumpuannya, terjatuh dengan lutut kanannya menghantam lantai keramik kantin secara kasar hingga menimbulkan bunyi benturan yang cukup keras.
"Arghhh...!" Reno mengerang kesakitan, mencengkeram lututnya dengan tangan kirinya yang masih berfungsi. Napasnya memburu hebat, tubuhnya gemetar di hadapan puluhan siswa yang menonton tanpa berani bersuara sedikit pun.
Rian melangkah melewati tubuh Reno yang sedang berlutut, seolah-olah ia baru saja melangkahi sebatang kayu kecil yang melintang di tengah jalan. Tanpa menoleh lagi ke belakang, Rian berjalan meninggalkan area kantin menuju pintu keluar, meninggalkan keheningan total di belakang punggungnya.
Pukul tiga sore, bel akhir sekolah berdering nyaring di seluruh penjuru kompleks SMA Bina Bangsa. Para siswa berhamburan keluar kelas menuju gerbang utama, membicarakan insiden di kantin tadi siang dengan bisik-bisik penuh kehebohan. Berita tentang bagaimana Reno—si petarung jalanan bertato yang terkenal garang—bisa tumbang hanya dalam dua detik tanpa sempat memukul jatuh ke lantai dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru sekolah layaknya sambaran api di musim kering.
Di ruang kepala sekolah yang berukuran luas dengan dinding berlapis kayu mahoni dan deretan piala penghargaan di lemari kaca, suasana terasa jauh lebih tegang dari biasanya.
Kepala Sekolah, Pak Handoko—seorang pria paruh baya berkumis rapi dengan setelan jas abu-abu mahal—duduk di balik meja kerjanya dengan wajah mengeras. Di hadapannya duduk tiga orang tamu penting yang baru saja datang sepuluh menit lalu: Wakil Kepala Sekolah, Pak Darma, dan seorang pria bertubuh tegap berusia awal empat puluhan mengenakan jaket kulit cokelat tua dengan mata tajam menyelidik—Kolonel Purnawirawan Surya, ayah dari Kevin sekaligus salah satu anggota dewan penyantun yayasan sekolah tersebut.
"Pak Handoko, saya tidak peduli apa alasan anak beasiswa itu!" suara Surya terdengar menggelegar di dalam ruangan, tangannya yang besar menepuk permukaan meja kerja dengan keras hingga cangkir teh di atasnya bergetar hebat. "Keponakan dari rekan bisnis saya, Reno, mengalami cedera serius pada saraf tangannya di area sekolah, dan anak saya melaporkan bahwa biang keladinya adalah seorang siswa miskin bernama Rian!"
Pak Handoko menyeka keringat di dahinya dengan sehelai tisu. Sebagai kepala sekolah yang sangat bergantung pada sumbangan dana dari yayasan keluarga Surya, ia tentu tidak ingin mencari masalah dengan pria berpengaruh tersebut. Namun, laporan dari Pak Darma selaku guru matematika sekaligus wali kelas Rian membuatnya berada di posisi yang dilematis.
"Tenang dulu, Pak Surya," kata Pak Handoko dengan nada hati-hati, mencoba meredakan kemarahan tamu pentingnya. "Kami tentu akan menyelidiki masalah ini secara transparan. Tapi... laporan dari Pak Darma tadi siang menyebutkan bahwa Rian adalah salah satu siswa paling berprestasi akademik di angkatan ini, dan saksi mata di kantin mengatakan bahwa kejadian itu bermula dari próvokasi kelompok luar..."
"Prestasi akademik tidak bisa dijadikan alasan untuk melindungi tindakan kekerasan brutal!" sergah Surya dengan mata melotot tajam. "Saya minta anak itu dipanggil ke sini sekarang juga, dan berikan sanksi skorsing atau bahkan pengeluaran tetap (drop out) hari ini juga!"
Pak Darma, yang duduk di sudut ruangan dengan wajah kaku, tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak angkat bicara. Ia merapikan letak kacamatanya, lalu menatap lurus ke arah Surya dengan tatapan tidak suka.
"Maaf, Pak Surya, tapi sebagai wali kelasnya, saya menolak keputusan gegabah itu," ucap Pak Darma dengan nada tegas. "Saya sendiri berada di kantin saat kejadian tadi. Reno mendatangi Rian terlebih dahulu dengan gestur mengancam di hadapan ratusan siswa. Rian hanya membela diri secara proporsional. Lagi pula, tidak ada bukti fisik bahwa Rian memukulnya secara kasar; anak itu bahkan tidak menyentuh Reno dengan kepalan tangan."
Surya mendengus sinis, menoleh tajam ke arah Pak Darma. "Membela diri? Pak Darma, Anda sedang membela seorang anak yatim piatu miskin hanya karena nilainya bagus? Jangan mempermalukan diri Anda sendiri sebagai pendidik!"
Sebelum perdebatan di dalam ruangan itu semakin memanas, pintu kayu ruang kepala sekolah tiba-tiba diketuk tiga kali dengan pelan dari luar.
Tok... tok... tok.
"Masuk," jawab Pak Handoko dengan suara berat, mencoba menata kembali wibawanya.
Pintu terbuka perlahan. Sosok Rian melangkah masuk ke dalam ruangan yang megah itu.
Ia tidak mengenakan jaket luar, hanya kemeja putih seragam yang sedikit longgar dengan tas punggung tersampir di bahu kanannya. Wajahnya tampak sangat tenang, tanpa ada secercah pun rasa gugup atau takut meskipun ia tahu persis siapa saja orang-orang penting yang sedang duduk menatapnya tajam di dalam ruangan tersebut.
Rian berhenti di tengah ruangan, berdiri tegak dengan kedua tangan di dalam saku celananya. Ia menatap satu persatu wajah orang-orang di depannya: Pak Handoko yang tampak gelisah, Pak Darma yang memberikan tatapan mendukung, Surya yang menatapnya dengan pandangan meremehkan penuh kebencian, serta Kevin dan Bara yang berdiri di sudut ruangan sambil menyeringai puas melihat pemuda itu dipanggil menghadap kepala sekolah.
"Kamu Rian?" tanya Surya dengan nada suara merendahkan, berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Rian secara perlahan, menatap pemuda itu dari jarak yang sangat dekat. "Anak miskin yang berani membuat keponakan rekan saya cacat sementara di lingkungan sekolah?"
Rian menoleh pelan, menatap lurus ke dalam mata Surya tanpa mengedipkan kelopak matanya sedetik pun. Aura dingin dari energi Qi di dalam tubuhnya secara otomatis memancar tipis, membuat Surya—seorang mantan perwira militer yang terbiasa memimpin—secara insting merasakan sensasi dingin yang merayap di sepanjang tulang belakangnya.
"Saya tidak merasa membuat siapa pun cacat, Tuan," jawab Rian dengan suara tenang dan datar. "Saya hanya menyuruh orang-orang yang gemar mencari masalah untuk belajar menghargai batas wilayah mereka sendiri."
Surya terkejut sesaat mendengar keberanian luar biasa dari seorang remaja ingusan di hadapannya. Alisnya mengerut tajam, rahangnya mengeras menahan amarah.
"Lancang sekali mulutmu!" bentak Surya, mengangkat tangan kanannya hendak menunjuk tepat ke wajah Rian. "Di hadapan dewan yayasan dan kepala sekolah, kamu masih berani berbicara dengan nada seperti itu?! Kamu pikir karena kamu pintar matematika, kamu bisa berbuat semaunya di SMA Bina Bangsa?!"
Rian tidak mundur sedikit pun. Ia menatap tangan yang menunjuk itu dengan pandangan dingin, lalu berkata pelan, "Kepintaran tidak membuat saya istimewa, Tuan. Tapi itu mengajarkan saya satu hal: bahwa orang bodoh yang mengandalkan kekuasaan keluarganya untuk menindas orang lain pada akhirnya akan selalu jatuh dengan cara yang paling memalukan."
"Cukup, Rian!" seru Pak Handoko panik, buru-buru berdiri dari kursinya untuk melerai sebelum situasi semakin tak terkendali. Ia tahu betul pengaruh keluarga Surya di yayasan ini sangat besar.
Surya tertawa dingin, tawanya terdengar penuh racun. Ia menoleh ke arah Kepala Sekolah dengan tatapan menuntut mutlak.
"Pak Handoko, Anda dengar sendiri bagaimana anak ini bersikap? Tidak ada sopan santun, arogan, dan berbahaya bagi siswa lain!" kata Surya dengan suara lantang. "Saya ulangi tuntutan saya: Keluarkan anak ini dari sekolah hari ini juga, atau saya pastikan seluruh dana hibah yayasan untuk renovasi gedung olahraga tahun ini dicabut!"
Ancaman itu sangat telak. Pak Handoko menelan ludah dengan susah payah, wajahnya mendadak pucat. Dana hibah renovasi adalah proyek besar yang dipertaruhkan di bawah kepemimpinannya.
Pak Darma berdiri dari kursinya dengan wajah memerah menahan geram. "Pak Handoko! Anda tidak bisa mengorbankan masa depan siswa berprestasi hanya karena ancaman donatur korup seperti dia!"
"Pak Darma, jaga mulut Anda!" bentak Surya.
Di tengah ketegangan yang memuncak di dalam ruangan tersebut, Rian justru menghela napas pelan. Suara helaan napas itu begitu tenang, namun berhasil menarik perhatian semua orang di ruangan itu untuk kembali menatapnya.
Rian mengeluarkan tangan kanannya dari saku celana, lalu merogoh ponsel murah berlayar retak dari kantong samping tasnya. Ia mengetuk layar beberapa kali dengan jari telunjuknya.
"Tidak perlu repot-repot memperdebatkan dana hibah yayasan atau mencabut status sekolah saya, Tuan Surya," kata Rian dengan suara yang begitu tenang, membuat semua orang di ruangan itu terdiam kebingungan.
Surya mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu, anak sialan?"
Rian mengangkat ponselnya sedikit ke atas, menampilkan sebuah layar rekaman video digital beresolusi tinggi. Di dalam layar kecil itu, terlihat jelas rekaman suara dan video dari sudut pandang kamera tersembunyi yang merekam percakapan antara Surya, Kevin, dan beberapa pengurus yayasan di sebuah restoran mewah kemarin malam—membahas rencana bagaimana cara menekan kepala sekolah untuk mengeluarkan Rian dengan alasan rekayasa pelanggaran disiplin.
Wajah Surya seketika berubah pucat pasi dalam sepersekian detik. Warna merah kemarahannya lenyap, digantikan oleh rasa terkejut yang luar biasa besar hingga ia hampir kehilangan keseimbangan.
"Dar... Dari mana kamu mendapatkan rekaman itu?!" seru Surya dengan suara bergetar, matanya melotot lebar menatap layar ponsel di tangan Rian.
Rian tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang tidak menyisakan kehangatan sama sekali.
"Di dunia modern ini, Tuan Surya, informasi adalah mata uang yang paling jujur," jawab Rian tenang. Ia melangkah maju satu langkah, menatap Surya tepat di mata pria paruh baya itu. "Kalau rekaman ini saya teruskan ke meja investigasi independen korporasi pendidikan nasional atau media sosial malam ini juga, saya rasa bukan hanya dana hibah renovasi sekolah yang akan hilang, tapi juga kursi kehormatan Anda di dewan penyantun."
Suasana di dalam ruangan itu menjadi sunyi senyap bagaikan kuburan. Pak Handoko terperangah menatap layar ponsel, sementara Kevin dan Bara di sudut ruangan langsung lemas seketika, terduduk di kursi terdekat karena menyadari rahasia besar ayah mereka telah bocor ke tangan musuh yang paling tidak terduga.
Rian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, lalu menoleh ke arah Pak Handoko yang masih berdiri terpaku di balik meja kerjanya.
"Kepala Sekolah, jika tidak ada hal penting lagi yang ingin dibahas mengenai urusan 'kedisiplinan' ini, saya izin kembali ke kelas untuk belajar," kata Rian dengan sopan namun bernada mutlak.
Tanpa menunggu jawaban dari siapa pun, Rian berbalik badan, melangkah keluar dari ruang kepala sekolah dengan langkah kaki yang teratur dan tenang. Di bawah sorot mata semua orang yang terpaku bisu, bayangan pemuda itu melangkah keluar pintu, membuktikan bahwa di era modern yang dikuasai uang dan kekuasaan, ia kini memegang kendali mutlak atas takdirnya sendiri—tak terlihat, namun tak tertandingi.