NovelToon NovelToon
PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 — API DI RUANG ARSIP

Asap tipis sudah terlihat ketika kami tiba di ruang arsip utama.

Dua penjaga berdiri di depan pintu, sementara beberapa pelayan berusaha memadamkan api kecil yang menjalar di sudut meja. Bau kertas terbakar memenuhi lorong. Di lantai, serpihan abu beterbangan setiap kali seseorang bergerak terlalu cepat.

Aku berhenti sesaat di ambang pintu.

Beberapa gulungan dokumen telah hangus. Sebuah kotak penyimpanan tergeletak miring, dan bagian tepi meja menghitam akibat jilatan api.

"Padamkan semuanya!" perintah Segara. "Jangan biarkan satu lembar pun terbakar lagi."

Para penjaga segera bergerak.

Aku mendekati meja yang berada paling dekat dengan sumber api. Di atasnya, beberapa dokumen masih utuh, tetapi ujung-ujungnya telah mengeriting. Salah satu gulungan tampak hampir habis terbakar.

"Apakah ini dokumen pengiriman benih?" tanyaku.

Harsa yang berdiri tidak jauh dariku mengangguk dengan wajah pucat.

"Sebagian, Gusti. Dokumen yang terbakar berasal dari rak catatan persediaan dan distribusi."

Aku menoleh kepadanya.

"Siapa yang terakhir berada di ruangan ini?"

"Saya tidak tahu, Gusti. Ketika penjaga menemukan asap, saya sedang berada di ruang pencatatan sebelah."

"Apakah pintunya terkunci?"

Harsa menggeleng.

"Pintu ruang arsip utama memang tidak selalu dikunci pada siang hari. Biasanya ada penjaga yang mengawasi lorong."

Aku memperhatikan pintu tersebut.

"Berarti siapa pun bisa masuk jika mengetahui kapan penjaga tidak memperhatikan?"

Harsa tidak menjawab.

Aku tidak menyalahkannya. Namun, situasi ini menunjukkan bahwa orang yang berusaha memusnahkan dokumen mungkin telah mengetahui kebiasaan para penjaga.

Segara berjongkok di dekat meja yang terbakar. Ia tidak menyentuh apa pun sebelum memastikan api benar-benar padam.

"Dokumen mana yang pertama kali terbakar?" tanyanya.

Seorang penjaga segera menjawab, "Kami tidak melihat awalnya, Yang Mulia. Ketika tiba, api sudah menyala di sudut meja."

"Apakah ada yang melihat seseorang keluar dari ruangan?"

Penjaga itu saling berpandangan.

"Saya melihat seorang pelayan berjalan cepat menuju lorong barat," jawab salah seorang dari mereka. "Namun, saya tidak yakin apakah dia terlibat."

"Kenapa kau tidak menghentikannya?"

"Waktu itu saya sedang membantu memadamkan api, Yang Mulia. Pelayan itu sudah menghilang ketika saya kembali."

Segara berdiri.

"Temukan dia. Jangan menyebarkan kabar bahwa kita sedang mencarinya. Aku ingin mengetahui siapa dia dan apa yang dilakukannya sebelum meninggalkan ruangan ini."

Kedua penjaga segera memberi hormat dan bergegas pergi.

Aku memandangi dokumen-dokumen yang tersisa.

Seseorang telah berusaha menghapus bukti.

Pertanyaannya, bukti yang mana?

Jika pelakunya hanya ingin menutupi penyelundupan empat puluh karung benih, mengapa ia mengambil risiko membakar ruang arsip kerajaan pada siang hari? Bukankah tindakan itu justru akan membuat Segara semakin curiga?

Kecuali orang tersebut sudah terdesak.

Atau ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada catatan pengiriman benih.

Aku teringat buku tua bersampul teratai yang kami temukan di ruang arsip bawah. Di dalamnya terdapat namaku dan catatan tentang identitas yang disegel.

Tanpa sadar, tanganku menyentuh leher.

Bekas luka tipis itu masih ada.

Selama ini, aku mengira luka tersebut hanyalah sisa dari usaha bunuh diri perempuan yang tubuhnya kutempati. Namun, setelah melihat namaku tercatat dalam arsip tersembunyi, aku mulai mempertanyakan segala sesuatu yang selama ini kuanggap pasti.

Apakah perempuan itu benar-benar hanya seorang calon permaisuri yang putus asa?

Ataukah ada alasan lain yang membuat seseorang ingin menghapus jejaknya?

"Kahiyang."

Aku tersentak ketika mendengar suara Segara.

"Kau pucat."

"Aku hanya sedang berpikir."

"Tentang buku yang kita temukan?"

Aku mengangguk.

Segara menatap para pelayan yang masih membersihkan sisa air di lantai, lalu memberi isyarat agar kami berbicara di sisi ruangan yang lebih tenang.

"Kita tidak boleh menghubungkan semuanya terlalu cepat," katanya. "Kebakaran ini mungkin berkaitan dengan penyelidikan benih. Tetapi kita belum tahu apakah pelakunya juga mengetahui isi buku tersebut."

"Aku tahu." Aku menarik napas panjang. "Hanya saja, rasanya aneh. Setiap kali kita menemukan petunjuk baru, seseorang selalu berusaha menghilangkan sesuatu."

"Karena itu, kita harus memastikan apa yang masih bisa diselamatkan."

Ia menunjuk tumpukan dokumen yang telah dipisahkan oleh Harsa.

Aku mengangguk dan mulai membantu memeriksa halaman-halaman yang masih terbaca.

---

Hampir satu jam berlalu sebelum kami menemukan sesuatu yang menarik.

Di antara dokumen yang ujungnya terbakar, terdapat sebuah lembar catatan dengan beberapa baris tulisan yang masih utuh. Kertas itu tampak lebih baru daripada dokumen lain di sekitarnya.

Aku mengambilnya dengan hati-hati.

"Segara, lihat ini."

Ia berdiri di sampingku dan membaca tulisan tersebut.

Catatan itu berisi daftar pengiriman benih ke beberapa wilayah kerajaan. Sebagian besar nama desa masih terbaca, begitu pula jumlah karung yang dikirim.

Namun, ada satu baris yang membuatku berhenti bernapas sejenak.

Perbatasan Utara — 100 karung.

Di kolom berikutnya, tertulis keterangan mengenai penggantian persediaan lama dengan benih baru yang diklaim tahan terhadap hama.

Jumlahnya sama dengan catatan yang kami temukan di lumbung desa.

Empat puluh karung lama seharusnya dikirim keluar, sementara empat puluh karung baru menjadi penggantinya.

Aku menunjuk baris tersebut.

"Ini membuktikan bahwa penggantian benih memang tercatat secara resmi."

Segara mengangguk.

"Namun, belum membuktikan bahwa benih yang dikirim benar-benar sesuai dengan catatan."

Aku membalik kertas itu.

Di bagian belakang terdapat tanda tinta berbentuk garis pendek, diikuti angka yang sebagian tertutup noda air.

"Ini bukan tulisan yang sama dengan catatan utama," kataku.

Segara memperhatikan bagian tersebut.

"Sepertinya ada tambahan setelah dokumen ini dibuat."

Aku mendekatkan kertas ke arah cahaya.

Angkanya tidak lengkap. Aku hanya bisa membaca dua digit terakhir, sementara bagian awalnya telah rusak akibat panas.

"Bisakah kita mengetahui siapa yang menambahkan catatan ini?" tanyaku.

"Kita perlu membandingkan tulisan dan tinta dengan dokumen lain."

Aku menyimpan kertas itu secara terpisah.

Setidaknya, kami masih memiliki satu bukti yang bisa diperiksa lebih lanjut.

Namun, ketika aku hendak mengambil dokumen berikutnya, mataku menangkap sebuah bekas kecil di permukaan meja.

Bukan bekas api.

Bukan pula noda air.

Sebuah lingkaran hitam dengan bentuk yang tidak beraturan, seperti cap yang ditekan terlalu kuat pada kayu.

Aku membungkuk untuk melihatnya.

"Segara, menurutmu ini apa?"

Ia mengikuti arah pandanganku.

Beberapa detik kemudian, ia memanggil Harsa.

"Apakah ada dokumen yang disimpan di atas meja ini sebelum kebakaran?"

Harsa memeriksa permukaannya.

"Biasanya, dokumen yang akan disalin diletakkan di sini, Yang Mulia. Tetapi saya tidak ingat apa saja yang ada pagi ini."

"Apakah cap seperti ini biasa digunakan di ruang arsip?"

Harsa menggeleng.

"Tidak, Yang Mulia. Kami menggunakan bantalan tinta untuk menandai dokumen, tetapi bentuknya tidak seperti ini."

Aku memandang bekas lingkaran tersebut.

Ukurannya hampir sama dengan lambang kecil berbentuk teratai yang kami temukan pada buku tua.

Namun, aku tidak ingin langsung mengambil kesimpulan.

Aku meminta salah satu pelayan membawa kertas bersih. Dengan hati-hati, kami menyalin bentuk bekas tersebut tanpa menyentuh bagian yang menghitam.

Ketika hasilnya terlihat, aku merasakan sesuatu yang dingin merambat di punggungku.

Bentuknya memang menyerupai bunga teratai.

Segara mengambil kertas itu dan menyimpannya bersama catatan pengiriman benih.

"Kita akan membandingkannya dengan lambang pada buku tua."

Aku mengangguk.

Seseorang mungkin telah menggunakan cap yang sama pada dokumen dan arsip yang berbeda. Namun, kami belum tahu apakah cap tersebut merupakan tanda resmi atau sesuatu yang sengaja dibuat untuk menyesatkan.

Yang jelas, kebakaran ini telah meninggalkan petunjuk baru.

Dan petunjuk itu kembali mengarah pada lambang yang sama.

---

Menjelang siang, salah seorang penjaga kembali dengan seorang pelayan perempuan.

Perempuan itu masih muda. Wajahnya pucat, dan kedua tangannya saling menggenggam erat di depan tubuhnya.

"Ampun, Yang Mulia," katanya sambil berlutut. "Saya tidak melakukan apa pun."

Segara berdiri di hadapannya.

"Namamu?"

"Ratri, Yang Mulia."

"Apa yang kau lakukan di dekat ruang arsip ketika kebakaran terjadi?"

Ratri menunduk semakin dalam.

"Saya diperintahkan mengambil beberapa lembar kertas dari ruang pencatatan sebelah."

"Oleh siapa?"

Perempuan itu terdiam.

Aku memperhatikannya dengan saksama. Ketakutannya tampak nyata, tetapi aku tidak tahu apakah ia takut karena bersalah atau karena terlibat dalam sesuatu yang tidak dipahaminya.

"Ratri," kataku pelan, "kami tidak akan langsung menghukummu hanya karena kau berada di dekat ruangan ini. Kami hanya ingin mengetahui apa yang terjadi."

Ia mengangkat wajah sedikit.

"Saya menerima perintah dari seorang petugas istana, Gusti."

"Siapa namanya?"

"Saya tidak tahu, Gusti. Dia hanya menyampaikan bahwa perintah itu berasal dari bagian pengawasan persediaan."

Aku dan Segara saling pandang.

Bagian pengawasan persediaan.

Nama jabatan yang sama dengan yang tercantum dalam buku peminjaman arsip.

"Bagaimana ciri orang itu?" tanyaku.

Ratri tampak ragu sebelum menjawab.

"Dia mengenakan pakaian pelayan laki-laki biasa. Wajahnya tertutup sebagian oleh kain karena katanya sedang sakit. Saya tidak mengenalinya."

"Apakah dia memberimu surat perintah?" tanya Segara.

Ratri mengangguk.

"Surat itu ada di tangan saya tadi, Yang Mulia. Namun, ketika melihat asap dari ruang arsip, saya ketakutan dan menjatuhkannya."

"Di mana surat itu sekarang?"

"Saya tidak tahu."

Segara menatapnya tajam.

"Apakah kau memasuki ruang arsip utama?"

Ratri menggeleng cepat.

"Tidak, Yang Mulia. Saya hanya melewati lorong. Ketika melihat api, saya langsung berlari mencari bantuan."

"Apakah kau melihat siapa yang masuk ke ruangan?"

Perempuan itu terdiam cukup lama.

Lalu, dengan suara hampir tidak terdengar, ia menjawab, "Saya melihat seseorang keluar dari pintu samping."

"Siapa?"

"Saya tidak tahu wajahnya, Yang Mulia. Tetapi saya melihat sesuatu di tangannya."

"Apa itu?"

Ratri menelan ludah.

"Sehelai kain merah tua."

Aku merasakan jantungku berdegup lebih cepat.

Kain merah tua yang sama dengan serat yang kami temukan pada kait logam di sawah.

Segara tidak menunjukkan reaksi berlebihan.

"Apakah kau yakin?"

Ratri mengangguk.

"Saya melihatnya sekilas. Kain itu tersangkut pada tangannya ketika dia melewati pintu."

Aku ingin segera bertanya lebih banyak, tetapi Segara mengangkat tangan, memberi isyarat agar aku menunggu.

"Ratri, pikirkan baik-baik. Apakah kau melihat orang itu membawa sesuatu selain kain tersebut?"

Perempuan itu memejamkan mata, mencoba mengingat.

"Sepertinya ada gulungan kertas di tangannya."

"Apakah kau melihat ke mana dia pergi?"

"Ke lorong barat, Yang Mulia."

Segara memanggil penjaga.

"Periksa lorong barat dan semua pintu keluar yang mengarah ke sana. Cari gulungan kertas atau kain merah tua. Jangan menyentuh apa pun yang tampak mencurigakan sebelum melaporkannya."

Penjaga itu segera pergi.

Aku kembali menatap Ratri.

"Apakah kau mengenali suara orang yang memberimu perintah?"

Ratri menggeleng.

"Dia berbicara sangat pelan, Gusti. Saya tidak bisa mengenalinya."

"Apakah dia menyebutkan untuk apa kertas-kertas itu diperlukan?"

"Tidak. Dia hanya mengatakan bahwa saya harus segera mengambilnya."

Aku mengangguk perlahan.

Jawaban Ratri belum cukup untuk memastikan siapa pelaku kebakaran. Namun, kesaksiannya memberi kami alasan untuk memeriksa bagian pengawasan persediaan lebih jauh.

Aku tidak ingin menuduh Patih Agung hanya karena jabatannya muncul berulang kali. Bisa saja seseorang menggunakan namanya atau memanfaatkan kewenangannya untuk menjalankan rencana sendiri.

Justru kemungkinan itulah yang membuatku semakin gelisah.

Jika seseorang mampu menggunakan nama pejabat tinggi untuk mengeluarkan perintah, ia mungkin memiliki akses yang jauh lebih luas daripada yang kami duga.

---

Setelah Ratri dibawa ke ruangan terpisah untuk dimintai keterangan lebih lanjut, Segara mengajakku berbicara di halaman kecil di belakang ruang arsip.

Angin siang bergerak pelan di antara pepohonan. Dari tempat kami berdiri, suara para pelayan yang membersihkan ruangan masih terdengar samar.

"Ada terlalu banyak petunjuk yang mengarah pada lambang teratai," kataku.

Segara mengangguk.

"Karena itu, kita perlu memastikan apakah lambang tersebut benar-benar berasal dari satu sumber."

"Menurutmu, apakah ini berkaitan dengan racun teratai hitam?"

"Aku belum bisa mengatakan demikian."

Aku menatapnya.

"Namun, kau juga memikirkannya."

Segara terdiam sesaat.

"Ya."

Jawaban jujur itu membuatku semakin serius.

Jika lambang teratai pada buku tua berkaitan dengan serbuk dalam benih, berarti sabotase padi emas mungkin tidak berdiri sendiri. Tetapi kami masih harus membuktikan hubungan tersebut.

Aku memandang halaman istana yang tampak damai.

"Bagaimana kalau semua ini sudah direncanakan sejak lama?"

Segara menoleh kepadaku.

"Maksudmu?"

"Bagaimana kalau orang yang menghapus catatan tentang perempuan yang tubuhnya kutempati adalah orang yang sama dengan orang yang sekarang merusak benih?"

Segara tidak segera menjawab.

Aku melanjutkan, "Aku tahu kita belum memiliki bukti. Tetapi jika namaku tercatat dalam arsip lama, lalu seseorang berusaha menghilangkan dokumen pengiriman benih, mungkin ada rahasia yang menghubungkan keduanya."

"Atau seseorang sengaja ingin kita mempercayai bahwa keduanya berkaitan," katanya.

Aku terdiam.

Kemungkinan itu sama menakutkannya.

Bagaimana jika semua petunjuk yang kami temukan memang sengaja disusun agar kami mengikuti satu arah tertentu?

Bagaimana jika lambang teratai, kain merah tua, dan catatan yang hilang hanyalah cara seseorang mengalihkan perhatian kami dari sesuatu yang lebih penting?

Aku mengembuskan napas perlahan.

"Jadi, kita harus memeriksa semuanya tanpa menganggap satu petunjuk sebagai jawaban."

"Benar."

Segara menatapku dengan ekspresi yang sulit kutafsirkan.

"Dan mulai sekarang, kau tidak boleh pergi ke ruang arsip atau tempat lain tanpa pengawalan."

Aku langsung mengerutkan kening.

"Segara, aku bukan tahanan."

"Aku tahu."

"Lalu kenapa kau berbicara seolah-olah aku tidak boleh ke mana-mana?"

"Karena seseorang baru saja mencoba membakar dokumen di tempat yang kita datangi bersama."

Aku terdiam.

Ia melanjutkan dengan suara lebih rendah, "Aku tidak akan melarangmu menyelidiki. Tetapi aku juga tidak akan berpura-pura bahwa keadaan ini aman."

Ada sesuatu dalam ucapannya yang membuatku kehilangan keinginan untuk membantah.

Aku tahu Segara tidak sedang berusaha mengendalikan setiap langkahku. Ia hanya tidak ingin aku menjadi sasaran berikutnya.

"Aku akan berhati-hati," kataku akhirnya.

"Janji?"

Aku menghela napas.

"Kau benar-benar memanfaatkan kesempatan untuk membuatku berjanji, ya?"

"Apakah itu berarti kau menolak?"

Aku menatapnya tajam.

"Baik. Aku berjanji akan berhati-hati."

Segara mengangguk, tampak puas dengan jawaban itu.

Aku memalingkan wajah, menyembunyikan senyum kecil yang muncul tanpa kusadari.

Namun, ketenangan itu segera menghilang ketika seorang penjaga datang membawa sebuah benda yang ditemukan di lorong barat.

Sebuah gulungan kertas kecil.

Di bagian luarnya terdapat noda hitam dan bekas terbakar.

Segara menerimanya, lalu membuka gulungan tersebut dengan hati-hati.

Di dalamnya hanya ada selembar catatan singkat.

Aku berdiri di sampingnya, membaca tulisan yang tertera di sana.

Jika nama itu kembali ditemukan, musnahkan seluruh catatan yang tersisa.

Tidak ada nama pengirim.

Tidak ada tanda tangan.

Hanya satu lambang kecil berbentuk teratai di bagian bawah.

Aku merasakan tubuhku menegang.

Nama itu.

Nama siapa?

Namaku?

Atau nama perempuan yang tubuhnya kutempati sebelum aku datang ke dunia ini?

Aku menatap Segara, tetapi ia masih memandangi catatan tersebut.

Untuk pertama kalinya sejak penyelidikan dimulai, aku melihat kemarahan yang begitu jelas di wajahnya.

Bukan kemarahan seorang kaisar karena perintahnya dilanggar.

Melainkan kemarahan seseorang yang menyadari bahwa ada pihak di dalam istananya sendiri yang berani menghapus sejarah dan membakar bukti untuk mempertahankan rahasia.

Segara melipat catatan itu dengan hati-hati.

"Mulai sekarang, semua dokumen yang berkaitan dengan penyelidikan ini akan disimpan di tempat yang hanya bisa kuakses."

Aku mengangguk.

"Dan buku tua yang memuat namaku?"

"Akan diamankan bersama bukti lainnya."

Aku memandang lorong yang mengarah kembali ke ruang arsip.

Seseorang telah berusaha membakar dokumen pengiriman benih.

Seseorang membawa kain merah tua.

Dan seseorang memberikan perintah untuk memusnahkan semua catatan jika sebuah nama kembali ditemukan.

Aku belum tahu siapa orang itu.

Namun, satu hal kini terasa semakin jelas.

Rahasia yang kami temukan bukan sekadar kesalahan dalam pencatatan kerajaan.

Seseorang benar-benar ingin memastikan bahwa masa lalu tertentu tidak pernah terungkap.

Dan jika orang itu sampai berani membakar arsip istana, mungkin ia akan melakukan apa saja agar rahasia tersebut tetap terkubur.

Aku menatap Segara.

"Kita harus menemukan nama yang dimaksud dalam catatan ini."

Ia mengangguk pelan.

"Ya. Sebelum orang itu berhasil menghapus semua jejaknya."

Aku menggenggam ujung lengan bajuku, berusaha menenangkan diri.

Jauh di dalam hati, aku takut nama yang dimaksud bukanlah nama seseorang yang telah lama meninggal.

Aku takut nama itu adalah namaku sendiri.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!