kalau adaa yang salah atau enggk nyambung ceritanyaa maapp yaaaahhh soalnya baru pertama bikin cerita kayak ginii (◠‿◕)
Siapa sangka gadis yang berisik, ceroboh, dan selalu bikin keributan itu justru jadi satu-satunya yang bisa meluluhkan hati ketua osis paling dingin, cuek, dan ditakuti seantero sekolah?
Dari yang saling tak suka, jadi tak bisa terpisahkan. Ini kisah gadis barbar yang mencuri hati ketos dingin yang tak pernah tersenyum pada siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan yang berbeda.
Suasana di ruangan tiba-tiba hening total. Gue berdiri kaku, tangan meremas ujung seragam sendiri. Arka yang tadi senyum tipis, balik berdiri tegak — wajahnya dingin kayak biasa, kayak nggak terjadi apa-apa.
"Kami baru selesai piket, Kak Daniel," ucap Arka tenang, suaranya tenang banget.
Daniel melangkah masuk, tatapannya Dingin dan mata nya menatap bolak-balik ke gue sama Arka.
"Piket berdua doang? Yang lain ke mana?" tanya nyaa
"Pulang duluan, Bang! Tugas mereka udah beres!" jawab gue cepat — suaranya agak keras, tanda gue lagi gugup sih 😅
lalu Daniel menatap Arka. "Arka, gue tahu lo ketua OSIS yang baik. Tapi adek gue ini… dia agak ceroboh, berisik, kadang ngomong tanpa mikir dulu. Gue harap lo paham maksud gue."
Gue hentakkan kaki pelan. "Bang! Gue nggak kayak gitu terus!" 😤
Arka malah ngangguk tenang. "Gue paham, Kak Daniel. Aluna memang beda. Tapi gue nggak keberatan kok."
Jantung gue deg-degan kenceng banget! Dia belain gue! Di depan Abang pula!
Abang diem sebentar, terus senyum tipis. "Ya udah, pulanglah, udah sore."
Sepulang sekolah, gue diem aja. Biasanya gue yang paling heboh, tapi sekarang kepala gue penuh kata-kata Arka tadi.
"Aluna memang beda. Gue nggak keberatan."
"Bang… Arka itu jahat nggak sih?" tanya gue tiba-tiba.
Daniel tersenyum. "Dia bukan orang jahat, Luna. Cuma dia bikin tembok tinggi di sekelilingnya. Susah banget masuk ke dalamnya."
Gue mendengus pede. "Kalau gitu gue yang hancurin temboknya! Biar dia nggak sendirian terus!"
Daniel hanya ketawa sambil elus kepala gue. "Hati-hati ya, nanti lo yang ikut jatuh."
Keesokan paginya, gue nyapa Arka duluan di depan kelas.
"Pagi Arka! Baju lo keren banget, kayak pahlawan yang kaku!" 😆
Dia menoleh, matanya melebar dikit, terus senyum tipis — senyum yang cuma gue yang lihat pagi itu.
"Pagi, Aluna. Lo juga… cerah banget hari ini."
Wajah gue panas. gue batuk pelan buat nutupin malu. "Iya dong! Matahari aja iri sama gue!" 😂
Dia ketawa kecil.
Tapi nggak semua orang senang lihat kita makin deket. Pas istirahat, sekelompok cewek dateng ke meja gue.
"Heh, lo beneran deket sama Arka? Lo biasa aja kok… kenapa dia mau sama lo?" tanya siswa tersebut.
Gue tegakin badan. "Karena gue seru! Gue asik! Gue nggak pura-pura jadi orang lain!" jawab gue mantap, walau dalem hati deg-degan.
Mereka ketawa — sampai suara tenang terdengar dari belakang:
"Benar. Aluna nggak perlu pura-pura jadi siapa pun."
Semua diem. Arka berdiri di sana, tatapannya dingin ke mereka. Langsung pada mundur sendiri.
"Boleh gue duduk di sini?" tanyanya ke gue, lembut banget.
Gue angguk cepat, hampir jatuhin sendok. "Boleh! Duduk aja! Gue nggak gigit kok!" 😆
Dia duduk. "Lo nggak takut mereka ngomongin lo?"
Gue geleng. "Biarin. Gue nggak peduli."
Arka natap gue lekat-lekat.
"Bagus. Gue juga nggak peduli apa kata mereka. Yang penting gue kenal lo yang sebenarnya."
okay maksihh guys atas dukungan kalian semuanya, tapi jangan lupa VOTE, KOMEN DAN SUBSCRIBE YAHH (◠‿◕)
soalnya bikin cerita ini enggak mudah, jadi jangan lupa votee yaaa guee maksaaaaa soalnya hwhehe walaupun cerita gue kurang bagus tapi guee harab ini bisa menghibur kalian yahhh😺
kalau cerita nya rame nanti kita lanjut lagii okay(𓂂꜆◕⩊◕꜀𓂂)