NovelToon NovelToon
GADIS KECIL SANG PEMBUNUH BAYARAN

GADIS KECIL SANG PEMBUNUH BAYARAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Isekai / Romansa Fantasi
Popularitas:536
Nilai: 5
Nama Author: Rienza27

Dendam akibat pembantaian keluarganya menjadikan Leo Cristian Theodore (18) seorang pembunuh bayaran berdarah dingin sejak usia sepuluh tahun. Namun, hidupnya berubah drastis saat ia menjalankan misi membasmi sebuah keluarga dan menemukan seorang anak perempuan bernama Vellora Zavendra (5thn) bersembunyi di dalam lemari.

Alih-alih merasa takut saat ditodong pistol, Vellora justru memeluk erat Leo dan memohon untuk dibawa pergi karena sebatang kara. Pelukan polos tersebut meruntuhkan pertahanan sang pembunuh bayaran, membuatnya melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.

Sejak pertemuan dengan gadis kecil itu kini mengubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. PINDAHAN

Deru mesin mobil mewah itu perlahan mati, menyisakan keheningan malam yang hanya dipecahkan oleh hembusan angin dingin yang menusuk kulit. Vellora, Kakek Liam, dan Bara melangkah turun secara bergantian, alas kaki mereka berpijak mantap pada pelataran pualam apartemen megah yang baru saja dibeli oleh Leo. Bangunan raksasa itu menjulang arogan seolah menantang angkasa, memancarkan pendar cahaya keemasan yang membuat napas siapa pun tertahan dalam kekaguman yang bisu.

Begitu pintu kaca otomatis bergeser terbuka, ketiganya melangkah masuk. Hawa sejuk dari pendingin ruangan langsung menyelimuti tubuh mereka, membawa aroma kemewahan yang merasuk ke dalam penciuman. Mata Vellora membelalak lebar, menyapu setiap inci lobi luas yang dihiasi lampu kristal gantung yang menyilaukan mata.

"Wah… apartemen ini sangat besar," gumam Vellora. Suaranya bergetar pelan, nyaris tenggelam oleh gema langkah kaki mereka sendiri, setengah tak percaya bahwa tempat yang tampak seperti istana ini kini menjadi tempat tinggal mereka.

Kakek Liam mendesah berat, sebuah desahan yang sarat akan drama. Pria paruh baya itu memegangi dadanya dengan sebelah tangan, memejamkan mata dan berpura-pura menyeka air mata haru yang tak kasat mata. "Benar katamu, Gadis Kecil. Rumah ini terlalu besar, kemewahannya bahkan menggilas gubuk kayu tua milik Kakek hingga terasa seperti kandang yang menyedihkan."

Bara yang berdiri di sisi mereka hanya bisa menggelengkan kepala, menyunggingkan tawa sinis namun dipenuhi rasa lega. "Benar, kan, Kek? Seharusnya dari dulu saja kita angkat kaki dan pindah kemari. Entah iblis apa yang merasuki pikiran Bang Leo sampai ia baru sudi membeli apartemen ini sekarang!" seru Bara dengan nada menggebu-gebu, membayangkan penderitaan masa lalu yang seolah kini telah tersapu bersih.

"Sudahlah, jangan bahas itu! Aku mau mencari kamar kekuasaanku sendiri!" pekik Vellora memecah kecanggungan. Gadis itu langsung membalikkan badan, berlari kecil menuju deretan lift berlapis krom di sudut ruangan.

"Awas kau! Jangan sampai menangis karena tersesat di dalam sana!" teriak Bara memperingatkan, menatap cemas saat Vellora melangkah masuk ke dalam kubus besi itu dan dengan antusias menekan tombol angka tiga.

"Tenang saja, Kak! Nanti aku telepon Kakak buat menyuruh orang-orang itu mengangkut semua barangku ke kamar yang aku mau!" pekik Vellora diiringi senyum kemenangan. Belum sempat Bara merangkai kata balasan, pintu lift itu tertutup rapat, menelan sosok Vellora dari pandangannya dalam sekejap.

Denting halus memecah kesunyian saat lift berhenti tepat di lantai tiga. Pintu bergeser, menyajikan lorong panjang bertembok marmer yang sunyi namun begitu elegan. Insting Vellora langsung menuntun pandangannya pada satu pintu berukir megah di paling ujung lorong—seolah pintu itu berbisik memanggil namanya. Dengan langkah pelan yang dipenuhi debar antisipasi, ia berjalan mendekat. Tangannya yang sedikit bergetar perlahan meraih kenop logam itu. Klik.

Begitu pintu terbuka, embusan napas Vellora tertahan di tenggorokan. Sebuah kamar raksasa dengan perpaduan nuansa biru laut dan putih bersih membentang puitis di hadapannya. Tirai-tirai sutra panjang berkibar pelan diterpa embusan angin dari ventilasi.

"Kamar ini… seolah memang ditakdirkan untukku," gumamnya dengan mata berbinar takjub. Ia melempar tasnya sembarangan ke atas meja rias kaca, lalu menjatuhkan tubuhnya ke pelukan sofa beludru yang menghadap langsung ke arah pintu kaca balkon. Di luar sana, hamparan air kolam renang memantulkan cahaya kebiruan di bawah temaram langit malam, menciptakan pemandangan yang begitu dramatis dan membius pandangan.

Tanpa membuang waktu, jemarinya mengetik cepat di atas layar ponsel. Kak, cepat bawa barang-barangku ke kamar lantai 3, posisi paling ujung! Jangan sampai ada yang lecet!

Sementara itu di lantai bawah, Bara sedang memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Perhatiannya tersita oleh layar tablet; ia tengah bergelut merancang poster lowongan Asisten Rumah Tangga. Apartemen sebesar dan semegah ini mustahil dibiarkan tanpa pengurus, dan Leo telah menjatuhkan titah mutlak yang tak berani ia bantah.

Tepat setelah menekan tombol publikasi, layar ponsel di sakunya menyala terang, membawa pesan baru dari Vellora. Bara mendengus kasar.

Baiklah, dasar gadis tidak sabaran, batinnya menyerah.

Bara memutar tubuhnya, menatap tajam bak elang ke arah barisan pekerja angkut yang sejak tadi berdiri siaga di sudut lobi. "Kalian semua! Tolong angkat dan bawa seluruh barang milik Nona Kecil ke lantai tiga paling ujung!" perintah Bara dengan suara bariton yang menggema penuh wibawa. "Pastikan semuanya aman!"

"Baik, Tuan Bara!" seru para pekerja itu serempak, menundukkan kepala dengan hormat. Bagaikan kawanan prajurit yang baru saja menerima titah panglima tertinggi, mereka langsung bergegas memanggul koper dan tumpukan barang Vellora, berpacu menuju lantai tiga demi memuaskan keinginan sang nona kecil malam itu juga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!