Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 — Undangan Menuju Kehidupan Baru
Suara mesin pembuat kopi terdengar dari sudut dapur Sweet Morning Bakery. Aroma roti yang baru keluar dari oven memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi mentega dan kopi hangat.
Alisha Amanda berdiri di balik meja kerja, merapikan beberapa kotak kue yang akan diserahkan kepada pelanggan. Rambutnya diikat sederhana, sementara celemek berwarna cokelat muda yang dikenakannya sedikit terkena tepung.
Sejak datang bekerja, pikirannya sesekali melayang pada berbagai hal yang harus diselesaikannya.
Pernikahannya semakin dekat.
Namun, hari itu dia tetap menjalankan pekerjaannya seperti biasa. Dia tidak ingin urusan pribadi membuat pekerjaannya terbengkalai.
"Alisha, pesanan meja nomor tiga sudah siap?" tanya salah seorang rekan kerjanya dari dekat etalase.
"Sebentar lagi. Aku sedang menyelesaikan kotaknya."
"Baik. Kalau sudah selesai, tolong antarkan ke depan, ya."
"Iya."
Alisha menyelesaikan pekerjaannya, lalu membawa pesanan itu ke bagian depan.
Setelah kembali ke dapur, dia memeriksa ponselnya. Ada pesan dari Daniel yang masuk beberapa menit sebelumnya.
Daniel memberitahukan bahwa keluarga Adrian ingin bertemu dengannya untuk membicarakan persiapan terakhir sebelum pernikahan.
Alisha membaca pesan tersebut dengan saksama sebelum membalasnya.
Dia menyampaikan bahwa dirinya bisa meluangkan waktu setelah menyelesaikan pekerjaan.
Setelah mengirim balasan, Alisha menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas.
Dia tidak menceritakan pesan itu kepada siapa pun.
Bukan karena tidak mempercayai teman-temannya, melainkan karena dia belum terbiasa membicarakan kehidupan pribadinya, terlebih tentang pernikahan yang terjadi begitu cepat.
Bagi orang lain, pernikahan mungkin merupakan kabar bahagia yang bisa diceritakan kepada siapa saja.
Namun, bagi Alisha, semuanya terasa berbeda.
Dia akan menikah dengan laki-laki yang belum benar-benar dikenalnya.
Laki-laki yang memiliki kehidupan jauh berbeda darinya.
Dan yang paling penting, keputusan itu diambil bukan karena mereka saling mencintai.
Alisha menghela napas kecil, lalu kembali bekerja.
Dia tidak ingin terlalu banyak memikirkan sesuatu yang belum terjadi.
Menjelang siang, Alisha mendapatkan waktu istirahat.
Dia duduk di ruang kecil di belakang dapur sambil membuka bekal sederhana yang dibawanya dari rumah. Belum sempat menyelesaikan makanannya, ponselnya berdering.
Nama rumah sakit muncul di layar.
Alisha segera mengangkat panggilan itu.
"Halo?"
Petugas rumah sakit menghubunginya untuk memberikan informasi mengenai jadwal pemeriksaan ibunya. Alisha mendengarkan dengan saksama, sesekali mencatat hal-hal penting agar tidak lupa.
"Baik, Bu. Terima kasih sudah memberi tahu saya."
Setelah panggilan berakhir, dia memandangi catatan kecil di tangannya.
Ada banyak hal yang harus dipikirkan.
Jadwal kerja, kebutuhan ibunya, dan persiapan pernikahan yang semakin dekat.
Terkadang Alisha merasa lelah karena harus membagi waktunya untuk semuanya. Namun, dia tidak ingin menyerah begitu saja.
Selama masih bisa berusaha, dia akan terus melakukannya.
"Nggak apa-apa?" tanya seorang rekan kerja yang baru masuk ke ruangan.
Alisha segera mengangkat wajah.
"Iya. Tadi dari rumah sakit, cuma mengingatkan jadwal pemeriksaan Ibu."
"Oh, ibumu masih dirawat, ya?"
Alisha mengangguk.
"Iya. Masih harus menjalani perawatan."
"Semoga cepat sembuh, ya."
"Amin. Terima kasih."
Rekan kerjanya kemudian keluar untuk kembali melayani pelanggan.
Alisha menutup kotak bekalnya, lalu kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
Dia belum siap menceritakan semua yang sedang terjadi dalam hidupnya.
Setidaknya, bukan sekarang.
Di tempat lain, Daniel memasuki ruang kerja Adrian Mahendra dengan membawa sebuah map.
Adrian sedang membaca laporan perusahaan ketika asistennya berdiri di depan meja.
"Pak, saya sudah mengatur pertemuan dengan keluarga untuk membahas persiapan terakhir pernikahan."
Adrian tidak langsung mengangkat kepala.
"Kapan?"
"Besok sore, Pak. Nona Alisha akan datang setelah menyelesaikan pekerjaannya."
Adrian berhenti membaca.
"Besok sore saya ada rapat?"
Daniel memeriksa jadwal pada tabletnya.
"Rapat dengan tim pemasaran sudah selesai dijadwalkan untuk pagi hari. Sore hari masih tersedia, tetapi ada beberapa dokumen yang perlu Anda periksa."
"Letakkan dokumennya di meja saya. Saya akan memeriksanya setelah rapat."
"Baik, Pak."
Daniel tidak langsung pergi.
"Ada satu hal lagi. Keluarga Anda ingin memastikan beberapa hal sebelum hari pernikahan."
Adrian menyandarkan punggungnya pada kursi.
"Kalau menyangkut persiapan acara, koordinasikan dengan mereka. Jika ada keputusan yang benar-benar membutuhkan persetujuan saya, baru sampaikan."
"Baik, Pak."
Adrian kembali membuka laporan.
Daniel memahami bahwa atasannya tidak ingin menghabiskan terlalu banyak waktu untuk urusan pernikahan.
Bukan berarti Adrian tidak bertanggung jawab. Dia hanya terbiasa menyerahkan pekerjaan administratif kepada orang yang memang bertugas mengurusnya.
Selama semua berjalan sesuai kesepakatan, Adrian merasa tidak perlu ikut campur dalam setiap detail.
"Daniel."
"Ya, Pak?"
"Pastikan tidak ada dokumen yang tertinggal."
"Tentu, Pak."
"Dan jangan sampai persiapan ini mengganggu jadwal perusahaan."
Daniel mengangguk sebelum meninggalkan ruangan.
Adrian kembali berkonsentrasi pada pekerjaannya.
Di atas meja, map berisi dokumen pernikahan tetap tergeletak di samping beberapa laporan perusahaan.
Namun, perhatiannya kembali tertuju pada angka-angka di layar laptop.
Bagi Adrian, perusahaan masih menjadi tanggung jawab utama yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
Sore harinya, setelah menyelesaikan pekerjaannya, Alisha mengunjungi rumah sakit.
Ratih Amanda sedang beristirahat ketika putrinya masuk ke kamar.
"Bu, Alisha datang."
Ratih membuka mata dan tersenyum kecil.
"Kamu sudah selesai bekerja?"
"Sudah. Tadi agak ramai, jadi aku pulang sedikit terlambat."
Alisha meletakkan tasnya, kemudian memeriksa barang-barang di meja kecil.
Dia memastikan air minum ibunya masih tersedia dan menanyakan apakah ada sesuatu yang dibutuhkan.
Ratih memperhatikan putrinya dengan tatapan lembut.
"Kamu kelihatan lelah, Nak."
"Sedikit, Bu. Tapi tidak apa-apa."
"Kamu tidak perlu memaksakan diri setiap hari."
Alisha duduk di samping ranjang.
"Kalau aku tidak bekerja, siapa yang akan membantu kebutuhan Ibu?"
Ratih terdiam.
Dia tahu putrinya selalu berusaha terlihat kuat, bahkan ketika dirinya sendiri sedang menghadapi banyak persoalan.
"Alisha, Ibu tahu kamu ingin membantu. Tapi jangan sampai kamu melupakan dirimu sendiri."
Alisha tersenyum tipis.
"Aku tidak melupakan diriku, Bu."
Ratih mengusap punggung tangan putrinya.
"Bagaimana dengan persiapan pernikahanmu?"
Pertanyaan itu membuat Alisha sedikit terdiam.
"Masih diurus, Bu. Besok ada pertemuan dengan keluarga Pak Adrian."
"Adrian akan datang?"
"Sepertinya iya."
Ratih mengangguk pelan.
Dia ingin menanyakan lebih banyak hal, tetapi urung melakukannya ketika melihat wajah putrinya.
Alisha sudah cukup banyak memikirkan semuanya.
Ratih tidak ingin menambah beban di pikirannya.
"Kalau begitu, persiapkan dirimu baik-baik. Jangan lupa makan dan istirahat."
"Iya, Bu."
Mereka kemudian berbicara tentang hal-hal sederhana hingga waktu kunjungan hampir berakhir.
Sebelum pulang, Alisha merapikan selimut ibunya dan berpamitan.
"Aku pulang dulu, ya, Bu. Besok aku datang lagi."
Ratih mengangguk.
"Hati-hati di jalan."
Alisha melambaikan tangan kecil sebelum meninggalkan kamar.
Di lorong rumah sakit, dia berhenti sebentar untuk memeriksa ponselnya.
Ada pesan lain dari Daniel yang berisi waktu dan tempat pertemuan keesokan harinya.
Alisha membalas pesan itu, kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Hari-harinya terasa semakin padat.
Namun, dia terus melangkah karena masih banyak hal yang harus diselesaikan.
Keesokan harinya, ruang keluarga kediaman Mahendra dipenuhi beberapa dokumen dan catatan persiapan pernikahan.
Ratna Mahendra duduk bersama Hendrik Mahendra. Sesekali, mereka berdiskusi mengenai hal-hal yang masih perlu dipastikan sebelum acara berlangsung.
Ketika Alisha tiba bersama Daniel, Ratna segera berdiri menyambutnya.
"Alisha, akhirnya kamu datang."
"Selamat sore, Tante Ratna. Selamat sore, Om Hendrik."
Ratna tersenyum hangat.
"Duduklah, Nak. Kamu pasti lelah setelah bekerja."
"Terima kasih, Tante."
Alisha duduk di sofa, berusaha menyembunyikan rasa canggungnya.
Hendrik menyapanya dengan ramah sebelum kembali melihat catatan yang ada di meja.
"Bagaimana pekerjaanmu, Alisha?" tanya Ratna.
"Baik, Tante. Terima kasih."
"Dan bagaimana keadaan ibumu?"
"Masih menjalani perawatan, Tante. Saya berharap kondisinya semakin membaik."
Ratna mengangguk penuh pengertian.
"Semoga semuanya berjalan dengan baik."
"Amin. Terima kasih, Tante."
Setelah berbincang singkat, mereka mulai membahas persiapan pernikahan.
Ratna menjelaskan beberapa hal yang perlu diketahui Alisha, mulai dari jadwal acara hingga pakaian yang akan dikenakannya.
Alisha mendengarkan dengan saksama.
Sesekali, dia mengajukan pertanyaan ketika ada sesuatu yang belum dipahaminya.
Daniel membantu menjelaskan hal-hal teknis yang sebelumnya telah diurusnya.
Adrian baru bergabung beberapa saat kemudian.
Dia datang dengan ponsel di tangan dan ekspresi yang menunjukkan bahwa pikirannya masih dipenuhi pekerjaan.
"Maaf, tadi ada urusan kantor," katanya singkat.
Ratna menatap putranya.
"Kamu selalu punya urusan kantor."
Adrian tidak membalas komentar itu. Dia hanya duduk di kursi yang tersedia.
"Bagian mana yang perlu dibicarakan?"
Ratna menghela napas kecil, tetapi akhirnya kembali menjelaskan persiapan yang belum selesai.
Adrian mendengarkan tanpa banyak komentar.
Ketika dimintai pendapat, dia memberikan jawaban seperlunya. Untuk urusan yang tidak memerlukan keputusan pribadi, dia menyerahkannya kepada Daniel dan keluarganya.
Alisha memperhatikan sikap Adrian dalam diam.
Dia sudah menduga laki-laki itu tidak akan banyak terlibat dalam pembicaraan semacam ini.
Anehnya, Alisha justru merasa sedikit lega.
Dia sendiri tidak ingin pernikahan tersebut menjadi sesuatu yang harus dipikirkan sepanjang hari.
Setelah semua pembahasan selesai, Ratna menatap mereka bergantian.
"Yang terpenting, kalian harus saling menghormati setelah menikah nanti."
Adrian mengangguk.
"Tentu, Ma."
Alisha juga mengangguk sopan.
"Baik, Tante."
Ratna tersenyum, meskipun di dalam hatinya masih ada kekhawatiran yang belum sepenuhnya hilang.
Dia berharap waktu akan membantu Adrian dan Alisha memahami satu sama lain.
Pertemuan itu berakhir tanpa masalah.
Alisha berpamitan kepada keluarga Mahendra sebelum Daniel mengantarnya menuju pintu depan.
"Terima kasih sudah datang, Nona Alisha," ujar Daniel.
"Sama-sama, Pak. Terima kasih juga karena sudah membantu mengurus semuanya."
Daniel mengangguk.
"Saya akan menghubungi Anda jika ada informasi tambahan."
"Baik."
Alisha kemudian meninggalkan kediaman itu.
Sementara itu, Adrian kembali ke ruang kerjanya setelah berpamitan kepada orang tuanya.
Dia masih memiliki beberapa pekerjaan yang belum selesai.
Hari pernikahan semakin dekat, tetapi rutinitasnya belum berubah.
Malam itu, Alisha duduk sendirian di kamarnya.
Di atas meja kecil terdapat beberapa barang yang harus dipersiapkan untuk hari pernikahan. Dia memeriksanya satu per satu agar tidak ada yang tertinggal.
Setelah selesai, Alisha membuka ponselnya dan melihat tanggal yang telah ditandainya beberapa hari lalu.
Hari pernikahannya tinggal menghitung waktu.
Dia menarik napas panjang.
Ada rasa gugup yang tidak bisa dijelaskan, tetapi dia berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Dia tidak tahu bagaimana kehidupan setelah menikah nanti.
Dia juga tidak tahu apakah dirinya dan Adrian akan menjadi dekat atau justru tetap menjalani kehidupan masing-masing.
Namun, dia tidak ingin membuat harapan yang terlalu tinggi.
Dia hanya berharap semuanya berjalan lancar dan ibunya bisa terus mendapatkan perawatan yang dibutuhkan.
Ponselnya bergetar, menampilkan pesan singkat dari Daniel mengenai jadwal persiapan berikutnya.
Alisha membalas seperlunya, kemudian meletakkan ponsel di meja.
Besok masih ada hal-hal yang perlu diselesaikan.
Dia ingin beristirahat agar bisa menjalani semuanya dengan baik.
Di tempat lain, Adrian masih berkutat dengan laporan perusahaan.
Dia baru saja menyelesaikan satu berkas ketika melihat pesan pengingat mengenai jadwal pernikahannya.
Adrian membaca pesan itu sebentar, lalu menutupnya.
Dia tidak melupakan pernikahan tersebut.
Dia hanya tidak ingin membiarkannya mengganggu tanggung jawab yang masih harus diselesaikan.
Bagi Adrian, keputusan sudah dibuat.
Bagi Alisha, keputusan itu juga sudah diambil.
Kini, mereka hanya perlu melangkah menuju hari yang telah ditentukan, meskipun keduanya belum benar-benar memahami kehidupan yang akan menanti setelahnya.