"Aku mengejarmu karena mengira kamu adalah malaikat penyelamatku. Ternyata, kamu hanyalah luka paling berdarah yang sengaja aku pelihara."
Selama dua tahun di SMA Taruna Bakti, Rian Pratama rela menjadi budak cinta demi Keysha Mariela, sang kapten cheerleader. Rian tulus, ia hanya ingin membalas budak kebaikan gadis yang ia kira telah menolongnya di malam ibunya meninggal dunia. Namun, ketulusan Rian dibanting hancur di pesta ulang tahun Keysha. Di depan ratusan mata, Keysha menolaknya mentah-mentah demi Marvel, cowok idaman sekolah, sambil menertawakan kemiskinan Rian.
Di titik terendah saat Rian ingin mengakhiri segalanya, Ziva Zakiyah datang. Cewek genius, manipulatif, dan terkenal 'cegil' (cewek gila) ini membawa satu misi: balas dendam.
Ziva tahu rahasia besar yang disembunyikan Keysha, dan dia siap mengubah Rian yang polos menjadi pangeran berdarah dingin untuk menghancurkan Keysha dan Marvel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 05. Peringatan Marvel, [Revisi]
Bel istirahat pertama berbunyi nyaring. Bagi sebagian besar murid SMA Taruna Bakti, ini adalah waktu untuk mengisi perut.
Namun bagi Keysha, bel ini seperti alarm yang memicu sakit kepala yang sejak tadi ia tahan.
Fisika jam terakhir tadi benar-benar buyar. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Keysha tidak bisa fokus pada papan tulis.
Di barisan meja sebelah kanan, bangku Rian kosong.
Cowok itu mendadak dipanggil ke ruang OSIS tepat setelah jam pelajaran pertama selesai. Biasanya, sesibuk apa pun Rian dengan urusan mading atau OSIS, cowok itu selalu menyempatkan diri mengirim pesan singkat ke ponsel Keysha: “Key, udah makan? Gue titip roti ya?” atau sekadar “Semangat kelasnya, Key.”
Hari ini? Layar ponsel Keysha bersih dari nama Rian. Kosong.
"Key, lo mau ke kantin kagak? Malah ngelamun," tegur Febby, salah satu sahabatnya sesama anak cheerleader, sambil merapikan lipstik di depan cermin kecil.
"Duluan aja, Feb. Gue agak pusing," jawab Keysha, mencoba tersenyum natural.
"Gara-gara drama tadi pagi?" Febby menurunkan cerminnya, matanya berbinar kepo. "Sumpah ya, si Ziva itu kesambet apa semalam? Berani banget dia ngomong gitu ke lo di depan Marvel. Tapi... lo beneran putus kontak sama Rian?"
"Gue gak pernah ada apa-apa ya sama Rian," potong Keysha cepat, nadanya sedikit meninggi akibat gengsi yang terusik.
"Ya iya sih, lo kan jalannya sama Marvel. Tapi tetap aja, ngelihat Rian yang biasanya kayak anak ayam ngikutin lo tiba-tiba digandeng cewek lain... agak aneh aja." Febby mengedikkan bahu. "Yaudah, gue ke kantin duluan ya."
Setelah Febby pergi, kelas menjadi sepi. Keysha menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap keluar jendela. Bohong kalau dia bilang dia tidak terganggu. Dadanya terasa sesak oleh kombinasi rasa bingung dan kesal.
Selama ini, Rian adalah zona nyaman Keysha. Rian adalah cowok yang selalu ada saat Marvel mendadak membatalkan janji demi latihan basket. Rian adalah orang yang menunggunya latihan cheerleader sampai jam enam sore sambil membawakan air mineral dingin. Keysha tahu Rian menyukainya, dan Keysha menikmati perhatian itu tanpa pernah memberi kepastian.
“Barang tiruan,” kata-kata Ziva tadi pagi kembali terngiang di telinga Keysha. Sialan. Kalimat itu menembus tepat ke titik egonya yang paling rapuh. Keysha tahu Marvel egois, tapi Marvel adalah kapten tim basket, cowok populer yang membuat status sosial Keysha di sekolah ini makin solid. Tapi kenapa hari ini, status itu terasa hambar setelah melihat Rian berjalan tegak di samping Ziva?
Keysha meraih ponselnya, membuka ruang obrolan dengan Rian. Jarinya mengetik: Lo beneran sama Ziva?
Ibu jarinya menggantung di atas tombol kirim. Detik berikutnya, dia menghapusnya lagi dengan frustrasi. Gak, gengsi banget gue nanya duluan, batinnya. Dia melempar ponselnya ke dalam tas dengan kasar.
Sementara itu, di koridor belakang dekat laboratorium sosiologi yang sepi, Rian baru saja melangkah keluar dari ruang OSIS.
Tangannya membawa beberapa berkas proposal mading yang harus direvisi. Pikirannya masih melayang memikirkan peringatan Ziva tadi pagi.
Jangan pernah berani jatuh cinta sama gue.
Rian mendengus kecil. "Siapa juga yang mau jatuh cinta sama cewek psikopat kayak dia," gumamnya sendiri.
Namun, langkah Rian mendadak terhenti begitu dia berbelok di koridor persimpangan menuju kantin. Langkahnya tertahan oleh sesosok tubuh tinggi tegap yang sudah berdiri bersandar di dinding, menghalangi jalan.
Marvel.
Cowok itu tidak lagi memakai jaket basketnya. Seragamnya dikeluarkan, dua kancing atasnya terbuka, menampilkan kesan berantakan yang sengaja dibuat untuk mengintimidasi. Tidak ada antek-anteknya di sekitar situ. Marvel sendirian, tapi tatapan matanya jauh lebih tajam daripada tadi pagi.
"Mau ke kantin, Yan?" tanya Marvel, suaranya berat, terdengar santai namun ada ancaman yang jelas di tiap suku katanya.
Rian refleks memeluk berkas di dadanya lebih erat. Instingnya menyuruhnya untuk mundur dan mengambil jalan memutar lewat aula. Namun, ucapan Ziva tadi pagi mendadak terngiang: “Jangan kelihatan kayak pecundang.”
Rian memosisikan dirinya tegak, menatap lurus mata Marvel. "Gue ada urusan. Minggir, Vel."
Marvel tertawa remeh. Dia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Rian bisa mencium bau parfum maskulin cowok itu yang menyengat. Marvel terlalu tinggi, membuat Rian harus sedikit mendongak.
"Bargain lo naik ya sekarang sejak punya peliharaan baru," ucap Marvel, nadanya merendahkan. Dia mengetukkan jarinya ke bahu Rian dengan kasar. "Gue gak peduli drama sampah apa yang lo mainin sama si Ziva tadi pagi. Mau lo pacaran, mau lo guling-guling di lapangan sama dia, I don't give a shit."
"Kalau gak peduli, ngapain lo nungguin gue di sini?" balas Rian, mencoba menahan suaranya agar tidak bergetar.
Mata Marvel menyipit. Rahangnya mengeras, topeng santainya runtuh seketika. Dia mencengkeram kerah seragam Rian dengan satu tangan, menyentaknya hingga punggung Rian membentur loker besi di belakangnya dengan bunyi dentuman yang cukup keras. Berkas proposal di tangan Rian berserakan di lantai.
"Gue di sini cuma mau ngingetin lo soal batasan lo, brengsek," bisik Marvel, tepat di depan wajah Rian. Napasnya memburu menahan emosi yang dipendam sejak pagi. "Keysha. Jangan pernah lo berani pasang muka sok akrab lagi di depan dia. Jangan pernah lo bales chat dia, jangan pernah lo lewat di depan kelasnya."
Rian bisa merasakan detak jantungnya berpacu cepat, adrenalinnya melonjak. Namun, rasa takut yang biasanya mendominasi kini berganti menjadi rasa muak yang teramat sangat. "Keysha bukan barang milik lo, Vel. Kalau dia keganggu, biar dia yang ngomong sendiri ke gue, bukan anjing penjaga nya."
Bugh!
Satu pukulan mentah mendarat di loker tepat di sebelah telinga Rian, menyisakan suara berdenging yang memekakkan tangan Marvel sendiri yang kini memerah. Marvel sengaja melesetkan pukulannya, tapi intimidasi itu terasa nyata.
"Gue gak suka hak milik gue diusik sama tangan kotor kayak lo," desis Marvel, matanya merah karena amarah yang memuncak. "Gue tahu tipe cowok kayak lo, Yan. Lo sengaja manfaatin Ziva biar Keysha cemburu, kan? Biar Keysha ngasih perhatian lagi ke lo setelah semalam gue permaluin?"
Marvel melepaskan cengkeramannya pada kerah Rian dengan sentakan kasar, membuat Rian agak terhuyung. Marvel merapikan seragamnya sendiri, lalu menunjuk dada Rian dengan telunjuknya.
"Gue peringatin lo untuk terakhir kalinya, Rian. Jangan pernah lo injek area gue lagi. Sekali lagi gue lihat lo caper di depan Keysha, atau lo sengaja manfaatin si cewek aneh itu buat mancing Keysha... gue mastiin sisa masa SMA lo bakal berubah jadi neraka yang gak bakal pernah lo lupain. Paham?"
Marvel menatap Rian dengan tatapan menjijikkan, seolah Rian hanyalah serangga yang bisa dia injak kapan saja. Tanpa menunggu jawaban, Marvel berbalik dan berjalan pergi, sengaja menginjak salah satu kertas proposal Rian yang tercecer di lantai dengan sepatu basketnya.
Rian terpaku di tempatnya. Napasnya memburu. Dia melihat kertas-kertasnya yang berantakan, salah satunya kini menyisakan bekas telapak sepatu hitam milik Marvel.
Perlahan, Rian berlutut untuk memunguti kertas-kertas itu satu per satu.
Tangannya gemetar—bukan lagi karena takut, melainkan karena amarah yang begitu pekat hingga membuat dadanya terasa terbakar.
Dia tahu, permainan yang dimulai oleh Ziva ini bukan lagi sekadar sandiwara remaja biasa.
Ini sudah menjadi perang harga diri. Dan sialnya, Rian baru saja menyadari bahwa dia sudah terlanjur melangkah terlalu jauh untuk bisa mundur kembali.
......................
...****************...
Tbc,