NovelToon NovelToon
Cinta Tanpa Syarat.

Cinta Tanpa Syarat.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: atikah@72

sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.

sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.

sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.

sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Maduku Yang Di Nomor Satukan.

Nama perempuan itu Lina.

Sari tahu namanya karena Johan memanggilnya seperti itu. "Lina, tunggu di sini dulu."

Lina itu cantik. Cantik yang berbeda dengan cantiknya perempuan Kolorai. Kulitnya putih bersih, tidak terbakar matahari ladang garam. Rambutnya diwarnai cokelat, diikat kuda. Celana jeansnya masih biru pekat, tidak pudar seperti celana orang desa. Dan bayi yang ia gendong, bayi laki-laki gemuk dengan pipi merah, memakai baju kodok berwarna kuning yang masih baru, lengkap dengan kaos kaki.

Bandingkan dengan Bintang. Bintang hanya dibungkus kain sarung bekas yang sudah robek di ujungnya.

Kerumunan di depan gubuk Sari yang tadinya menghakimi Sari, kini membisu. Mereka mendapat tontonan yang jauh lebih menarik daripada bayi cacat. Suami yang hilang pulang membawa madu.

Pak Paulus, Kepala Desa, yang paling pertama bereaksi. Ia memukul tongkatnya ke tanah.

"Johan! Kau ini dari mana saja! Delapan bulan! Kau tinggalkan istrimu hamil besar! Kau pikir Kolorai ini tempat kau buang sampah?!"

Johan menunduk. Wajahnya yang dulu pandai bicara, sekarang terlihat kaku dan penuh rasa bersalah. Tapi genggaman tangannya pada lengan Lina tidak dilepaskan.

"Pak Paulus, Mama-Mama semua... maafkan saya," kata Johan, suaranya pelan. "Saya... saya tidak hilang. Saya di Waingapu. Saya kerja bangunan. Saya..."

"Kerja bangunan sampai bawa perempuan baru dan anak baru?!" potong Mama Ursi, matanya melot melihat Lina dan bayinya. "Jadi benar kau kawin lagi di sana?!"

Lina yang sedari tadi diam, tiba-tiba maju selangkah. Suaranya manja tapi tajam.

"Maaf ya, saya bukan perempuan simpanan. Saya istri sahnya Johan. Kami sudah nikah siri di Waingapu tiga bulan lalu. Dan ini anak kami, Kevin. Johan bilang di kampungnya tidak ada siapa-siapa lagi. Katanya istrinya sudah meninggal karena sakit!"

Jleb.

Kalimat terakhir Lina itu seperti petir yang menyambar tepat di ubun-ubun Sari.

_Istrinya sudah meninggal._

Di dalam gubuk, Sari yang masih bersandar di dinding bambu dengan tubuh berdarah, mendengar semuanya dengan jelas. Bintang di pelukannya berhenti menangis, seolah ikut mendengarkan betapa kejamnya dunia.

Jadi begitu. Johan tidak hilang. Johan tidak mati di laut. Johan sengaja menghilangkan dirinya. Ia menganggap Sari sudah mati agar ia bisa hidup baru di Waingapu dengan perempuan yang lebih putih, lebih cantik, dan bisa memberinya anak yang sempurna, tidak cacat seperti Bintang.

Air mata Sari sudah tidak keluar lagi. Air matanya sudah kering. Yang tersisa hanya rasa mual yang naik dari perutnya yang masih kosong.

Mama Leni yang berdiri di antara kerumunan, menatap Sari dengan iba. Ia ingin masuk menolong Sari, tapi ia takut pada Pak Paulus dan Mama Ursi.

Sari, dengan sisa tenaga yang entah dari mana, akhirnya menyeret tubuhnya sendiri ke depan pintu gubuk. Ia tidak bisa berdiri, jadi ia duduk di atas tanah becek depan pintunya, dengan Bintang yang masih merah di pelukannya. Darah dari tikarnya masih menetes sedikit di kakinya.

Semua mata tertuju padanya. Pada perempuan pucat yang baru melahirkan sendirian semalam di tengah badai, dengan bayi cacat di pelukannya.

Johan melihat Sari. Untuk pertama kalinya setelah delapan bulan, mata mereka bertemu.

Mata Johan membelalak. Ia kaget melihat kondisi Sari yang begitu menyedihkan. Dan ketika matanya turun melihat bayi yang digendong Sari, melihat kaki Bintang yang bengkok dan tangan yang terkepal, wajah Johan berubah. Dari rasa bersalah, menjadi rasa jijik dan takut.

"Astaga, Sari... itu... itu anakmu?" tanya Johan terbata-bata.

Sari menatap Johan, menatap Lina, menatap bayi Kevin yang gemuk dan sempurna itu, lalu menatap Bintangnya sendiri.

Dan untuk pertama kalinya, Sari tersenyum. Senyum yang paling pahit yang pernah ia buat seumur hidupnya.

"Iya, Johan. Ini anakku," kata Sari, suaranya serak tapi jelas, didengar semua warga. "Anakku sendiri. Bukan anakmu. Anakku lahir tadi malam, saat kau sedang tidur nyenyak dengan istrimu yang baru di Waingapu. Anakku tidak butuh bapak seperti kamu. Anakku hanya butuh Ibu."

"Jangan ngarang kau, Sari!" Johan tiba-tiba panik. "Itu pasti anakku! Tapi kenapa... kenapa cacat begini?! Apa yang kau lakukan selama hamil?! Kau makan apa?!"

Kata-kata Johan itu adalah bensin yang disiram ke api kemarahan warga.

"Lihat! Bapaknya saja tidak mengakui! Karena anak kutukan!" teriak Mama Ursi lagi.

"Anak haram! Pantas cacat!" sahut yang lain.

Lina, istri baru Johan, menutup hidungnya dengan selimut bayi Kevin, seolah cacat Bintang itu menular lewat udara. "Johan, ayo kita pergi dari sini. Bau darah. Aku takut Kevin tertular sial."

Johan tampak ragu. Ia melihat Sari yang duduk di tanah becek, melihat Bintang yang cacat, lalu melihat Lina dan Kevin yang bersih dan sempurna. Pilihannya jelas terlihat di matanya.

Ia berbalik hendak naik ke motornya lagi.

Di detik itulah, Bintang, yang sejak tadi diam, tiba-tiba menangis lagi. Tangisannya kali ini berbeda. Bukan tangisan lapar. Tapi tangisan panjang, melengking, seperti menahan sakit yang luar biasa. Wajah kecilnya yang merah berubah menjadi agak biru. Kakinya yang bengkok itu kejang-kejang.

Sari panik. Ini bukan tangisan biasa.

"Bintang! Bintang! Nak, kenapa kamu?!" Sari mengguncang-guncang tubuh kecil Bintang. Tubuh Bintang panas sekali, padahal tadi malam masih hangat normal.

Mama Leni yang melihat, langsung berlari mendekat, melupakan rasa takutnya. Ia menyentuh dahi Bintang.

"Panasnya tinggi sekali! Sari, dia demam tinggi! Dia butuh dokter! Dia baru lahir, dia tidak boleh demam begini!"

Puskesmas terdekat ada di kecamatan, lima kilometer jalan kaki melewati padang sabana dan tanah becek. Dan tidak ada motor yang mau meminjamkan, karena semua takut pada anak kutukan.

Pak Paulus menggelengkan kepala. "Tidak ada yang boleh bawa anak itu pakai perahu desa. Nanti laut jadi murka."

Sari memeluk Bintang yang semakin kejang dan biru. Ia menatap Johan yang sudah di atas motor, yang hendak pergi meninggalkan dia untuk kedua kalinya.

"JOHAN! TOLONG ANAKMU! DIA BUTUH MOTOR MU! TOLONG!" teriak Sari, kali ini ia benar-benar memohon, membuang semua harga dirinya. Ia berlutut di tanah becek di depan motor Johan.

Johan mematung di atas motor. Kunci motor sudah di tangan. Lina di belakangnya memeluk Kevin erat-erat dan berbisik, "Jangan, Johan. Jangan bawa sial itu ke motor kita. Nanti Kevin ikut sakit."

Semua warga Kolorai diam, menunggu keputusan Johan.

Apakah Johan akan menolong darah dagingnya sendiri yang sedang sekarat karena demam, meskipun cacat?

Atau ia akan tancap gas meninggalkan Sari dan Bintang untuk selamanya, demi menyelamatkan keluarga barunya yang sempurna?

Dan di pelukan Sari, napas Bintang semakin cepat dan kecil.

 

1
Saint, SN
👋🏻👋🏻
atikah@72: makasih kak, sudah mampir di kolorai🙏🙏
total 1 replies
Paulus Waruwu
kak jnagan lupa mampir di akun aku juga ya
atikah@72: iya kak, salam kenal ya, moga kakak sukses selalu🫰
total 1 replies
oding's
haii ka aku mampir nih semangat yaa😍 yuk mampir jga di karya ku xixi
oding's: semangat trs yaa✨
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!