Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.
Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Suara Ombak
Kereta ekonomi itu berangkat pukul lima pagi, dan Bu Rukmini sudah duduk tegak di dekat jendela sejak sebelum peluit dibunyikan.
"Ibu tidak perlu tegang," bisik Andien sambil menyelipkan tas kain berisi bekal di bawah kursi. "Ini cuma kereta."
"Ibu tidak tegang. Ibu waspada." Bu Rukmini memeluk tas kecilnya erat-erat. "Kata Mbok Darmi, di kereta banyak copet."
"Mbok Darmi belum pernah naik kereta."
"Makanya dia tahu banyak."
Andien menahan tawa. Di seberang lorong, tiga bangku di belakang mereka, ia sempat melirik sosok yang duduk sendirian dengan lengan kiri dalam kain gendong. Carlo sengaja memilih gerbong yang sama tetapi bangku yang jauh, seperti janjinya. Ia tidak menoleh sekali pun sejak naik, hanya menatap jendela, seolah pemandangan sawah yang berlari itu hal paling menarik di dunia.
Namun saat kereta berguncang melewati jembatan dan Bu Rukmini hampir terjatuh dari kursinya, tangan Carlo sudah terulur dari belakang, menahan bahu perempuan tua itu dengan sigap, lalu ditarik kembali secepat kilat.
"Terima kasih, Nak," gumam Bu Rukmini tanpa menoleh.
"Sama-sama, Bu."
Hanya itu. Tetapi Andien melihat telinga Carlo memerah, dan ia berpaling cepat ke jendela agar pria itu tak melihatnya tersenyum.
---
Perjalanan memakan waktu hampir sembilan jam. Mereka berganti kereta di sebuah stasiun kecil, naik angkutan desa yang berbau solar dan kelapa, lalu berjalan kaki melewati jalan setapak berpasir di antara pohon-pohon kelapa yang condong.
Bu Rukmini yang pertama kali berhenti.
"Dien. Dengar."
Andien ikut berhenti. Awalnya hanya angin yang menggoyang daun kelapa. Lalu, di bawah suara itu, ada sesuatu yang lain, panjang, dalam, dan berirama, seperti napas raksasa yang tertidur.
Jantungnya berdebar aneh. Ia mempercepat langkah, lalu berlari, sandal jepitnya terbenam di pasir halus. Pohon-pohon kelapa terbuka seperti tirai, dan tiba-tiba, tanpa peringatan, dunia menjadi biru.
Ia berhenti.
Laut membentang di depannya sejauh mata memandang, abu-abu keperakan di bawah langit sore yang mulai berwarna tembaga. Ombak datang bergulung, putih di punggungnya, pecah di pasir dengan desis panjang, lalu mundur dengan bisikan. Di kejauhan, sebuah perahu kecil bergoyang di garis cakrawala seperti titik tinta di atas kertas.
Andien tak bisa berkata apa-apa. Matanya panas, dan sebelum ia sadar, pipinya sudah basah.
"Dien," Bu Rukmini menyusul, terengah, lalu berhenti di sampingnya. Perempuan tua itu menatap laut lama, dan Andien melihat bibir ibunya bergetar. "Ya Allah. Pantas orang bilang..."
"Hati jadi tenang," bisik Andien.
"Bukan tenang." Bu Rukmini menggeleng pelan, air matanya ikut jatuh. "Kecil. Hati jadi kecil. Semua masalah kita ini, kecil sekali di depan ini."
Andien menggenggam tangan ibunya. Mereka berdiri berdampingan di tepi pantai, dua perempuan desa yang belum pernah melihat laut seumur hidup mereka, dan membiarkan ombak menyentuh ujung kaki.
Di kejauhan, di bawah naungan pohon waru di ujung pantai, Carlo berdiri dengan tangan di saku, sengaja menjaga jarak. Ia tidak mendekat. Ia hanya menonton dua perempuan itu tertawa dan menangis sekaligus, dan di wajahnya ada ekspresi yang tak bisa dibaca siapa pun, mungkin kebahagiaan, mungkin penyesalan, mungkin keduanya.
---
Malam itu mereka menginap di sebuah penginapan sederhana milik seorang nelayan tua bernama Pak Jamal, tiga kamar kayu berhadapan dengan halaman pasir. Carlo mengambil kamar paling ujung, jauh dari kamar Andien dan ibunya, dan tak muncul untuk makan malam. Pak Jamal menyajikan ikan bakar dan sambal dabu-dabu yang pedasnya membuat Bu Rukmini berkeringat dan memuji berkali-kali.
"Pria yang bersama kalian itu suami salah satu dari kalian?" tanya Pak Jamal ramah sambil menuang teh.
Andien tersedak. "Bukan, Pak. Dia... teman."
"Teman." Pak Jamal mengangguk dengan senyum penuh pengertian, tipe senyum orang tua yang sudah lihat banyak hal. "Teman yang bawa dua perempuan jauh-jauh naik kereta ekonomi, dan sendiri tidur di kamar paling pengap. Teman yang baik."
Bu Rukmini menyembunyikan tawa di balik gelas.
Selepas makan, Andien duduk sendiri di undakan teras. Bulan separuh menggantung di atas laut, dan ombak di kejauhan terdengar seperti seseorang yang mengulang kata yang sama berkali-kali. Ponsel hitam di sakunya bergetar.
Laras. Bukan pesan, tetapi panggilan.
"Bu Laras?"
"Maaf mengganggu malam-malam." Suara Laras terdengar lebih ringan dari yang Andien ingat, dengan nada yang belum pernah ia dengar, seolah beban yang lama tertahan akhirnya sedikit diturunkan. "Carlo bilang kamu pergi ke pantai. Aku ingin dengar suaramu sebentar. Bagaimana lautnya?"
"Besar, Bu." Andien tersenyum di tengah gelap. "Lebih besar dari yang saya bayangkan. Ibu saya sampai menangis."
"Dan kamu?"
"Saya juga."
Tawa pelan di ujung sana, hangat dan tulus. "Bagus. Orang yang melihat laut pertama kali tanpa menangis biasanya sedang menyembunyikan sesuatu."
Hening sebentar. Lalu nada Laras berubah, pelan dan hati-hati.
"Andien, aku ingin kamu mendengar ini dariku, bukan dari orang lain. Pagi ini aku sudah memutuskan."
Andien menahan napas. "Tentang Mas Carlo?"
"Aku sudah menandatangani surat gugatan cerai. Besok pengacaraku mengajukannya."
Ombak pecah di kejauhan. Andien tidak langsung menjawab, sebab di dalam dadanya ada dua perasaan yang bertabrakan: sesuatu yang lega, dan sesuatu yang bersalah, dan ia tak tahu mana yang lebih jujur.
"Ini karena saya, Bu?"
"Bukan." Jawaban Laras datang cepat dan tegas. "Dengar baik-baik, Andien. Ini bukan karena kamu, dan bukan karena kemarahan. Aku sudah marah dua minggu. Marah itu melelahkan, tapi bukan alasan untuk mengakhiri sesuatu." Ia menarik napas. "Aku memutuskan ini karena aku sadar bahwa dua tahun terakhir, aku menikah dengan seorang pria yang tidak percaya padaku. Dan aku tidak mau menghabiskan sisa hidupku membuktikan bahwa aku layak dipercaya. Itu bukan tugas istri. Itu tugas orang yang mencintai."
"Mas Carlo mencintai Ibu."
"Mungkin. Dengan caranya yang rusak." Suara Laras melunak. "Tapi cinta tanpa kepercayaan hanya pendampingan yang menyakitkan. Aku ingin lebih dari itu, untuk diriku sendiri."
Andien menggenggam ponsel erat. "Saya... ikut sedih, Bu."
"Jangan. Aku tidak sedih. Aku lega, dan aku sedikit takut, dan aku sedikit bangga. Semuanya bercampur." Laras tertawa kecil. "Itu pertanda yang baik, kata dokter-dokter di bangsal jiwa. Orang yang perasaannya campur aduk biasanya sedang sembuh."
Andien tertawa pelan di antara air matanya.
"Ada satu hal lagi," lanjut Laras. "Rumah di Menteng."
"Rumah ayah Mas Carlo?"
"Carlo sudah menandatangani surat pelimpahan hak pakai untuk lima tahun ke depan, atas permintaanku. Aku tidak mau menjualnya, dan aku tidak mau membiarkannya kosong menyimpan hantu." Suara Laras menjadi cepat dan bersemangat, seperti orang yang sudah lama menyimpan gagasan. "Aku ingin mengubahnya menjadi rumah singgah. Untuk keluarga pasien dari desa-desa yang datang menemani anggota keluarga berobat di rumah sakit kota, tapi tidak punya uang untuk menginap, tidak punya tempat makan, tidak punya siapa-siapa. Seperti ibumu dulu, Andien. Yang harus menumpang tidur di lantai rumah sakit."
Andien membeku.
"Rumah itu punya dapur besar, ruang makan panjang, dan halaman belakang yang luas," lanjut Laras. "Aku butuh seseorang yang tahu bagaimana membuat orang desa merasa pulang. Seseorang yang bisa memasak untuk dua puluh orang tanpa kehilangan kehangatan. Seseorang yang tahu rasanya jadi keluarga pasien."
"Bu..."
"Aku tidak memaksamu, Andien. Aku hanya menawarkan. Kamu bilang ingin punya warung. Aku tidak bisa memberimu warung, tapi aku bisa memberimu dapur, dengan gaji layak, dengan namamu sendiri di pintu, bukan sebagai rahasia siapa pun."
Andien menutup mulut dengan tangannya. Air matanya mengalir deras, dan ia tidak mencoba menahannya.
"Saya... saya tidak tahu harus bilang apa, Bu."
"Tidak perlu bilang apa-apa malam ini. Dengarkan ombak. Pikirkan besok." Laras terdiam sebentar. "Dan Andien, soal Carlo. Aku tidak akan mengatakan apa yang harus kamu lakukan. Itu urusanmu. Tapi aku hanya mau kamu tahu, apa pun yang kamu putuskan, aku tidak akan menjadi musuhmu."
Sambungan terputus, menyisakan bisikan ombak.
---
Andien tidak tidur malam itu. Ia duduk lama di teras, menatap garis putih ombak di bawah bulan, sampai tiba-tiba menyadari ada sosok yang berdiri di kejauhan, di tepi air, seorang diri.
Carlo.
Ia berdiri dengan celana digulung hingga lutut, lengan kiri tergantung di kain gendong, menatap laut dengan postur orang yang sedang berbicara dalam hati. Cahaya bulan menyapu bahunya yang lelah.
Andien menatapnya lama. Lalu perlahan ia berdiri, melepas sandal, dan berjalan menuruni undakan menuju pantai.
Pasir malam hari dingin dan lembap di telapak kakinya. Ketika ia berhenti dua langkah di samping Carlo, pria itu tak menoleh, tetapi bahunya menegang, seolah menyadari kehadirannya.
"Mas belum tidur."
"Tidak bisa." Carlo masih menatap laut. "Aku tidak pernah melihat ini dari dekat sebelumnya. Maksudku, benar-benar melihat. Aku punya rumah di tepi pantai selama sepuluh tahun dan tidak pernah sekali pun berdiri di sini."
"Laut tetap sama, Mas."
"Tidak." Carlo tersenyum tipis. "Yang berubah aku. Atau mungkin orang yang berdiri di sebelahku."
Andien tak membalas. Ia memandang ombak yang datang dan pergi, dan setelah beberapa lama, ia berkata pelan.
"Bu Laras menelepon."
Carlo terdiam. Rahangnya bergerak. "Dia sudah memutuskan?"
"Iya."
"Aku tahu." Suara Carlo datar, tetapi terbawa angin dengan getar yang halus. "Dia memberitahuku pagi ini, sebelum surat itu ditandatangani. Dia sopan sekali. Dia bilang aku boleh membaca drafnya dulu."
"Mas menandatangani?"
"Aku tidak akan menghalangi apa pun yang dia putuskan." Carlo akhirnya menoleh. Mata mereka bertemu di bawah cahaya bulan, dan Andien melihat sesuatu di sana yang belum pernah ia lihat sebelumnya: bukan rasa memiliki, bukan permohonan, hanya kejujuran yang telanjang. "Dien, aku tahu kamu bilang tidak boleh bicara soal masa depan. Aku akan menuruti. Tapi aku hanya ingin kamu tahu satu hal."
"Apa, Mas?"
"Aku tidak mengambil keputusan itu sebagai cara untuk memilihmu." Ia menarik napas. "Laras berhak mengakhiri apa yang dia mau. Dan kamu berhak memutuskan apa yang kamu mau, sekarang, besok, atau sepuluh tahun lagi, tanpa ada yang menunggu di ujung jalan dengan tiket kereta."
Andien menatapnya lama. Lalu, pelan-pelan, ia tersenyum, senyum kecil yang tak sepenuhnya manis, tak sepenuhnya getir, tetapi jujur.
"Mas mulai belajar."
"Aku punya guru yang baik."
Ombak datang, menyentuh ujung kaki mereka berdua, lalu mundur lagi membawa pasir di bawah telapak kaki. Andien menunduk, memandangi air yang berbusa di antara jari-jari kakinya.
"Besok pagi," katanya akhirnya, "Mas boleh bicara."
Carlo menoleh cepat. "Soal apa?"
"Soal apa saja yang Mas mau." Andien menatap lurus ke depan, pada garis cakrawala yang mulai memucat. "Tapi malam ini, hanya laut."
Dan mereka berdiri berdampingan di tepi pantai, tidak bersentuhan, tidak berbicara, hanya dua orang yang akhirnya belajar bagaimana diam dengan jujur, sementara ombak terus mengulang kata yang sama, kata yang akhirnya Andien mengerti artinya.
*Pulang.*
---
*Bersambung ke Bab 16...*
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya