NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kera Putih

Kebangkitan Kera Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika langit di atas pinggiran Kekaisaran Yanling tiba-tiba terkoyak oleh invasi mendadak monster binatang, ilusi kedamaian hancur dalam semalam. Di tengah kepanikan para kultivator muda elit yang formasinya porak-poranda, Lin Juan—seorang yatim piatu bermarga Lin yang selalu dicaci karena Jiwa Rohnya yang cacat—menjadi satu-satunya yang menolak mundur. Tanpa pancaran energi spiritual yang mewah, ia mengandalkan insting murni dan tubuh yang ditempa penderitaan untuk bertahan hidup. Di tengah genangan darah dan keputusasaan, sebuah jiwa purba yang tertidur di kedalaman nadinya, Roh Kera Putih yang legendaris, akhirnya membuka mata, merespons panggilan kematian dengan raungan yang mengguncang surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KOMANDAN BERMATA SATU

Pintu kayu barak buangan tertutup dengan derit menyayat, memutus laju angin beku dari luar, tetapi sama sekali tidak mengusir hawa dingin yang merayap dari lantai tanah. Ruangan memanjang itu hanya diterangi dua lampu minyak yang meredup di sudut-sudutnya. Dipan-dipan kayu berjejer merapat, beralaskan jerami yang sudah menghitam oleh jamur dan noda darah kusam dari para penghuni sebelumnya.

Shi Tou melangkah lebih dulu, membersihkan dipan yang berada paling jauh dari pintu dan paling dekat dengan perapian batu yang sudah lama mati.

"Kau tidur di sini saja," Kata Shi Tou seraya menepuk jerami yang baru saja ia rapikan, menatap Lin Yuan dengan rasa segan yang kental.

"Tidak perlu," Balas Lin Yuan dengan suara tenang.

Lin Yuan berjalan ke arah dipan yang berada tepat di sebelah pintu masuk—tempat paling dingin dan paling berisiko jika ada serangan mendadak. Ia meletakkan pedang pendek rampasannya di bawah bantal jerami, lalu duduk bersila.

Shi Tou dan tiga tahanan lainnya saling pandang, namun tak ada yang berani membantah. Mereka segera mencari tempat masing-masing, meringkuk kedinginan di atas dipan kayu yang keras. Hening menyelimuti barak itu, hanya diselingi oleh suara gigi yang gemelutuk menahan hawa beku perbatasan.

Lin Yuan membuka kantong kain kecil dari Paman Gu. Ia mengeluarkan botol kayu berisi minyak gosok keras, lalu membuka bebat linen di dadanya. Tiga luka cakar Serigala Besi itu sudah mulai menutup berkat aliran energi Kera Putih, tetapi daging di sekitarnya masih membengkak merah.

Ia menuangkan cairan kental berbau menyengat itu ke telapak tangannya, lalu mengusapkannya perlahan ke atas lukanya. Rasa panas yang menggigit langsung meresap ke dalam pori-pori, membakar ototnya sesaat sebelum meninggalkan kehangatan yang nyaman.

Bau minyak gosok ini mengingatkannya pada gudang tua Paman Gu, pada satu-satunya orang di Kota Pinggiran yang memperlakukannya selayaknya manusia. Lin Yuan memejamkan mata, membiarkan kehangatan minyak itu menyatu dengan pusaran aura di lautan jiwanya. Ia butuh istirahat. Di tempat seperti ini, otot yang lelah adalah undangan terbuka bagi kematian.

Namun, istirahat di Benteng Tembok Besi hanyalah sebuah kemewahan yang langka.

BAM!

Belum genap dua jam Lin Yuan memejamkan mata, pintu barak ditendang dari luar hingga engselnya nyaris lepas. Hembusan angin malam yang membawa kristal es menerobos masuk, memadamkan lampu minyak di sudut ruangan.

"Bangun, para babi! Keluar ke lapangan sekarang!" Teriak seorang perwira piket sambil memukulkan sarung pedangnya ke tiang kayu.

Para tahanan terlonjak kaget. Shi Tou mengumpat pelan sambil memegangi lengannya yang terluka. Mereka digiring keluar dengan kasar, dipaksa berbaris di tengah lapangan tanah yang lumpurnya kini telah membeku menjadi lapisan es yang licin. Langit masih gelap gulita, udara dingin menusuk hingga ke sumsum tulang.

Di tengah lapangan, puluhan prajurit veteran berdiri memegang obor yang menyala terang, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas lumpur berdarah.

Terdengar derap langkah kaki sepatu bot besi yang berat menghantam tanah.

Dari balik bayangan barak utama, sesosok pria bertubuh raksasa melangkah pelan menuju barisan para tahanan. Pria itu mengenakan zirah pelat hitam yang dipenuhi lekukan bekas hantaman senjata tajam. Di punggungnya, melintang sebilah pedang besar pemotong kuda yang tampak terlalu berat untuk diayunkan oleh manusia biasa.

Namun, yang paling menonjol dari pria itu adalah wajahnya. Sebuah bekas luka cakaran vertikal yang mengerikan membelah sisi kiri wajahnya, menghancurkan mata kirinya dan meninggalkan rongga kosong yang tertutup penutup kulit hitam. Hanya mata kanannya yang tersisa, menatap tajam bagai mata pemangsa yang sedang mengukur ketebalan daging buruannya.

"Komandan Zhao tiba!" Teriak perwira piket memberi hormat dengan suara lantang.

Komandan Zhao berhenti di depan barisan. Hawa keberadaannya begitu pekat, memancarkan tekanan spiritual yang membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat. Lin Yuan langsung menyadari aura itu—itu adalah tekanan dari Roh Jiwa Beruang Besi yang sudah mencapai tahap kematangan tinggi.

"Tiga puluh tahanan baru," Ucap Komandan Zhao dengan suara serak yang berat, menggesek udara dingin seperti batu asah. "Kudengar kereta kalian diserang Burung Bangkai di Ngarai Gagak, dan dua pengawalku mati."

Komandan bermata satu itu berjalan perlahan menyusuri barisan, menatap satu per satu wajah para tahanan yang pucat pasi dan menggigil.

"Sebagian dari kalian adalah perampok. Sebagian lagi pembunuh, pemerkosa, atau pecundang klan yang dibuang karena tidak berguna," Kata Komandan Zhao datar tanpa nada mengejek, seolah hanya menyebutkan fakta alam. "Di luar tembok sana, jutaan monster sedang kelaparan. Mereka tidak peduli kalian ini mantan bangsawan atau penjahat jalanan. Di mata mereka, kalian semua rasanya sama."

Komandan Zhao berhenti tepat di depan Shi Tou. Tubuh besar Shi Tou gemetar hebat menahan tekanan aura yang sengaja dipancarkan oleh sang Komandan.

"Kau takut, Nak?" Tanya Komandan Zhao menunduk menatap Shi Tou.

"T-tidak, Komandan!" Jawab Shi Tou terbata-bata, keringat dingin mengucur di pelipisnya.

"Kau berbohong. Bau kencingmu tercium sampai ke hidungku," Balas Komandan Zhao dingin.

Ia membalikkan badannya, menatap seluruh barisan dengan mata tunggalnya yang menyala di bawah cahaya obor.

"Takut itu bagus! Takut membuat kalian tetap waspada! Tapi kalau ketakutan itu membuat kaki kalian berhenti melangkah saat terompet perang berbunyi, aku sendiri yang akan memenggal kepala kalian sebelum monster-monster itu sempat menggigitnya!" Bentak Komandan Zhao hingga suaranya bergema menabrak dinding-dinding barak.

Hening mencekam menyergap lapangan. Beberapa tahanan bahkan menahan napas mereka.

Komandan Zhao kembali melangkah, dan kali ini, langkahnya terhenti tepat di hadapan Lin Yuan.

Mata tunggal Komandan Zhao memicing. Ia mengamati pakaian Lin Yuan yang robek, luka-luka mengerikan di dadanya yang mulai mengering, dan sebilah pedang pendek rampasan yang terselip rapi di pinggang pemuda itu.

"Tidak ada rantai, dan kau membawa senjata pengawal militer," Ucap Komandan Zhao menyilangkan lengan besarnya di dada. "Kudengar dari sisa pengawal, seorang pemuda klan mematahkan belenggunya sendiri dan membunuh Burung Bangkai dengan tangan kosong. Kau orangnya?"

"Ya," Jawab Lin Yuan menatap lurus ke dalam mata tunggal Komandan Zhao.

"Kau tidak menundukkan kepalamu saat bicara denganku," Desis Komandan Zhao merendahkan nada suaranya.

"Aku menunduk hanya untuk melihat jalan agar tidak tersandung, Komandan," Balas Lin Yuan datar.

Beberapa veteran yang memegang obor saling pandang. Mereka sudah sering melihat tahanan yang mencoba bersikap sok jagoan di hari pertama, dan biasanya tahanan seperti itu akan menangis darah di bawah tekanan spiritual Komandan Zhao.

"Bicara memang murah," Ucap Komandan Zhao.

Tanpa peringatan, Komandan Zhao melepaskan tekanan spiritual murni dari Roh Jiwa Beruang Besi miliknya, memusatkan seluruh beban itu langsung ke pundak Lin Yuan. Gelombang udara di sekitar mereka bergetar. Tanah berlumpur beku di bawah kaki Lin Yuan retak mengeluarkan suara gemeletuk.

Shi Tou dan dua tahanan di samping Lin Yuan langsung jatuh berlutut, napas mereka tercekik seolah ada batu seberat ratusan ton yang menekan paru-paru mereka.

Lin Yuan tidak jatuh.

Rasa sakit menghantam persendian lututnya. Tulang rusuknya yang baru saja pulih terasa seperti hendak remuk kembali. Namun, di saat tekanan luar itu mencoba memaksanya berlutut, lautan jiwanya merespons dengan insting perlawanan yang absolut.

Kera Putih di dalam dadanya tidak mengamuk, melainkan membuka mata emasnya dan mengembuskan aura hangat yang sangat padat, membalut tulang belakang Lin Yuan seperti pilar baja.

Lin Yuan tetap berdiri tegak. Otot lehernya menegang, dan setitik darah menetes dari sudut bibirnya akibat tekanan internal, tetapi tatapan matanya ke arah Komandan Zhao sama sekali tidak bergeser, tidak meredup, dan tidak menipis. Ada keliaran purba yang tersembunyi di balik ketenangan mata hitam itu.

Komandan Zhao terdiam. Mata tunggalnya mengamati reaksi Lin Yuan dengan seksama. Selama belasan tahun merekrut ribuan prajurit buangan, ia baru kali ini melihat seorang pemuda tanpa tingkat kultivasi *qi* yang tinggi mampu menahan tekanan Beruang Besinya murni menggunakan tekad dan ketahanan tulang.

Perlahan, Komandan Zhao menarik kembali aura spiritualnya.

Suasana di sekitar mereka kembali normal. Shi Tou dan para tahanan yang jatuh berlutut terbatuk-batuk hebat, menghirup udara rakus.

Lin Yuan mengusap tetesan darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu kembali bernapas dengan ritme yang teratur, seolah tidak terjadi apa-apa.

"Bukan sekadar bualan," Gumam Komandan Zhao, senyum tipis yang amat mengerikan terbentuk di wajahnya yang penuh bekas luka. "Kau punya mata prajurit yang sudah terlalu lama bergaul dengan maut. Siapa namamu, Bocah?"

"Lin Yuan," Jawab Lin Yuan pendek.

Komandan Zhao mengangguk pelan, lalu berbalik menghadap perwira piket di sebelahnya.

"Catat namanya. Masukkan dia ke Unit Sembilan," Perintah Komandan Zhao dengan suara menggema.

Bisik-bisik kaget langsung merebak di antara para prajurit veteran pemegang obor. Bahkan perwira piket itu sempat ragu sejenak sebelum menulis di atas perkamennya. Unit 9 bukanlah unit biasa. Di Benteng Tembok Besi, unit itu dikenal sebagai skuadron bunuh diri—barisan paling depan yang bertugas memeriksa jebakan monster dan memancing musuh. Tingkat kematian di unit itu mencapai tujuh puluh persen dalam setiap misinya.

"Unit Sembilan," Ucap Komandan Zhao kembali menatap Lin Yuan dengan pandangan menilai. "Mereka kekurangan orang setelah patroli minggu lalu. Kau akan ditempatkan di garis paling depan, berhadapan langsung dengan napas para monster. Bertahan hiduplah, atau jadilah tumpukan tulang besok malam."

Lin Yuan tidak memucat atau memprotes. Ia hanya mengangguk pelan, senyum tipis yang amat dingin terukir di sudut bibirnya.

"Tempat yang sempurna," Balas Lin Yuan dengan suara membumi.

Komandan Zhao tertawa serak, tawa yang terdengar seperti gesekan lempeng besi. Ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan lapangan, membiarkan para perwira membagi sisa tahanan lainnya.

Di bawah cahaya obor yang bergoyang tertiup angin malam, Lin Yuan memutar langkahnya mengikuti arahan perwira piket menuju barak ujung timur. Dadanya bergetar halus. Ia tahu, di dalam Unit 9 nanti, taring Kera Putih yang selama ini tersembunyi akhirnya akan benar-benar dilepaskan.

1
Nurita Saf
biasanya naga
Fery Oktavian: karena ini tidak sama dengan novel biasanya 🤣
total 1 replies
Cukstaw
🔥🤙🏻
Fery Oktavian
🔥
Iskandar Muda
mantap
Fery Oktavian: semoga suka dengan ceritanya 👍🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!