Pernikahan impian yang dibayangkan Naya berubah menjadi takdir nekad saat ia terpaksa naik ke pelaminan, menggantikan sang kakak yang kabur tepat sehari sebelum akad. demi menyelamatkan kehormatan keluarganya, Naya pasrah mengikat janji suci dengan pria asing yang bahkan tak pernah ia bayangkan.
Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat tirai malam pertama tersingkap. Pria yang kini sah menjadi suaminya adalah Raka Mahendra—CEO dingin dan arogan yang pernah memanjatkan penderitaan di hidup Naya dengan memecatnya secara sesepihak di depan umum. Pernikahan atas dasar kesepakatan enam bulan pun dimulai dengan kebencian yang masih membakar dada.
Di tengah perang dingin satu atap, benteng pertahanan Raka perlahan runtuh. Sikap ketusnya berganti perhatian samar yang membuat hati Naya berdesir.
Bagaimana keseruan rumah tangga instan yang mereka jalani ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fikafiky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insiden Dapur
Jam dinding di ruang tamu penthouse mewah itu menunjukkan pukul sembilan malam. Malam telah larut, memancarkan pemandangan gemerlap lampu kota Jakarta dari balik jendela kaca raksasa. Namun, suasana di dalam penthouse justru diwarnai oleh aura perang dingin yang berkepanjangan.
Naya melangkah keluar dari kamarnya dengan langkah kaki sengaja dihentak-hentakkan ke lantai. Setelah seharian penuh " disiksa" di kantor, dipaksa duduk di sudut ruangan Raka, diperiksa setiap gerak-geriknya, dan dilarang menyentuh Nasi Padang pemberian Aris, rasa jengkel di dada Naya belum juga menguap. Ditambah lagi, perutnya kini menyuarakan protes keras.
Suara keroncongan yang nyaring terdengar di dalam sunyinya penthouse.
Steak Prancis mahal yang dibelikan Raka tadi siang di kantor sama sekali tidak menyentuh selera makannya karena rasa emosi yang membumbung tinggi.
Akibatnya, saat ini cacing-cacing di perut Naya menuntut hak mereka untuk diisi.
Saat melintasi area dapur bersih yang berdesain minimalis modern dengan dominasi warna hitam dan marmer putih, Naya melihat sosok Raka sedang berdiri di depan mesin pembuat kopi.
Pria itu sudah melepas jas mewahnya, hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga ke siku dan dua kancing atas yang terbuka. Rambut hitamnya yang biasa tertata rapi kini sedikit berantakan, memberikan kesan tampan yang alami sekaligus berbahaya.
Raka melirik Naya dari sudut matanya, lalu kembali fokus pada cangkir kopinya. "Kenapa malam-malam berkeliaran? Suara langkah kakimu mengganggu konsentrasiku membaca berkas."
Naya memutar matanya malas, mengabaikan sindiran itu seraya membuka pintu lemari pendingin berukuran ganda di depannya. "Saya lapar, Pak Raka yang teramat peka. Ini rumah, maksud saya, apartemen Anda, tapi kenapa isi kulkasnya cuma ada air mineral, soda, dan beberapa kemasan mentega?!"
"Aku tidak pernah makan di rumah," jawab Raka datar seraya menyesap kopi hitamnya yang mengepulkan asap tipis. "Ada koki pribadi yang memasak jika aku minta, atau aku membeli makanan di luar. Aku tidak butuh bahan makanan tak berguna yang membusuk di dalam kulkas."
Naya mendengus kasar. "Bahan makanan disebut tak berguna? Dasar manusia tidak tahu syukur. Orang kaya memang beda."
Naya menggeledah lemari penyimpanan di bagian atas. Keberuntungan tampaknya masih berpihak padanya. Di pojok paling dalam, ia menemukan beberapa kemasan mi instan, sebotol bumbu kaldu, bawang putih, telur, dan sekantung kecil garam yang mungkin ditinggal oleh koki pribadi Raka.
"Aha!" Naya memungut bahan-bahan sederhana itu dengan gembira, seolah baru saja menemukan harta karun di dalam gua.
Raka memperhatikan gerakan Naya dengan sebelah alis terangkat tinggi. Ada nada jijik dan keheranan di matanya saat melihat bungkusan mi instan di tangan Naya. "Kamu mau makan sampah berkimia itu malam-malam begini?"
Naya memutar tubuhnya, menatap Raka dengan pandangan penuh kemenangan. "Ini bukan sampah, Pak CEO yang terhormat. Ini adalah makanan penyelamat nyawa jutaan rakyat jelata saat lapar menyerang di tengah malam. Anda yang lidahnya cuma pernah kena daging impor tidak akan pernah paham nikmatnya mi rebus pakai telur di saat lapar!"
"Jelas aku tidak paham dan tidak sudi paham," cibir Raka seraya bersedekap dada, menyandarkan pinggulnya ke konter dapur yang dingin. "Aromanya menyengat dan mengotori dapur bersihku."
"Kalau begitu, silakan tutup hidung Anda dan masuk ke kamar!" balas Naya tak mau kalah.
Naya mulai menyalakan kompor induksi canggih yang berada di konter dapur. Ia mengisi panci kecil dengan air, lalu memotong bawang putih dengan gerakan lihai. Walaupun Naya bukan seorang koki profesional, bertahun-tahun hidup sederhana dan merawat ayahnya membuat
ia sangat mahir mengolah makanan dapur.
Aroma tumisan bawang putih dan kuah mi rebus yang gurih perlahan menguar, memenuhi seluruh area dapur dan ruang tamu. Kaldu ayam yang mengepul segar bercampur dengan kocokan telur dan cabai rawit potongan tipis-tipis.
Raka, yang tadinya berniat pergi meninggalkan dapur demi menjaga gengsinya, mendadak menghentikan langkah kakinya. Entah kenapa, hidungnya secara tidak sadar merespons aroma tajam dan gurih itu. Perut Raka yang sebenarnya juga hanya terisi sedikit makanan saat makan siang tadi, tiba-tiba berbunyi pelan, sebuah suara keroncongan yang sangat tidak bermartabat untuk seorang CEO Mahendra Group.
Kruuuk...
Naya yang sedang mengaduk kuah mi di panci mendadak menghentikan tangannya. Ia memutar kepala pelan-pelan, menatap Raka dengan tatapan tak percaya, lalu sebuah senyuman jahil bercampur mengejek terbit di wajah cantiknya.
"Suara apa itu tadi?" goda Naya dengan nada suara yang dibuat-buat heran. "Apakah ada cacing raksasa yang baru saja berteriak dari dalam perut Pak CEO yang agung?"
Wajah Raka seketika menegang. Rona merah tipis yang sangat langka muncul di sekitar telinganya. Pria itu berdehem keras, berusaha membetulkan posisi kemejanya demi menutupi rasa malu yang luar biasa.
"Itu... suara sistem pendingin udara yang bermasalah," kilih Raka dingin dengan wajah seserius mungkin.
Naya menyemburkan tawanya. "Sistem pendingin udara? Lucu sekali! Mengakui kalau lapar saja gengsinya setinggi langit! Bilang saja kalau Anda juga tergiur aroma makanan sampah ini!"
Raka menyipitkan matanya tajam. "Jangan sembarangan bicara! Mana mungkin aku tergiur makanan murahan seperti itu!"
Naya tidak membalas lagi dengan kata-kata. Ia meraih dua buah mangkuk keramik putih dari dalam rak. Dengan gaya dramatis seperti koki bintang lima, Naya membagi mi rebus beralur pedas itu ke dalam dua mangkuk. Satu mangkuk besar penuh dengan kuah tebal dan telur, sedangkan mangkuk lainnya diisi sedikit lebih banyak kuah.
Tanpa meminta izin, Naya mendorong satu mangkuk mi panas itu ke hadapan Raka yang masih berdiri kaku di tepi konter.
"Makan saja," kata Naya seraya mengambil sendok dan sumpit. "Saya tidak mau dituduh sebagai istri jahat yang membiarkan suaminya mati kelaparan di rumah mewah ini. Lagipula, makan sendiri itu tidak enak."
Raka menatap mangkuk berisi mi rebus yang mengepulkan asap harum di hadapannya. Kilatan rasa lapar di matanya beradu sengit dengan gengsinya yang setinggi gunung. Pria itu menyilangkan tangannya di dada, menatap Naya dengan pandangan curiga.
"Kamu tidak menaruh racun di dalam sini, kan?" tanya Raka sinis.
Naya menghela napas berat, menepuk dahi dengan telapak tangannya. "Pak Raka ... kalau saya mau meracuni Anda, saya bakal pakai racun yang tidak berbau, bukan mi instan lezat ini! Cepat makan sebelum dingin! Kalau tidak mau, saya habiskan dua-duanya!"
Melihat Naya yang sudah mulai menyantap mi di mangkuknya sendiri dengan sangat lahap dan tampak begitu menikmati setiap gigitannya, pertahanan Raka akhirnya runtuh sepenuhnya.
Dengan gerakan yang terkesan terpaksa dan penuh kehati-hatian, Raka menarik mangkuk itu mendekat. Ia mengambil sumpit, memutar sedikit untaian mi hangat tersebut, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Naya diam-diam menghentikan kunyahannya, memperhatikan reaksi Raka dari sudut matanya dengan penuh rasa penasaran.