NovelToon NovelToon
TIRAKAT 6

TIRAKAT 6

Status: tamat
Genre:Horor / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.

(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)

Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.

Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?

SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️

Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 KEHANGATAN DI TENGAH DESA

Kehidupan di desa memiliki ritme yang tak bisa diukur dengan detak jarum jam, melainkan diukur dengan perputaran matahari dan eratnya tali persaudaraan antarwarga.

Bagi Zaki, beradaptasi dengan ritme komunal ini adalah sebuah proses penyembuhan jiwa yang paling efektif.

.....

.....

🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕

Malam itu, bulan separuh menggantung di langit malam yang bersih tanpa awan. Angin pegunungan berhembus cukup kencang, menembus jaket tebal yang dikenakan Zaki.

Pemuda itu tengah berjalan menuju Gardu Pos Ronda yang terletak di pertigaan jalan utama desa. Seutas sarung bermotif kotak-kotak melingkar di lehernya untuk menahan hawa dingin.

Sesampainya di Pos Ronda, suasana sudah sangat riuh.

Lampu petromaks berbahan bakar minyak tanah yang digantung di tengah gardu memancarkan cahaya kekuningan yang temaram namun hangat. Beberapa bapak-bapak dan pemuda desa tampak duduk melingkar di atas dipan bambu. Asap rokok klobot dan kretek mengepul tebal, berbaur dengan uap panas dari gelas-gelas kopi yang tersaji rapi di tengah mereka.

"Wah, iki lho jawarane awake dhewe teko! Mas Zaki! Ayo, Mas, lungguh kene, melu main gaple!" (Wah, ini lho jagoan kita datang! Mas Zaki! Ayo, Mas, duduk sini, ikut main gaple!) seru Mas Somad sambil menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya.

Zaki tertawa renyah, melepaskan sandalnya, lalu ikut duduk bersila bergabung dalam lingkaran itu.

"Ampun, Kang. Saya nggak terlalu jago main gaple, nanti malah bikin kalah terus," tolak Zaki merendah, mencomot sebiji kacang rebus yang terhidang di atas piring kaleng.

"Halah, mboten nopo-nopo, Mas! Sing penting rame-rame! Lha wong kene iki nek main gaple hukumané mung dikorek raine gawe areng kok, hahahaha!" (Halah, tidak apa-apa, Mas! Yang penting ramai-ramai! Lha orang sini itu kalau main gaple hukumannya cuma dicoret mukanya pakai arang kok, hahahaha!) timpal seorang pemuda bernama Yanto, yang wajahnya kebetulan sudah penuh dengan coretan arang hitam layaknya prajurit yang gagal perang.

Tawa meledak di Pos Ronda itu.

Zaki tak bisa menahan dirinya untuk tidak ikut tertawa lepas hingga perutnya kram. Ia merasakan kehangatan yang luar biasa.

Di Jakarta, ia hidup bersebelahan tembok dengan puluhan penghuni kos lainnya, namun tak satu pun dari mereka yang saling mengenal nama.

Akan tetapi, di sini, di sebuah gardu bambu reyot, Zaki merasa memiliki puluhan saudara laki-laki yang siap melindunginya kapan saja.

Kegiatan membaur Zaki tak hanya terbatas pada jadwal ronda malam.

Pemuda itu membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar "orang kota yang sedang singgah", melainkan warga asli yang kembali ke akar masa lalunya.

.....

.....

🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕

Keesokan malamnya, Zaki mengenakan baju koko putih bersih, sarung samarinda berwarna gelap, dan sebuah peci hitam yang bertengger rapi di kepalanya.

Ia melangkah mengikuti rombongan warga, termasuk Pak Doyo, menuju ke rumah salah satu warga yang sedang mengadakan acara Tahlilan peringatan seratus hari meninggalnya salah satu kerabat mereka.

Suasana di ruang tamu yang dialasi karpet plastik memanjang itu terasa sangat khusyuk.

Aroma kemenyan Arab yang dibakar di sudut ruangan berbaur dengan wangi kuah gulai kambing yang sedang dimasak di dapur belakang.

Zaki duduk merapat, bahu-membahu dengan para tetangganya.

Ketika lantunan Surah Yasin dan zikir Laa ilaaha illallah mulai bergema, diucapkan serempak oleh puluhan bibir, dada Zaki bergetar hebat. Ada getaran spiritual komunal yang membuat air matanya nyaris menetes.

Ia tak lagi berdoa sendirian dalam keheningan malam yang dicekam ketakutan. Ia berdoa bersama jemaah, menyatukan frekuensi batin manusiawi yang murni mengharap ridha Ilahi.

Selesai acara Tahlilan, saat warga mulai menikmati hidangan berkat yang dibagikan dalam besek anyaman bambu, Zaki beranjak untuk pamit keluar sebentar mencari udara segar.

Tepat saat ia melangkah ke halaman depan, langkahnya terhenti.

Di teras samping, duduklah seorang wanita sepuh yang sedang mengunyah sirih. Kerutan di wajahnya adalah peta perjalanan usianya yang panjang.

Itu adalah Mbah Jum.

Zaki segera menghampiri sosok wanita yang pernah menjadi ibu asuhnya semasa kecil itu.

"Assalamu'alaikum, Mbah Jum... Nembe dhahar nggih?" (Lagi makan ya?) sapa Zaki seraya menunduk dan mencium tangan keriput Mbah Jum dengan takzim.

Mbah Jum mendongak, matanya yang mulai rabun memicing sejenak sebelum seulas senyum lebar memamerkan giginya yang kemerahan akibat sirih.

"Wa'alaikumsalam... Lha dalah, Le Zaki to iki! Rene, Le, lungguh cedhak Mbah kene," (Wa'alaikumsalam... Lha dalah, Nak Zaki toh ini! Sini, Nak, duduk dekat Mbah sini) titah Mbah Jum sambil menepuk tikar di sebelahnya.

Zaki menurut. Ia duduk bersila di samping wanita sepuh itu.

Mbah Jum meletakkan sisa sirihnya ke dalam wadah kuningan kecil.

Tiba-tiba, tanpa aba-aba, kedua tangan keriput Mbah Jum yang terasa kasar namun hangat itu terulur, membingkai wajah Zaki.

Wanita itu menatap lurus ke dalam bola mata Zaki, menelisik setiap inchi guratan di wajah pemuda itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

Zaki hanya diam, membiarkan Mbah Jum memindai wajahnya.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan, sebelum akhirnya Mbah Jum menghembuskan napas lega. Matanya yang sayu kini berbinar terang, memancarkan kelegaan yang luar biasa besar.

"Alhamdulillah... Alhamdulillah, Gusti Pangeran..." (Alhamdulillah... Alhamdulillah, Tuhan) gumam Mbah Jum berulang kali.

Tangan keriputnya perlahan mengusap pipi Zaki dengan penuh kasih sayang.

"Le... Mbah iki wis tuwo, mripate Mbah pancen wis lamur nek nggo ndelok barang adoh. Nanging, batiné Mbah isih landhep," (Nak... Mbah ini sudah tua, mata Mbah memang sudah rabun kalau untuk melihat barang jauh. Tapi, batin Mbah masih tajam,) ucap Mbah Jum, suaranya bergetar menahan haru.

Zaki mengerutkan kening. "Wonten nopo to, Mbah?" (Ada apa toh, Mbah?)

"Pas pertama kowe bali wulan wingi, Mbah weruh raimu kuwi peteng, Le. Koyo ono mega mendhung ireng sing nggandhul nang pundhakmu. Aura-mu abot banget, koyo wong sing lagi mikul mayit," (Waktu pertama kamu pulang bulan lalu, Mbah lihat wajahmu itu gelap, Nak. Seperti ada awan mendung hitam yang menggantung di pundakmu. Auramu berat sekali, seperti orang yang sedang memikul mayat).

Zaki tersentak pelan.

Mbah Jum, dengan kepekaan spiritual orang tua zaman dulu, ternyata bisa melihat beban gaib wujud Sekar Mayang yang saat itu masih menempel padanya.

Mbah Jum tersenyum makin lebar, matanya berkaca-kaca.

"Nanging wengi iki... raimu sumringah, Le. Bersih, padhang njingglang. Mega ireng kuwi wis ilang bablas ora ono sisane. Kowe wis bener-bener dadi anak manungso seutuhé, Le. Beban gaib sing mbok pikul wis rontok kabeh. Mbah melu seneng, Le... Mbah ayem saiki weruh kowe," (Tapi malam ini... wajahmu berseri-seri, Nak. Bersih, terang benderang. Awan hitam itu sudah hilang sama sekali tidak ada sisanya. Kamu sudah benar-benar menjadi anak manusia seutuhnya, Nak. Beban gaib yang kamu pikul sudah rontok semua. Mbah ikut senang, Nak... Mbah tenang sekarang melihatmu).

Mendengar penuturan jujur dan tulus dari Mbah Jum, tenggorokan Zaki tercekat.

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes satu per satu, membasahi punggung tangan keriput Mbah Jum yang masih memegang pipinya.

Zaki memeluk wanita sepuh itu dengan erat. "Inggih, Mbah... Zaki sampun bebas saiki. Zaki sampun tenang," (Iya, Mbah... Zaki sekarang sudah bebas. Zaki juga sudah merasa tenang) bisiknya parau.

Malam itu, di bawah kerlip bintang pedesaan dan diiringi lantunan zikir dari dalam rumah, Zaki merasakan pengesahan absolut atas keputusannya.

Ia telah memenangkan peperangan melawan takdir astralnya sendiri.

Ia telah kembali pada hangatnya pelukan sesama manusia.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Semangat kak, otewe Tirakat selanjutnya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Alhamdulillah bisa baca on gong sampe tamat Tirakat 6 ini...

Salut sama Nisa pertama... luar biasa amanah nya patut diacungi jempol mendidik 2 anak gadis dengan kekurangan dan kelebihan masing masing sampe sesukses itu.

Salut juga sama Zaky
Kudu bertaruh nyawa dulu bwt mendapatkan kebahagiaan sejati nya.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Kek nya anak laki-laki itu next Tirakat wkwkwk
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Yuli juga bersyukur masih diberikan kesempatan hidup, jadi bisa penebusan dosa juga. klo misal matii nggak ada kesempatan tobat
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Semangat zaky semoga setelah menuhi janji ke yuli, pengakuan dosa di makam wiwi dan ortunya, trauma masa lalu kmu bisa hilang ya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Cemburu ke masa lalu apalagi orang nya udah nggak ada itu percuma ya niss, buang waktu, pasti kalah yg hidup ...
jadi ya gimana lagi? legowo saja zaky dulu punya almarhumah dek wiwi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Akhirnya... yuli memaafkan juga kepengecutan zaky. mudah ya padahal tapi kudu sesatt dulu
falea sezi
🤣🤣 masih aja belomm move on sama wiwi gadis sok poloss🤣🤣🤣 makanya jangan ngeyel pake nikahin wiwi gadis. lemah
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iya ya, Kak...
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Astaga... lagi lagi nanggung....

Zaky lgi dipermainkan mental nya sama yuli, diingat ingat dosa masa lalu nya. yuli udah mati kok msh nyebelin ya wkwkwk nggak kasian lgi dehh
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: 😭😭😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
kebiasaan nanggung.

tapi patut diacungi jempol ki sukmo berjuang mempertahankan eksistensi nya sebagai dukunsaktii pesisir utara sampe titik darah penghabisan wkwkwk .

tapi tetep kasian sama yuli, dia yg sangat paling merugi.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ : wkwkwk udah berasa nkri harga matii
total 2 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Kasian sama yuli
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Taha 69
falea sezi
berasa liat film horor🤭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Hehehe... Maaf ya Kak Falea, kalau adegannya agak kurang detail atau malah agak lebay... 🤭🤭🤭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
lahh nanggung ya...

mantap zaki Tirakat nya nggak sia sia, puasa apa ya ngableng? nggak pake ajian atw rapal mantap bwt ngelawan ki sukmo hanya dengan nur tauhid+kalamullah.

next
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
biar emosi juga tetep ya manggil Yuli Mbak, ini brarti msh ada rasa hormat ke kaka ipar. biasanya klo orang emosi ya manggil orang nama saja.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
nggak berasa tetiba habis. next kak

next babb keknya klo mereka ketemu ki sukmo trs yuli trs zaky bnyk kosakata umpatan
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
ishhhh vulgarrrr lahh
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Astagfirullah 50 psk? seusia ibuku? ada sih, dandanan nya menor gitu nutupi kerutan tapi yg aku tau katanya yg udah sepuh gitu cuma bwt nemenin minum wkwkwk
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Ya namanya juga dunia gelap... 😰😰😰
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Wahh iya Tirakat zaky nggak sia sia, dari darah dendam, bisa melacak keberadaan yuli dan dukun nya.

tapi awas zaky jngn terburu buru, yuli juga dukun nya nggak kaleng kaleng
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
nahh gitu itu namanya kmu punya persiapan Zakk... klo tetiba cuma pke apa itu nggak ketemu, untung ada feeling hubungi pakde mardi klo nggak bisa hbs waktu kmu keliling cirebon
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!