NovelToon NovelToon
Tangis Digerbang Pesantren

Tangis Digerbang Pesantren

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: eka sundari

Seorang anak perempuan bernama Aira harus menelan kenyataan pahit saat orang tuanya memutuskan untuk memasukkannya ke pesantren. Di usianya yang masih belia, ia belum siap berpisah dari rumah, dari kenyamanan, dan dari kasih sayang yang selama ini selalu dekat.
Hari pertama di pesantren menjadi awal dari luka yang tak terlihat. Di balik seragam rapi dansenyum yang dipaksakan, Aira menyimpan tangis yang ia pendam setiap malam. Rasa rindu, kesepian, dan ketakutan perlahan menggerogoti hatinya. Ia bahkan sempat berpikir untuk menyerah dan pulang.
Namun, di tengah air mata itu, Aira mulai menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya—ketenangan dalam doa, kekuatan dalam ilmu, dan arti dari sebuah perjuangan. Ia belajar bahwa tidak semua perpisahan adalah kehilangan, dan tidak semua tangisan adalah kelemahan.Perjalanan Aira di pesantren bukan hanya tentang menuntut menuntut ilmu, tetapi tentang menemukan jati diri, menguatkan hati,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ritme kehidupan pesantren

"peraturan pesantren adalah sesuatu yang membuat dunia santri menjadi hidup , ketika peraturan telah menyatu dalam darah.... disitulah dunia sedang kita kuasai"......

-----

Mendengar pengakuan polos itu, Ukhty Maya tersenyum manis—sebuah senyuman yang seketika meluruhkan rasa canggung di dalam dada Aira. Ukhty Maya merapikan helai jilbab Aira yang agak kusut dengan jemarinya yang telaten.

"Ukhty tahu, Sayang..." kata Ukhty Maya pelan, matanya memancarkan rasa kasih sayang yang dalam. "Ukhty Inggit menyampaikan itu bukan karena Aira melakukan kesalahan. Ukhty Inggit itu... walau bicaranya dingin dan mukanya jarang tersenyum, dia sebenarnya sangat peduli. Dia cuma mau bentengi Aira dari awal."

"Beneran, Ukhty?" Aira menatap Ukhty Maya takjub, seolah tak percaya sosok Keamanan yang paling ditakuti itu memiliki niat selembut itu.

"Beneran," jawab Ukhty Maya mantap seraya menggenggam jemari Aira yang terasa dingin. "Wajah Aira itu bersih, matanya bulat, polos... Siapa pun yang melihat Aira pasti gemas dan kagum. Tapi di pondok ini, rasa kagum orang lain bisa jadi ujian buat kita kalau kita nggak pandai menjaga diri. Ukhty Inggit cuma nggak mau Aira terdistraksi, nggak mau Aira terseret hal-hal yang bikin Aira lupa sama niat awal datang ke sini."

Ukhty Maya mendekatkan duduknya, menatap Aira lurus-lurus dengan sorot mata keibuan.

"Ingat ya, Aira... Orang tua Aira menyerahkan Aira ke sini dengan derai air mata dan doa yang panjang. Mereka ingin Aira tumbuh jadi wanita yang mulia, mulia agamanya, dan mulia akhlaknya. Menjaga diri dari hal-hal seperti itu adalah cara terbaik Aira membalas cinta Ayah dan Ibu di rumah."

Air mata hangat kembali meleleh di sudut mata bulat Aira. Kata-kata Ukhty Maya terasa begitu meresap, menguatkan janji yang tadi sempat ia ucapkan di depan Ukhty Inggit.

"Aira janji, Ukhty Maya... Aira nggak akan ngecewain Ayah, Ibu, sama Ukhty..." bisik Aira dengan nada penuh penjiwaan.

Ukhty Maya merengkuh tubuh mungil Aira ke dalam pelukannya, membawa kepala anak itu menyandar di dadanya. Bau harum minyak kayu putih dan kehangatan yang terpancar dari tubuh Ukhty Maya membuat Aira merasa begitu dilindungi.

"Alhamdulillah... Anak pinter," bisik Ukhty Maya lembut sambil mengusap-usap punggung Aira. "Sudah ya, jangan canggung lagi. Di Kamar Khadijah ini, Aira punya Kakak, punya teman-teman. Kalau ada apa-apa, cerita sama Ukhty. Sekarang usap air matanya, ambil wudhu, terus tidur. Besok Subuh kita mulai hari yang baru."

Aira mengangguk di dalam pelukan Ukhty Maya. Rasa canggung, takut, dan cemas yang sempat mengimpit dadanya sejak dari pustaka lama tadi perlahan meluap habis, berganti dengan kedamaian yang menghangatkan jiwa. Malam itu, di bawah temaram lampu kamar Khadijah, Aira akhirnya bisa merebahkan badannya dengan rasa tenang yang seutuhnya.

Udara Subuh usai malam puncak perkenalan terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis menggantung di luar ventilasi, sementara kelelahan luar biasa setelah hebohnya acara semalam masih menggelayuti tubuh anak-anak baru. Di dalam Kamar Khadijah, suasana masih hening, diselimuti deru napas halus para santri yang terlelap begitu lelapnya.

Jarum jam dinding di koridor menunjukkan pukul 04.15 WIB. Suara ketukan pintu dan derap langkah terburu-buru terdengar memecah sunyi.

"Adek-adek... ayo bangun, dek... Sudah lewat pukul empat, ayo bersiap Subuh..."

Ukhty Maya mengusap matanya yang juga masih hangat oleh sisa kantuk, lalu bergerak cepat menyusuri deretan ranjang. Di belakangnya, Kak Nisa dan Kak Ririn sibuk memegang gayung dan menata selimut yang berantakan. Rasa lelah dari tugas kepengurusan semalam masih menyisa di bahu mereka, namun amanah Ubudiyah menuntut mereka untuk berdiri lebih awal dari siapapun.

"Aira... Najwa... ayo sayang, bangun yuk," bisik Ukhty Maya lembut sambil memijat pelan betis Aira.

Aira hanya mengerang halus, menggeliat sebentar lalu menarik selimutnya makin tinggi hingga menutup kepala. Di ranjang sebelah, Najwa bahkan belum bergerak sama sekali, kacamata hitamnya tergeletak miring di atas bantal.

"Aduuh, Ukhty Maya... anak-anak kamar sebelah juga sama sekali belum ada yang beranjak," bisik Kak Nisa dari depan pintu dengan napas agak terengah, wajahnya mencerminkan kepanikan halus. "Ukhty Inggit sama tim Keamanan sudah mulai keliling koridor bawah pakai mikrofon portable. Kalau lima menit lagi Kamar Khadijah belum ke kamar mandi, kita bisa kena teguran..."

Ukhty Maya menarik napas panjang, mencoba menata emosinya. Ia berlutut di samping ranjang Aira, menyibak pelan ujung selimut yang menutup wajah polos santri barunya itu.

"Aira..." panggil Ukhty Maya, suaranya sangat dekat di telinga Aira, memadukan kelembutan dan desakan yang hangat. "Ukhty tahu badannya capai banget, kan? Semalam acaranya seru sampai larut malam. Tapi ingat janji kita kemarin pagi? Santri Khadijah itu santri yang tangguh."

Aira perlahan membuka matanya. Mata bulatnya masih sangat sembap dan merah, berkedip-kedip kaku menahan beratnya kantuk. "Ukhty... matanya masih berat banget... badan Aira pegal semua..." bisiknya dengan suara serak khas bangun tidur, hampir menangis karena enggan beranjak dari kasur busa yang hangat.

Ukhty Maya tidak marah. Ia justru merengkuh bahu Aira, mendudukkan anak itu perlahan seraya mengusap punggungnya.

"Ukhty juga capai, Sayang. Kak Nisa, Kak Ririn, semua pengurus semalam baru bisa memejamkan mata jam satu malam setelah merapikan aula," tutur Ukhty Maya dengan nada jujur penuh penjiwaan. "Tapi ini langkah awal kita. Setan memang paling pinter menahan kaki kita waktu Subuh. Kalau Aira kalah sama rasa capai pagi ini, nanti ke depannya bakal makin berat."

Sementara itu, Kak Ririn berjuang membangunkan Najwa dan Salma. "Najwa, ayo kacamata dipasang dulu, Dek... Nanti kalau Ukhty Inggit sudah sampai depan pintu, Kakak nggak bisa bantu melindungi, lho..."

Mendengar nama 'Ukhty Inggit', Najwa seketika tersentak bangun seperti tersengat listrik. Ia meraba-raba bantal mencari kacamatanya dengan mata setengah terpejam. "Eh! I-iya Kak! Najwa bangun, Najwa bangun!" cetusnya panik yang memicu tawa kecil dari Kak Ririn meski dalam situasi terburu-buru.

Ukhty Maya menyodorkan gayung berisi air dingin yang sudah disiapkan Kak Nisa ke dekat tempat duduk Aira. Ia membasahi telapak tangannya sendiri, lalu mengusapkannya amat pelan ke tengkuk dan dahi Aira.

"Seger, kan?" bisik Ukhty Maya lembut saat Aira tersipit merasakan dinginnya air. "Ayo, berdiri pelan-pelan. Bawa mukenanya. Kita wudhu bareng-bareng di luar."

Aira menatap wajah Ukhty Maya. Di balik senyum tenang mudabbirah-nya itu, Aira bisa melihat lingkaran hitam samar di bawah mata Ukhty Maya—bukti bahwa seniornya itu jauh lebih lelah dan kurang tidur dibanding dirinya. Namun Ukhty Maya tetap berdiri tegap, sabar, dan tak terlontar satu pun kata kasar dari bibirnya.

Rasa bersalah dan haru seketika mengikis sisa-sisa kantuk Aira.

"Iya, Ukhty... Aira bangun," ucap Aira mantap, meski langkah kakinya masih sedikit gontai saat menuruni ranjang.

"Nah, gitu dong! Anak pinter," puji Ukhty Maya seraya menepuk bahu Aira bangga. Ia lalu berbalik menatap seluruh isi Kamar Khadijah yang kini mulai kasak-kusuk merapikan selimut. "Ayo adek-adek, gerak cepat ya! Kak Nisa bantu pegangkan sarung, Kak Ririn rapikan sandal di depan pintu. Kita buktikan Kamar Khadijah siap shalat Subuh tepat waktu!"

Dari koridor luar, gema azan Subuh mulai berkumandang merdu dari menara masjid utama, membiaskan ketenangan di tengah riuhnya kepanikan pagi. Aira menggenggam mukena putihnya rapat-rapat, melangkah keluar kamar berdampingan dengan Najwa dan Ukhty Maya, siap menyapa fajar baru dengan dada yang kian terbiasa pada ritme kehidupan pondok.

Semua santri belari menuju mesjid.......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!