NovelToon NovelToon
TAK TERTANDINGI

TAK TERTANDINGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Serly Can

Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.

​Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema Koridor Pagi

Mentari pagi Oktober memancarkan bias cahaya keemasan yang menembus celah-celah dedaunan rimbun di halaman depan SMA Bina Bangsa. Udara pagi terasa sejuk, membawa aroma embun yang menyegarkan serta deru halus kendaraan dari jalan raya luar kompleks sekolah. Suasana di koridor utama tampak dinamis; para siswa berlalu-lalang membawa buku pelajaran, saling bercengkerama, dan menikmati awal pekan dengan ritme yang jauh lebih tenang dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Sejak kejatuhan jaringan sindikat Viktor Tan dan pembersihan internal dewan pengurus yayasan oleh Hartawan Kusuma, atmosfer di lingkungan sekolah mengalami pergeseran drastis. Tidak ada lagi ketegangan psikologis akibat intimidasi kelompok elit faksi lama. Siswa-siswi beasiswa kini dapat berjalan di koridor dengan kepala tegak, sementara kelompok siswa dari keluarga kaya raya tampak lebih berhati-hati serta menghormati batasan etika akademik.

Rian melangkah tenang menyusuri koridor lantai dua mengenakan seragam putih bersih berbalut rompi almamater sekolah. Di bahu kanannya tersampir tas ransel hitam berisi perangkat laptop dan catatan riset. Langkah kakinya teratur, tanpa tergesa-gesa, memancarkan aura ketenangan yang begitu kontras dengan hiruk-pikuk di sekitarnya.

"Rian!"

Sebuah suara akrab memanggil namanya dari arah samping tangga utama. Maya berjalan cepat menghampirinya, membawa setumpuk map dokumen hijau berisi jadwal bimbingan olimpiade sains regional yang akan diselenggarakan minggu depan. Rambut bergelombangnya terikat rapi dengan pita biru muda, menambah kesan ceria di pagi hari.

Rian menghentikan langkahnya, menoleh pelan, dan menunggu hingga Maya berdiri tepat di sampingnya. "Selamat pagi, Maya. Kau tampak sangat terburu-buru pagi ini," sapa Rian dengan nada datarnya yang khas.

Maya menarik napas pendek, merapikan letak map di dekapannya sambil tersenyum lebar. "Tentu saja aku terburu-buru! Kau tahu, Pak Darma mencarimu sejak sepuluh menit yang lalu di ruang guru. Beliau bilang ada undangan resmi dari panitia pusat olimpiade sains tingkat nasional yang baru saja masuk ke meja tata usaha."

Rian mengerutkan keningnya tipis. "Undangan tingkat nasional? Bukankah seleksi regional baru akan diadakan minggu depan?"

"Itulah istimewanya!" jawab Maya antusias, matanya berbinar cerah. "Karena nilai esai analitis dan sistem pemodelan matematis yang kau kumpulkan saat pendaftaran kemarin dinilai sempurna oleh dewan juri universitas, panitia pusat memutuskan untuk langsung memberikan tiket fast-track ke babak final nasional tanpa harus melalui penyisihan regional."

Mendengar berita tersebut, beberapa siswa lain yang kebetulan berpapasan di dekat loker tampak menoleh dengan ekspresi kagum dan tercengang. Di SMA Bina Bangsa, belum pernah ada sejarahnya seorang siswa kelas sebelas mendapatkan tiket langsung ke final olimpiade nasional tanpa melalui tahap penyisihan regional yang ketat.

Rian tetap menunjukkan ekspresi yang sangat datar. Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana abu-abunya, lalu mengangguk pelan. "Itu hanya formalitas birokrasi penilai yang menyederhanakan prosedur administrasi, Maya. Inti dari pembuktian ilmiah tetap berada di dalam lembar kerja, bukan pada jalur lombanya."

Maya tertawa kecil mendengar tanggapan datar tersebut. "Kau ini ya... orang lain pasti sudah melompat kegirangan kalau mendapat keistimewaan seperti itu, tapi kau malah menanggapinya seolah-olah itu hanya urusan sepele membeli buku di toko kelontong." Ia kemudian mengubah ekspresi wajahnya menjadi sedikit lebih serius. "Omong-omong, Pak Darma meminta kita berdua menghadap ke ruangannya sekarang sebelum jam pelajaran pertama dimulai."

"Baiklah, mari kita ke sana," jawab Rian singkat.

Suasana di ruang guru lantai dua terasa sejuk berkat pendingin ruangan yang berdengung halus. Di meja sudut dekat jendela besar, Pak Darma tengah merapikan setumpuk lembar soal latihan ketika pintu kayu berketuk pelan.

"Masuk," ucap Pak Darma tanpa mendongak.

Rian dan Maya melangkah masuk secara berdampingan. Begitu melihat kehadiran dua murid andalannya, Pak Darma langsung melepaskan kacamata bacanya, meletakkannya di atas meja, lalu menyunggingkan senyuman lebar penuh kebanggaan.

"Ah, kalian sudah datang. Silakan duduk," kata Pak Darma ramah, menunjuk dua kursi kayu di depan mejanya.

Setelah Rian dan Maya duduk, Pak Darma meraih sebuah amplop resmi berlogo lambang garuda emas dan kementerian pendidikan, lalu menyerahkannya ke atas meja di hadapan Rian.

"Kabar luar biasa baru saja tiba pagi ini, Rian," ujar Pak Darma dengan nada suara yang bersemangat. "Surat keputusan resmi dari panitia pusat olimpiade sains nasional telah diterbitkan. Berdasarkan penilaian khusus dari dewan profesor universitas terhadap proyek analisis sistem energi mikro yang kaukembangkan, kau dinyatakan lolos langsung ke babak grand final nasional bulan depan tanpa perlu mengikuti babak penyisihan tingkat regional."

Maya yang duduk di sebelah Rian ikut tersenyum bangga, seolah-olah dirinyalah yang menerima penghargaan tersebut. "Hebat sekali, Rian! Ini adalah pencapaian terbesar dalam sejarah sekolah kita."

Rian mengambil amplop resmi itu, membuka isinya sekilas, lalu membaca barisan kalimat keputusan di dalamnya dengan cermat. Di dalam kesadarannya, sistem Mata Dewa Pengamat memindai keaslian stempel dan tanda tangan digital pada surat tersebut, memastikan tidak ada anomali atau intervensi birokrasi yang mencurigakan.

"Terima kasih atas informasinya, Pak," ucap Rian tenang sambil melipat kembali surat tersebut dan memasukkannya ke dalam amplop. "Namun, apakah keikutsertaan di babak grand final nasional ini memerlukan perubahan jadwal bimbingan rutin kita di laboratorium komputer?"

Pak Darma menggelengkan kepalanya perlahan, tertawa kecil menghadapi sifat pragmatis muridnya yang luar biasa fokus. "Tidak sama sekali, Rian. Justru pihak yayasan dan Kusuma Group akan menyediakan fasilitas laboratorium riset khusus tambahan bagimu di gedung pusat teknologi kota selama masa persiapan akhir pekan. Direktur Hartawan sendiri yang mengatur penyesuaian fasilitas tersebut."

"Baiklah, saya akan mengikuti jadwal tambahan itu asalkan tidak mengganggu alokasi waktu belajar mandiri saya di rumah," jawab Rian mantap.

Pak Darma mengangguk puas. "Tentu saja, semua ketentuan akan disesuaikan dengan kenyamananmu. Oh ya, Maya, kau tetap akan memimpin delegasi tim sekolah untuk babak penyisihan regional minggu depan, dan aku yakin kau juga akan memberikan hasil yang terbaik."

Maya menegakkan punggungnya, mengangguk antusias. "Terima kasih atas kepercayaannya, Pak! Aku akan berusaha semaksimal mungkin."

Setelah beberapa arahan teknis tambahan diberikan mengenai persiapan dokumen dan materi lanjutan, Rian dan Maya pamit undur diri dari ruang guru dan berjalan menuju kelas 11-B sesaat sebelum bel masuk berbunyi nyaring.

Pukul dua belas siang, ketika bel istirahat berdering ke seluruh penjuru sekolah, suasana kantin utama tampak ramai oleh tawa para siswa yang menikmati waktu santai mereka. Di salah satu meja sudut yang agak jauh dari kerumunan, Kevin dan Bara duduk berdua dengan sepiring makanan di hadapan mereka. Tidak ada lagi kelompok pengikut atau gelagat arogan yang biasa mereka pamerkan; sejak kejatuhan keluarga Surya dan runtuhnya pengaruh faksi lama, posisi sosial mereka di sekolah merosot drastis.

"Kau dengar berita tadi pagi, Bara?" bisik Kevin dengan nada suara tertahan, wajahnya menyiratkan rasa frustrasi yang mendalam. "Anak beasiswa sialan bernama Rian itu bukan cuma dibiarkan lolos dari insiden pameran sains kemarin, tapi dia malah mendapat tiket langsung ke grand final olimpiade nasional tanpa tes penyisihan."

Bara mengaduk makanannya dengan garpu tanpa minat, sorot matanya menatap kosong ke arah lantai porselen. "Lalu kita bisa apa, Kevin? Semua bekingan kita di yayasan sudah disapu bersih oleh Direktur Hartawan. Keluarga besar kita sendiri sekarang sedang sibuk berurusan dengan auditor pajak kejaksaan. Mencari masalah dengan Rian sekarang sama saja dengan menggali kuburan kita sendiri hidup-hidup."

Kevin mendengus kesal, mengepalkan tangan kanannya di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku tidak terima! Sepanjang hidup kita, kita selalu menjadi penguasa di sekolah ini. Dan sekarang, seorang anak miskin dari rumah susun kumuh melangkah di atas kepala kita begitu saja tanpa ada seorang pun yang berani menyentuhnya!"

"Kalau kau punya nyali, coba saja cari gara-gara lagi dengannya," tantang Bara sinis, melirik Kevin dengan sebelah alis terangkat. "Lihat apa yang terjadi pada preman bayaran Viktor Tan malam itu. Mereka ditemukan pingsan di pelabuhan tanpa bekas luka fisik. Kau mau akhir nasibmu berakhir seperti itu di rumah sakit?"

Kevin terdiam seketika. Bayangan tentang bagaimana agen-agen profesional sindikat tunduk dalam sekejap membuat nyalinya mendadak ciut. Ia menelan ludah dengan susah payah, lalu kembali melanjutkan makannya dalam keheningan yang pekat, menerima kenyataan pahit bahwa peta kekuatan di SMA Bina Bangsa telah berubah selamanya.

Sementara itu, di lantai tiga gedung utama, Rian berdiri seorang diri di dekat jendela koridor yang menghadap langsung ke arah lapangan olahraga luar. Angin siang berhembus lembut, menerbangkan ujung helai rambut hitamnya.

Melalui Mata Dewa Pengamat, kesadaran Rian menembus batas ruang dan waktu, memindai gelombang energi di sekitar kota yang kini jauh lebih stabil setelah pembersihan besar-besaran jaringan kriminal Viktor Tan. Meskipun demikian, ia tahu bahwa dunia di luar sana tidak pernah benar-benar sepi dari konflik; kejahatan dan keserakahan manusia akan selalu lahir kembali dalam bentuk yang berbeda, menunggu untuk dihadapi oleh mereka yang memiliki prinsip dan kekuatan.

[ Pemberitahuan Sistem: Analisis stabilitas energi spiritual wilayah mencapai 112%. ] [ Kultivator berada dalam kondisi optimal untuk melanjutkan kultivasi ke tingkat pemahaman hukum spasial lanjutan. ]

Teks transparan berwarna keemasan itu melintas sekilas di retinanya sebelum memudar secara perlahan.

Rian menarik napas panjang, meresapi aliran energi Qi yang mengalir deras di setiap jalur meridian tubuhnya, memberikan ketajaman mental dan fisik yang luar biasa. Ia mengepalkan tangan kanannya perlahan, merasakan getaran kekuatan kosmik purba yang menyatu sempurna dengan kesadaran modernnya.

"Dunia fana hanyalah sebuah panggung ujian," gumam Rian pelan pada angin siang, suaranya terdengar begitu tenang dan berwibawa. "Dan aku adalah arsitek bagi takdirku sendiri."

Pintu kelas 11-B terbuka ketika bel tanda berakhirnya waktu istirahat berdering nyaring. Rian membalikkan badan, melangkah masuk dengan tenang untuk mengikuti sisa jam pelajaran berikutnya, siap menyongsong babak grand final nasional dan lembaran baru dalam perjalanan hidupnya sebagai seorang kultivator di tengah peradaban modern.

1
expant
lanjut
expant
bagus ceritanya
Serly Can
siap kk
Risman Caniago
kemampuan nya udah kaltiivor...... jagoan pasar... orang bayaran pada koit.....masa masih kontra sama anak SMA.... harus nya naik level genster....mafia..... belajar lagi yang lebih ya Thor....
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
Yossi Muliasa Permana
bagus cerita nya cuman cara penulisan nya agak sedikit bikin bingun
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!