Hannah adalah wanita bercadar yang menyimpan masa lalu kelam. Pertemuannya kembali dengan Faz, lelaki yang pernah menolongnya, membuat cinta tumbuh hingga mereka hampir bertunangan.
Namun sebuah rahasia membuat mereka tak bisa bersama. Saat Hannah harus merelakan cintanya, Arif—lelaki yang diam-diam telah lama mencintainya—datang membawa sebuah lamaran.
Di antara cinta, luka, dan takdir, Hannah harus menentukan jalan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warung Makan Milik Ibu Hannah
Hannah pulang dari studio menuju warung makan milik ibunya yang masih buka. Begitu tiba, ia langsung menghampiri meja tempat ibunya duduk.
“Assalamu’alaikum. Ada menu apa, Bu?” tanyanya. Perutnya sudah keroncongan sejak tadi.
“Wa’alaikumussalam. Bagaimana? Lancar pekerjaannya?” Bukannya menjawab pertanyaan Hannah, ibunya justru balik bertanya.
“Baik, Bu.” Hannah menjawab dengan nada memelas. Tatapan matanya seolah memberikan isyarat bahwa ada hal yang jauh lebih mendesak daripada membicarakan pekerjaannya saat ini: mengisi perut yang sudah sejak tadi meronta minta diisi.
Ibunya tersenyum kecil, lalu beranjak menyiapkan semangkuk nasi soto yang masih mengepul dan segelas air putih. Soto adalah menu utama warung ibunya Hannah.
Begitu makanan tersaji, Hannah tak membuang waktu. Ia langsung menyantap sotonya dengan lahap. Namun, baru beberapa suap, ia sudah sibuk mengipasi mulutnya sendiri. Sesekali ia mengembuskan napas karena kepanasan, lalu buru-buru meraih gelas air putih untuk meredakan pedas yang membakar lidahnya.
Semua itu gara-gara lima sendok sambal yang ia tambahkan ke dalam mangkuknya.
“Pelan-pelan makannya. Memangnya ada yang mau mengambil makananmu?” tegur ibunya, geli melihat tingkah putrinya.
Hannah hanya mengangguk sambil kembali menyendok soto ke mulutnya. Rasa pedas itu seolah tak cukup kuat untuk menghentikan selera makannya.
“Ibu dengar kamu dapat klien baru?”
Tangan Hannah yang sedang memegang sendok mendadak berhenti. Ia mendongak, menatap ibunya dengan ekspresi penuh tanda tanya.
Dari mana Ibu tahu?
Seolah memahami pertanyaan yang tak terucap itu, ibunya tersenyum.
“Tadi Arif cerita.”
“Arif tadi ke sini?” tanya Hannah. Suaranya terdengar kurang jelas karena mulutnya masih penuh nasi dan soto.
“Iya. Seperti biasa, Arif kan rajin menengok Ibu.”
Hannah kembali menyuapkan makanannya, tetapi pikirannya mulai beralih pada sosok yang baru saja disebut ibunya.
Ia mengenal Arif sejak masih kuliah. Laki-laki itu merupakan kakak tingkatnya. Mereka pertama kali bertemu dalam sebuah kegiatan kampus, sebelum akhirnya kembali berjumpa di warung makan milik ibunya.
Siapa sangka, Arif ternyata pelanggan tetap warung tersebut.
Menurutnya, selain rasanya yang enak, harga makanan di sana juga cocok untuk kantong mahasiswa. Apalagi, warung itu terletak tak jauh dari kampus Hannah.
Ibunya memang sengaja berjualan di sekitar sana. Selain agar Hannah tak perlu menyewa kamar kos, warung itu juga menjadi sumber penghasilan utama mereka.
Hanya itu yang bisa diandalkan ibunya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ibu Hannah adalah ibu tunggal. Hannah tidak memiliki Ayah. Tidak sejak dulu sampai sekarang.
“Hana, siapa memang klienmu itu? Kata Arif, seorang influencer?”
Pertanyaan ibunya kembali menyadarkan Hannah dari lamunannya.
Kali ini, ia terdiam lebih lama.
Bagaimana ia harus menjelaskan siapa klien barunya itu? Apakah ibunya masih mengingat nama laki-laki yang pernah mengantarnya pulang ketika peristiwa mengerikan itu terjadi?
Nama yang selama ini berusaha ia hindari. Nama yang, bahkan setelah sekian lama, masih sanggup mengusik ketenangan hatinya.
Hannah menunduk, mengaduk soto yang tinggal separuh. Selera makannya yang tadi begitu besar mendadak sedikit berkurang.
“Kenapa, Han? Kenapa malah diam?” tanya ibunya, menyadari perubahan sikap putrinya.
Hannah tersentak kecil. Ia buru-buru mengangkat wajah, berusaha menampilkan ekspresi sewajar mungkin.
“Oh, iya. Seorang influencer.” Ia tersenyum tipis. “Tapi Ibu kenal, memangnya? Ibu kan nggak pernah lihat media sosial. Pasti juga nggak kenal.”
Jawaban itu terdengar santai, meski sebenarnya ia hanya sedang mencari jalan untuk menghindari pembicaraan yang tak ingin disentuhnya.
“Yee, siapa tahu Ibu pernah dengar namanya,” sahut ibunya.
Hannah terkekeh kecil, lalu kembali menyendok sotonya. Ia berharap ibunya tak akan melanjutkan pertanyaan tersebut.
Untunglah, ibunya tak mendesak.
“Ya sudah, Ibu mau tutup warung dulu. Setelah selesai, minta tolong bantu sekalian bersihkan wastafelnya ." pinta ibunya.
"Siap ibuku tercinta." Kata Hannah sambil hormat bendera. Ibu Hannah tersenyum melihat kelakuannya.
Perempuan pun itu beranjak dari kursinya, lalu kembali membereskan peralatan makan dan merapikan meja-meja yang masih tersisa. Aktivitas menutup warung yang sempat tertunda karena kedatangan Hannah pun berlanjut seperti biasa.
Sementara itu, Hannah kembali menunduk di hadapan mangkuk sotonya.
Ia berusaha menikmati suapan terakhir, tetapi pikirannya telanjur dipenuhi satu nama.
Faz.
Laki-laki yang kini menjadi kliennya itu ternyata bukan sekadar bagian dari masa lalu yang bisa ia abaikan begitu saja.
Dan Hannah belum tahu, apakah pertemuan mereka kali ini akan membantunya berdamai dengan masa lalu atau justru membuka kembali luka yang selama ini susah payah ia sembunyikan.
semangat terus kaa😍😍
semangat nulis
mampir juga di karyaku Rotinya Manis, Rin😊