Bagaimana jadinya jika seorang dokter bedah dan ahli toksikologi jenius dari abad ke-21 bertransmigrasi ke tubuh seorang Permaisuri yang lemah dan dibuang?
Anran, seorang dokter genius masa depan, tewas dalam insiden laboratorium dan terbangun di tubuh Permaisuri Kerajaan Great Yan. Tak hanya dibuang ke Istana Dingin karena fitnah kejam, tubuh Permaisuri ini juga diracuni secara perlahan oleh musuh-musuhnya di istana belakang.
Permaisuri lama yang penakut dan mudah menangis telah lenyap. Kini, Anran bangkit membawa kecerdasan medis modern, keahlian racun yang mematikan, dan keberanian tanpa batas!
Satu per satu racun dibongkar, fitnah selir licik dipatahkan, dan intrik politik kerajaan dihancurkan. Seluruh istana dibuat gempar oleh perubahan drastis sang Permaisuri yang kini anggun, cerdas, dan tidak bisa diintimidasi oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aldolado, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut bab 24
... Anran kini bukan lagi sekadar menghormati seorang Permaisuri, melainkan mengagumi sosok ahli strategi medis yang sangat jenius dan tak ternilai bagi keselamatan Kerajaan Great Yan.
Jenderal Meng melangkah maju satu tapak, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan kedua tangan terangkat tinggi. "Petunjuk dari Yang Mulia Permaisuri adalah berkah besar bagi seluruh prajurit di garis depan! Hamba dan seluruh komandan perang bersedia mempertaruhkan nyawa untuk menjalankan setiap detail rencana ini!"
Kaisar Tian menatap Anran dari samping, binar bangga dan rasa cinta di matanya kian tak terbendung. Sang kaisar menggenggam erat tangan Anran di hadapan seluruh sidang istana.
"Dengarkan perintahku!" seru Kaisar Tian dengan suara menggelegar yang menggetarkan pilar-pilar aula. "Jenderal Meng diperintahkan untuk segera menyiapkan lima puluh ribu pasukan utama! Seluruh logistik dan pasokan medis berada di bawah kendali mutlak Permaisuri Anran! Siapa pun yang memperlambat atau menghalangi tugas Balai Pengobatan akan dihukum mati di tempat!"
"Hamba sekalian mematuhi perintah Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Permaisuri!" seru seluruh menteri dan jenderal secara serempak, membungkuk hingga dahi mereka menyentuh lantai pualam.
Begitu sidang fajar selesai, Anran tidak membuang waktu sedikit pun. Dengan gaun sutra ringkas berwarna merah gelap yang dilapisi celemek kain linen bersih, ia memimpin langsung pekerjaan di Balai Pengobatan Kerajaan.
Aroma herbal yang direbus dan ditumbuk membumbung memenuhi seluruh penjuru bangunan tiga lantai itu. Puluhan tabib muda, peracik obat, dan asisten sibuk lalu-lalang di bawah arahan ketat Tabib Zhou.
"Tabib Zhou, pastikan proses ekstraksi akar licorice dan daun mint dilakukan dengan teknik penyulingan uap ganda," perintah Anran seraya memeriksa kuali tembaga raksasa di tengah ruangan. "Kita harus memisahkan minyak atsiri murninya agar daya tahan salep steril ini bisa bertahan hingga enam bulan di cuaca lembap selatan."
"Hamba mengerti, Yang Mulia Permaisuri!" jawab Tabib Zhou dengan binar mata penuh kekaguman. "Metode penyulingan ini sungguh ajaib. Hasil ekstraknya sepuluh kali lebih pekat dari cara merebus tradisional!"
Anran mengulas senyum tipis. Sebagai ahli toksikologi abad ke-21, menerapkan prinsip kimia dan farmasi dasar ke dalam teknologi pengobatan kuno ini adalah hal yang sangat mudah baginya.
Tiba-tiba, suara langkah kaki tegap yang diiringi derau jubah naga terdengar mendekat dari pintu utama.
Kaisar Tian melangkah masuk tanpa pengawalan ketat, hanya didampingi oleh Kasim Zhao yang membawa nampan berisi makanan hangat dan teh buah segar. Sang kaisar memperhatikan bagaimana Anran dengan sigap meracik serbuk obat, rambut hitamnya diikat tinggi memperlihatkan leher jenjangnya yang halus.
Seluruh tabib di ruangan seketika hendak berlutut, namun Kaisar Tian mengibaskan tangannya pelan, mengisyaratkan agar mereka tetap bekerja.
"Kau bahkan tidak sempat menyantap makan siangmu, Permaisuri," ujar Kaisar Tian dengan suara bariton yang hangat saat melangkah menghampiri Anran.
Anran menyapu peluh tipis di pelipisnya menggunakan punggung tangannya, lalu menoleh menatap sang kaisar. "Perang di garis depan tidak menunggu perut kita kenyang, Yang Mulia. Makin cepat racikan penawar ini selesai, makin banyak nyawa prajurit Great Yan yang bisa terselamatkan."
Kaisar Tian menatap sepasang mata jernih Anran yang dipenuhi dedikasi tinggi. Jemari tegap sang kaisar terangkat, mengambil saputangan sutra miliknya dan dengan lembut mengusap sisa debu herbal di pipi mulus Anran.