Hazella Adeline, atau Hazel, adalah gadis 19 tahun yang dikenal sebagai bad girl. Meski keras kepala dan berani, Hazel sebenarnya memiliki hati yang sangat baik. Saat pindah sekolah, Hazel harus tinggal di rumah kakaknya, Cateline, yang ternyata sudah menikah selama dua tahun dengan seorang pria bernama Sagara. Namun, Sagara jauh dari bayangan Hazel tentang seorang suami. Ia terlihat penakut, mudah menangis, selalu mengalah, dan sering menjadi sasaran amarah Cateline. Hazel pun selalu membelanya hingga tanpa sadar mulai menyukai pria itu. Hazel tahu perasaannya salah karena Sagara adalah suami kakaknya. Ia berusaha menahannya. Hingga sebuah rahasia perlahan terbongkar. Sagara ternyata mengalami amnesia dan tidak mengingat siapa dirinya sebelum kecelakaan. Tak ada yang tahu bahwa sebelum kehilangan ingatan, Sagara adalah mafia paling kejam sekaligus salah satu pria terkaya di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Cateline membeku di tempatnya. Sepasang matanya membelalak lebar, mengunci sosok pria berjas hitam megah yang kini berdiri anggun di tengah ruangan. Wajah tampan dengan rahang tegas itu, struktur tubuh tegap itu... semuanya begitu familiar. Namun, aura yang terpancar dari tubuh pria itu seribu kali lipat lebih mengerikan, dingin, dan dominan dari siapa pun yang pernah ia temui sepanjang hidupnya.
Lidah Cateline terasa kelu, tenggorokannya kering terbakar. Keringat dingin menetes perlahan dari pelipisnya, membasahi riasan mewahnya.
"S-Sagara...?" cicit Cateline dengan suara bergetar hebat, nyaris tak terdengar di tengah keheningan yang mencekam. "T-tidak mungkin... Kau... Sagara...?"
Mendengar nama itu diucapkan, Hazel yang tadinya tertunduk dalam duka langsung mendongak cepat. Manik matanya yang sembap melebar seketika saat menatap sosok pria yang berdiri tegak di depannya.
DEG.
Jantung Hazel seolah berhenti berdetak. Itu benar-benar Sagara. Pria yang semalam ia tangisi hingga air matanya mengering, pria yang ia lihat jatuh melayang ke dasar jurang yang gelap. Dia masih hidup dan berdiri utuh tanpa cela sedikit pun.
Namun, ada sesuatu yang sangat berbeda. Tidak ada lagi raut polos yang mengasihan, tidak ada pandangan lugu yang selalu menatapnya penuh kepasrahan, dan tidak ada lagi sosok rapuh yang hanya bisa menunduk saat dicambuk. Pria yang berdiri di hadapannya sekarang memancarkan aura kegelapan yang teramat pekat dingin, angkuh, dan mematikan.
Apakah... apakah ingatan Kak Sagara sudah kembali? Apakah dia sudah sembuh? pikir Hazel berkecamuk dalam hatinya. Pandangannya beralih pada Gideon dan puluhan pengawal bersenjata yang membungkuk hormat padanya. Lalu... dia sebenarnya... seorang Raja Mafia?!
Sebuah kesadaran besar mendadak menghantam otak Hazel. Rasa syok dan tak percaya membuat bibir rampingnya sedikit terbuka. Hazel melongo, menatap bergantian antara Arlend dan Cateline yang kini tampak bagai mayat hidup.
Kau benar-benar sial kali ini, Cateline... bisik Hazel dalam hatinya, sebuah kepuasan dingin mendadak merayapi dadanya di balik rasa terkejutnya. Pria yang selama ini kau cambuk, kau hina sebagai anjing, dan kau injak-injak harga dirinya... ternyata adalah penguasa tertinggi yang bisa menghancurkanmu hanya dengan satu jepretan jari.
Arlend melangkah pelan. Suara derap sepatu kulit mewahnya menghantam lantai marmer, menciptakan gema yang menusuk saraf keheningan ruangan. Ia menghentikan langkahnya tepat di depan Cateline dan Helena yang sudah gemetar parah.
Mata elang Arlend menatap Cateline dari atas ke bawah sebuah tatapan yang teramat dingin, tajam, dan meremehkan, seolah-olah wanita di depannya tak lebih dari seonggok sampah yang tak berharga.
"Sagara...?" ulang Arlend.
Suaranya keluar begitu rendah, berat, dan sarat akan penekanan mematikan yang menusuk hingga ke tulang. Intonasi tajam itu membuat para polisi di sekeliling ruangan refleks menundukkan kepala, tak sanggup menahan tekanan aura membunuh yang menguar dari tubuhnya.
Arlend menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya sebuah senyuman kelam yang tidak menyiratkan kehangatan sedikit pun, melainkan janji akan kehancuran mutlak.
"Sagara adalah nama sampah yang kau berikan pada pria yang kehilangan ingatannya," pangkas Arlend dengan nada suara yang begitu dingin, tenang, namun sanggup meruntuhkan keberanian siapa pun yang mendengarnya.
Ia memajukan tubuhnya selangkah, mengikis jarak. Pendar bahaya di matanya mengunci mata Cateline yang mulai berkaca-kaca oleh rasa takut yang luar biasa.
"Namaku adalah Arlend Kyren Victor," tekan Arlend, setiap kata yang keluar dari mulutnya membawa bobot takdir yang teramat gelap. "Dan kau... bersama wanita tua di sebelahmu ini... telah bermain-main dengan neraka."
Lutut Cateline mendadak lemas tak bertulang. Rasa takut yang begitu dahsyat merayapi seluruh tubuhnya, membayangkan setiap cambukan, celaan, dan siksaan yang pernah ia layangkan pada sang Raja Mafia selama dua tahun terakhir.
"T-Tidak... Ini pasti kesalahpahaman! Tuan Victor, tolong dengarkan saya dulu!" teriak Cateline histeris. Suaranya melengking sumbang, bergetar hebat di udara. Wajah mewahnya kini pucat pasi bagai mayat, dengan keringat dingin yang membasahi pelipis dan merusak riasan mewahnya.
Cateline mencoba mengambil satu langkah maju, jemarinya yang gemetar mengudara seolah hendak menggapai jas Arlend, namun tatapan mata elang pria itu seketika membekukan seluruh pergerakannya di tempat.
"Kami tidak tahu... Sungguh, kami sama sekali tidak tahu bahwa Anda adalah Tuan Besar klan Victor!" jerit Cateline makin panik, meremas gaunnya dengan tangan yang berguncang hebat. "Kalau saja kami tahu sejak awal, kami tidak akan pernah—"
"Tidak akan pernah apa?" potong Arlend tenang.
Suaranya keluar rendah, sangat halus, namun sarat akan kejamnya aura kematian. Arlend memiringkan kepalanya sedikit, menatap Cateline dari atas ke bawah dengan binar mata yang teramat dingin dan meremehkan.
"Tentu saja aku tidak akan menghabiskan nyawamu sekarang," bisik Arlend dengan nada suara yang begitu menusuk hingga merindingkan bulu kuduk semua orang di ruangan itu. "Bagaimana mungkin permainan indah ini selesai secepat itu? Membunuhmu dalam sekejap... terlalu berbelas kasih untuk sampah seperti kalian."
Arlend memutar tubuhnya perlahan, menyilangkan kedua tangan di belakang punggungnya dengan gestur seorang penguasa mutlak.
"Gideon," panggil Arlend tanpa melirik.
"Saya, Tuan Besar," sahut Gideon cepat seraya membungkukkan badannya sembilan puluh derajat.
"Hancurkan Adeline Group hari ini juga," tekan Arlend dengan intonasi berat dan penuh penekanan mematikan. "Tarik seluruh investasi, bekukan aset perbankan mereka, dan pastikan seluruh mitra bisnis memutus kontrak. Buat keluarga ini bangkrut tanpa tersisa satu sen pun... sampai mereka mengemis di jalanan."
"TIDAK! JANGAN, TUAN VICTOR! SAYA MOHON!"
Helena mendadak bersujud di atas lantai marmer yang dingin. Wanita tua yang biasanya sangat angkuh dan memandang rendah orang lain itu kini menangis histeris, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, memohon-mohon bagai seorang pengemis.
"Jangan hancurkan perusahaan kami, Tuan! Harta itu adalah satu-satunya milik kami! Ambil nyawa saya saja, tapi jangan ratakan bisnis kami! Tolong kasihanilah kami!" jerit Helena dengan tangisan menyayat hati, diikuti oleh Cateline yang ikut merosot ke lantai, tersedu-sedu meratapi kehancuran takdir mereka.
Melihat ibu dan anak yang pernah menyiksanya kini berlutut, menangis meraung-raung di bawah kakinya, tidak ada sekelumit pun rasa iba di dalam dada Arlend.
Bibir tegas sang Raja Mafia justru terangkat perlahan, membentuk garis senyuman miring yang begitu kelam, dingin, dan menakutkan. Pendar kejam di matanya memancarkan kepuasan yang nyata ia teramat menikmati setiap detik jeritan, ratapan, dan air mata ketakutan dari orang-orang yang pernah merendahkannya.
Di sudut ruangan, Hazel menyaksikan pemandangan itu tanpa berkedip. Manik matanya yang sembap menatap lekat profil wajah Arlend dari samping.
Dia... terlihat sangat berbeda, bisik Hazel di dalam hatinya dengan perasaan berkecamuk. Ada rasa asing yang menyusup ke dadanya saat melihat senyuman dingin dan kekejaman mutlak yang terpancar dari diri Arlend. Tak ada lagi sisa-sisa Kak Sagara yang hangat, lembut, dan selalu menatapnya dengan kepolosan yang jernih. Pria di depannya kini benar-benar seorang monster dan penguasa dunia gelap.
Namun, Hazel menghembuskan napas pelan, mengunci rapat bibirnya.
Tapi... setidaknya dia sudah selamat, lanjut Hazel dalam hati, menyunggingkan senyum tipis yang teramat lirih. Setidaknya dia tidak akan pernah dianiaya, dihina, atau dicambuk secara kasar lagi oleh Cateline dan Helena.
double up y thor 😄🙏
kasihan si hazel ...