NovelToon NovelToon
TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Penyelamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: achmad abdur roufur rokhim

Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.

​Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.

​Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Realita yang Menggigit dan Air Mata Kesombongan Dunia

​Satu minggu Berlalu

​Tujuh hari telah berlalu sejak malam di mana gemerlap lampu kristal Hotel Grand Imperial menghancurkan satu-satunya ilusi indah dalam hidup Senja Kirana.

​Setelah malam pelarian itu, Senja tidak pernah kembali ke Kedai Roti Harum Manis. Otaknya yang cerdas dengan cepat merangkai semua kejanggalan. Ia menyadari bahwa 'pemilik baru' yang membeli kedai dan membersihkan namanya dari fitnah Siska tidak lain adalah Arga Danendra. Menyadari bahwa ia bekerja di bawah belas kasihan pria yang telah membohonginya, Senja memilih untuk mengundurkan diri. Ia menitipkan surat pengunduran diri dan seragamnya pada tetangga untuk diberikan kepada Pak Yanto.

​Bukan hanya itu, Senja juga mengepak seluruh barang bawaannya yang tak seberapa, dan pergi meninggalkan rumah kontrakan berpintu kayu jati tersebut. Ia menyewa sebuah kamar kos sempit di pinggiran rel kereta api yang jauh lebih kumuh, kumuh namun jujur. Ia meninggalkan kemeja biru kotak-kotak dan sisa uang lima ratus ribu pemberian Arga di atas kasur kontrakan lama, sebagai tanda bahwa ia tidak membawa sepeser pun harta dari dunia sang miliarder.

​Kini, Senja harus kembali merangkak dari titik nol.

​Siang itu, matahari Jakarta bersinar dengan sangat terik, seolah ingin memanggang aspal ibu kota. Udara terasa panas dan lengket.

​Senja kini bekerja sebagai tenaga lepas (freelance) untuk sebuah perusahaan katering murah yang melayani acara-acara outdoor. Hari ini, ia ditugaskan di sebuah pesta kebun (garden party) perayaan ulang tahun putri seorang pengusaha kaya di kawasan elit Pondok Indah.

​Pesta itu digelar di halaman belakang sebuah rumah mewah yang besarnya menyamai lapangan sepak bola. Tenda-tenda putih berhiaskan bunga lili segar didirikan. Ratusan tamu undangan yang terdiri dari para sosialita, pengusaha, dan keluarga kaya hadir mengenakan pakaian berbahan sutra dan linen yang mahal. Gelak tawa palsu, denting gelas anggur, dan aroma parfum impor bercampur baur di udara.

​Di tengah kemewahan itu, Senja berdiri dengan peluh yang membasahi dahi dan seragam kemeja putihnya yang berbahan kasar. Kakinya terasa kebas karena ia sudah berdiri dan berjalan mondar-mandir selama enam jam tanpa henti sejak pagi untuk menyiapkan meja. Waktu tidurnya yang berantakan selama seminggu terakhir membuat kepalanya berdenyut menyakitkan.

​"Senja! Jangan melamun! Antarkan nampan berisi koktail stroberi ini ke meja VIP di dekat kolam renang, sekarang!" bentak Pak Rudi, mandor katering yang terkenal kasar dan tak punya empati.

​"Baik, Pak," sahut Senja pelan. Suaranya serak karena kehausan.

​Senja mengangkat nampan perak besar yang berisi belasan gelas kaca menjulang tinggi. Koktail berwarna merah terang itu dihiasi potongan stroberi dan es batu yang membuatnya terasa sangat berat di kedua lengan Senja yang mungil.

​Dengan langkah berhati-hati, Senja berjalan menyusuri jalan setapak berbatu di pinggir kolam renang yang jernih. Matanya fokus menatap keseimbangan gelas-gelas di atas nampan. Ia harus ekstra hati-hati, karena sepatu kets pinjaman yang ia pakai memiliki sol yang sudah licin.

​Di saat yang bersamaan, dari arah berlawanan, seorang tamu wanita berjalan mundur tanpa melihat jalan. Wanita itu adalah Nyonya Vina, seorang sosialita arogan yang terkenal dengan mulut berbisanya di kalangan elit. Nyonya Vina mengenakan gaun putih bersih rancangan desainer Italia seharga puluhan juta, dipadukan dengan sepatu hak tinggi berwarna senada. Ia sedang asyik tertawa terbahak-bahak sambil mengambil foto selfie menggunakan ponsel mahalnya bersama dua orang temannya.

​"Ke kiri sedikit, Jeng! Biar kolam renangnya kelihatan!" seru Nyonya Vina sambil terus melangkah mundur dengan cepat.

​Senja yang melihat wanita itu melangkah mundur ke arahnya seketika panik. Ruang geraknya terbatas karena di sebelah kirinya adalah kolam renang, dan di kanannya adalah meja hidangan.

​"Permisi, Nyonya! Awas di belakang ada—"

​Peringatan Senja terlambat.

​Bruk!

​Nyonya Vina menabrak tubuh Senja dengan cukup keras. Hak sepatunya yang tinggi membuatnya kehilangan keseimbangan, sementara Senja yang menahan beban nampan berat tak mampu menghindar.

​PRANGGG!!!

​Nampan perak itu terlepas dari tangan Senja. Belasan gelas kaca jatuh menghantam pinggiran batu kolam dan pecah berkeping-keping. Cairan koktail berwarna merah stroberi yang lengket tumpah berserakan, dan sialnya, separuh dari cairan merah itu menyiprat dengan sangat telak ke bagian bawah gaun putih bersih milik Nyonya Vina, serta menodai sepatu hak tinggi mahalnya.

​Keheningan seketika menyergap area kolam renang. Alunan musik jazz yang sedang dimainkan seolah tenggelam oleh suara pecahan kaca tersebut. Puluhan pasang mata tamu undangan langsung menoleh ke arah sumber keributan.

​Nyonya Vina berdiri membeku menatap bagian bawah gaun putihnya yang kini dipenuhi noda merah lengket. Wajahnya yang dipenuhi riasan tebal seketika berubah menjadi semerah tomat karena amarah yang memuncak hingga ke ubun-ubun.

​"A-AAAAKKHHH!!" jeritan histeris Nyonya Vina melengking memekakkan telinga. Ia menatap Senja dengan mata melotot nyaris keluar dari kelopaknya.

​Senja yang jatuh terduduk di atas lantai batu, buru-buru bangkit meski lututnya terasa perih karena tergores pecahan kaca. Wajah Senja seputih kertas. Ketakutan yang luar biasa menyergapnya.

​"M-Maafkan saya, Nyonya... S-Saya sungguh-sungguh minta maaf... Saya tidak bermaksud—" Senja membungkukkan badannya berkali-kali dengan tubuh gemetar hebat.

​"Maaf?! Kau bilang maaf?!" raung Nyonya Vina kalap. Wanita itu maju selangkah dan tanpa aba-aba, ia mendorong bahu Senja dengan keras hingga gadis itu kembali terhuyung mundur.

​"Kau buta ya, dasar Gadis Gembel?! Punya mata tidak dipakai! Kau tahu berapa harga gaun ini?! Gaun ini harganya seratus lima puluh juta! Lebih mahal dari nyawamu dan seluruh keluargamu! Dan sekarang gaun ini hancur karena cairan murahmu ini!" maki Nyonya Vina dengan suara yang sengaja dikeraskan agar semua orang mendengar betapa mahalnya pakaian yang ia kenakan.

​Para tamu sosialita lain mulai berkerumun, berbisik-bisik sambil menatap Senja dengan pandangan jijik dan merendahkan, seolah Senja adalah virus penyakit menular. Tidak ada satu pun yang membela fakta bahwa Nyonya Vina-lah yang berjalan mundur tanpa melihat jalan. Di dunia ini, kebenaran selalu berpihak pada mereka yang memiliki saldo rekening paling banyak.

​Mandor katering, Pak Rudi, berlari tergopoh-gopoh menghampiri kerumunan dengan wajah pucat pasi.

​"A-Ada apa ini?! Astaga, Nyonya Vina! Maafkan kami, Nyonya!" Pak Rudi langsung membungkuk hormat layaknya pelayan yang sedang menyembah ratu.

​"Rudi! Dari mana kau pungut pelayan buta dan bodoh ini?!" tunjuk Nyonya Vina tepat di depan hidung Senja. "Lihat gaunku! Lihat sepatuku! Aku tidak mau tahu, kateringmu harus mengganti rugi semua kerusakannya, atau aku akan pastikan perusahaan kateringmu ini bangkrut besok pagi!"

​Mendengar ancaman itu, Pak Rudi langsung berkeringat dingin. Perusahaannya bisa hancur berantakan. Ia langsung berbalik dan menatap Senja dengan kemarahan yang meluap-luap.

​PLAK!

​Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Senja.

​Tamparan itu begitu keras hingga sudut bibir Senja robek sedikit dan mengeluarkan darah segar. Kepala Senja tertoleh ke samping. Telinganya berdenging hebat.

​"Dasar pelayan tidak berguna! Gadis pembawa sial!" bentak Pak Rudi tanpa belas kasihan. "Gajimu bulan ini aku tahan semua! Dan itu bahkan belum cukup untuk membayar seperseratus dari kerusakan ini!"

​Senja memegangi pipinya yang memanas. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menggenang di pelupuk matanya, membuat pandangannya kabur. Rasa perih di pipinya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya yang diinjak-injak, dipermalukan di depan puluhan orang elit yang menatapnya seperti sampah.

​"S-Saya tidak salah, Pak... Nyonya ini yang berjalan mundur..." bisik Senja dengan suara bergetar, mencoba membela sisa-sisa harga dirinya.

​"Berani kau menjawab?!" Nyonya Vina semakin murka. Ia melangkah maju, melepaskan tas tangannya, lalu menunjuk sepatu hak tingginya yang terkena noda merah.

​"Kau gadis miskin yang tidak tahu diri! Sudah salah, berani menyalahkan orang lain! Jika kau tidak punya uang untuk mengganti gaunku, maka kau harus membayar dengan harga dirimu!" desis Nyonya Vina kejam. "Berlutut! Berlutut sekarang juga dan lap sepatuku yang kotor ini menggunakan tanganmu dan seragam lusuhmu itu! Jika kau tidak melakukannya, aku akan memanggil polisi dan memenjarakanmu atas tuduhan pengerusakan properti!"

​Ancaman penjara itu membuat tubuh Senja membeku. Penjara. Bayangan tentang tempat yang gelap dan menakutkan itu kembali menghantuinya. Ia tidak punya siapa-siapa di dunia ini untuk membebaskannya. Ia tidak punya uang untuk menyewa pengacara. Jika ia dipenjara, hidupnya akan benar-benar hancur selamanya.

​"Cepat berlutut, Senja!! Lakukan apa yang Nyonya Vina perintahkan sebelum kau menghancurkan kita semua!" bentak Pak Rudi, mendorong bahu Senja secara paksa ke bawah.

​Di bawah terik matahari siang itu, di hadapan puluhan pasang mata yang menatapnya dengan congkak, Senja dipaksa bertekuk lutut.

​Lututnya yang sudah terluka terkena pecahan kaca, kini menempel di atas kerasnya lantai batu. Udara terasa mencekik tenggorokannya. Air mata keputusasaan akhirnya lolos, menetes deras membasahi pipinya yang kusam, jatuh ke lantai yang lengket oleh noda minuman.

​Senja menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tangannya yang bergetar meraih ujung seragam kemejanya sendiri, lalu dengan sisa-sisa napas yang tercekat oleh isakan, ia mulai mengelap noda merah di sepatu hak tinggi Nyonya Vina.

​Setiap usapan yang ia lakukan adalah pembunuhan terhadap harga dirinya. Setiap detik ia berlutut di bawah kaki wanita sombong itu, adalah pengingat betapa tidak berharganya nyawa seorang rakyat jelata di mata orang kaya.

​"Lihat itu, Jeng. Memang begitulah tempat yang pantas untuk orang miskin. Di bawah telapak kaki kita," ejek Nyonya Vina sambil tertawa sinis bersama teman-temannya. Beberapa tamu bahkan mengeluarkan ponsel mereka dan memotret kejadian itu tanpa empati.

​Senja menangis. Hatinya menjerit, mencabik-cabik dinding dadanya.

​Di saat-saat paling merendahkan seperti ini, ingatan yang paling ingin ia kubur justru kembali muncul ke permukaan. Ia teringat pada wajah Arga Danendra. Ia teringat pada kelembutan tangan pria itu saat mengusap air matanya, dan suaranya yang berkata, 'Kapan pun dunia terlalu keras untukmu, lenganku akan selalu terbuka untuk menjadi tempatmu bersembunyi.'

​Jika Arga ada di sini, pria itu pasti akan meruntuhkan seluruh pesta ini. Arga pasti akan membuat Nyonya Vina bersujud meminta maaf padanya. Arga bisa melindungi Senja hanya dengan satu jentikan jarinya.

​Tolong aku, Kak Arga... Tolong aku... dunia ini terlalu jahat... rintih batin Senja putus asa. Kerinduannya pada sosok pelindung itu nyaris mengalahkan logikanya. Ia sangat ingin berlari mencari Arga, memohon pada pria itu untuk memeluknya dan menyembunyikannya dari kekejaman manusia-manusia ini.

​Namun tiba-tiba, logika dan ketegaran yang diajarkan almarhum ibunya kembali menampar kesadaran Senja.

​Senja menghentikan usapan tangannya di sepatu wanita itu.

​Air matanya masih mengalir, namun tatapan matanya perlahan berubah. Dari tatapan seorang korban yang rapuh, menjadi tatapan seorang pejuang yang menolak untuk dihancurkan.

​Tidak, batin Senja menegaskan. Jika aku memohon perlindungan dari Arga, maka apa bedanya aku dengan orang-orang di sini?

​Senja menyadari satu kebenaran yang sangat pahit namun menyadarkan. Orang-orang elit seperti Nyonya Vina ini adalah orang-orang yang hidup di dalam dunia Arga Danendra. Mereka adalah lingkaran sosial sang CEO. Jika Senja memilih untuk bersanding dengan Arga, maka di masa depan, Senja harus berhadapan dengan ribuan orang berhati busuk seperti Nyonya Vina. Mereka akan tersenyum palsu di depannya karena takut pada kekuasaan Arga, namun di belakangnya, mereka akan selalu memandang Senja sebagai 'Gadis Gembel' yang menumpang hidup, persis seperti tatapan mereka saat ini.

​Aku bukan parasit. Aku tidak akan menggunakan kekuasaan pria lain untuk meninggikan harga diriku, tekad Senja mengakar kuat di dalam hatinya.

​Perlahan, Senja melepaskan tangannya dari sepatu Nyonya Vina.

​Gadis mungil itu mengangkat wajahnya. Ia menyeka air mata dan noda darah di sudut bibirnya menggunakan punggung tangannya dengan kasar. Lalu, dengan gerakan yang perlahan namun sangat pasti, Senja bangkit berdiri dari lututnya.

​Nyonya Vina yang sedang asyik tertawa, terkejut melihat pelayan itu berani berdiri sebelum ia suruh.

​"Hei! Siapa yang menyuruhmu berdiri?! Sepatuku belum bersih sempurna!" bentak Nyonya Vina.

​Senja berdiri tegak. Tubuhnya mungkin kecil, seragamnya kotor dan lututnya berdarah, namun dagunya terangkat tinggi. Tatapan matanya tidak lagi memancarkan ketakutan, melainkan sebuah keberanian yang memancar dari jiwa yang murni.

​"Saya sudah meminta maaf, Nyonya. Dan saya sudah membersihkan sepatu Anda sebagai bentuk pertanggungjawaban karena saya tidak sengaja berada di jalan Anda saat Anda berjalan mundur," ucap Senja dengan suara yang sangat tenang, dingin, dan artikulasi yang jelas, mengalahkan suara gemerisik daun di taman itu.

​Semua orang tertegun. Bahkan Pak Rudi, sang mandor, kehilangan kata-kata melihat aura keberanian dari gadis yang biasanya selalu menunduk itu.

​"Namun," lanjut Senja, menatap tajam langsung ke mata Nyonya Vina, "Nyonya mungkin bisa membeli seribu gaun mahal dan memenjarakan orang miskin seperti saya dengan uang Nyonya. Tapi Nyonya tidak akan pernah bisa membeli etika dan kemanusiaan. Uang Anda membuat Anda terlihat kaya dari luar, tapi kelakuan Anda hari ini membuktikan betapa miskinnya jiwa Anda di dalam."

​Kalimat itu menohok dengan sangat telak, bagaikan tamparan tak kasat mata yang jauh lebih menyakitkan daripada tamparan fisik.

​Wajah Nyonya Vina memerah padam, urat lehernya menonjol karena malu dan murka dihakimi oleh seorang pelayan miskin di depan teman-temannya.

​"B-Berani-beraninya kau?! Dasar pelayan kurang ajar! Rudi! Panggil keamanan! Seret dia ke kantor polisi sekarang juga!" jerit Nyonya Vina histeris.

​"Tidak usah repot-repot memanggil keamanan, Nyonya," potong Senja dengan tenang. Ia melepas celemeknya yang kotor dan meletakkannya di atas meja hidangan terdekat.

​"Saya akan pergi dari sini. Jika Nyonya ingin melaporkan saya ke polisi, silakan. Saya miskin, tapi saya tidak takut, karena Tuhan dan semesta tahu siapa yang berjalan mundur dan siapa yang berbohong hari ini."

​Senja menoleh pada mandornya. "Pak Rudi, silakan tahan gaji saya. Anggap saja itu uang ganti rugi atas kebodohan saya bekerja di bawah pimpinan pengecut seperti Anda."

​Tanpa menunggu balasan atau makian lanjutan, Senja membalikkan badannya. Ia berjalan membelah kerumunan sosialita yang langsung menyingkir memberikan jalan, seolah terintimidasi oleh martabat dan aura kebanggaan yang dipancarkan oleh gadis berpakaian lusuh tersebut.

​Senja berjalan dengan langkah tegap, menembus terik matahari siang, dan keluar dari gerbang rumah mewah itu.

​Begitu ia berada cukup jauh dari lokasi pesta, begitu ia yakin tidak ada lagi orang-orang elit yang melihatnya, tembok ketegaran Senja akhirnya runtuh.

​Gadis itu bersandar pada sebuah pohon beringin besar di pinggir jalan trotoar. Napasnya terengah-engah, tubuhnya melorot jatuh ke tanah rerumputan. Ia memeluk kedua lututnya yang berdarah, dan menangis sejadi-jadinya.

​Air matanya tumpah menderas layaknya hujan badai. Ia menangis karena sakit di pipinya, menangis karena perih di lututnya, menangis karena ia kehilangan gajinya dan tidak tahu harus makan apa besok, dan yang paling menyakitkan... ia menangis karena ia sangat merindukan pelukan pria yang tidak mungkin bisa ia miliki.

​Dunia ini sangat keras. Dunia ini kejam tanpa ampun bagi mereka yang berada di bawah.

​Senja mengusap air matanya kuat-kuat. Ia menengadah, menatap langit Jakarta yang panas dan berdebu.

​Aku tidak akan kalah, isak Senja dalam hatinya, mengepalkan tangan kecilnya yang bergetar. Ibu, ayah... Senja janji, Senja tidak akan menyerah. Senja akan bertahan hidup, meski harus berdarah-darah. Senja tidak butuh pangeran. Senja akan menjadi pelindung bagi dirinya sendiri.

​Di bawah pohon beringin itu, Senja merangkai kembali pecahan hatinya. Ia membalut lukanya sendiri, bangkit berdiri, dan kembali melangkah menembus ganasnya ibu kota, bertekad untuk mencari pekerjaan baru esok hari, meski harus menjadi tukang cuci piring di warung tenda sekalipun.

​[Pesan Author:]

(Kekuatan seorang manusia tidak pernah diukur dari kemampuannya untuk menghindari penderitaan, melainkan dari kemampuannya untuk tetap berdiri tegak setelah dunia memaksanya berlutut.

​Hari ini, Senja berlutut di bawah kaki seorang wanita sombong, namun pada hakikatnya, jiwanya berdiri jauh lebih tinggi daripada puluhan orang kaya di pesta tersebut. Kemewahan, pakaian branded, dan kekuasaan adalah topeng yang bisa disewa oleh siapa saja yang memiliki uang. Namun harga diri, keberanian, dan integritas moral adalah harta karun absolut yang hanya bisa ditempa di dalam tungku penderitaan. Senja menangis bukan karena ia lemah, ia menangis karena ia adalah manusia. Namun ia menolak untuk hancur, karena ia adalah seorang pejuang sejati. Arga Danendra mungkin memiliki dunia, tetapi dunia tidak akan pernah memiliki jiwa seorang Senja Kirana.)

​Sementara itu, di sebuah tempat yang sangat jauh dari trotoar panas tersebut.

​Di dalam ruang kerja VVIP penthouse pribadinya yang berada di lantai teratas gedung pencakar langit, Arga Danendra sedang berdiri menghadap jendela kaca raksasa yang menampilkan pemandangan seluruh kota.

​Sudah satu minggu ia kembali mengambil alih kekuasaan. Kemeja putihnya rapi tanpa lipatan, dasinya terpasang sempurna. Di luar sana, ia berhasil meruntuhkan musuh-musuhnya dan mengembalikan stabilitas perusahaan. Ia telah mengamankan masa depan ratusan ribu karyawannya.

​Namun di dalam matanya yang segelap obsidian, tidak ada setitik pun kebahagiaan.

​Arga menggenggam sebuah gelas kristal berisi whiskey mahal di tangan kanannya. Ia memutar gelas itu pelan, menatap es batunya yang mencair.

​"Bagaimana laporannya, Raka?" tanya Arga pelan, tanpa menoleh pada asistennya yang baru saja masuk ke dalam ruangan.

​Raka berdiri beberapa langkah di belakang Arga, menundukkan kepalanya dengan raut wajah yang dipenuhi rasa bersalah. Raka telah menarik seluruh Tim Bayangan sejak Senja mengusir Arga di malam pesta waktu itu, karena ia tahu kehadiran mata-mata hanya akan membuat Senja semakin merasa dimanipulasi.

​Namun hari ini, Raka secara diam-diam meminta satu anak buahnya untuk melacak keberadaan gadis itu sekadar untuk memastikan keselamatannya. Dan laporan yang ia terima satu jam lalu membuat hatinya ikut mendidih.

​"Tim di lapangan baru saja memberikan laporan terakhir dari kawasan Pondok Indah, Bos," Raka menarik napas berat. "Nyonya Senja... dia bekerja di sebuah katering. Dan siang tadi, dia ditabrak oleh seorang sosialita bernama Nyonya Vina. Nyonya dipaksa berlutut, ditampar oleh mandornya, dan mengelap sepatu wanita itu dengan tangannya di depan umum."

​PRAK!!

​Gelas kristal di tangan Arga hancur berkeping-keping akibat cengkeraman tangannya yang menguat secara refleks. Cairan whiskey mahal dan darah segar dari telapak tangannya yang tertancap pecahan kaca menetes bersamaan ke atas karpet wol Persia di bawahnya.

​Namun Arga sama sekali tidak merasakan sakit di tangannya.

​Napas sang Raja Iblis memburu, dadanya naik turun dengan liar. Gelombang kemarahan, penyesalan, dan kebencian yang sangat absolut dan mematikan meledak di dalam pembuluh darahnya. Ia telah meninggalkan gadis itu untuk melindunginya dari bahaya, namun ia lupa bahwa di luar sana, dunia dipenuhi oleh monster-monster arogan yang siap merobek bidadarinya yang tak bersayap.

​"Vina," Arga mendesiskan nama itu perlahan, seolah sedang membaca mantra kutukan kematian. Ia berbalik, menatap Raka dengan mata yang sepenuhnya dikuasai oleh iblis pendendam.

​"Raka... cari tahu segala hal tentang wanita bernama Vina itu, suami, dan perusahaannya. Aku ingin mereka dihancurkan malam ini juga. Jangan tinggalkan sisa satu peser pun di rekening mereka."

​"Siap, Bos," Raka mengangguk tegas, aura membunuhnya ikut tersulut.

​Arga melangkah maju, darah masih menetes dari telapak tangannya. Matanya memancarkan tekad yang telah bulat. Rasa takutnya akan penolakan Senja kini hangus terbakar oleh amarahnya.

​"Satu minggu membiarkannya menghilang adalah kebodohan terbesarku. Persiapkan mobilnya, Raka. Malam ini, aku sendiri yang akan turun menjemputnya. Dan jika gadis itu menolak untuk ikut denganku..."

​Arga menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang dingin, wajahnya mengeras bagaikan batu karang yang siap menghancurkan gelombang.

​"...maka aku akan mengikatnya, membawanya ke sangkar emasku, dan membiarkan seluruh dunia tahu bahwa siapa pun yang berani membuat Senja Kirana berlutut... akan kubuat seluruh garis keturunannya bersujud memohon kematian padaku."

​Puncak kesabaran Sang Tiran telah habis. Perburuan untuk mengklaim kembali sang ratu telah dimulai, dan kali ini, tidak ada satu pun yang bisa menghalanginya, bahkan Senja itu sendiri.

1
𝐀⃝🥀Weny
kira² apa yang mau dilakukan Natasya ya🤔
𝐀⃝🥀Weny: astaga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sebelumnya kuracuun dirimu🤣🤣😜😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
aduuuh... mama Rini gangguin aja, kan Arga sudah menahan diri lama😜😜😜😜🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang luka yg ditorehkan masa lalu tidak bisa hilang begitu saja... jadi kamu harus bersabar senja dan bangunlah kepercayaan kembali untuk Arga 😊
𝐀⃝🥀Weny
Alhamdulillah.. mamanya Arga gak kayak orang kaya yg jahat🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
ya pastinya kamu Raka 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya senja sudah memaafkan Arga... semoga Arga tidak membuat ulah lagi 😅🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkin permintaan senja, kalau memang Arga mencintainya jangan pernah ikut campur urusannya.. biarlah waktu mengalir sebagaimana mestinya...
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ren₂₄🏡s⃝ᴿ M⃟3💋
mampir
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 😍😍😍🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
hempaskan saja si hama itu, bikin sakit mata saja😅😅😅
𝐀⃝🥀Weny: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 4 replies
𝐀⃝🥀Weny
demi mengejar cinta, apa saja akan ku lalui ... ahaaaay🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
heemmm.. padahal cinta, kenapa gengsi😅🤣🤣🤣jangan pantang menyerah Arga, kejarlah trs😄
𝐀⃝🥀Weny
wah bakalan seru nih, si Natasha juga sudah balik dan mau menemui Arga 😄 aduh senja, meskipun kamu menyamar gak bakalan bisa lari dari Arga Karena dia punya insting yang bagus🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: preeeett 😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
larilah sejauh yang kamu mau senja, tapi ingatlah sejauh apa pun kamu lari.. pasti ditemukan juga sama Arga.. kecuali yang membantumu lari itu musuhnya Arga 😅🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: asek aseeeek... cinta palsu🤣🤣🤣😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
sudah dikasih kebebasan sesuai keinginan kenapa gak langsung keluar😅 sekarang menyesalkan, tadi aja sok²an gak mau😏🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
sejatinya kebahagiaan tidak di ukur dengan harta, tapi nek gak punya harta Yo meh ngenesss/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: ooooooooooooooo
total 5 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang yg di butuhkan bukan kemewahan, melainkan sederhanaan dan kedamaian 🥰
𝐀⃝🥀Weny
sebuah kekuasaan memang pemenangnya 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: 😪😪😪😪😪
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
tuhkan... senja kecewa😅 harusnya sebelum pergi tu alasan kalau ingatanya sudah pulih, gak langsung pergi gitu aja😪🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkinkah Arga pura² tidak kenal senja untuk mengelabuhi musuh soal kelemahannnya🤔
𝐀⃝🥀Weny
kasihan senja ditinggal gitu aja😪 bersabarlah senja, suatu saat nanti kamu pasti tau kebenaran tentang Arga😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!