"Dimana Papaku, Ma?"
Pertanyaan seorang bocah cilik bernama Arka Daru Hutama itu membuat wanita dewasa bagaikan tersambar petir. Raut wajah perempuan bernama Ariska Sandra Hutami seketika pucat karena mendengar pertanyaan sederhana itu. Pada akhirnya pertanyaan itu takkan pernah mendapatkan jawaban pasti sampai takdir kembali mempertemukan Ariska dengan sosok seorang laki-laki yang mirip dengan Arka.
Siapakah sosok laki-laki itu? Apakah pertemuan mereka itu bisa menguak cerita masa lalu yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beres
"Indeks saham perusahaan kita naik lumayan hari ini, Tuan Frans. Bahkan kita mendapatkan kerjasama lima rumah sakit swasta dengan permintaan obat lumayan banyak. Untuk rumah sakit pemerintah, ada delapan. Hanya saja ada beberapa prosedur yang lumayan sulit untuk beberapa rumah sakit pemerintah. Jadi kita perlu meluangkan waktu lebih banyak untuk mengurusnya," ucap Carlo memberikan laporan kerjasama bulan ini.
"Rumah sakit dan distributor yang kemarin putus kontrak, ingin mengambil obat dari kita juga. Hanya saja..."
"Ambil saja. Lagi pula itu salahku juga yang terlambat produksi dan pengiriman. Wajar kalau mereka kecewa," sela Frans memberikan keputusan.
Suasana hati Frans sedang baik hari ini sehingga membiarkan orang-orang yang waktu itu sensi pada perusahaannya tetap diterima kerjasamanya. Apalagi beberapa rumah sakit pemerintah yang nanti akan berpengaruh pada perusahannya. Jika tidak disetujui menjadi pensupply obat-obatan, akan berpengaruh pada ijin perusahaan. Carlo pun menganggukkan kepalanya setuju dengan keputusan Frans. Yang penting perusahaan tidak goyah lagi.
"Apa masih ada lagi pekerjaan hari ini? Aku harus segera pulang karena akan pergi ke luar kota satu minggu. Aku mau menemui Ariska dan Arka," tanyanya pada Carlo.
"Hari ini, Tuan? Kok mendadak sekali perginya. Saya kan harus mengatur jadwal untuk satu minggu ke depan terlebih dahulu," tanya Carlo dengan tatapan terkejutnya.
"Ya. Saham perusahaan naik. Keuangan stabil dan keuntungan meningkat. Produksi obat dan distribusinya juga lancar. Lalu apa lagi yang harus aku tunggu? Aku harus segera menemui anak dan istriku," ucap Frans dengan tegas.
"Calon istri, Tuan Frans. Belum jadi istri," ucap Carlo memperbaiki ucapan Frans.
"Istri kok, sebentar lagi. Jangan iri sama Bosmu ini," ucap Frans yang langsung berdiri dengan senyum tipisnya.
"Jangan terlalu percaya diri, Tuan Frans. Ingat ada anaknya yang tidak semudah itu untuk ditaklukkan," ucap Carlo mengingatkan Frans.
"Gampang. Nanti kamu bawa Arka jalan-jalan dulu. Biar aku bisa PDKT dengan Ariska," ucap Frans yang kemudian pergi dari hadapan Carlo.
Hei...
"Aku bukan pengasuh anak-anak. Bukan hanya anakmu yang menyebalkan, tapi temannya itu juga." seru Carlo dengan raut wajah kesalnya.
"Gajimu aku potong karena bilang anakku menyebalkan, Carlo." seru Frans membuat Carlo memelototkan matanya.
Astaga...
Carlo menghela nafasnya kasar saat mendengar ucapan Frans. Bisa-bisanya gaji akan dipotong hanya karena mengatakan bahwa Arka itu sangat menyebalkan. Padahal pada faktanya memang benar adanya kalau Arka itu menyebalkan. Dia juga tidak mau menjadi pengasuh Arka dan temannya itu. Yang ada, rambutnya bisa rontok karena stress.
"Semoga kamu beruntung, Bos. Belum bertemu saja dia sudah berhasil membuatmu kalang kabut. Apalagi kalau sudah ketemu langsung," gumam Carlo sambil menggelengkan kepalanya. Dia sudah membayangkan wajah Frans yang frustasi setelah pulang dari menemui Arka.
***
"Pa, ayo kita ke rumahnya Ariska dan Arka. Aku mau bertemu anak dan istriku," seru Frans setelah sampai di rumah kedua orangtuanya.
"Kamu kenapa teriak-teriak sih, Frans? Papamu tidur habis kerokan. Dia masuk angin," seru Mama Anisa dari atas tangga.
"Alasan kan, Ma? Papa cuma nggak mau antar Frans pergi menemui Arka dan Ariska saja,"
"Kalian pasti baru iya-iya makanya Papa langsung ketiduran," teriak Frans membuat Mama Anisa memelototkan matanya.
Bugh...
Awwww...
Sebuah bantal melayang dari lantai dua dan mengenai kepala Frans. Lemparan bantal itu dilakukan oleh Papa Bayu yang kesal mendengar teriakan dari anaknya. Badannya sedang tidak sehat dan ingin segera istirahat. Malah mendengar teriakan tidak jelas dari anaknya. Apalagi beberapa maid dan pekerja sampai mendengar. Sungguh... Papa Bayu sangat malu mendengarnya. Frans mengelus kepalanya yang sedikit nyeri karena bantalnya lumayan besar. Padahal tadi dia sudah berusaha menangkapnya.
"Kalau teriak itu disaring, Frans. Di sini banyak orang. Ada maid, pekerja kebun, dan pengawal. Malu..." tegur Mama Anisa membuat Frans cengengesan.
"Habisnya Papa kaya ngga niat sih. Frans ingin menagih janji," ucap Frans tak mau kalah.
"Sebelum menagih janji, lunasi dulu hutangmu sama Papa." ucap Papa Bayu yang saat ini langsung turun ke lantai 1 menemui Frans.
"Iya, nanti. Yang penting pertemukan aku dulu dengan Ariska dan Arka. Perusahaan sudah stabil dan cenderung meningkat. Jadi bisa dong kalau Frans ber..."
"Jadi kamu teriak-teriak tuh karena ini?" tanya Papa Bayu dengan tatapan tak percayanya dan Frans menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Padahal kalau mau menemui mereka, datang aja sendiri sana." ucap Mama Anisa sambil menggelengkan kepalanya.
"Kan Frans nggak tahu dimana tempatnya, Ma." ucap Frans membuat Papa Bayu berdecih sinis.
"Jangan pikir Papa bodoh ya, Frans. Kamu menyuruh Carlo untuk memberi kartu ATM kan pada Arka? Tak mungkin kamu tidak tahu dimana mereka berada," ucap Papa Bayu dengan tatapan sinisnya.
Sebenarnya bukan itu keinginan Frans. Dia memang sudah tahu dimana Ariska dan Arka berada. Bahkan beberapa akses informasi umum sudah dibuka oleh Papa Bayu agar Frans bisa mencari sendiri. Namun Frans ingin kedua orangtuanya menemani untuk bertemu Ariska dan Arka. Apalagi Arka sudah mengetahui tentang dirinya. Dia pasti akan canggung jika berbicara dengan Arka sehingga membutuhkan orang untuk mencairkan suasana.
"Pa, maksudku bukan begitu. Aku ingin Mama dan Papa ikut. Nanti aku akan bicara dan minta maaf sama Ariska. Ini soal Arka yang katanya genius dan pintar bicara. Setidaknya bantu lah nanti mengurus Arka. Biar aku juga bisa menyelesaikan masalah sama Ariska," ucap Frans menjelaskan.
"Menjelaskan tuh dua-duanya, Frans. Jangan salah satunya, mereka itu satu paket." ucap Papa Bayu membuat Frans menghela nafasnya pelan.
"Iya, aku jelaskan pada dua-duanya. Aku ajak Carlo aja kalau begitu," ucap Frans sambil pergi dari hadapan kedua orangtuanya. Frans kesal karena orangtuanya tak mau menemaninya.
"Padahal kan kalau bawa orangtua, biar sekalian lamaran." gerutunya.
"Dimaafkan saja belum, bisa-bisanya udah kepikiran mau lamaran. Yakin banget bisa dimaafkan sama Ariska," seru Papa Bayu yang ternyata mendengar gerutuan Frans.
Yang penting udah usaha, Pa.
Papa Bayu dan Mama Anisa hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Frans. Apalagi suara langkah kaki Frans yang sengaja dihentakkan ke lantai itu sudah seperti anak kecil. Namun biar lah Frans bertemu sendiri dengan Arka dan Ariska. Biar dia menghadapi satpamnya Ariska yang susah ditebak jalan pikirannya itu. Lagi pula mereka yakin kalau Ariska tak mungkin bisa semudah itu mau dilamar atau diajak menikah.
"Anakmu tuh, Pa. Ngambekan kaya kamu," ucap Mama Anisa dengan sindirannya.
"Nggak papa. Wajar kok kalau laki-laki ngambekan. Emangnya cuma perempuan aja yang boleh ngambek," ucap Papa Bayu yang kemudian pergi ke kamarnya.
Dih... Nggak mau kalah sama sekali,
kmu tu dulu pas diap kejadian kurang usaha nyari keberadaan ariska
tq thor🙏😍
lanjutt lg ya🤭💪😄
pov Carlo : lanjuuut pak bos ,, 🕺🕺🕺🕺🕺
🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣