Tit... Tit... Tit...
"Nih uang buat beli listrik. Dasar wanita benalu, bisanya cuma minta uang aja tapi dandan tidak bisa." teriak seorang laki-laki sambil melempar beberapa lembar uang ke arah wajah istrinya.
Mempunyai mertua yang baik, tapi anaknya selalu menguji kesabarannya. Pelit, suka membandingkan dengan perempuan lain, dan selingkuh. Namun selalu menyalahkan istrinya yang selama ini sabar mendampinginya. Dia adalah Aruna Fatihah yang harus diuji kesabarannya selama 3 tahun belakang dengan perubahan suaminya.
Akankah Aruna masih akan bersabar jika suaminya menjalin kasih dengan perempuan lain? Apakah Aruna akan memilih diam atau membalas perlakuan dari suaminya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Roda Berputar
"Kok kamu ada di sini, Nasya? Sama siapa, Nak?" tanya Aruna pada seorang gadis cilik yang tak lain adalah Nasya.
"Sama Nenek dan Oma," jawab Nasya sambil menunjuk ke arah Ibu Salma dan Ibu Lala.
Aruna tidak menyangka kalau di restorant itu akan bertemu dengan mertuanya dan Ibu Lala. Bahkan Nasya ikut bersama mereka. Ketiganya sudah selesai makan dan akan pulang tapi Nasya malah melihat keberadaan Aruna. Aldi yang masih ada di sana pun bingung harus melakukan apa. Pasalnya dia tidak mengenal siapa orang-orang yang baru saja menemui Aruna.
"Oh iya... Bu, kenalkan ini atasannya Aruna. Namanya Pak Aldi. Kami baru saja selesai meeting," ucap Aruna memperkenalkan Aldi.
"Pak Aldi, ini Ibu saya dan temannya. Kemudian Nasya ini anak saya," lanjutnya.
"Saya Aldi, Bu." sapa Aldi sambil berjabat tangan pada ketiganya.
"Kamu langsung pulang saja, Aruna. Pekerjaan di kantor anggap saja sudah selesai. Jika belum, lanjut besok saja tidak apa-apa." ucapnya sebelum berpamitan kepada Aruna.
"Baik, Pak. Sekali lagi terimakasih," ucap Aruna sambil tersenyum. Aldi pun segera pergi dari restorant itu kemudian pulang.
"Aruna, Bosmu ganteng amat." ceplos Ibu Lala setelah melihat kepergian Aldi.
"Lebih gantengan Gavin kemana-mana, Mbak." ucap Ibu Salma memuji anak dari temannya itu.
"Gavin emang ganteng, Mbak Salma. Sayangnya suka menyebalkan dan sering mengatur," ucap Ibu Lala mengatakan tentang keburukan Gavin.
"Nggak bis..."
"Gini aja. Mending Ibu Lala coba pdkt sama Pak Aldi. Terus Ibu Salma, pdkt sama Pak Gavin. Nah... Aruna sama Nasya aja," sela Aruna membuat kedua perempuan paruh baya itu terkejut.
Mana bisa begitu, Aruna?
Hahaha...
Nasya dan Aruna tertawa melihat raut wajah shock dari kedua wanita paruh baya itu. Aruna pun segera menggendong Nasya dan membawanya keluar dari restorant itu. Aruna berencana membawa Nasya ke mall untuk membelikannya baju. Sudah lama sekali dia tidak jalan-jalan ke mall. Begitu juga dengan Nasya yang sudah tidak pernah membeli baju. Jika membeli pun mungkin hanya satu tahun sekali saat hari raya. Ibu Salma dan Ibu Lala pun tampak mengikuti dari belakang.
"Kamu gimana sih, Mbak? Katanya mau jodohin Aruna sama Gavin, kok malah memuji Pak Aldi. Terus kamu juga ngomongin keburukan Gavin di depan Aruna. Nanti kalau Aruna jadi illfeel bagaimana?" bisik Ibu Salma memprotes ucapan temannya itu.
"Gini lho, Mbak. Habisnya atasan Aruna itu ganteng. Terus aku kan bicara jujur. Kalau emang Aruna suka beneran sama Gavin, dia tidak akan peduli keburukannya lho. Yang penting kan keburukannya itu bukan yang selingkuh dan KDRT," ucap Ibu Lala membela diri.
"Kebanyakan ngeles kamu itu, Mbak. Sangat menyebalkan," gerutu Ibu Salma membuat temannya hanya tertawa.
"Atau Pak Aldi sama kamu saja, Mbak? Nanti minta Aruna jodohin," seru Ibu Lala memberikan saran.
Bugh...
Sembarangan...
Hahaha...
Aruna dan Nasya yang melihat keseruan dua wanita paruh baya yang sedang berbincang itu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Entah apa yang dibicarakan oleh keduanya sehingga begitu asyik seperti itu. Mereka pun memilih menunggu di dekat mobil Ibu Lala. Pasalnya ternyata Ibu Lala yang datang ke rumah kemudian mengajak Nasya dan Neneknya untuk makan di restorant.
"Bu, Aruna mau ajak Nasya beli baju ke mall. Ibu mau ikut atau tidak?" tanya Aruna pada mertuanya itu.
"Kalau Ibu ikut, boleh?" tanya Ibu Salma dengan tatapan penuh harapnya.
"Boleh dong, Bu. Malah lebih mudah ini nanti Aruna pilihkan daster dan baju untuk Ibu," ucap Aruna tak masalah. Dia bertanya karena khawatir dengan kondisi kaki dari mertuanya itu.
"Daster dan baju untuk Ibu? Buat apaan? Ibu nggak lagi mau berangkat ke kondangan kok beli baju," ucap Ibu Salma dengan tatapan anehnya.
"Biar nggak masuk angin lagi. Daster Ibu kan banyak yang sudah bolong," ucap Aruna dengan santainya.
"Justru yang bolong begitu malah enak lho, Aruna. Udah lah, nggak us..."
"Ibu nggak usah nolak, tadi kan mau ikut. Lagian Aruna habis dapat bonus dari Pak Aldi," sela Aruna dengan cepat.
"Pakai mobil Ibu saja," tawar Ibu Lala dengan yakin.
"Benar. Pakai mobil Mbak Lala saja,"
"Irit ongkos, Aruna." ucap Ibu Salma sambil terkekeh pelan.
Awalnya Aruna merasa tak enak hati karena merepotkan Ibu Lala. Namun Ibu Lala langsung mengatakan bahwa tidak direpotkan sama sekali. Apalagi Ibu Lala juga bingung harus apa di rumah. Jika Gavin nanti sudah menikah dan punya anak, mungkin dia akan lebih betah di rumah. Untuk sekarang, dia akan mencari teman agar tidak kesepian. Mungkin Aruna nanti akan membelikan sedikit oleh-oleh untuk Ibu Lala karena sudah banyak membantunya.
***
"Ibu, Kafka lapar." seru Kafka yang langsung menyelonong masuk rumah Ibunya.
Terlalu pusing memikirkan pemecatan Silvy dan laporan bulanan miliknya sehingga Kafka tidak istirahat di kantin. Sebenarnya dia juga tidak ada uang untuk makan. Ternyata uang di rekeningnya tinggal sedikit karena tadi sempat memberikannya pada Silvy untuk pulang. Dia sampai frustasi sendiri sekarang mengenai uang untuk kebutuhannya sendiri. Kafka baru sadar ternyata pengeluaran paling banyak itu karena Silvy.
Namun saat sampai rumah, tidak ada Ibu Salma yang menyambutnya. Rumah Ibunya dan Aruna sangat sepi. Walaupun begitu, rumah Ibu Salma tidak terkunci sehingga dia bisa langsung masuk. Kafka pun segera mencari makanan yang ada di dalam rumah. Namun tak ada satu pun lauk yang bisa dirinya makan. Yang ada hanya nasi di dalam magic com.
"Kenapa ini Ibu nggak masak sih? Itu rumah satunya juga kenapa dikunci segala? Padahal kan statusku juga masih suaminya dia," gerutu Kafka yang rasanya ingin membanting semua perabotan di rumahnya.
Arghhhh...
"Ibu, lapar..." rengek Kafka sambil mengacak rambutnya frustasi. Sudah bekerja pulang sore menjelang malam, tapi tidak ada satu pun makanan di sana.
Brumm... Brumm...
"Mobil siapa tuh?" gumamnya yang kemudian mengintip dari balik jendela. Ternyata Aruna, Ibu Salma, dan Nasya yang pulang ke rumah sambil membawa banyak paper bag.
"Aruna dan Ibu belanja sebanyak itu duit darimana? Apa jangan-jangan tabunganku diambil Aruna?" gumamnya menerka-nerka berasal darimana uang untuk mereka belanja.
"Mengapa setelah mau bercerai denganku, Aruna malah kaya sukses begitu ya?" Kafka masih tak habis pikir dengan hidupnya ini. Sekarang hidup Aruna malah seperti dirinya dulu yang bisa belanja santai begitu. Sedangkan hidupnya sekarang, seperti Aruna saat masih bertahan dengan Kafka. Roda benar-benar berputar.
"Wah... Ada yang tidak benar ini," Kafka pun langsung keluar dari rumah setelah mobil yang membawa mereka pergi.
Ada yang habis belanja nih? Dapat duit darimana tuh? Nyolong duitku ya,
Bugh...
lanjutttt😍💪
gavin ya thor😄💪
plong banget si kafka udh pergiii ,, akhirnya ny dy mikir juga buat cari kerjaa ,, kalo gx d usiiir pastii msh jd pengangguran truss Dy ,, 😂😂
emnk tuh si kafka harus d ruqyah dluu ,,
trus d retur aj Nasya bpa mu tu ,,
tuker tambah ma yg baru🤭😉