"Sayang, aku ke toilet sebentar ya," ucap Sean halus, sambil menepuk pelan jemari Aura yang berada di atas pangkuan.
Aura mengangguk pelan, memberikan senyuman terbaiknya. "Jangan lama-lama ya, Sean."
Sean berdiri dan melangkah menjauhi meja makan melingkar itu, menghilang di antara kerumunan alumni yang sedang asyik mengobrol. Aura kembali menyesap minuman dinginnya, mencoba menikmati suasana. Namun, jarum jam seolah berputar lambat. Lima menit berlalu, lalu sepuluh menit, hingga tak terasa hampir 15 menit Sean tak kunjung kembali ke meja mereka.
Rasa khawatir dan curiga mulai merayapi pikiran Aura. Dengan menghela nafas panjang, ia berpamitan singkat pada teman-teman seangkatannya lalu berdiri untuk menyusul kekasihnya. Langkah kakinya yang beralaskan gaun anggun dan sepatu hak tinggi mengayun perlahan menyusuri lorong katering yang agak remang-remang menuju area toilet.
Namun, sebelum langkahnya benar-benar sampai di depan pintu toilet pria, langkah Aura terhenti seketika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketegaran Dibawah Sorot Mata Sang CEO
Aura mendoros pintu kayu jati tebal itu perlahan. Bau harum aroma terapi bermotif sandalwood dan dinginnya pendingin ruangan langsung menyapa indra penciumannya. Ruangan wawancara itu begitu luas, elegan, dan didominasi oleh perabotan bernuansa hitam serta kaca tebal yang megah.
Dengan senyum profesional yang terpancar anggun di wajah cantiknya, Aura melangkah masuk beberapa tindak.
"Selamat pagi," ucap Aura halus sembari membungkukkan badannya sedikit untuk memberi hormat secara sopan, sebagaimana etika wawancara kerja yang baik.
Namun, saat Aura kembali menegakkan badannya dan memfokuskan pandangan ke arah meja utama di tengah ruangan, dadanya seketika berdesir hebat. Jantungnya serasa berhenti berdetak selama beberapa detik.
Di balik meja kerja megah berukuran besar itu, duduk dua orang penilai. Salah satunya adalah seorang pria paruh baya bersetelan rapi yang tampak menjabat sebagai wakil direktur. Namun, sosok yang duduk di kursi kebesaran paling tengah—dengan posisi paling dominan dan wibawa yang melingkupi seluruh ruangan—adalah Arsenio Pratama.
Arsen duduk menyandarkan punggung kokohnya dengan anggun. Setelan jas hitam pekat buatan penjahit kelas atas membalut sempurna bahunya yang tegap. Kemeja putih di dalamnya terpasang rapi dengan dasi gelap yang kencang. Manik mata tajam berwarna hitam pekat milik pria berusia 32 tahun itu menatap lurus ke arah Aura yang berdiri mematung di tengah ruangan.
Ada kilatan kepuasan dan minat yang tersirat sangat tipis di sudut mata Arsen saat meneliti penampilan Aura—kemeja putih yang membentuk lekuk tubuh bagian atasnya serta rok span di atas lutut yang memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus.
"Silakan duduk, Nona Aura Kirana," ujar Arsen dengan suara berat dan dalam yang bergema tenang, tanpa sedikit pun mengindikasikan bahwa mereka berdua pernah melewati malam yang sangat pribadi lusa lalu.
Aura menelan ludahnya yang terasa kesat. Jemari tangannya yang memegang map lamaran sedikit gemetar, namun ia memaksakan diri untuk tetap melangkah anggun dan duduk di kursi kayu berbusa yang telah disediakan di hadapan sang CEO.
Rasa terkejut yang sempat menguasai Aura perlahan menguap, berganti dengan fokus penuh pada tujuan utamanya. Wakil direktur di samping Arsen mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan teknis seputar analisis data dan manajemen proyek. Aura merespons setiap pertanyaan dengan luar biasa cerdas, lugas, dan penuh percaya diri. Suaranya yang tenang namun tegas mengalun di dalam ruangan luas itu, menjelaskan detail-detail kecil mengenai keahliannya serta portofolio pengalaman yang telah ia susun dengan begitu rapi.
Arsen tetap menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran, mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari bibir manis gadis itu. Pandangan matanya yang tajam dan pekat tak pernah lepas meneliti gestur tubuh Aura yang anggun serta sorot mata ketegarannya.
Setelah wakil direktur selesai memberikan catatan penilaian positif di lembar kertasnya, Arsen perlahan memajukan tubuhnya. Kedua tangannya bertaut di atas meja jati yang mengkilap, memotong keheningan ruangan dengan pertanyaan pamungkas yang sarat akan penekanan.
"Pertanyaan terakhir dari saya, Nona Aura," ujar Arsen dengan suara berat yang menuntut jawaban jujur. "Mengapa kami harus menerima kamu bekerja di perusahaan ini?"
Aura menatap lurus ke dalam manik mata Arsen. Senyum tipis yang penuh ketegasan terukir di bibirnya.
"Karena ini adalah satu-satunya kesempatan terbaik untuk saya, Tuan," jawab Aura lancar tanpa ada nada merendah atau memohon. "Saya tinggal sendiri di kota ini tanpa dukungan orang tua ataupun keluarga. Saya tidak memiliki tempat bersandar selain kemampuan dan kerja keras saya sendiri."
Jawaban lurus itu terlontar begitu polos namun sarat akan kenyataan pahit. Orang tua Aura memang sudah tidak peduli padanya sejak sang ayah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Ibunya memilih fokus membina kehidupan baru bersama suami dan keluarga barunya, meninggalkan Aura berjuang seorang diri membiayai kuliah dan kehidupannya di kota besar ini.
Keheningan sempat melingkupi ruangan tersebut selama beberapa detik. Wakil direktur di samping Arsen tampak mengangguk-angguk terkesan dengan kejujuran dan ketegaran kandidat muda di hadapan mereka.
Sementara itu, di mata Arsen, bayangan Aura yang penuh luka malam itu mendadak kembali berkelebat. Pria berusia 32 tahun itu menyadari bahwa di balik keanggunan dan paras cantiknya, gadis bergaun kemeja putih ini menyimpan kekuatan mental yang luar biasa. Senyum tipis berwibawa terukir di bibir tegas sang CEO.
"Alasan yang sangat kuat, Nona Aura," ucap Arsen pelan namun bernada memuaskan. "Hasil keputusan wawancara ini akan segera disampaikan oleh tim HRD."