Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Sesampainya di rumah kontrakan, Mia segera membuat kopi di dapur kecil yang pengap.
Tangannya menyeduh bubuk kopi sasetan dengan air panas dari termos tua, lalu menuangkannya ke dalam cangkir plastik yang agak kusam.
Langkah kakinya terseret lemas menuju ruang tengah.
Ia memberikan nasi kepada Gio yang baru saja mandi dan hanya mengenakan kaos oblong kusut dengan handuk yang masih menggantung di lehernya.
Gio membuka bungkus nasi uduk itu dengan kening berkerut tajam.
Begitu melihat reaches isi bungkusannya—hanya ada orek tempe, sedikit biun, dan separuh telur balado—wajahnya seketika merah padam.
"Kenapa lauknya bukan daging!!" bentak Gio seraya melempar bungkus nasi itu kasar ke atas meja lipat kayu.
Mia yang baru saja meletakkan cangkir kopi tersentak kaget.
Emosinya yang sejak tadi ditahan akhirnya meledak juga.
"Mas, uangnya nggak cukup!!" balas Mia melengking, menunjuk-nunjuk lembaran uang kembalian yang ia letakkan di dekat cangkir.
"Kamu cuma kasih aku uang lima puluh ribu! Mau beli kopi, gula, terus dapet daging buat dua orang di jam satu siang?! Pikir pake otak, Mas!"
"Alasan kamu saja, Mia! Dulu Tiyas selalu memasak daging!" potong Gio tak mau kalah, matanya melotot tajam menatap Mia penuh kekecewaan.
Dada Mia bergemuruh hebat. Mendengar nama Tiyas disebut di depan mukanya—seolah wanita itu jauh lebih sempurna dibanding dirinya—membuat rasa percaya diri Mia hancur berkeping-keping.
"Mas, jangan bandingkan aku dengan istrimu yang kaya itu!" teriak Mia dengan suara bergetar menahan tangis.
"Tiyas bisa kasih kamu daging tiap hari karena dia punya uang! Dia punya perusahaan! Sedangkan kamu? Kamu sekarang cuma mantan suami yang nggak punya apa-apa dan cuma bisa bentak-bentak aku!"
Kata-kata Mia menusuk tepat di harga diri Gio yang paling dalam, membuat suasana di dalam kontrakan kecil itu mendadak makin panas dan mencekam.
"Kamu juga nggak seperti Narendra yang selalu meratukan aku!" balas Mia tak kalah telak, air matanya menetes deras membasahi pipi.
Nama pria yang dulu disiapkannya untuk digantikan kini justru ia sebut dengan nada penuh penyesalan.
Kalimat Mia menjadi pukulan mematikan yang menghancurkan sisa-sisa kesombongan Gio.
Rasa tidak terima dan amarah mendadak menguasai pikirannya.
PRANGGG!
Dalam puncak amarahnya, Gio membanting gelas kopi di atas meja hingga hancur berkeping-keping di lantai semen.
Cairan hitam pekat bercampur pecahan plastik menyiprat ke mana-mana, membasahi ujung kaki
Mia yang berdiri gemetar karena terkejut.
Tanpa mengindahkan Mia yang terisak menahan takut, Gio menyambar jaketnya yang tergantung kusam di balik pintu.
Ia bangkit dari duduknya dan pergi keluar rumah, menghempaskan pintu kontrakan dengan dentuman keras yang membuat dinding lapuk itu bergetar.
Gio berjalan cepat menembus teriknya siang tanpa tujuan yang jelas, dibakar rasa murka dan kenyataan pahit bahwa kehidupannya kini telah hancur berantakan.
Di sisi lain, Tiyas baru saja sampai di rumahnya yang tenang. Mobil Narendra berhenti tepat di depan pagar.
"Aku nggak mampir ya, Tiyas. Kamu istirahat, rehatkan pikiran kamu," ujar Narendra lembut seraya tersenyum hangat dari balik kemudi.
Narendra berpamitan langsung pulang, memberikan ruang bagi wanita itu untuk menenangkan diri.
Tiyas menganggukkan kepalanya, menyunggingkan senyum tipis sarat rasa terima kasih sebelum melangkah masuk ke dalam rumah.
Pikiran Tiyas masih melayang, berputar pada setiap kata yang diucapkan Narendra saat di pantai tadi.
Dengan dada yang bergemuruh hebat, Tiyas mengambil ponselnya dan menghubungi Imelda, sahabat dekatnya yang selalu tahu segala seluk-beluk hidupnya.
Hanya dalam dua kali nada dering, panggilan itu terhubung.
"Mel," bisik Tiyas lirih.
"Ada apa?" sahut Imelda cepat dari seberang telepon, menangkap nada cemas sekaligus ragu dari suara sahabatnya.
"Naren mengajakku menikah,"
"APA?!" pekik Imelda histeris, membuat Tiyas refleks menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Berita bagus itu, Tiyas!"
"Tapi aku belum menjawabnya. Aku masih takut." desah Tiyas lemas seraya mendaratkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
"Aku takut gagal lagi, Mel. Aku baru aja lepas dari Gio, dan Naren juga baru disakiti Mia. Bagaimana kalau ini cuma emosi sesaat?"
"Tiyas, dengarkan aku," potong Imelda dengan nada serius, memangkas semua keraguan sahabatnya.
"Jangan samakan Naren sama mantan suami brengsekmu itu! Buka mata kamu lebar-lebar, Tiyas. Selama kamu hancur karena Gio, siapa pria yang selalu ada di samping kamu? Naren!"
Imelda menghela napas panjang sebelum melanjutkan penjelasannya dengan panjang lebar.
"Inget nggak waktu kamu mendadak pingsan karena stres mikirin kelakuan Gio? Siapa yang panik setengah mati, membopong kamu, dan nungguin kamu di rumah sakit seharian tanpa peduli rasa capeknya? Naren, Tiyas! Dia jagain kamu tanpa menuntut apa-apa. Terus waktu kamu hancur dan melarikan diri ke tempat laknat semalam, siapa yang nyariin kamu setengah mati, menyelamatkan kamu dari cowok-cowok kurang ajar ,lalu bawa kamu pulang dan jagain kamu dengan sangat terhormat? Lagi-lagi Naren!"
Tiyas terdiam, memejamkan matanya rapat-rapat saat setiap kenangan itu berputar kembali di benaknya.
"Naren itu pria langka, Tiyas. Dia tulus, dia ngehargain kamu sebagai wanita, dan dia terbukti selalu ada di titik terendah kamu. Dia bukan cuma kasihan, tapi dia benar-benar peduli dan pengin melindungi kamu. Jangan biarkan trauma masa lalu dari Gio bikin kamu buta sama kebaikan pria setulus Naren. Dia pantas dapat kesempatan, dan kamu pantas buat bahagia lagi!" tegasi Imelda panjang lebar, memberikan dorongan penuh untuk meyakinkan hati sahabatnya.
Tiyas terdiam seribu bahasa di atas sofanya. Setiap kata yang keluar dari mulut Imelda meresap sedemikian dalam ke dalam relung hatinya, meruntuhkan tembok keraguan yang selama ini ia bangun untuk melindungi dirinya dari rasa sakit.
"Mel," bisik Tiyas dengan suara yang mulai serak menahan haru.
"Kamu, benar-benar yakin Naren tidak sedang emosi sesaat?"
"Tiyas, kalau pria cuma emosi sesaat atau kasihan, dia nggak bakal bertindak sejauh itu buat menjaga kehormatan kamu," jawab Imelda lembut namun penuh penekanan.
"Dia meratukan kamu di saat kamu merasa nggak berharga sama sekali. Katakan sama aku, apa ada satu aja perlakuan Naren yang bikin kamu merasa terancam atau dimanfaatkan?"
Tiyas menggelengkan kepalanya pelan, meski Imelda tak bisa melihatnya.
"Nggak ada, Mel. Sama sekali nggak ada."
"Kalau begitu, buang ketakutan kamu. Buka hati kamu buat Naren. Kamu berhak bahagia setelah semua neraka yang kasih Gio kasih ke kamu," tutup Imelda menyemangati.
"Pikirkan baik-baik, ya. Jangan sampai kamu nyesel kehilangan pria sehebat dia."
Setelah mengakhiri panggilan telepon, Tiyas memeluk lututnya di atas sofa.
Matanya menatap lurus ke arah jendela luar. Bayangan Naren saat tersenyum manis di pantai, saat menggenggam tangannya dengan penuh ketulusan, hingga saat menatapnya dengan penuh rasa perlindungan kembali berputar di ingatannya.
Rasa hangat perlahan membuncah di dadanya, mengikis habis sisa-sisa trauma dan ketakutan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Tiyas akhirnya tahu pasti apa yang diinginkan oleh hatinya.
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
sokooorrr.....😛😛😛
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘