NovelToon NovelToon
MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dian Mita

Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
​Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Lutut di Atas Lantai

Ruang kerja Presiden Direktur Pradipta Group di lantai lima puluh membentang begitu luas dan megah. Dinding kaca tebal setinggi atap menyajikan pemandangan lanskap pencakar langit kota yang megah di bawah sana. Di tengah ruangan berlapis karpet sutra tebal tersebut, meja kerja dari kayu jati langka berukuran raksasa berdiri kokoh, memancarkan wibawa dan kekuasaan mutlak dari pemiliknya.

Di atas karpet sutra yang sangat mahal itu, Dion terduduk berlutut dengan kedua lutut menempel rapat di lantai.

Wajahnya yang biasa angkuh kini tampak sangat kuyu dengan mata merah sembap dan kantung mata yang menghitam. Kemeja mewahnya kusut, tak ada lagi sisa kepura-puraan sebagai pria kaya dari keluarga pengusaha. Sudah dua jam Dion dibiarkan berlutut di sana tanpa disapa, sementara Rendy Pradipta duduk tenang di kursi kulit khususnya seraya meninjau beberapa dokumen keuangan.

"Mas Rendy... tolong, Mas..." suara Dion mengudara serak dan gemetaran, menahan rasa malu yang luar biasa mendalam. "Saya sudah berlutut dua jam di sini... Tolong jangan batalkan kucuran dana investasi seratus miliar itu. Kalau Pradipta Group membatalkannya hari ini, bank akan langsung menyita rumah kami dan menangkap Mas Hendra..."

Rendy sama sekali tidak mendongak dari berkas di tangannya. Keheningan yang mencekik tetap membungkus ruangan berpendingin udara tersebut, hanya diselingi suara lembaran kertas yang dibalik dengan anggun oleh sang Presdir.

KNOCK! KNOCK!

Pintu kayu jati ruangan bergeser pelan. Siska melangkah masuk dengan langkah kaki yang anggun dan berirama. Malam ini, sekretaris pribadi Rendy itu mengenakan gaun pensil hitam berpotongan pas badan yang membungkus sempurna lekuk tubuhnya yang indah. Belahan gaun di bagian samping memamerkan paha mulusnya yang jenjang setiap kali ia melangkah.

Siska membawa nampan perak berisi secangkir kopi hitam hangat. Ia melintasi Dion yang berlutut lemas tanpa memandangnya sedikit pun, seolah Dion tak lebih dari seonggok benda mati di atas karpet.

"Kopi Anda, Tuan Presdir," tutur Siska dengan suara rendah yang amat halus dan memikat.

Rendy menyandarkan punggung tegapnya ke sandaran kursi kulit. Manik matanya yang gelap menatap Siska dengan kilatan dominasi yang tenang. Tanpa mengalihkan pandangannya dari Siska, Rendy menggerakkan tangan kanannya, menepuk pelan pangkuannya sendiri.

"Duduk di sini, Siska," perintah Rendy pendek—suara beratnya mengudara pelan namun penuh daya tekan mutlak.

Siska menyunggingkan senyum tipis yang amat memikat. Tanpa ragu sedikit pun, wanita berparas jelita itu melangkah mendekat dan memutar tubuhnya. Dengan gerakan yang sangat halus dan luwes, Siska mendaratkan tubuh bagian bawahnya secara perlahan tepat di atas pangkuan kokoh Rendy.

SRET!

Dion yang berlutut di lantai terbelalak lebar. Pandangannya membeku menyaksikan pemandangan intim di hadapannya.

Di atas kursi kerja megah itu, posisi Siska yang memangku di atas paha tegap Rendy menciptakan gesekan rapat yang amat mengundang gairah. Gaun pensil hitam Siska terangkat sedikit ke atas, membiarkan paha mulusnya yang hangat bergeser langsung menempel pada celana bahan kustom bernilai puluhan juta yang dikenakan Rendy.

Lengan tegap Rendy dilingkarkan secara santai di pinggang mulus Siska, menarik tubuh sekretarisnya itu merapat tanpa celah pada dada bidangnya. Jemari tegap Rendy merayap naik, memberikan usapan lembut di atas paha Siska yang terbuka, menyebarkan gelombang getaran panas yang membakar atmosfer ruang kerja tersebut.

Siska mendesah halus yang sangat tipis, menyandarkan sebelah bahunya pada dada kokoh Rendy seraya menyosorkan cangkir kopi ke bibir sang Presdir. Ibu jarinya jemari Siska mengusap pelan rahang tegap Rendy dengan ketundukan dan kepatuhan yang memanjakan mata.

"Apakah kopinya sudah sesuai dengan selera Anda, Tuan Presdir?" bisik Siska lembut tepat di dekat leher Rendy, napas hangatnya yang beraroma wangi mengusap kulit pria itu.

"Sempurna," sahut Rendy tenang, menyesap kopi tersebut seraya jemarinya terus melakukan usapan lembut dan ritmis di atas paha mulus Siska di atas pangkuannya.

Dion menelan ludah dengan tenggorokan yang terasa luar biasa kering. Keintiman yang dipamerkan secara gamblang di depan matanya itu adalah bentuk penghinaan tertinggi baginya dan keluarganya. Pria yang dulu mereka anggap tak mampu menghidupi Clarissa, kini dipuja dan diimbangi oleh wanita tercantik dan paling berkelas di ruang kerja termewah di kota ini.

Rasa iri, dengki, dan keputusasaan membakar dada Dion hingga air matanya menetes lagi di atas karpet.

"Mas Rendy..." tangis Dion pecah kembali dalam kehampaan, tangannya meremas karpet sutra di bawah lututnya. "Tolong kasihanilah kami... Kasihanilah Mbak Clarissa... Mbak Clarissa masih sangat mencintai Mas Rendy! Dia menangis semalaman meratapi perceraian kalian!"

Mendengar nama Clarissa disebut dari mulut Dion, gerak jemari Rendy yang sedang mengusap paha Siska mendadak berhenti sejenak. Sorot matanya berubah kian membekukan.

Siska yang merasakan perubahan aura pada tubuh tegap Rendy segera berdiri secara anggun dari pangkuan sang Presdir, merapikan gaun pensilnya dengan gerakan yang sangat berwibawa, lalu berdiri tegak di samping kursi kerja Rendy.

Rendy memiringkan kepalanya sedikit, menatap Dion dari atas meja jatinya dengan pandangan meremehkan yang teramat dingin.

"Kamu membawa nama Clarissa untuk meminta belas kasihan?" ujar Rendy dengan suara rendah yang amat membahayakan. "Di mana belas kasihan kalian saat aku memohon agar kalian tidak menghina almarhum ibuku tiga bulan lalu? Di mana belas kasihan Clarissa saat dia melepaskan tanganku dan membiarkan surat cerai itu ditandatangani?"

Dion bersujud lagi, menempelkan dahi ke lantai. "Saya salah, Mas! Kami semua buta dan jahat! Tolong... berikan kami satu kesempatan lagi demi investasi seratus miliar itu!"

Rendy menyunggingkan senyum tipis berhias kejam di sudut bibirnya. Ia menyambar sebuah bundel berkas tebal bersampul merah dari atas mejanya—berkas yang berisi seluruh jejak penggelapan dana kecil-kecilan dan kecurangan laporan keuangan yang pernah dilakukan Dion di perusahaan milik Hendra.

SLAAP!

Tanpa ragu sedikit pun, Rendy melemparkan bundel berkas tebal tersebut tepat ke arah lantai di depan wajah Dion. Berkas itu terhempas keras, membuat puluhan lembar dokumen bukti kejahatan Dion berserakan liar membasahi lantai di sekeliling lututnya yang gemetaran.

Kertas-kertas dokumen penggelapan dana itu berserakan liar di atas karpet sutra mahal, tepat di sekeliling lutut Dion yang mematung kaku. Mata Dion membelalak lebar melihat deretan angka, bukti transfer, dan tanda tangan palsunya tercetak jelas pada setiap lembaran berkas yang dilemparkan Rendy.

"Buka dan baca sendiri," perintah Rendy dengan suara yang amat tenang, namun sanggup menghentikan detak jantung Dion seketika. "Itu adalah seluruh rekam jejak kejahatan finansial yang kamu lakukan di perusahaan Hendra selama dua tahun terakhir."

Keringat dingin bercucuran deras membasahi seluruh tubuh Dion. Tangannya yang gemetaran merayap di lantai, menyambar salah satu lembaran dokumen dengan napas terengah-engah panik.

"Bagaimana... bagaimana bisa Mas Rendy memiliki ini semua...?" bisik Dion gagap, wajahnya pucat pasi bak mayat.

"Bagi Pradipta Group, tidak ada rahasia yang bisa kamu sembunyikan," sahut Rendy dingin. Ia menyandarkan punggung tegapnya ke kursi kulit, merapikan kerah kemeja sutranya dengan gerakan yang sangat berwibawa. "Seratus miliar kucuran dana segar itu tetap akan diberikan untuk melunasi utang keluarga kalian ke bank... Tapi sebagai gantinya, besok pagi seluruh bukti penggelapan danamu ini akan meluncur lurus ke meja penyidik kepolisian."

Dion terhenyak, tubuhnya melemas dan tersungkur penuh keputusasaan di atas lantai.

"Tidak, Mas! Jangan penjara saya! Saya mohon!" jerit Dion histeris, menyatukan kedua telapak tangannya di udara.

Rendy memalingkan wajahnya secara anggun, memamerkan profil samping wajahnya yang tegas dan tak tersentuh oleh ratapan menyedihkan itu.

"Siska," panggil Rendy pelan tanpa menoleh. "Panggil pengawal. Giring pria ini keluar dari gedungku sekarang juga."

"Baik, Tuan Presdir," jawab Siska dengan senyuman patuh.

Dua pengawal berbadan tegap berseragam hitam masuk ke dalam ruang kerja, mencengkeram kedua lengan Dion dan menyeretnya keluar dari ruangan mewah tersebut saat Dion melolong meratapi nasibnya yang di ujung tanduk.

1
Dian Paramita Dewi
Semangat....terus berkarya ☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!