Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Velvet Room
Malam Minggu di jantung kota Amsterdam selalu menawarkan ritme hidup yang berbeda. Bagi para kaum elite, pebisnis sukses, dan sosialita papan atas, akhir pekan bukan sekadar waktu untuk beristirahat, melainkan ajang pembuktian status sosial di balik gemerlapnya lampu-lampu kota. Di antara sekian banyak tempat hiburan malam yang menjamur di kawasan distrik hiburan eksklusif, ada satu nama yang berdiri paling atas dalam daftar destinasi paling rahasia dan bergengsi: The Velvet Room Club.
Dari luar, tempat ini sama sekali tidak mencolok. Tidak ada plang neon raksasa yang berkedip-kedip norak atau kerumunan orang berdesakan di trotoar jalan. Hanya ada sebuah pintu kayu jati tua berwarna hitam legam yang dijaga oleh dua orang bouncer berbadan kekar berpakaian jas hitam rapi, berdiri tegak bagaikan patung penjaga gerbang benteng kuno. Di balik pintu itu, tersimpan sebuah dunia hedonisme tingkat tinggi yang hanya bisa diakses oleh mereka yang memiliki undangan khusus, kartu kehasian hitam ber-chip platinum, atau setidaknya saldo rekening yang membuat angka nol di belakang koma tampak tidak masuk akal.
Namun, kemewahan dan eksklusivitas The Velvet malam itu sama sekali tidak dirasakan oleh Freya Zivanka. Gadis berusia dua puluh lima tahun dengan rambut hitam kecoklatan terurai panjang itu justru merasa sedang terperangkap di dalam sebuah labirin neraka yang menyesakkan dada.
Freya berdiri mematung di dekat salah satu sudut dinding bar yang beralaskan marmer gelap, tangannya mencengkeram erat tali tas selempang kecil miliknya seolah benda itu adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra lepas. Napasnya memburu, tidak beraturan, berkejaran dengan dentuman musik deep house berfrekuensi rendah yang menghantam dinding dada dan rongga telinganya tanpa henti. Dentuman bass yang berat itu terasa seperti palu godam raksasa yang memukul-mukul kepalanya, menciptakan sensasi pening yang luar biasa hebat.
Udara di dalam ruangan VIP itu terasa pekat, campuran yang memuakkan antara aroma parfum desainer berharga jutaan rupiah, asap rokok elektronik beraroma buah beri, bau keringat manusia, dan uap alkohol yang menguap dari gelas-gelas kristal para pengunjung. Freya merasa sekujur tubuhnya basah oleh keringat dingin. Lampu laser berwarna merah darah dan biru safir yang berkelebat liar membelah ruangan membuat bayangan-bayangan mengerikan menari di hadapannya, seakan-akan mengejek ketidakberdayaannya malam ini.
Bagaimana bisa aku sampai terbujuk datang ke tempat gila ini? batin Freya menjerit dalam hati, merutuki kebodohannya sendiri yang menuruti ajakan sang teman sekampus untuk sekadar "mencari angin segar dan melepas penat sebentar".
Bagi Freya, tempat-tempat seperti The Velvet Club adalah galaksi lain yang tidak pernah bersinggungan dengan realitas hidupnya yang penuh dengan tagihan dan kecemasan. Hari-hari Freya biasanya dihabiskan di atas bus umum—ah, ralat, pikirannya langsung melompat bingung—di atas bus umum kota, di perpustakaan kampus yang sunyi, atau di kamar kos sempit sambil menghitung sisa uang euro di dompetnya demi mencicil obat sang ibu yang terbaring lemah di rumah sakit dan biaya kuliah adiknya, Steven, yang nyaris tertunggak. Tekanan hidup yang menumpuk selama berbulan-bulan membuatnya nyaris gila. Ketika teman kuliahnya memaksa mengajaknya keluar malam ini dengan dalih melupakan sejenak beban dunia, Freya yang naif mengira mereka hanya akan duduk di kafe pinggir kanal yang tenang sambil menikmati secangkir cokelat panas.
Ternyata, ia diseret masuk ke dalam kawah candradimuka kaum borjuis Amsterdam. Petaka kecil itu bermula sekitar setengah jam yang lalu. Di tengah kerumunan lautan manusia yang berdesak-desakan di lantai dansa, Freya terpisah dari teman yang membawanya. Ia terseret arus kerumunan hingga terlempar ke area bar utama. Dalam kondisi bingung, lelah, dan tenggorokan yang terasa kering seperti gurun pasir, seorang pria asing berwajah tampan dengan senyum menawan tiba-tiba menghampirinya. Pria berjas rapi itu menawarkan segelas minuman berwarna merah delima yang berkilau di bawah temaram lampu bar, mengatakan bahwa itu adalah mocktail buah segar yang manis dan menyegarkan khusus untuk menyambut pengunjung baru.
Freya, yang polos dan sama sekali tidak memiliki pengalaman di dunia malam, menerima gelas itu tanpa curiga setitik pun. Ia meneguk cairan dingin tersebut dalam beberapa kali tegukan besar karena rasa haus yang mendera.
Itulah kesalahan terbesar yang ia buat malam ini.
Minuman manis itu ternyata bukanlah jus buah biasa. Di baliknya tersimpan vodka berkadar alkohol tinggi yang dicampur dengan likor kuat—sesuatu yang dirancang khusus untuk merontokkan pertahanan gadis-gadis muda dalam waktu singkat. Hanya dalam hitungan menit setelah gelas itu tandas, reaksi kimiawi tersebut menghantam tubuh kecil Freya yang kondisi lambungnya sedang kosong karena seharian belum makan nasi.
Dunia mendadak berputar seratus delapan puluh derajat.
Kaki Freya yang tadinya berpijak mantap kini terasa lemas seketika, bagaikan agar-agar yang kehilangan bentuk. Kepalanya berdenyut nyeri, seolah ada ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk-nusuk tempurung kepalanya dari dalam. Pandangannya mengabur, membuat lampu-lampu neon di sekitarnya melebur menjadi garis-garis cahaya yang menyilaukan mata.
Yang lebih menakutkan, efek samping dari minuman itu mulai membangkitkan sensasi panas aneh di sekujur tubuhnya. Kulit putihnya memerah, napasnya terasa pendek-pendek dan panas, sementara kesadarannya melayang-layang di ambang batas antara nyata dan halusinasi. Di tengah kabut kesadaran yang menipis itu, Freya mulai menyadari perubahan sikap para pria di sekitarnya.
Beberapa pria berjas mahal yang duduk di sofa-sofa kulit sudut
ruangan mulai melayangkan tatapan-tatapan lapar ke arahnya.
Tatapan penuh predator yang menguliti harga dirinya, seolah melihat seekor mangsa empuk yang tersesat sendirian di sarang serigala. Ada yang bersiul kecil, ada yang terang-terangan melambaikan tangan menyuruhnya mendekat, bahkan ada seorang pria berbadan gempal beraroma wiski tajam yang sempat mencolek bahunya dengan lancang sambil berbisik dengan nada mesum, "Hei, gadis manis... sendirian saja? Mau bergabung di meja VIP kami?"
Rasa takut yang luar biasa langsung merayap naik ke tenggorokan Freya. Jantungnya berdegup kencang hingga rasanya nyaris meledak keluar dari rongga dadanya. Air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya yang sayu. Ia ingin berlari, ia ingin menjerit, tapi pita suaranya terasa kelu, dan otot-otot kakinya menolak untuk diajak kompromi.
Dengan sisa-sisa tenaga dan kesadaran yang tersisa secuil, Freya memaksakan diri melangkahkan kaki sempoyongan, mencoba menerobos kerumunan manusia yang terus berjoget liar di depannya. Ia tidak tahu harus ke mana; tujuannya hanya satu: mencari jalan keluar dari tempat terkutuk ini sebelum hal-hal buruk merenggut
kehormatannya malam ini.
Langkahnya terhuyung ke kiri, nyaris menabrak pelayan klub yang membawa nampan berisi gelas-gelas kristal. Freya bergumam meminta maaf dengan suara parau yang tenggelam oleh dentuman speaker raksasa. Keringat dingin semakin deras mengucur di pelipisnya, membuat helaian rambut hitam kecoklatannya menempel basah di pipinya yang merona merah.
Di tengah pelariannya yang compang-camping itu, Freya tidak menyadari bahwa ia sedang berjalan menuju sudut lorong VIP yang agak tersembunyi—sebuah area peralihan di mana seorang pria bertubuh tinggi besar berbadan kekar sedang berdiri seorang diri, bersiap melangkah pergi meninggalkan klub malam tersebut setelah malam yang melelahkan. Pria berwajah dingin dengan rahang tegas itu adalah Victor Thorne.
Freya, dengan mata yang sudah buram dan kepala yang berputar hebat, tidak melihat sosok tinggi menjulang di hadapannya. Ia terus berjalan dengan langkah gontai, kehilangan keseimbangan sepenuhnya saat sebuah hentakan musik membuat lantai di bawah kakinya terasa bergelombang.
Dan pada detik berikutnya, tubuh kecil Freya meluncur bebas tak terkendali, langsung menghantam dada bidang seorang pria berbalut kemeja hitam yang baru saja berbalik arah.
Bruk!
Sebuah benturan telak terjadi di antara mereka, memicu rangkaian takdir malam itu yang akan mengubah jalan hidup Freya Zivanka dan Victor Thorne untuk selama-lamanya. Di balik remang lampu klub yang bising, malam penyerahan diri itu resmi dimulai, membawa Freya keluar dari satu labirin ketakutan menuju pelukan penguasa imperium Amsterdam yang kelak menjadi tempat pernaungannya yang paling aman—sekaligus paling mematikan bagi nalar warasnya.